Dia Arrogan

Dia Arrogan
Dan ....


__ADS_3

“Iya Kak tadi itu gue nemuin dia berdua’an dengan sih Rara,” sindir Andi melirih Fariz kesal, Pria yang dilirihnya itu hanya memutar matanya 90 derajat ke samping dengan menghela napas pelan karena bagi Fariz sesuatu yang selalu keluar dari mulut Andi hanya angin tak bersuara hanya rasa yang lewat namun tak nampak


“Oh gitu? Itu matanya kenapa Ndi?” goda John senyum kecil menyenggol lengan Andi berulang-ulang kali “E-e-enggak Kak, m-m-mata gue emang kayak gitu,” gugupnya menunduk


“Lo gagap yah Ndi, bicara kayak orang baru belajar aja.” Ucap Steven menaruh sesuatu yang berada dari tadi dipundaknya “Bukan gitu Kakak Steven, Andi itu lagi jatuh cinta makanya dia cemburu sama Fariz,” goda John menaikkan satu sudut bibirnya membentuk senyum miring kecil


“Enggak ah, gue mau mandi dulu.” Elaknya dengan wajah memerah menyamakan dengan seseorang yang telah memakai blush on natural, Pria itu mengambil peralatan mandi di dalam tenda khusus kaum Adam setelahnya tanpa basa-basi ia berjalan cepat dengan langkah panjang disertai kepala yang terus menunduk karena tersipu malu oleh perkataan John


“Haha, dasar anak kucing,” cengir Steven


“Oh iya , Fariz! Jadi Rara mana?” tanya John mempersatukan kayu-kayu dan mengambil 2 buah batu bata panjang yang mengapit gerombolan kayu ditengahnya lalu dikeluarkan sebuah kotak persegi yang biasa disebut korek api kayu, John kemudian membakar kayu itu sehingga menimbulkan api yang berkoar-koar


“Tadi ada tapi udah pergi bersama Susi,” jawab Fariz


“Pergi kemana?”


“Mandi di sungai,”


***


Karena Rara dan Susi telah melakukan ritual bersih-bersih badan bersama Andi ets tapi jangan salah paham dulu mereka tidak mandi bersama Andi memilih sungai berbeda untuk menghindari kedua gadis itu, disisi lain 3 sejoli dari tadi berada disekitar tenda melakukan aktivitas masak masih belum mandi tapi hasil dari masakan mereka menarik hasrat untuk mencicipinya

__ADS_1


“Huwaa …, tuh makanan buatan Kak John?" tanya Susi menatap 5 macam makanan tersusun rapi dimeja kecil yang dibuat oleh Fariz, John dan Steven tadi pagi "Ah, Susi bisa aja. Lagian tadi Kakak buatnya enggak sendirian ada Steven dan Fariz yang ikut bantu," ucapnya menggarut kepala yang tak gatal


"Bantuin apanya yang masak sebenarnya sih Fariz yang ngebantuin itu kita berdua gimana sih," jujur Steven kesal dengan John yang berbicara tidak sesuai dengan fakta sebenarnya


"Pffftt ..., sabar Kak John," tawa kecil Andi membungkan mulut dengan telapak tangannya itu hanya anggukan sebagai balasan dari John ia tak ingin cari masalah yang sama sekali tak penting


"Ra!" panggil John dan Fariz secara bersamaan membuat kedua Pria tersebut saling menatap, Rara yang duduk disebelah Susi heran ia harus menggubris perkataan siapa


"Lo aja duluan," ujar Fariz memalingkan pandangannya ke arah yang lain


"Ekhm ..., pepatah mengatakan yang lebih tua ngalah," elaknya, Kakak beradik ini memang tak ada bedanya sama-sama pandai menyelesaikan masalah pakai sistim logika


'Huh ..., anak itu memang tidak pernah berubah sejak kecil,' batin John mengakui kekalahannya dengan Fariz. Sejak kecil John memang tidak pernah menang mengenai masalah perdebatan Pria itu selalu berakhir hina apapun yang dikatakannya selalu ada cela dimana Fariz bisa mengakhirinya dengan kemenangan


"Yasudah disini ada yang mau nunggu Fariz dulu atau kita langsung makan saja," jelas John, tanpa meminta persetujuan dari semuanya Susi langsung mencimit begitu saja, kalau bahasa anak mudanya cari-cari perhatian di depan Kakak kelas "Kak kita semua sepakat untuk tunggu Fariz aja," jawab Susi dengan senyum mengembang


"Cih gue belum setuju kali," sindir Andi dengan tatapan mirisnya itu "Sstt ..., bisa enggak sih lo liat gue bahagia," ucapnya menutup mulut Andi secara paksa dimana Andi mencoba melepas rekapan tangan Susi yang menempel seperti cicak di dinding


Rara dan Steven hanya bergeleng melihat tingkah mereka seperti tikus dan kucing


***

__ADS_1


Tak berseling 5 menit menunggu, akhirnya Induk singa itupun datang ia berjalan seakan-akan melebihi elegannya sang oppa-oppa korea, walaupun rambutnya basah tapi tetap rapi persis sudah disisir, wajahnya berseri-seri dan berwarna putih natural tatapannya membuat siapapun yang melihatnya meleleh tapi bukan ikan lele


'Tuan Es, ya ampun tampan, walaupun eksperesinya datar tapi ketampanannya tak pernah hilang,' batin Rara tak melepas pandangannya pada sosok Pria itu, Andi sudah menduga jika Rara benar-benar menyukai Fariz ia melihat Rara memandangi penuh Pria yang dilihatnya itu mata Rara tak pernah berkedip walau satu kali


'Rara tak salah pilih, sebenarnya Fariz memang jika dilihat dari segi penampilan luar biasa ketampanannya,' pandangan Susi pada Lelaki berwatak es itu tak terlepaskan sama seperti Rara


"Astagafirullah," istighfar Rara membuyarkan lamunanya sembari mengelus-elus dadanya "Jangan Ra, jangan yah. Ingat cuman pura-pura oke fokus," gumamnya tanpa sengaja didengar oleh Susi "Apa?"


"A-a--ah enggak, lo pasti salah dengar gue enggak ngomong apa-apa kok," ucapnya, tapi Susi masih curiga dengan gadis yang duduk disampingnya itu ia sadar Rara sedang mengucapkan sesuatu apakah pendengarannya salah atau mungkin benar tapi sudahlah bagi Susi itu mungkin tidak penting untuk diperbesar


"Fariz cepet amat lo bersih-bersihnya," tegur Andi menatap dari ujung kaki sampai puncak kepala Fariz, ia melihat penampilan Fariz keren juga sangat tertata rapi, vas bunga kali tertata rapi wkwk


Fariz tak menggubris kritisan ataupun teguran dari Andi karena itu hanya buang-buang waktu "Kak John mana?" tanya Fariz datar mencari-cari disekitanya tak tak ada sosok yang dicarinya tersebut


"Tadi dipanggil sama Pak Budi tuh," jawab Steven


"ok."


'Loh, loh Fariz natap gue lagi,' Rara sangat canggung karena secara tiba-tiba tatapan Fariz mengarah padanya Pria itu mendekat ke arah Rara, jantung Rara berdetak begitu cepat langkahnya tinggal sedikit menuju dimana Rara duduk, kini Pria itu sudah berada di hadapan Rara ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Rara dan ...,


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2