
Maya langsung menghentikan kegiatannya lalu menghampiri,Safira yang masih asik menonton sambil menikmati cemilan yang di pesannya dari online,Maya sudah tidak sabar melihat sikap Safira.Safira semakin hari semakin berlebihan bahkan hari ini dia tidak memberikan mereka makam dia hannya membeli makanan untuknya dan juga anaknya.Sementara itu Maya dan Tuti serta kedua anaknya tidak makan apa pun hingga anak Tuti menangis meminta makanan dari tadi.
"Brang.....Dasar menantu kurang ajar kamu,kamu sangat berlebihan,jadi karena kamu hamil kamu tidak bisa lagi melakukan apa pun lagi,kamu pikir cuma kamu saja yang hamil semua wanita juga hamil ya...Dasar menantu kurang ajar."
"Mama.....Ini makanan mahal kenapa di tendang lebih baik mama keluar dari rumah ini,aku juga tidak sudi memelihara manusia tidak berguna seperti kalian." Safira memekik kencang saat Maya menendang makanan yang bahkan belom habis separuh pun,dia benar-benar marah kepada Maya mertuanya.
"Biarkan,itu akibat karena kamu sudah durhaka sama mertua kamu jahat...Safira bagaimana bisa kamu mengusir ku dan tidak memberikan kami makan." Ucap Maya dengan suara yang sudah mulai serak.
"Eeehh...Ibu mertua yang maha benar dan maha angkuh jika aku baik kepadamu seperti Amira menantu mu yang baik dulu kamu akan memperlakukan aku seperti dia juga,kamu juga bukan manusia yang baik,kamu tidak ingat bagaimana kamu memperlakukan Amira,selalu ikut campur urusan rumah tangga anakmu,selalu mengatur dan menindas Amira...Ingat tidak,jadi jika aku tidak durhaka sudah jelas kamu akan memperlakukan aku seperti dia." Ucap Safira,dia bangkit dan berdiri di hadapan mertuanya sambil berkacak pinggang.
Pada saat itu Dimas kembali dari tempat kerjanya,dia sudah tidak pulang dari kemarin karena dia lembur dan itu yang membuat Maya dan kedua cucunya tidak makan dan juga Tuti.
"Apa yang terjadi,aku bisa mendengar suara kalian dari depan sana,kalian berantem lagi,apa sih yang kalian ributkan setiap hari,tidak bisa kah kamu bersikap lebih baik dan hormat sama mertua kamu Safira?"
Dimas sangat marah kepada Safira,dia mendengar semua yang dikatakan oleh Safira,jauh di lubuk hatinya dia sangat menyesal telah mengkhianati Amira dulu,dia kehilangan Amira hannya karena nafsu sesaat bahkan dia tergoda dengan Safira wanita yang begitu banyak hutang.
"Kamu membela ibu mas,....
__ADS_1
"Jelas aku membela ibuku,aku menyesal menikahi mu,wanita yang banyak hutang bahkan kamu itu buronan,kamu menipu orang kampung demi nafsu mu,ingat sepeser pun aku tidak menikmati uang kamu." Ucapnya dengan nada kesal dan penuh amarah.
"Dimas lebih baik ceraikan dia,dan kamu bawa Amira kembali,Safira bukan wanita baik untukmu,aku juga akan minta maaf kepada Amira atas sikap ku selama ini." Ucap Maya penuh penyesalan.
Mendengar kata-kata Maya,tentu saja Safira takut kalau sampai Dimas meninggakan nya,dia butuh sosok lelaki untuk kedua anaknya kelak.
"Ma...Kita pergi,kita makan di luar dan kamu Safira lakukan semua pekerjaan rumah,semua rumah sudah harus bersih nanti setelah kami kembali ke rumah ini." Ucap Dimas dia membawa kedua keponakanya untuk makan dan juga ibu serta adiknya.
"Tapi mas...Aku sedang hamil aku tidak bisa melakukan semua ini?" Dimas menoleh ke arahnya lalu menatap Safira.
