Dia Arrogan

Dia Arrogan
Kamu manis


__ADS_3

"Bang, gue heran sama Fariz. Kok bisa dia sebaik itu sama gue," Rara curhat mengenai kejadian tadi pagi saat Fariz bersamanya dibelakang kelas XII Mipa 2.


Dimana Rara duduk berdekatan dengan Fino di dalam mobil menuju perjalan pulang.


"Apa Fariz, udah suka sama gue." Sambungnya menatap jendela mobil kaca yang transparan.


"Bagaimana dengan lo?" tanya balik Fino. Pandangan Rara yang tadinya menatap suasana luar mobil. Malah ia palingkan ke depan.


"Gue enggak tahu," jawabnya singkat menyandarkan punggung disertai kepalan tangan


"Sekarang lo gengsi Ra. Karena pada intinya lo memang suka sama Fariz." Ujar Fino tersenyum miring. Menatap wajah datar Rara yang sedang termenung.


***


"Ra! Temen lo datang!" teriak Fino terdengar dari ruang tamu.


Rara mendecak kesal, memikirkan seseorang yang menganggu tidur siangnya. Memang siapa orang tersebut. Apakah dia penting? Atau hanya iseng saja.


"Rara!" panggil Fino sekali lagi.


"iya Bang! Iya!" teriak Rara masih terbaring dikasur empuknya. Rara sangat sulit membangunkan tubuhnya. Matanya terasa berat untuk dibuka. Tetapi karena Fino sudah berteriak dari tadi, Rara mencoba untuk bangun dari tempat tidur.


"Hua ..., siapa sih, ah. Ganggu tidur aja." Nguapnya meregangkan otot-otot. Sembari menggarut kepalanya yang gatal.


Tanpa mencuci muka, Rara keluar dari kamar dengan rambut acak-acak'an, ia berjalan menyamakan orang yang tidak sadar. "Adduh, siapa sih," desis Rara masih dengan mata yang terbuka setengah.


Saat Rara sudah berada di ambang pintu, yang di depannya terdapat bentangan besi memanjar. Ia melihat sosok pria yang sedang berbincang dengan Fino di ruang tamu.


Sosok itu tak asing baginya, dari bentuk rambut dan cara duduk sangat ia kenal, Rara mengucek mata memperbaiki penglihatan.


Ternyata pria yang bersama Fino adalah Fariz. Mata Rara terbuka lebar, mulutnya pun ikut terbuka membentuk O karena kaget, ia berlari secepat mungkin ke dalam kamar. Tanpa sengaja bahu Rara menyentak dinding pintu. Sehingga menghasilkan suara besar.


Prak ....


Suara itu terdengar sampai di ruang tamu. Fino dan Fariz terkejut.


"Ra! Itu suara apa?" teriak Fino khawatir dengan suara yang didengarnya


"Cuman kucing Bang!" jawan Rara meneriaki balik Fino.


Disisi lain Rara bertanya-tanya, apa yang dilakukan Fariz? Tidak biasanya ia datang ke rumah, Rara berpikir Fariz mungkin mengetahui, alamat rumahnya dari John. Tapi tidak mungkin, karena saat ini John sedang kecewa pada Fariz, sebab kejadian tadi, Fariz mengacaukan semuanya. Ah, sudahlah Rara tak ingin pusing memikirkan hal tersebut.


Dengan napas mengebu-gebu Rara mencoba menenangkan diri.


"Oke tenang Ra!"

__ADS_1


"Kok jadi canggung sih, seharusnya kan gue senang, Fariz yang datang sendiri. Jadi enggak susah lagi deh taklukinnya," Rara terus bergumam. Dimana Fino telah resah menunggu kedatangan adiknya tersebut.


"Ra! Cepet! Enggak enak nih. Temen lo udah nunggu dari tadi!" teriak Fino sangat resah.


"Iya Rara udah mau turun Bang!"


Tanpa memilih, Rara langsung mengambil pakain yang dihanger pada gantungan kecil dikamarnya.


Wanita itu turun dengan pakaian warna-warni, Fino yang melihat Rara seperti anak tk, terkekeh kecil.


Fino menepuk jidat, dengan kelakuan konyol Rara, padahal Rara tak menyadari jika dirinya seperti anak tk yang baru masuk sekolah.


Fino tak bisa membayangkan jika Fariz menyadari hal ini.


"Siapa sih Bang?" tanya Rara pura-pura tidak tahu. Mendengar suara itu, Fariz berbalik.


