
Malam pun tiba, latihan persembahan yang dilakukan tim 15 berakhir sempurna, matahari telah terbenam waktu menunjukkan pukul 18:59 malam
"Wuih ..., gagah juga lo Ndi," puji Steven melihat tatanan pakaian Andi dari ujung kaki sampai puncak kepala
"Iya dong Kak, masa harus gembel." Ujarnya songong menaikkan dagu
Tak lama kemudian Rara dan Susi keluar dari tenda selepas mengganti pakaian mereka untuk pertunjukkan, John dan Fariz yang duduk di kursi kecil melihat kedua wanita itu keluar. Mata kedua Pria itu melirik Rara terus-terus tanpa melenceh ke pandangan lain
Susi yang berada disisi Rara dilupakan seperti angin yang lewat begitu saja tanpa pamit, kini mood Andi turun karena ia harus melihat kedua Pria aneh tersebut memandangi Rara. Tapi mau gimana lagi lelaki itu harus mengontrol rasa cemburunya pada Rara karena hari ini akhir dari pertemuan mereka 'Sabar Ndi, sabar,' batin Andi mengelus dadanya pelan sebanyak 3 kali dan menghela napas pelan
Tak lain Steven kini jiwa usilnya muncul dari kalem ke brandalan "Oi ...," teriak Steven memukul pundak Fariz dan John sehingga membuat kedua insan itu terkejut tak karuan "Astagafirullah, Ndi. Apa-apaan sih lo," ketus John kesal jantungnya seketika turun saat dirinya terkejut
"Lo kenapa liatin Rara kayak gitu suka yah?"
"Karena Rara cantik?"
Mendengar hal tersebut John hanya mampu menggarut kepalanya yang tidak gatal "Y-y--yah siapa yang suka, gue cuman liat Rara itu sepertinya canggung!" gagap John
"Ih Kak Steven, kalau misalnya Kak John bilangnya gitu yah biarin aja, jangan maksa suka orang lain," belah Susi mengepalkan kedua tangan di depan dada dengan tatapan kesal padahal saat itu Susi cemburu mendengar bahwa John menyukai Rara
"Dan lo Fariz lo juga suka kan sama Rara," goda Steven menyenggol-nyenggol pinggang Fariz
"Enggak, gue enggak ada perasaan." ucapnya penuh penekanan kemudian memalingkan pandangan sembari memasang earphone ketelinganya
"Uh gengsi lo, bilang aja suka, tadi liat-liatin,"
"Oke Ndi sabar, tarik napas, buang! Tarik napas lagi buang," gumam Andi disertai gerakan
"Oke Kakak-kakakku sekalian bersama para ladies yang cantiknya aduhai membahana mari yuk kita ke lapangan utama aja. Dari pada perdebatin hal yang enggak pen ...." penjelasannya terhenti saat Fariz sudah berjalan duluan meninggalkan gerombolannya disusul John
"Eh si Fariz, Kak John juga gue kan belum selesai ngo ...," lagi-lagi ucapannya tergantung dimana Steven menarik kepala Andi dengan lengannya "Udah ah, jangan marah-marah nanti cepat tua."
__ADS_1
"Tadi gue enggak marah-marah Abang."
"Please lepasin kepala gue, gue enggak bisa napas Kak Steven."
Kemudian Susi dan Rara menyusul di belakang Steven dan Andi, kedua mahluk hidup itu hanya tertawa kecil melihat Andi berkotek terus selama mereka berjalan menuju lapangan utama
***
"Uhuk ..., uhuk ...," batuk dari Andi saat Steven melepas genggaman kepalanya
"Makanya jangan banyak cemot-cemot lo," ucap Steven
Di lapangan utama sangat meriah begitu banyak orang yang datang, masyarakat disana juga ikut menyaksikan setiap persembahan tim dari sekolah Nuangsa. Bagaimana tidak masyarakat disana berkumpul jika persembahannya sangat menarik dan unik
Persembahan dari setiap tim berbeda-beda ada yang menampilkan drama nuangsa komedi, menceritakan isi novel, berpuisi, menari dan lain sebagainya
"Itulah tadi persembahan dari tim 13 beri tepukan yang gemuruh," teriak Pak Budi selaku mc yang membimbing jalannya pertunjukkan, sorak tepukan samgat gemuruh dari para audiance
"Eh Guys gue ke sana dulu sama si Andi ada yang mau dibeli," ucap Steven mengenggam erat tangan Andi
"Ah enggak usah banyak cingcong, yah siapa tahu kali disana ada cewek cantik, bisa tuh minta nomornya."
