
"Anak-anak hari ini kita akan kedatangan murid baru," ucap Bu Tini.
"Masuk, Nak!" panggilnya memberi kode dengan lambaian masuk.
Wanita dengan rambut panjang kulit putih bening itu kemudian masuk dengan sikap yang begitu angkuh pakaiannya juga rapi, semua siswa yang hadir saat itu tak melepas pandangan mereka pada wanita itu.
"Buset, itu kulit bening amat kayak sudah dikerokin."
"Kesempatan emas, lepas dari jomloh."
"Ya Tuhan, mimpi apa gue semalam."
"Semoga jomloh."
"Sudah semua diam!" bentak Bu Tini dengan wajah melebihi galaknya serigala kelaparan membuat ruangan seketika hening.
"Baik terima kasih. Silahkan perkenalan dulu," pintahnya menatap murid baru yang berada di dekatnya.
"Haii, semua nama gue Aira Syahrini Putri, bisa dipanggil Rara." Ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum tipis.
"Hai, Rara!" Teriak siswa serentak
Rara melihat di sekelilingnya semua pria yang ada dalam ruangan menatapnya kecuali pria yang duduk di sudut bagian kanan dekat jendela yang sibuk dengan earphone, entah apa yang didengarkan pria aneh tersebut.
"Rara, kamu bisa memilih tempat duduk yang kau inginkan," pintah Bu Tini
"Ra, sini aja sama gue."
"Sama gue aja Ra, lebih istimewa."
"Alay lo, ntar gue traktir cilok Mbak Yuli 2 mangkok, suerr deh. Sama gue aja please."
Lagi-lagi tatapan Rara tak lepas dari pria yang terpasang earphone di telinganya, bagaimana bisa wanita secantik, seputih, seanggun Rara ia tak meliriknya sekalipun walau hanya sebentar. Sedangkan pria-pria berteriak sorak memperebutkan Rara agar duduk bersamanya.
Pria aneh itu membuat Rara jadi penasaran setengah mati, baru kali ini ia bertemu dengan sosok pria yang sama sekali tak tertarik padanya.
"Bu!" panggil Rara
"Hmm," balas Bu Tini
"Rara akan duduk di sana." Ucapnya menunjuk meja sepasang 2 kursi yang satunya diduduki seorang pria dan yang satunya lagi kosong
"Mati dia masuk kandang singa."
"Ya kali, anak kucing uwu akan mati binasa."
"Tamat riwayat murid baru."
"Kayak judul lagu."
"Emang ada?"
__ADS_1
"Kagak ada hehe."
"Monyet hidup."
Satu sekolah tahu pria aneh itu seperti apa, sifatnya bagaikan menunggu mantan di gunung es minta balikan. Yah, dingin lah.
"Ya, terserah kamu Ra, semoga betah, yah." Ucap Bu Tini menepuk pundak Rara dan dibalas angguk oleh Rara.
"Yang lain jangan nakal-nakal sama Rara berteman baik, karena sekarang guru kalian lagi enggak enak badan buka bukunya baca-baca, Ibu keluar dulu," pintahnya beranjak keluar kelas.
"Baik Bu!" teriak sorak para siswa dengan wajah berseri-seri mendengar bahwa Guru mata pelajaran jam ini kosong
Ibu Tini juga memiliki jam mata pelajaran di kelas X. Mipa 1 jadi tidak mungkin ia mengajar 2 kelas dengan jam yang sama.
"Ekhm," kode yang diberikan Rara untuk mengambil perhatian dari lelaki yang duduk disebelahnya, sudah dari tadi tak melepas earphone di telinganya.
"Ekhmmmm," suara keras disertai penekanan dari Rara untuk kedua kalinya sama sekali tak digubris oleh pria itu.
"Uhukkk! Uhukkk!" membuat semua tatapan mengarah padanya karena mendengar suara batuk Rara sangat keras. Kecuali pria aneh di sebelahnya.
Ini yang ketiga kalinya Rara mengambil perhatian cowo itu tapi sama sekali tak ada jawaban.
Entah cara apalagi yang harus dilakukannya. Rara baru sadar betapa bodohnya dia, mana mungkin lelaki itu mendengarnya jika ia masih memakai earphone.
"Ya Allah mungkin ini jalan terakhir yang harus gue ambil."
"Apapun itu resikonya, maafin Ya Allah, maafin."
Rara kemudian mendekatkan kedua tangannya, mencabut earphone yang terpasang di telinga pria tersebut.
Pria itu kaget ditambah heran sangat heran! Dari mana wanita ini datang. Ia menatap tajam Rara.
