
"Fariz mau enggak jadi pacar gue"
Mendengar perkataan Rara Fariz seketika membulatkan mata ia terkejut mana mungkin, ini pertama kali ada seorang wanita yang berani mengungkapkan perasaannya padanya ia memang sering diperbutkan oleh wanita-wanita di luar sana tapi tidak dengan pengungkapanan perasaan seperti ini
Fariz meneguk ludah dengan cepat ia menjawab "Enggak,"
Rara terkejut mendengar jawaban Fariz tidak biasanya seorang pria menolaknya mentah-mentah seperti itu bahkan hanya dengan satu kata saja. Diluar sana para lelaki mengantri minta nomor telepon sedangkan cowo itu tidak bisa dikatakan. Ia bertanya-tanya apa kurangnya dirinya jelek enggak cantik iya, kaya, elegan, putih apalagi? Sebenarnya tipe seperti apasih cewe Fariz
"Kenapa enggak," tanyanya penasaran
"Gue mau fokus dulu." jawabnya dingin
"Kasih gue waktu yah?"
"Enggak,"
Tak lama Susi masuk membawa makanan ringan seperti yang dijanjikannya tadi untuk membelikan beberapa makanan di kantin kepada Rara.
"Susi?" ucapnya terkejut melihat kedatangan Susi tiba-tiba, ia berpikir Susi masih marah padanya saat kejadian kemarin tapi mengapa ia masih mau menemui Gadis itu
"Susi, G-g--gue m-ma ...," ucapan Rara seketika terpotong oleh ucapan Susi yang menyedorkan air putih disertai beberapa makanan ringan. "Udah gue maafin makan dulu nih, ini juga cilok Mbak Yuli gue pesanin khusus buat lo," jelas Susi tersenyum ke arah Rara
"Gue duluan." ucap Fariz berdiri dan beranjak keluar uks dan dibalas angguk oleh Susi
"Tunggu!" teriak Rara dari belakang membuat badan Fariz seketika berbalik, "Hmm ...," dehem Fariz
"Gue hanya mau bilang makasih." desisnya tersenyum manis ke arah Fariz
Fariz tak menggubris ucapan Rara tapi hatinya tersenyum merona, itulah sosok Fariz yang sama sekali tak ada yang tahu bagian di dalamnya
Tak lama kepergian Fariz, Rara melihat Andi lewat dengan barang belanjaannya
"Andi?"
Kepala Andi mengikuti arah panggilan itu dan ternyata suaranya berada di uks
"Eh Adek princess toh, ada apa!" ucapnya masuk ke dalam uks duduk di sebuah sofa dekat pintu
Tak mungkin Rara memanggil Andi tanpa alasan seperti itu, gadis itu memiliki rencana tapi rencana apalagi yang akan dilakukannya
"Hehe ...," tawa paksa Rara. "Andi gue boleh nanya enggak?"
"Oh boleh, boleh, boleh, emang mau nanya apa?"
"Lo tahu enggak tipe cewe yang disuka Fariz?" tanyanya seriuss
"Lo suka Fariz Ra?" tanya Susi kaget mendengar ucapan Rara ia hanya menutup mulutnya membayangkan hal itu jika benar adanya
__ADS_1
"Enggak,"
Rara mengambil kesempatan besar ini untuk dapat mempercepat waktu mematahkan Tuan Esnya, seperti enggak ada kerjaan aja kau Ra
"Hmm ..., tipe cowo yang disukai Fariz?," pikir Andi sejenak memegang dagunya memandang langit-langit ruangan
"Hmm ...,"
2 menit kemudian
"Lama banget lo, katanya sahabat. Biar sahabat aja kagak tahu tipe cewe yang disukai," bentak Susi gemas
"Fariz itu suka cewe ....,"
Dringgggg ....,
Pertanda jam istrahat telah selesai ini saatnya jam mata pelajaran selanjutnya.
