
"Riz!"
"Lo dengar enggak, itu suara Kak John," ucap Andi heboh sendiri. Fariz tak memperdulikan ucapannya, ia hanya fokus pada satu titik, yaitu buku yang bertuliskan 'Cara menjadi pribadi yang baik'
"Riz!" panggil Andi sekali lagi.
"Rara! Aku mau ulang ucapanku sekali lagi." Badan Rara sudah menampakkan titik keringat kecil, dibagian jidat. Tangannya dingin menahan rasa tak percaya diri di hadapan siswa.
"Fariz! Dengar enggak itu Kak John sebut nama Rara!" Seru Andi menggoyang-goyangkan tubuh Fariz.
"Terus."
"Lo gimana sih, gue tahu lo ada perasaan sama Rara," ucap Andi.
"Bagaimana dengan lo," Fariz membalikkan fakta.
"Y-y--ya gue udah enggak ada perasaan sama dia," pasrah Andi, ia memang sudah mematangkan hati, untuk melupakan Rara. Karena itu hanyalah angan belakang yang tidak mungkin ia dapatkan. Mau sampai berapa kali berjuang, ia juga tak mungkin memaksa hati seseorang untuk mencintainya.
"Cepat banget."
Andi mendecak kesal, tanpa basa-basi pria itu menarik paksa tangan Fariz. Ke sumber suara yang di dengarnya.
"Rara! Mau enggak jadi pacarku." Ujar John mengeluarkan setangkai bunga mawar merah, tepat di depan Rara. Gadis itu meneguk pelan.
Spontan Andi dan Fariz berhenti tepat di depan dua pasangan itu. Mulut Andi terbuka setengah, menatap kejadian tak tertuga.
"Aku hitung 5 detik, kamu jawab."
"Lima."
__ADS_1
"Riz, tahan! Masa lo biarin Rara jadi milik orang lain!" desis Andi gelisah mengoyang-goyangkan telapak tangan Fariz. Sedangkan pria itu hanya terdiam paku memandangi John dan Rara.
"Empat."
"Riz! Lo enggak bisa bohongi perasaan sendiri," Lagi dan lagi. Wajah datar itu tak pernah lepas dari Fariz. Tetapi Andi terus berusaha agar Fariz menghentikan drama yang terjadi di hadapannya.
"Tiga."
"Gue enggak tahu. Lo itu cowo apa'an, satu hal yang harus lo tahu Riz. Rara itu wanita berbeda." Jelas Andi menyerahkan semua keputusan hanya ada ditangan Fariz.
"Dua."
"Terserah lo deh Riz." Ketus Andi memutar mata, padahal Andi, sudah rela mati-matian melepas Rara dari lubuk hati kecilnya demi Fariz. Sedangkan Fariz? Matanya hanya memandang wajah pucat Rara yang terlihat ketakutan dari tadi, tangan wanita itu gemetaran.
"Satu."
Mungkin ini jalan terakhir yang harus diambil Rara. Kebahagiaan selanjutnya ia serahkan dengan waktu yang berlalu dengan sendiri.
Rara meneguk pelan, lalu menutup mata dan menghela panjang "Kak John, gue ma ...."
Tiba-tiba Fariz datang dan menarik tangan Rara, Fariz bisa merasakan dinginnya tangan wanita itu, dimana badan Rara masih gemetaran, menahan takut. Semua yang ada saat itu, terkejut termasuk John. Lelaki itu mendecak kesal "Cih, ngapain sih tuh anak," gumam John bangkit menatap sinis Fariz dan Rara yang berjalan jauh.
John tak habis pikir dengan Fariz, kemarin ia sudah menanyakan prihal perasaannya pada Rara Jawaban yang didapatnya Fariz tak memiliki perasaan. Tetapi mengapa Fariz tiba-tiba datang, lalu merebut Rara darinya.
Sebagian dari siswa yang hadir saat itu, ada yang kecewa ada juga yang senang karena idola mereka masih jomloh. Dan untuk itu, masih ada kesempatan mengambil hati sang idola.
Kini Rara hanya bersama Fariz berada di belakang kelas XII Mipa 2, tempat itu memang pada umunya sepi, karena ditumbuhi lumuk kecil hijau dan beberapa tanaman menjalar seperti rerumputan sehingga menjadi tempat bolos siswa.
"L--l-lo kenapa bawa gue ke sini?" tanya Rara gagap. Tak ada jawaban Fariz, ia hanya menatap wanita itu tajam.
__ADS_1
"Gue kira lo enggak suka sama gue."
"Lo benci sama gue, tapi kenapa, kenapa ...."
"Gue enggak benci sama lo," desis Fariz datar masih menatap mata lekap Rara.
"Lo suka Sama Kak John?" tanya Fariz.
"Gue, sebenarnya ...." Rara tidak mungkin jujur pada Fariz bahwa ia tidak suka dengan John, karena John-Kakak Fariz. Lelaki itu pasti akan mengadukan hal ini pada John.
"Gue suka sama John." Mendengar perkataan Rara, Fariz mengeryitkan dahi. Mungkin jawaban Rara ini yang terbaik, walaupun terpaksa.
"Lo udah enggak suka sama gue?" Tanya Fariz dingin.
Jantung Rara berdetak cepat, napasnya tak teratur. Rahangnya mengeras. Kini badan wanita itu membeku di tempat. Ia sedikit terkejut dengan perkataan Fariz yang tidak biasanya.
"G-g--gue ...." Ucapan Rara tergantung saat Fariz meraih tangan wanita itu, dan meletakkan boneka beruang kecil. "Ini apa?" tanya Rara bingung
"Gantungan." Jawab Fariz singkat.
"Gue tahu ini gantungan, tapi untuk apa?"
"Lo simpan itu baik-baik." Pintah Fariz dan pergi meninggalkan Rara, begitu saja. Sedangkan Rara, sampai saat ini, mulutnya tertutup rapat. Hanya mata yang berbicara.
Saat Fariz sudah berada 2 meter dari Rara, ia berbalik sejenak. "Dan satu lagi, ikuti kata hati lo, jangan sakiti diri sendiri." Pria itu kemudian melanjutkan hentakan kakinya dengan satu tangan di dalam saku celana.
'**Lo seperti es yang tak berwarna, tetapi dapat dirasa tanpa disentuh.'
-Aira Syahrini Putri**-
__ADS_1