Walaupun sedikit takut dengan tatapan lelaki tersebut Rara tetap mengatur eksperesi wajah agar tetap anggun dan tentunya elegan "Ekhm ..., kenalin nama gue Aira Syahraini Putri, bisa dipanggil Rara." Ucapnya mendonggakkan dagu dan mengulurkan tangannya tepat di depan wajah pria itu.
Pria itu hanya mengernyitkan keningnya tidak membalas uluran tangan Rara, ia bingung melihat wanita berambut setengah gelombang itu tiba-tiba ada di hadapannya.
"Lo siapa?" tanyanya dingin
'Asyik juga nih cowo,' batin Rara tersenyum sinis
Ini pertama kali Rara diperlakukan seperti ini, karena di sekolahnya dulu ia adalah seorang primadona sehingga semua pria tak henti-hentinya menggoda Rara.
Bahkan mantan yang sudah di buang jauh-jauh malah minta balikan mati-matian.
"Lo pikun yah? Tadi gue udah kenalin nama, nama gue
Aira Syahrini Putri bisa dipanggil Rara."
"Oh, iya gue lupa, gue itu murid baru di sekolah ini."
"Ngomong-ngomong nama lo siapa?"
__ADS_1
"Fariz." ucapnya singkat kembali memutar kepalanya ke depan, dan memasang earphone di telinga sembari mengeluarkan sebuah buku dari dalam laci.
Sebenarnya Fariz ingin menanyakan alasan gadis ini duduk di dekatnya, tapi ia tak ingin memperpanjang situasi, Fariz sudah mengetahui watak asli dari wanita tersebut hanya dengan melihat mata gadis itu.
'Ternyata nyalinya kuat juga cuekin gue, kita lihat sampai kapan kau bertahan Tuan Fariz.' batinnya senyum sinis.
Tringgg!
Bel berbunyi sangat keras ini saatnya jam istrahat.
"Enggak istrahat?" tanya Rara
Tak ada jawaban yang didengarnya dari Fariz yang saat itu fokus memasukkan beberapa peralatan tulis ke dalam tas, setelah semuanya masuk, resleting tas di tutup.
"Minggir!" pintahnya sehingga membuat siswa yang masih berada di dalam ruangan menatap mereka.
Melihat tatapan Fariz yang sudah memanas Rara tak ada pilihan lain, selain berdiri dari tempat duduk dan menghindar beberapa senti.
'Kita lihat sampai kapan kau bertahan Mr. Es,' gumamnya.
"Heii! Rara ke kantin bareng yuk," ajak siswa lelaki yang entah sejak kapan berada di dekatnya.
"Menurut lo gue cantik enggak? Gue putih enggak? Gue elegan enggak?" tanyanya sedikit angkuh
"Hmm ..., intinya semua sudah ada di lo sih, emang kenapa?"
"Heiy, Ra?" teriak seorang wanita yang melambaikan tangannya di depan pintu kelas membuat yang mendengarnya termasuk Rara mengikuti arah suara tersebut.
Sehingga melupakan lelaki yang baru beberapa menit diajaknya bicara tak direspon.
Yah itulah sifat asli Rara, sejak SD sampai sekarang karena sudah terbiasa dengan buaya darat. Semua lelaki liar hanya dianggap angin lewat.
"Susi! Temen SD gue. Kangen banget udah lama enggak ketemu." Sahutnya berlari kecil memeluk gadis itu.
"Ya ampun cantik banget lo, Ra," ucapnya melepas pelukan Rara lalu memegang bergantian pipi kiri dan kanan gadis itu. "Operasi plastik?"
"Muka Lu dioperasi plastik, cantik alami gini dibilangin gituan," ucap Rara memanyungkan bibirnya
"He he ..., canda doang yaudah ke kantin yuk," ajak Susi mengenggam tangan Rara dan dibalasnya dengan anggukan kecil.
***
"Lo kenapa, Riz?" tanya Andi yang duduk di dekat Fariz celepotan dengan bakso yang dikunyanyah.
Andi tak mungkin menanyakan hal itu pada sahabatnya tanpa alasan dimana Fariz sudah 1 menit melamun.
Melihat Fariz yang sama sekali tak menggubris perkataan dari Andi, ia bertekad melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan "Oiii!" Teriak Andi memukul meja di depannya dengan keras membuat Fariz terkaget.
"Astaghfirullah laa haula wala quwwata illa billah ...." istighfar terdengar dari Fariz yang membuat seluruh penghuni kantin membungkam mulut mereka menahan tawa.
Siapa coba yang enggak bisa menahan tawanya jika melihat sosok pria yang menjadi Mas kulin di sekolah dengan watak melebihi dinginnya es batu,
__ADS_1
Bahkan panasnya api bisa dipadamkan sangkin dinginnya bisa juga melakukan tingkah konyol seperti itu.