Dia Arrogan

Dia Arrogan
Apa harus manja?


__ADS_3

"Assalamualaikum," salam Rara saat sudah berada di dalam rumah


Wanita itu berjalan lemah dengan kelopak mata yang memerah seperti sudah menangis


"Wa'alaikumsalam," jawab Fino, ia melihat mata Rara sedang memerah "Itu mata kenapa merah," tanyanya cemas memegang pipi adiknya


"Enggak, tadi mata gue kelilipan semut." Ucapnya berbohong memandangi langit-langit rumah "Udah ah. Capek, gue mau langsung tidur aja." Elak Rara melepas sentuhan tangan Fino dan menarik koper lalu disandarkan di dekat sofa


"Kelilipan semut?" gumam Fino heran dengan perkataan Rara, mana ada mata semerah itu bisa kelilipan semut yah kali semutnya yang kelilipan


"Kalau gitu abang buatin minum!" teriaknya dimana Rara sudah berdiri diambang pintu kamar "Oke sip dah Bang,"


"Kayaknya ada yang disembunyiin Rara dari gue. Ini enggak bisa dibiarin." ucap Fino yang dari tadi bergumam sendiri


Via telepon on


[Halo Pi? Besok Fino mau pindah sekolah]


[Pindah sekolah? Dimana?]


[Sekolah Nuangsa]


[Emang kenapa tiba-tiba gini]


[Iya, karena akhir-akhir ini, Fino liat. Rara sedikit berbeda dari biasanya]


[Oke, besok Papi urus]


Via telepon off


***


"Lagi apa Bang," tanya Rara mendudukkan bokongnya di sofa dekat Fino


"Biasa baca novel," jawab Fino. Mendengarnya Rara mengembungkan pipinya dengan kerutan kening "Ouh, sibuk enggak?"


"Enggak juga sih," desis Fino fokus pada handphone


"Hmm ..., Rara boleh nanya enggak Bang?"


"Bisa, tanya apa?"


Sejenak Rara meneguk ludah dalam-dalam "Tapi jangan ketawa!" serunya "Hmm ...," dehem Fino


"Ih, bisa enggak sih itu handphone ditaruh dulu. Biar enak ngobrolnya." gemas Rara memandangi Fino yang dari tadi hanya fokus memainkan benda digenggamannya itu


Fino menghela napas pelan, dan menaruh handphonenya dimeja dekat sofa "Ada apa, adikku sayang." Ucapnya mencubit pipi Rara dengan menggoyang-goyangkannya "Aw, sakit Fino!" ringis Rara mencabut rekapan cubitan tangan Fino yang terlekap pada pipi mungilnya itu


"Jadi Adik abang ini mau tanya Apa?"


"Ekhm!" dehemnya mengatur napas "Janji jangan ketawa!" pintah Rara serius "Iya Rara!" gemas Fino. Ia sudah bosan dengan ucapan Rara selalu janji, janji.

__ADS_1


"Jadi gini, cara buat pria suka sama kita. Itu gimana caranya?" tanya Rara dengan nada rendah sembari menunduk tak ingin menatap mata Fino karena ia malu serta jijik dengan ucapan sendiri.


"Pfftt ..., katanya primadona, kok malah lo sih yang minang tuh cowo." Tawa kecil terdengar dari Fino membuat mata Rara seketika melotot dan kembali menatap tajam wajah Kakaknya itu "Abang! Perjanjian kita tadi apa?" tegur Rara dengan wajah datar di mana ia kembali menanyakan apa yang telah disepakati beberapa menit lalu


"Maaf deh, Abang yang salah." ucapnya memohon kepada Rara dengan kedua tangan yang berbentuk piramida tepat di depan wajah wanita itu, hanya anggukan sebagai balasannya dari Rara disertai bibir manyung beberapa senti.


"Buat cowo tertarik yah? Kalau abang sebagai cowo sih, yah. Mungkin lo harus kasih bunga deh, coklat, kalau perlu setiap hari bawain bekal! Kalau tipe cewe Kakak sih manja. Coba lo manja deh siapa tahu dia suka." jelas Fino panjang kali lebar


"Manja?" teriak Rara terkejut apa dia harus manja di depan Fariz! Lelaki es itu? Ya ampun ia berpikir harga dirinya mau diletakin kemana!


"Iya, lo harus manja. Jangan lupa bekalnya juga." Saran Fariz


"Emang lo suka sama siapa? Biasanya yang kejar cowo kok kebalik," tanya Fino mengernyitkan kedua alisnya


Rara meneguk ludah pelan, ia harus berkata apa kali ini 'Bohong, iya gue harus bohong.' Batinnya tapi seketika terhenti dengan kepalanya yang bergeleng sendiri 'Ya ampun Ra dosa kalau bohong enggak baik. Lebih baik jujur aja. Susah amat sih hidup lo.'


"Gue jujur tapi lo janji! Jangan tanya siapa-siapa," ucap Rara serius memandangi wajah Fino mendengarnya Fino mengangguk serius juga


"Sebenarnya, gue lagi bikin challange sendiri sih. Untuk patahin hati si Fariz agar dia suka sama gue. Jadi nanti kalau benar suka gue tinggalin deh." terangnya menggarut kepalanya yang tak gatal


"Ya Allah Ra!" istighfar Fino menutup mulut. "Lo mau bikin sakit hati anak orang apa!"


