
'Loh, loh Fariz natap gue lagi,' Rara sangat canggung karena secara tiba-tiba tatapan Fariz mengarah padanya Pria itu mendekat ke arah Rara, jantung Rara berdetak begitu cepat langkahnya tinggal sedikit menuju dimana Rara duduk, kini Pria itu sudah berada di hadapan Rara ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Rara dan "Riz!" Fariz berbalik mengikuti arah suara itu dan sumbernya ternyata Andi. Andi kesal ia mengira Pria itu akan mencium pipi Rara,
padahal Rara sudah menutup matanya begitu erat disertai keringat dan perasaan yang campur aduk karena ia mengira Fariz akan melakukan sesuatu yang tak diduga
"Lo mau cium Rara yah?" tanyanya disertai wajah yang akan meledak, Fariz hanya menatap Pria itu tajam tak ada jawaban sama sekali diterimanya, Fariz kembali ke hadapan Rara ia mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu, Rara hanya diam membeku tak ada gerakan apapun, jantungnya berdenyut tak karuan lalu tanpa gerakan kepala dari Fariz kemudian dikeluarkan dari saku celananya sebuah anting kecil lalu dipasang ke telinga Rara, mata Rara seketika membulat napasnya tak teratur menahan canggung. Ia hanya mampu mengatur napas agar Fariz tidak mendengar detakan jantungnya. Tapi terlambat Fariz sudah mengetahuinya lebih dulu
'Ya Allah ya Robbi, tenangkan Rara ya Allah jangan sampai meledak. Huh ....,' jantung Rara berdetak begitu cepat saat Fariz membisikkan sesuatu ketelinganya "Jangan canggung nanti meledak," desisnya pelan ketelinga Rara tak tanggung-tanggung jantung Rara tak bisa dikontrol wajahnya memerah seperti kepeting rebus
"Itu anting-anting lo, jaga baik-baik!" pintah Fariz memundurkan badannya dari hadapan Rara, anting-anting yang dipasang ditelinga kiri Rara adalah milik wanita itu Fariz menemukannya di pinggir sungai tempat ia mandi dimana Rara dan Susi menempati sungai itu, Fariz tahu itu anting milik Rara karena saat Rara tidur dipangkuannya Anting tersebut berkilau
"Udah ngobrolnya? Cih lama!" sindir Andi yang dari tadi kesal melihat Rara bersama Fariz berduaan seperti induk ayam dan anaknya tak terpisahkan, "Udah," jawab Fariz sedangkan wanita itu masih tertunduk dengan wajah merah sembari mengatur napasnya yang tak karuan itu 'Oke Rara tarik napas, buang, tarik napas lagi, buang.' batinnya disertai gerakan
"Lo kenapa Ra, Cie lagi cinlok," goda Susi menyenggol lengan Rara, Steven yang dari tadi hanya berlaku sebagai penonton bayaran menghela napas berat melihat kelakuan anak remaja sekarang padahal ia tak mengetahui kalau dirinya juga golongan remaja Steven, Steven.
Dari kejauhan terlihat John yang berlari begitu cepat dan berhenti di dekat Steven dengan napas yang tidak teratur "Lo kenapa John?" tanya Steven "Itu ..., itu ...,"
"Tarik napas dulu, kemudian buang tarik lagi buang, tarikk ..., tarik ...., dan tarik ...., iya tarik terus ..., dan ...,"
"Astaga Steven lo mau bunuh gue,"
"Hehe ..., becanda doang emang ada apa'an?"
"Jadi begini kata Pak Budi katanya sebentar malam, kita akan adain api unggun di lapangan utama, untuk setiap tim harus hadir karena akan ada games berhadiah," jelas John
"Oh gitu,"
John yang melihat Fariz duduk disebelah Rara langsung menengahi mereka "Lo itu enggak boleh sering deketin Rara, nanti beradu" pintahnya 'Cih apa'an sih Kak John duduk di dekat Rara lagi, enggak lihat gue apa, gue juga pengen duduk di dekat Kak John,' gemas Susi mengepalkan bibirnya
'Saingan gue bertambah,' batin Andi sudah dari tadi hatinya tak tenang kini tambah sesangsara melihat John duduk disebelah Rara
"Kalau begitu lets go cups makan," ujar John langsung menyerbu makanan yang ada dihadapannya
__ADS_1
***
Malam pun tiba 5 insan dari tim 15 telah bersiap.
