Dia Arrogan

Dia Arrogan
Are you really?


__ADS_3

Tring! Tring!


Bel berbunyi 2 kali menandakkan seluruh mata pelajaran hari ini telah usai dilaksanakan.


Saat ini Rara jengkel melihat gerombolan para wanita yang mengerumuni Fariz seperti biasa, memberikan berbagai macam hadiah, dimana Andi selalu setia mendampingi Fariz.


Rara memutar mata sembari menghela panjang. Ia akan menunggu Fariz untuk beberapa saat, wanita itu berdiri di ambang pintu, sedangkan Fariz? Lelaki itu berada di lapangan basket.


Sudah 10 menit Rara berdiri di tempat itu, menunggu Fariz, dimana pria itu masih meladeni gerombolan wanita tersebut.


Karena Rara sudah muak, ia berjalan dengan langkah panjang disertai raut wajah sangat marah. Rara menyentak bahu, kepala, apapun itu tidak dipedulikan ia melewati gerombolan itu tanpa basa-basi.


"Aw, liat-liat kalau jalan!"


"Hei ... itu mata digunain!"


"Dasar!"


Andi terkejut saat Rara datang secara tiba-tiba dan menarik paksa tangan Fariz. Rara membawa Fariz ke belakang sekolah, meninggalkan Andi sendirian dikerumuni siswa wanita.


"Ekhm ... nih udah pulang sekolah, jawaban kamu apa?" tanyanya berdehem sengaja.


Fariz menyandarkan badan ditembok dan mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat rapi, ia memberinya pada Rara.


"Nih."


Saat kertas itu sudah berada ditangan Rara ia membuka lipatan atas. "Jangan buka di sini," tegur Fariz.


"Terus buka dimana?"


"Rumah."


***


Saat tiba di depan rumah Rara langsung menerobos masuk, dimana Fino saat itu duduk di sofa, hampir berdekatan dengan ambang pintu sekitar 6 M.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Fino menyapa Rara dengan salam. Sembari mengeleng-geleng.


"Eh, he he assalamu'alaikum. Maaf Bang! Lupa, soalnya buru-buru," ucapnya berjalan cepat menaiki tangga.


Tibanya Rara di kamar, ia langsung melempar tas di kasur begitu saja, tanpa mengganti seragam sekolahnya. Rara kemudian mendudukkan bokong di kursi dengan meja di depannya. Ia membuka kertas yang diberikan Fariz secara perlahan, dengan menutup mata. Setelah kertasnya terbuka secara utuh, wanita itu mencoba membuka mata dengan pelan.


Dilihatnya coretan hitam yang bertuliskan.


'Gue tahu selama ini, lo udah berjuang mati-matian, makasih ... tapi untuk saat ini gue mau fokus kejar impian dulu,'


Di dalam kertas itu masih ada kertas lainnya. Yang bertuliskan 'Mungkin jawaban gue, tidak!'

__ADS_1


Mata Rara memanas, tangannya bergetar membaca tulisan yang berada digengamannya. Ia tak menyangka Fariz akan memberi jawaban seperti itu. Ia mengira Fariz juga memiliki perasaan yang sama, selama ini pria itu selalu perhatian pada Rara, bahkan saat John ingin menyatakan perasaan Fariz langsung menerobos dan membawanya pergi. Tetapi kenapa? Kenapa harus seperti ini.


Air mata Rara jatuh menetes satu persatu membasahi sela-sela pipinya, tidak ada eksperesi yang ditampilkan melalui raut wajahnya, hanya datar yang nampak.


'Apa besok gue harus ke Australia? Sungguh? Gue gagal!' batinnya menundukkan kepala sampai jidatnya menyentuh alas meja. Ia memukul-mukul alas meja itu dengan sangat keras, Rara ingin berteriak keras, sekeras mungkin. Tetapi hasratnya tertahan oleh nekad yang tidak kuat.


Ia harus apa sekarang, mungkin memang Fariz bukan orang tepat yang mampu mengisi hatinya, Fariz adalah cinta pertama Rara. Apakah cinta pertama itu akan bertahan? Atau tidak sama sekali.


"Fariz ...!" raungnya sekeras mungkin disertai tangisan terseduh-seduh. Ia mencengkram kuat jemari-jemarinya. Rasanya nyawa Rara sekarang tidak bersatu lagi oleh tubuhnya, Sakit! Sangat sakit! Itu yang dirasakan Rara dan begitu perih.


Seandainya dulu dia tidak membuat tantangan ini tidak mungkin seperti itu, Rara merasa dirinya sangat bodoh begitu bodoh. Sangat banyak cara yang dikeluarkan wanita itu tetapi apa? Tak ada hasil sempurna yang didapatkannya.