"Awalnya sih enggak, yah mau gimana lagi Rara udah janji sama diri sendiri, kalau Rara gagal dalam waktu 14 hari, Rara harus pindah ke Australia lanjutin sekolah." ucapnya menunduk


"Rara naik dulu. Ini sudah larut malam ngantuk," Ujarnya pura-pura menguap, hanya karena tak ingin basah basih wanita itu berjalan menyusuri tangga masih dengan kepala tertunduk


"Rara, Rara." Gumam Fino menatap punggung Rara


Saat Rara sudah berada di kamar ia lupa menanyakan perubahan Fino akhir-akhir ini, kenapa bisa hal itu terlewat dibeniknya "Udah ah, besok aja," gumamnya menjatuhkan diri ke kasur yang bergambar hello kitty itu


***


"Ra! Seperti biasa harus semangat! Semanga Ra, semangat," ucapnya menuruni tangga


"Wuih, barusan adik abang semangat gini." pujinya seperti biasa dirinya selalu awal duduk dimeja makan dibandingkan Rara


"Iya dong, Bang gue mau nanya serius sama lo." Ucapnya dimana Rara sudah berada di dekat Fino dan menarik kursi di depannya lalu mendudukkan tubuh


Mendengarnya Fino mengernyitkan kening "Hmm ..., apatuh," balasnya santai sembari mengunyah roti yang dipegangnya


Rara meneguk ludah "Lo kenapa berubah sih, enggak seperti Fino yang gue kenal. Jahil, usil, dan yang paling mengenaskan lo enggak ...." perkataan Rara seketika tergantung saat Fino menyentuh bibirnya dengan telunjuk tangan "Ssst ..., Rara dengerin gue, Abang itu berubah bukan karena main-main atau apalah, tapi Abang itu sayang sama Rara," jelasnya melepas sentuhan telunjuk tangannya


Ucapan Fino membuat hati Rara tersentuh dan hangat "Kalau gitu Rara duluan, kayaknya Susi udah nunggu di sekolah." Ujarnya menggandeng tas berjalan keluar


'Dik, Selama ini gue sayang banget sama lo. Tapi semua itu enggak pernah gue nampakin sejak kita masih kecil. Gue tahu lo sangat sayang Mami maka dari itu Papi nyuruh gue agar buat lo lupain Mami, demi kebaikan lo sendiri. Karena sekarang Mami kritis Ra! Kritis! Dan obatnya sulit ditemuin, gue hanya berharap Tuhan memberi jalan untuk semua ini, dan semoga Mami cepat sembuh,' batinnya mengeryitkan kening menatap tulus punggung Rara dari belakang


"Bi! Bekalnya udah siap?" tanya Fino


"Bibi udah masukin ke dalam tas."


"Yaudah gue berangkat dulu Bi." pamitnya bersalaman pada Bi Siti

__ADS_1


***


"Oke sekali lagi terima kasih Pak Budi, btw nama Pak Budi itu mirip nama guru Rara loh." Ucapnya turun dari mobil seperti biasa Pak Budi membantunya dengan memegang kedua tangan Rara "Oh yah?" tanya Pak Budi


"Rara serius bahkan dua rius Pak Budi!" gemasnya dimana ia sudah turun dari mobil


"He he ..., iya biarin deh, kalau gitu Pak Budi berangkat," ucap Pak Budi dimana ia sudah berada di atas mobil


"Manja? Harus manja sama Fariz! Euy, masa iya sih." gumamnya dengan beberapa eksperesi heran, jijik, dan tak percaya


Saat ia berjalan menuju kelas tak sengaja Rara melihat Andi berdiri di dekat pintu, entah apa yanh dilakukan pria tersebut


'Mungkin gue tanya si Andi aja, dia kan sahabat Fariz mungkin dia tahu.'


"Hei Ndi?" sapa Rara senyum kecil. Melihat Rara pria itu terkejut "Eh he he ..., Rara ngapain disitu?" tanya Andi pura-pura bingung


'Dasar anak kadal, seharusnya lo yang gue nanya ngapain disitu. Gimana sih, oke sabar Ra, sabar.'


"Kita bicara berdua disana ajah yuk,"


***


"Lo tahu enggak tipe cewek yang disukai Fariz?" tanya Rara dengan senyum mengembang pada Andi


'Tuh kan pasti Fariz, ujung-ujungnya Fariz. Kayaknya gue harus mundur deh dimedan perang, bagaimana pun wajah gue enggak sebanding wajah Fariz.'


"Tipe cewe yah? Kayaknya enggak deh, Adek princes. Fariz itu orangnya tertutup kalau cewe." jawab Andi seadanya


'Buang-buang waktu,' batin Rara senyum paksa "Yaudah makasih Ndi."


Setelah berbincang-bincang dengan Andi, Rara masuk ke kelas


"Selamat pagi Tuan Es." Sapanya dengan penuh semangat walaupun ia tahu jawaban Fariz akan sama


"Pagi," yap seperti itu hanya satu kata, tapi bagi Rara biarlah nanti kata itu akan lebih dari satu membentuk kalimat panjang


Kemudian wanita itu menaruh tasnya di meja dan mendudukkan bokong dikursi dekat Fariz


'Manja! Lo harus manja Ra!' batin Rara berbicara sendiri seakan-akan perkataan Fino semalam menghantuinya


'Ra! Manja! Tunggu apa lagi, ingat tinggal 5 hari.' lagi-lagi batinnya terus berbicara


'Manja Ra, manja'


"Enggak, gue enggak mau!" ucapnya


'Tinggal 5 hari, ayo manja!'


"Enggak!" teriak Rara menutup telinga, teriakan wanita itu membuat seluruh penghuni kelas menatapnya, itu karena batinnya seperti hantu yang tak punya rem untuk dihentikan


Fariz yang melihatnya mengeryitkan kening "Lo kenapa sih," tanyanya dingin "He he enggak, gue enggak apa-apa." Ujarnya dengan tawa paksa menggarut kepala yang tak gatal. Wanita itu hanya membuat dirinya malu.

__ADS_1


__ADS_2