Style mereka melebihi seorang bodygoard terkenal bukan hanya itu Mafia kelas atas bahkan phsycopath pun dikalahkan tapi enggak pegang pistol juga kali emang pake pistol, enggak tahu! Oke lanjut
"Kalau gitu kita berangkat ke lapangan utama," pintah John berada di depan disusul 4 manusia yang mengikutinya
Lapangan utama sangat meriah api unggun menyala begitu besar sorak siswa duduk melingkar memutari Api unggun yang berada ditengah
"Bapak ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat," jelas Pak Budi ikut duduk bersama siswa
***
Via message telepon
"Halo Pi, kenapa?"
"Ingat Fino jangan sampai Rara tahu,"
Via message of
"Maafkan Abang Ra, Abang enggak bermaksud untuk menyembunyikannya tapi ini demi kebaikanmu," gumamnya menatap langit-langit rumahnya dimana Fino sedang duduk di sofa sendirian
Sebenarnya Mami Fino, Elsa sedang berada di rumah sakit tepatnya pada Negara Australia, tenaga medis pada tempat itu tak mengetahui apa nama penyakit yang diderita Elsa dan lebih daruratnya lagi penanganannya sangat rumit karena nama penyakit tersebut belum diketahui
Papi Fino melarangnya untuk memberitahu ini pada Rara karena jika Rara tahu ia akan pingsan tiba-tiba, penyakitnya tidak ringan jika wanita itu pingsan maksimal kesembuhannya berjarak antara kematian dan tetap hidup. Fino tak mungkin kehilangan seorang Adik yang sangat disayangi walaupun sejak kecil Fino jahil pada Rara tapi sisih hatinya selalu tulus untuk Rara
***
"Karena setiap tim telah hadir, kalau begitu kita main games," ujar Pak Budi
__ADS_1
"Yeay, games,"
"Yuhuyy, btw Pak Budi games apa?"
"Yah jadi gamesnya itu dansa berpasangan," jawab Pak Budi berdiri dari tempat dimana ia duduk
"Hanya dari tim saja yah Pak, untuk pasangannya," tanya salah seorang siswi
"Iya biar kalian yang memilih sendiri perwakilan 2 orang dari setiap tim," jelas Pak Budi "Dalam waktu 2 menit sudah ada perwakilan,"
Fariz dan Rara yang saling melontar tatapan dihancurkan oleh John yang langsung menarik tangan Rara "Yaudah Ra kamu aja yang ikut bareng Aku," Andi yang melihat perlakuan John pada Rara langsung melepas gemgaman tangan John pada Rara "Biar gue aja Kak, gue jago dansa kok," pintahnya
"Halah, Rara ama Andi itu kurang pandai dansa Kak John, biar sama Susi ajah yah," ucap Susi memperlihatkan wajah gemesinnya pada John
"Tinggal 10 detik lagi," ucap Fariz tak peduli dengan pertengkaran yang terjadi pada timnya
"Bilang aja lo sirik sama gue kan," sindir Andi pada Susi "Ah bodoh sama Susi ajah yah Kak John?"
"5 detik lagi," ucap Fariz
"Enggak gue aja sama Rara,"
"Empat,"
"Emang lo siapa Hah? Yang lebih cocok itu gue sama Kak John," ketus Susi
"Tiga," hitungan Fariz membuat Susi dan Andi tak berhenti berdebat
"Apaan sih lo ngalah aja, yang cocok itu emang gue sama Rara,"
"Dua,"
__ADS_1
"Cowo harus ngalah ama cewe,"
"Sat ...," ucap Fariz seketika terpenggal dari perkataan Rara "Biar gue aja sama Fariz," teriaknya