"Auah lama lo." ketus Susi semakin kesal "Ayok Ra, lo masih bisa kan?" tanya Susi dan dibalas angguk pelan oleh gadis itu
***
"Assalamu'alaikum Abang," salam Rara masuk dalam rumah, Kakaknya yang duduk disofa ruang tamu sama sekali tak menggubris salam dari adiknya ia hanya sibuk memainkan handphone yang ada digengamannya
"Assalamua'alaikum ....," teriak Rara sekeras mungkin barulah Fino memalingkan pandangannya dari handphone itu. "Wa'alaikumsalam," jawabnya lalu kembali memainkan handphone digengamannya
"Apaan sih Ra." Desis Fino
Rara heran tak biasanya Pria itu memberi jawaban seperti itu, "Kenapa Bang?" tanyanya melihat layar handphone yang dari tadi jempol-jempol Fino bermain diatasnya. Melihat mata Rara memperhatikan handphonenya, Fino memutar benda itu "Ra! Naik ...,"
Pintahnya menunjuk ketangga dimana jalan menuju kamar gadis itu
Rara tak ingin merusak mood Kakaknya, baru kali ini Fino seperti itu, ada apa dengannya apa yang membuat lelaki itu berubah drastis. Dengan kepala tertunduk Rara naik ditangga, ia kecewa dengan sikap Fino yang tidak menjahilinya lagi.
Setelah membersihkan tubuh mengganti pakaian
Rara duduk dimeja belajarnya masih memikirkan Kakak lelakinya itu
"Abang Fino kenapa yah? Tak biasanya ia seperti itu." gumamnya sambil menghela nafas pelan
'Fariz,' batinnya tak sengaja mengucapkan kata itu
"Astaga ya Allah Ra, istighfar ingat jangan sampai kepatok ayam. Oke fokus pada tujuan enggak boleh baper." gumamnya mengelus-elus dada sembari tersenyum paksa
Tanpa sengaja matanya teralih oleh sebuah kertas berbentuk persegi panjang. Apalagi kalau bukan yang diperlihatkan Papinya kemarin malam Rara tersenyum sinis kali ini tekadnya kuat untuk melakukannya
***
__ADS_1
Drrrttt ...., Drrrtt ....,
"Fariz!" teriak John tetap fokus pada handphonennya
John michael edward atau biasa dipanggil edward kakak dari Fariz sifatnya jauh beda dengan adiknya John dikenal dengan sosok yang beribawa, ramah, dan tidak suka basa-basih ia juga dikenal romantis oleh deretan mantannya. Ia bersekolah di Perancis karena cerdas tapi kali ini John memutuskan untuk pindah bersekolah di Indonesia satu sekolah dengan adik kecilnya Fariz. Karena menurut Ayahnya Fariz tidak memiliki teman banyak, memang punya tapi satu siapa lagi kalau bukan sahabat kecilnya Andi yang setia menemani
Drrrtt ..., Drrrttt ...,
"Fariz! Handphone lo dari tadi berdering." ketusnya tidak tahan ingin meledak
"Tunggu gue turun," teriak Fariz menuruni tangga
"Siapa sih," gumamnya, tak ada nama yang ia lihat dari nomor tersebut, tanpa banyak pikir Fariz mematikan teleponnya yang terus berdering, setelah dimatikan handphone kembali mengeluarkan suara bising
Drrtt ...,
"Ya ampun Riz ..., kalau handphone berdering itu diangkat bukan dilototin," ketus John
"Iyadeh iya,"
Via telepon on
"Halo Tuan Es,"
Suara itu tak asing ditelinga Fariz, ia mengenalnya ini tidak salah lagi suara itu berasal dari wanita bodoh yang selalu cari masalah dengannya, tapi ia heran bagaimana bisa wanita itu mendapat nomor teleponnya padahal Fariz tak pernah menpublikasihkan nomor tersebut
"Tuan Es."
"Hallo?"
"Darimana dapat nomor gue?" tanyanya dingin
Fariz frustasi ia mengacak-acak puncak rambutnya hidupnya tidak akan tenang jika terus diganggu oleh wanita bodoh itu.
"Gue dapat dari ...,"
'Gue enggak mungkin tanya Fariz, jika ia melupakan benda kecil terpanpang nomor teleponnya dirumah bisa-bisa ia ngamuk.' batinnya
"Hmm ..,"
"Yah gue dapet aja lah."
"Simpan nomor gue baik-baik yah Tuan Es,"
Via telepon off
"Cih, sial bagaimana bisa gue bisa seceroboh itu," gumam Fariz meremas tangannya karena kehidupannya akan terusik oleh gangguan-gangguan aneh dan cemoan dari gadis bodoh itu.
__ADS_1
#Bersambung