
Dimas keluar dari rumah calon suami Amira,lalu masuk ke dalam mobil yang sebelumnya dia sudah pesan,Sedih sudah pasti,kehilangan yang terbaik hannya karena kebodohannya sebagai laki-laki,tapi sekarang dia harus mendengar nasihat yang di katakan oleh Amira menjadi pria yang adil antara ibu dan istrinya.
"Kenapa sih kamu harus mau bercerai dengan Amira,kamu itu memang bodoh seharusnya kamu ulur waktu terus sampai dia mau memberi kita uang." Ucap Maya di dalam mobil.Dimas mengabaikan kata-kata ibunya dia tidak mau ribut di dalam mobil malu di lihat supir yang mungkin orang bijak bukan seperti dirinya.
Setelah membayar ongkos Dimas dan Maya keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah Maya masih saja mengoceh hingga Safira tersenyum puas,karena dia sudah yakin kalau Amira menolak mereka.
"Dimas bagaimana kalau aku tinggal sama Amira saja,aku tidak suka dengan kehidupan kita yang terus miskin ini,Amira pasti mencintaiku,biar bagaimana pun aku ini kan mantan ibu mertuanya." Ucap Maya dia duduk di atas sopa dengan wajah masam.
Dimas yang sudah tidak tahan mendengar ocehan ibunya sejak keluar dari rumah calon suami Amira,dia lansung menoleh ke ibunya dan menatapnya dengan tatapan yang cukup tajam mungkin kalau pisau itu sudah membunuh.
"Bu.....Apa ibu tidak bisa diam sedikit saja,lama-lama aku muak melihat sikap ibu yang semakin keterlaluan,kalau ibu mau pergi bersama Amira silahkan...Ibu memang tidak punya harga diri sama sekali....Ini benar-benar membuatku muak."Ucap Dimas dengan penuh emosi dan kemarahan.
Maya membalas tatapan Dimas tidak kalah emosi,dia merasa harga dirinya sebagai ibu di injak-injak oleh Dimas di hadapan Safira menanti yang tidak pernah cocok sedari mereka menikah.
"Apa maksud kamu Dimas,kamu tidak menghargai ibu lagi,kamu anak durhaka_
"Terserah ibu mau ngomong apa,kalau ibu mau pergi dari rumah ini silahkan,aku tidak akan melarang ibu,aku sudah muak,ibu sadar tidak ibu yang membuat rumah tanggaku hancur seperti ini,ibu terlalu mengatur hidupku dan rumah tangga ku,sampai kapan ibu seperti ini,mulai hari ini kalau ibu mau pergi silahkan aku tidak akan melarang,sebentar lagi aku punya anak,aku harus memimpin rumah tanggaku." Ucap Dimas.Setelah itu dia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Maya benar-benar kaget dengan ucapan Dimas,dia tidak pernah bicara kasar seperti itu,rasanya dia ingin menangis karena dia belum pernah merasakan itu.
__ADS_1
Safira juga kaget melihat perubahan suaminya,dia tidak menyangka Dimas bisa berbicara begitu tegas terhadap ibunya,setelah selama ini dia selalu menuruti apa kata ibunya,dia menoleh kearah mertuanya yang sudah mulai terisak karena kemarahan Dimas barusan.
Sekilas Safira merasa iba dengan mertuanya,mungkin selama ini Dimas juga salah karena terlalu baik kepada mertuanya hingga menuruti semua keinginannya sekarang mungkin dia baru sadar setelah Amira benar-benar tidak mau menerima dirinya kembali.
Maya mengambil selimut lalu dia menutup tubuhnya dan tidur di atas sopa,untuk beberapa saat dia masih bisa mendengar isak tangis Maya tapi setelah itu suaranya tidak terdengar lagi mungkin dia ketiduran.
Safira bangkit dari tempat duduknya lalu dia mulai melakukan pekerjaan rumah,biasanya dia selalu membiarkan rumah berantakan karena dia selalu membenci ibunya yang membandingkan dirinya dengan Amira.
Safira mulai membereskan rumah,dan mencuci semua piring kotor,setelan itu dia belanja ke depan membeli segala kebutuhan makan mereka untuk malam.
Uang hasil dari menipu rentenir satu bulan yang lalu masih dia simpan,sepertinya sekarang dia ingin membuka warung makan kecil-kecilan di rumahnya untuk bisa membantu beban suaminya.
Safira membeli semua barang yang dia butuhkan untuk keperluan jualannya mulai besok,di dapur dia sudah mulai sibuk untuk menyiapkan jualnya besok hari,untuk sementara dia hannya memakai bahan yang sederhana.
Maya dan Dimas tidak tau kalau besok Safira jualan,persis tengah malam Dimas bangun karena perutnya yang lapar dia cukup kaget melihat tudung saji karena ada makanan padahal biasnya itu tidak pernah ada safira tidak peduli sama sekali dengannya.
Keesokan paginya safira sudah menyiapkan semua perlengkapan jualannya ke depan rumah,padahal hari masih lumayan gelap tapi karena tidak ingin kehilangan rejeki Safira melakukanya secepat mungkin.
Benar saja di hari pertama dia jualan orang-orang yang mau berangkat ke pabrik sudah banyak yang mampir disana untuk makan dan ada juga yang khusus membeli,Maya yang mendengar keributan langsung bangun dan keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi di depan rumahnya.
__ADS_1
Maya cukup kaget melihat Safira yang sibuk melayani para pembeli,dia cukup tersentuh melihat pemandangan itu,Safira yang sudah hamil besar bekerja.
"Bu...Bantu aku melayani mereka." Ucap Safira,sesuatu yang belum pernah dia dengar dari menantu keduanya itu.
Maya mulai membantu Safira untuk melayani orang yang sudah berkerumun,mungkin karena baru pertama atau mungkin karena orang-orang yang ingin cepat pergi bekerja mereka semua terlihat buru-buru.
Tepat jam tujuh pagi,Dimas bangun dia juga mendengar keributan dari luar rumahnya,dia yang bingung langsung keluar dari kamar dan menghampiri suara keributan itu,dan saat itu dia juga kaget melihat ibu dan istrinya sibuk melayani pembeli.
"Mas ..kamu makan,duduklah aku akan buatkan sarapan untukmu." Ucap Safira,disana juga sudah ada beberapa pria yang sedang mengopi sebelum berangkat kerja.
Hari ini Dimas merasakan bahagia luar biasa,pertama dalam pernikahannya melihat ibu dan istrinya bisa akur dan bahkan mereka bisa bekerja dengan baik.
Setelah semua orang keluar dari sana,dan jualan sarapannya hari ini habis bahkan kurang,Safira menyusun semua piring ke tempat kotor lalu dia duduk kursi dan mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
"Bu...Mari kita hitung uang penghasilan kita hari ini setelah itu kita pergi belanja untuk jualan besok sepertinya kita masih kurang piring dan juga gelas mulai besok aku jual ayam goreng,tempe dan juga tahu,itu semua bisa sampai sore." Ucap Safira.
Sebenarnya Maya masih canggung dengan sikap Safira yang tiba-tiba berubah dia sedikit takut karena tidak bisanya Safira bersikap baik dan lembut seperti itu.
πππbersambung πππ
__ADS_1