"Jangan manja,ibuku juga pernah hamil dan dia bisa melakukan semuanya." Ucap Dimas lalu mereka meninggalkan rumah kontrakannya.
Mereka memasuki rumah makan lalu memesan banyak makanan,sudah lama mereka tidak menikmati hidup semenjak Safira membuat hidup mereka berantakan bahkan Dimas kehilangan pekerjaan yang sudah lama dia tekuni.
"Dimas,apa kamu tidak pernah menghubungi Amira lagi,sekarang ibu baru menyadari kalau dia memang menanti yang sangat baik,bahkan sekali pun dia tidak berani membantah saat ibu marah bahkan menamparnya waktu itu.
Sifat Safira dan Amira sangat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi,sekarang aku baru menyadari setelah kamu menikah dengan Safira sekalipun dia tidak pernah berbuat baik kepada ibu.Bahkan kamu tau tadi dia menyuruh ibu untuk mengambil minumnya itulah sebabnya aku marah dan emosi kepadanya." Ucap Maya menceritakan semua kejadian tadi.
__ADS_1
"Benar kakak,aku juga tidak tahan lagi tinggal di kota ini,aku ingin kembali kepada suamiku,aku juga dulu sangat kejam kepada Amira aku sangat menyesal." Ucap Tuti sambil menyuapi kedua putranya.
Dimas menghela napas panjang,semua sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur,dia kehilangan kebahagian yang pernah dia rasakan dan dia menyia-nyiakan wanita yang pernah mau berkorban demi dia.
"Aku tidak pernah menghubungi Amira lagi Bu,aku malu kepadanya aku berbohong bahkan memanfaatkan wanita sebaik dia wajar saja aku mendapat balasan yang begitu kejam.Ibu tau uang yang selama ini aku kasih ke ibu saat kita masih di desa itu uang dari Amira Bu,sementara gaji ku aku berikan semua kepada Safira." Ucapnya sambil menarik napas panjang dia seakan merasa sesak memikirkan semua itu.
"Itulah makanya,kamu terlalu memanjakan istri yang tidak tau malu,kamu membiayai anak yang tidak kamu tau siapa bapaknya,jelas saja Safira mempertahankan kamu,lihat anaknya saja tidak punya etika,kamu kasih makan anaknya kamu lihat kedua keponakan mu ini,mereka tidak makan dari tadi pagi istrimu tidak mau kasih uang." Ucap Maya.Dimas berulang kali menarik napas panjang.
"Dimas,aku harap kamu bisa kembali kepada Amira,kamu ceraikan dia,kalau Amira kamu bisa menyuruh dia kerja untuk membiayai kehidupan kita di kota lalu gaji mu juga bisa kamu tabung untuk masa depan mu dan juga Amira,untuk apa kamu memberikan makan anak yang jelas asal usulnya." Ucap Maya semakin menghasut Dimas.
"Aku akan menemui Amira hari Sabtu nanti aku akan membawanya pulang dan kita tinggal bersama,mungkin aku akan meninggalkan Safira Bu."Jawab Dimas tampa berpikir panjang.
Dia selalu menuruti kemauan ibunya,apalagi saat ini dia sedang di berada di zona frustasi memikirkan sikap Safira yang tidak pernah menghargai orang tuanya.
Mereka menghabiskan semua menu makanan,yang mereka sudah pesan,Tuti memutuskan untuk kembali ke desa menemui suaminya dia takut anak-anaknya kelaparan karena Safira sangat perhitungan sementara gaji Dimas belum cukup untuk mereka semua.
"Jadi kapan kamu akan kembali ke desa,semoga suami dan mertuamu tidak mengusir mu kembali." Ucap ibunya penuh harapan.Sebenarnya berat hati Maya untuk melepaskan Tuti karena selama ini Tuti lah yang membantunya kalau dia sedang adu mulut dengan Safira.
__ADS_1
πππbersambung πππ