
Amira mengabaiakan kata-kata kasar dari mertuanya yang tidak ada perobahan sedikit pun,dia sengaja tidak jujur tentang uangnya,rasanya dia tidak ikhlas memberikan uang kepada mertuanya yang kejam dan tidak punya hati.
"Dari pada kamu disini hannya duduk santai lebih baik kamu memasak dan mencuci semua pakaian yang ada di kamar mandi,melihat mu datang dan tidak membawa apa pun rasanya aku sangat marah." Ucap Maya kembali dengan wajah masam.
Amira yang masih lelah,langsung pergi ke belakang dan mulai memasak seperti biasnya.Amira beberapa kali menoleh ke pintu,dia mengira Dimas mengikutinya ternyata tidak sama sekali malahan Dimas pergi entah kemana.
Ada rasa kecewa yang dalam di hati Amira terhadap Dimas suaminya,dia mengira saat dia kembali ke desa suami yang sangat dia rindukan akan menyambutnya dengan bahagia nyatanya semuanya tidak sesuai harapannya.
"Sepertinya hannya aku yang merindukan Dimas,kejam sekali kamu mas,delapan bulan kita berpisah ternyata kamu tidak merindukan aku sedikit pun."Ucapnya dalam hati.
Amira duduk di atas kursi usang milik mertuanya dia merasa Dimas sudah banyak berubah selain dia semakin tampan dia juga semakin gemuk dan hal itu membuat Amira sedikit curiga.
*****
Adam kembali dari kantor saat hari sudah mulai gelap.Adam merasa heran saat melihat ibunya si rawat oleh pelayan yang lain,matanya mengelilingi ruang tamu mencari keberadaan Amira.
"Amira mana,kenapa kamu yang menyuapi mama?"
"Maaf tuan,Amira pulang kampung dari tadi pagi,katanya dia akan di kampungnya selama sepuluh hari." Ucap pelayan.
Adam meletakan tasnya di atas meja,lalu dia duduk dan bersandar di atas sopa.Adam melonggarkan Dasinya dan menaikkan kedua kakinya ke atas meja setelah itu dia memijat kepalanya yang pusing.
"Sebesar itu kah cintanya kepada suaminya,seharunya dia sadar aku memperlakukan dia berbeda dengan pelayan yang kain." Ucapnya lalu dia menghela napas berat.
__ADS_1
"Bawa mama ke kamarnya jika sudah selesai makan,dan kamu bisa mulai istrahat." Ucap Adam.Malam ini dia benar-benar kesepian karena tidak ada Amira yang bisa membuat hidupnya Lebih berwarna walau Amira selalu menjaga jarak dengannya.
Adam pergi ke gudang penyimpanan anggur,setelah itu dia mengambil satu botol dan membawanya ke balkon disana dia mulai minum pikirannya melayang kepada Amira.
Dia cemburu buta terhadap Amira,dia membayangkan Amira yang sedang bermesraan dengan suaminya,rasanya dia tidak rela saat pria lain menjamah wanita yang bukan istrinya.
"Bodoh sekali,kenapa aku begitu bergairah dengannya,pikiran macam apa yang datang ke pikiranku,bukan kah itu suaminya wajar saja mereka bermesraan." Ucapnya pura-pura bijak.
Adam menghabiskan anggur yang di gelasnya,berharap dengan demikian dia bisa tidur terlelap dan tidak berpikiran macam-macam terhadap Amira.
Sementara itu Amira menunggu Dimas sampai jam sepuluh malam,Dimas belum juga muncul membuat hatinya sangat sedih.
"Kenapa Dimas tidak pulang padahal malam sudah semakin larut,apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Amira dengan perasan yang sudah mulai gelisah.
"Bodoh sekali dimas,kenapa dia tidak pulang,apa dia ingin mati...Apa dia ingin Amira tau tentang rahasianya?"
"Apa yang mereka sembunyikan dariku,aku sudah curiga kalau Dimas punya rahasia atau mungkin dia punya pacar lain." Ucapnya dalam hati.