"Fariz Ra! Dia datang bawain lo martabak manis." Ucap Fino


"Kalau gitu gue naik, gue enggak pengen ganggu hubungan kalian." Fino berdiri dari tempat duduk dan beranjak pergi, Fino berjalan menatap Rara dengan memberi kode bisikan "Baju lo Ra." Rara tak mengerti apa yang dikatakan Fino, ia mengeryitkan dahi agar Fino mengulang ucapannya.


"Baju, baju." bisik Fino kecil dengan gerakan mulut, menunjuk baju Rara. Kemudian Fino tidak berbalik lagi, ia hanya fokus melanjutkan hentakan kakinya.


"Baju?" gumam Rara memikirkan perkataan Fino padanya, Rara tidak mengerti apa yang dimaksud Fino. Sudahlah, mungkin Kakaknya tersebut hanya mencoba menjahilinya.


Dengan sedikit canggung Rara berjalan ke sofa yang berada di depan Fariz. Ia mendudukkan bokong secara perlahan.


"Ehm ... Jadi lo ngapain ke sini?" tanya Rara tersenyum manis ke arah Fariz. Sedangkan yang ditanyanya mengepalkan bibir menatap langit-langit rumah. Fariz sebenarnya ingin tertawa melihat stylish Rara. Yang ombang ambing dengan pakaiannya. Tetapi Fariz masih bisa menahan tawa itu dengan mengigit bibirnya.


"Kenapa?" tanya Rara celingukan menatap Fariz.


Fariz mengedip-edipkan mata. "Enggak kelilipan." Bohong Fariz merasa tak berdosa. Mendengarnya Rara mengangguk percaya.


Fino yang memantau dari atas menepuk jidat, melihat Rara yang masih tidak menyadari pakaiannya. "Ah, sudahlah." Gumam Fino.


"Gue ulang, lo ngapain ke sini?" tanya Rara untuk kedua kalinya.


"Nih buku lo," jawab Fariz datar, mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas lalu ditaruh di atas meja.


"Dapat dari mana?"


"Jatuh dari tas lo,"


Rara manggut-manggut dengan manyungan bibir 5 centi.


"Kalau gitu gue pulang," ucap Fariz berdiri.

__ADS_1


"Eh tunggu dulu," ujar Rara menahan Fariz. Pria itu berbalik dengan raut wajah bingung.


"Duduk dulu," pria itu menuruti perkataan Rara ia kemudian kembali duduk di sofa, Fariz tak mungkin menolak, karena tempat ini bukan rumahnya. Fariz juga harus menghargai pemilik rumah, ia hanya'lah tamu.


"Gue bikinin minum, jangan menolak!"


Fariz menghela napas berat. "Terserah." Ujarnya tak ingin basa-basi.


"Kalau gitu tunggu di sini!" pintah Rara dan berjalan menuju dapur.


Hanya 5 menit. Rara datang dari dapur membawa 1 buah gelas yang isinya jus jeruk dengan tambahan es di dalamnya.


"Nih, jus jeruk dingin. Ala Aira Syahrini Putri." Ucapnya mendonggakkan sedikit dagu ke atas. Lalu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Fariz.


Fariz terdiam sejenak menatap jus jeruk itu. "Tunggu apa lagi? Diminum dong," ucap Rara.


Mendengarnya Fariz mengercap gelas itu lalu diminumnya.


"Gimana, enak enggak?" tanya Rara dengan raut wajah penasaran, menunggu jawaban Fariz.


"Manis." Jawabnya menatap wajah Rara.


"Apa?" tanya Rara pura-pura tidak dengar.


"Kamu manis." Desis Fariz.


Mata Rara seketika melotot. Jantungnya berdetak cepat. Suasana seketika hening, seakan berada di kuburan jam 12:00 malam.


Di sisi lain Fino yang masih setia memantau dari jarak jauh, menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menggeleng tidak percaya dengan perkataan Fariz. Berdasarkan fakta yang ia kumpulkan dari anak kelas X. Fariz anak yang dingin, dan tidak mudah bergaul. Tetapi menjadi rebutan di kalangan kaum hawa.


"Lo ngomong apa tadi?" tanya Rara memperjelas perkataan Fariz.


"Lo manis." To the point Fariz, tersenyum kecil ke arah Rara. Pipi Rara seketika memerah, melebihi warna blush on natural, Rara meremas erat kain bajunya. Ia ingin berteriak keras.


"Gue pulang, salam sama Kak Fino," ucap Fariz beranjak dan berjalan keluar.


Rara berdiri kemudian berjalan mengikuti Fariz dari belakang dan memantaunya di ambang pintu, pria itu sudah berada jauh dari rumah. Wanita itu menutup pintu rapat-rapat.


Ini saatnya Rara melepas semuanya.


"Arrghh!" teriak Rara, loncat-loncat.


"Arghh!"


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2