"Apa itu harapan?" Rara bergumam sendiri dengan raut wajah datar disertai air mata yang terus mengalir.


"Kenapa harapan harus ada! Jika pada akhirnya hanya luka yang datang."


-Aira Syahrini Putri-


Wanita itu terus menangis, meraung begitu keras. Tidak ada yang mendengarkannya karena pintu kamar tertutup begitupun ruangannya kedap suara.


***


Awal pagi yang begitu cerah tetapi tidak secerah dengan ekspektasi Rara, wanita itu masih melentangkan badan dikasur.


Tok! Tok!


"Masuk!" teriak Rara dengan suara lemah dan serak.


Ceklek!


Fino pun membuka pintu ia melihat Rara yang belum beres-beres untuk ke sekolah. Badan wanita itu mengigil.


"Ra? Lo kenapa? Sakit?" tanya Fino mengecek suhu tubuh dijidat adiknya tersebut, punggung tangan Fino merasakan hawa panas.


Fino melihat mata wanita itu bengkak dan masih meneteskan air mata. "Ra? Ada masalah? Cerita kalau ada masalah." tidak ada jawaban dari wanita itu.


Padahal kemarin Rara begitu semangat saat, masuk ke rumah.


"Yaudah, lo enggak usah ke sekolah dulu, nanti kalau udah sehat baru ke sekolah."


Saat Fino ingin beranjak tangan Rara menggapai lengan Fino. "Bang, gue ... mau pindah ke Australia." Desisnya.


Raut wajah Fino seketika datar, tanpa sengaja matanya teralihkan pada sebuah kertas yang tergeletak di lantai. Ia penasaran lalu mengambilnya. "Kalau gitu abang, berangkat sekolah dulu yah?" Fino dengan cepat keluar dari kamar Rara.


Saat dirinya sudah berada di luar kamar. Ia membuka surat yang ditemukan kemudian dibaca. "Fariz akan menyesal," gumamnya meremas kuat kertas yang berada digenggamanya. Fino tidak akan bermain kasar dengan Fariz, tetapi waktu yang akan menjawab semuanya, itu yang dimaksud oleh pria bertubuh kekar tersebut.


***

__ADS_1


Pukul sudah menujukkan 09:00 tetapi Rara belum kunjung datang, itu yang ada dibenak Fariz saat ini. Hanya dirinya dan keheningan angin. Entah mengapa hatinya sunyi, jika tidak bersama Rara.


Setiap kali jam berganti matanya akan setia menatap pintu kelas.


Tring! Tring!


Jam istrahat pertama dimulai. Tiba-tiba Andi datang dari balik pintu.


"Riz? Rara mana?" tanya Andi menatap kursi di sebelah Fariz yang kosong. Fariz hanya memberi jawaban dengan menaikkan kedua pundaknya.


"Udah ah, ke kantin," ajak Fariz menarik paksa lengan Andi.


Saat berada di kantin, pikiran Fariz masih pada Rara, Rara dan Rara. Andi yang dari tadi berpoteh-poteh tidak pernah diberi jawaban oleh Fariz.


Karena Andi emosi ia menepuk alas meja dengan sangat keras. Membuat lamunan Fariz seketika hancur


Fariz terkejut dan. "Rara ...!" teriak lelaki itu langsung berdiri dari tempat duduk. Teriakan itu sampai ketelinga siswa yang ada di kantin, dimana dirinya menjadi pusat perhatian.


Mata Fariz melotot lebar. "Riz ... duduk! ngapain?" bisik Andi dengan penuh penekanan sambil menutup wajahnya, ia juga malu karena duduk berhadapan dengan Fariz.


Fariz kemudian duduk setelah menenangkan diri.


"Lo sebut nama siapa tadi?" tanya Andi penasaran.


"Salah sebut," elak Fariz.


Andi memutar mata. "Lo sebut nama Rara kan?" tanyanya sekali lagi.


"Enggak!" ketus Fariz, berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Andi.


***


Kediaman keluarga Edward


"Chat ... enggak! Chat ... enggak!" Fariz bingung, ia merasa bersalah pada Rara dengan surat itu.


Fariz mendecak kesal mengacak-ngacak pucuk kepalanya lalu mengigit bibir. "Mungkin chat aja."


[Ra?]


[Udah, tidur?]


"Diread?" gumam Fariz, biasanya Rara akan membalas cepat pesan Fariz jika melihatnya.


"Coba, satu kali." Lanjutnya memegang bibir.


[Aku minta maaf]

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2