"Benar kata ibu,aku juga kesal melihat Dimas,bagaimana bisa dia cuek kepada Amira yang baru saja pulang,apa karena Amira tidak punya uang makanya dia cuek?" Ucap Tuti membenarkan kata-kata ibunya.
"Bisa jadi,Amira sudah lama merantau tapi malah tidak bawa uang kalau begitu lebih baik dia tidak usah merantau di rumah saja,aku juga sudah tidak mampu melakukan semua pekerjaan rumah."Ucap Maya.
Amira tersenyum sinis mendengar kata-kata mertuanya,dari dulu sampai detik ini mertuanya tidak ada perubahan,sekarang matanya sudah mulai terbuka dirinya tidak lebih dari babu di rumah mertuanya.Melihat suaminya yang sudah berubah membuatnya merasa dirinya benar-benar tidak ada harga di mata keluarga suaminya.
__ADS_1
Amira merebahkan tubuhnya di atas ranjang usang miliknya dan Dimas.Beberapa bulan yang lalu ranjang ini menjadi saksi betapa bahagianya dia memiliki Dimas sekarang semuanya berbeda.
Keesokan harinya Amira jalan-jalan disekitar kampung,dia tidak mau lagi melakukan apa pun karena menurutnya kebaikannya selama ini disalah gunakan mertua dan adik iparnya begitu juga dengan suaminya.
"Amira...Kamu sudah pulang merantau?" Tanya tetangganya yang dulu sedikit dekat dengannya,dia wanita yang selalu memberi semangat kepadanya disaat dia sedang pusing menghadapi mertuanya yang kejam.
"Sudah bude."
"Oohh...Jadi istri siri suami mu tidak keberatan saat kamu kemabli ke rumah mertua mu,memang sih Dimas sama istrinya yang sekarang jarang pulang ke rumah mertuamu!!" Ucap Wanita itu.Dia secara tidak sadar membongkar pernikahan Dimas dengan Safira.
"Apa....Maksud bude Dimas sudah menikah lagi?"
"Iya...Jangan-jangan kamu tidak tau kalau Dimas sudah menikah lagi,bahkan istrinya sedang hamil." Ucap wanita itu dia menutup mulutnya lalu dia segera masuk kedalam rumahnya dia terlanjur cerita dia mengira kalau Amira sudah tau kalau Dimas sudah menikah lagi.
Amira berlari kecil menuju rumah mertuanya,dia sengaja jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya yang frustasi karena Dimas tidak kembali dari tadi malam.
"Ibu....Kalian memang tidak manusia,bisa-bisanya kalian tidak jujur kepadaku kalau Dimas sudah menikah dan istrinya sedang hamil,kalian benar-benar jahat." Ucap Amira suaranya sudah mulai serak mungkin dia sedang menahan tangis.
"Siapa yang bilang...Dimas menikah,jangan percaya kalau kamu tidak melihat kenyataanya,Dimas tidak pulang itu karena dia lembur."Jawab Maya dia masih berusaha untuk menutupi semuanya.
"Sudahlah Bu....Ibu juga punya anak perempuan,kenapa ibu tega melakukan ini kepada ku,apa ibu tidak pernah berpikir jika orang lain melakukan itu kepada anak ibu...Bagaimana bisa kalian membohongi aku..." Amira benar-benar murka,dia sangat marah bahkan dia membanting pas bunga yang ada di dekatnya.
"Amira.....Kamu sudah gila ya membanting barang-barang ku,sudah berapa kali aku katakan Dimas tidak menikah dia hannya lembur." Maya memekik saat melihat kemarahan Amira.Tuti dan kedua anaknya lari keluar dari kamar dan mendekati Maya yang sedang emosi kepada Amira.
__ADS_1
"Kalian semua penipu,wajar saja ibu membela wanita itu mungkin ibu sudah mendapat menantu seperti yang ibu inginkan." Ucap Amira suaranya sudah mulai melemah.Tubuhnya gemetaran dan kakinya sudah tidak bisa menahan bobot tubuhnya hingga dia pingsan di ruangan itu.
πππbersambung πππ