"Iya tapi jangan jauh-jauh cepat pulangnya karena sebentar lagi tim kita akan tampil," teriak John dimana Andi dan Steven sudah berada dari kejauhan
Kini tinggal Susi, Rara, Fariz, dan John yang berada di dekat-dekat panggung pertunjukkan
"Huh ..., kok gue dingin yah Susi." ucap Rara memegang tangan Susi. John dan Fariz yang tak berada jauh dari dekat mereka langsung membuka switer masing-masing "Nih pake," ucap Fariz dan John secara bersamaan memajukan jaketnya di depan Rara, wanita itu bingung harus mengambil jaket siapa
"Adduh emang yah Ra, cuaca hari ini dingin." Kode Susi agar John peka untuk memberinya juga switer yang dimajukan pada Rara, tapi tak digubris oleh John sama sekali. Sayang sekali tapi Susi enggak akan nyerah! Segala cara dihalalkan untuk mendapat perhatian dari lelaki yang disukainya
"Adduh Ra, gue enggak tahan ingin pingsan rasanya, Ra dingin banget," ucapnya manja sedikit alay jatuh dipelukan Rara, tak tanggung-tanggung Rara langsung merebut Switer John yang berada di depannya tanpa meminta izin apapun. Lalu dipasangkan ke badan Susi, melihatnya Fariz menurunkan Switernya dan dipasang kembali ke badan Pria itu
__ADS_1
'Ih ..., Rara apa-apaan sih ini kan kode buat Kak John gimana sih ah.' Batinnya kesal
"Ouh makasih Rara, lo emang sahabat is the best." Ucap Susi "Makasih juga yah Kak John," ujarnya tersenyum manis ke John dan dibalas angguk dari Pria itu
Kemudian Susi kembali berdiri dan lepas dari genggaman Rara, kini badan Rara masih gemetaran tanpa meminta persetujuan dari Rar, Fariz langsung membuka dan memasang switernya pada badan Rara. Mata wanita itu seketika membulat terkejut tanpa eksperesi, Badannya sangat hangat merasakan suhu tubuh dan bau parfum yang masih menempel pada switer itu
"Ra tangan lo kenapa kok masih gemetaran sih," ucap Susi menatap tangan Rara yang memang benar gemetaran
"Ra, ulurkan tangan lo." Pintah Fariz mengulurkan tangannya tepat di depan Rara
"Buat apa?" tanya Rara memastikan apa yang akan dilakukan Fariz padanya
"Enggak usah banyak tanya," ucapnya mencapai tangan Rara lalu dimasukkan ke dalam saku baju Pria itu, badan Rara membeku ditempat seperti patung tapi ia tetap merasa sangat hangat dimana Fariz memasukkan tangannya juga ke dalam saku bersama tangannya
Mata John dan Susi seketika membulat secara bersamaan, John hanya mampu meneguk ludah sebanyak mungkin, mana mungkin Fariz bisa melakukan hal itu padahal ia sangat phobia sekali dengan yang namanya wanita tapi apakah mata John salah melihat kali ini
"Uh romantisnya, seandainya bisa aku juga pengen digituin," ucap Susi melirih John dengan senyum-senyum menaikkan alisnya, John hanya menghela napas pelan memutar matanya 90 derajat
'Aaarrhhhh ..., ya ampun tahan Ra, tahan astaga ya Allah. Huh ..., jangan sampai meledak.' batin Rara dengan jantung berdetak kiri, kanan, samping, atas, bawah kayak bola pimpong yang mantul-mantul
Wajah Rara melebihi merahnya udang rebus, ini tidak seperti cerita-cerita lain dimana jika wanitanya baper atau canggung maka wajahnya akan memerah seperti kepiting rebus lah, ikan rebus tapi wanita tersebut sedang dalam khayalan jungkir-jungkar balik. Ia tak tahan dimana tangannya terus digenggam oleh Fariz di dalam saku Pria itu
"Sudah mendingan?" tanya Fariz datar
'Aarrrghhh ..., dia tanya gue. Huh ..., huh ..., tahan Ra, tahan! Arrghhh ....,' batin Rara masih berada pada khayalannya dimana ia ingin sekali loncat-loncat setinggi mungkin kalau bisa sampai menggapai bulan
"Ekhm ..., iya sudah baik," ucapnya mengigit bibir karena mulutnya tak tertahan dengan teriakan yang terus menghantui batinnya
Mendengar ucapan Rara, Fariz kemudian mengeluarkan tangan wanita itu dari dalam sakunya "Kok dikeluarin sih," ucapnya gemas
"Yaelah Rara, enggak ada puas-puasnya loh, udah kali romantisnya. Kami para jomloh juga pengen, tapi enggak bisa," ujar Susi mewakili para manusia jomloh di dunia termasuk globalisasi untuk kawasan bumi
__ADS_1
#Bersambung
Tolong votenya😍🤗