Dia Arrogan

Dia Arrogan
Deg!


__ADS_3

"Mau ke mana, Ra?" tanya Fino duduk di meja makan, pria itu memang tidak pernah berubah, saat masih di negara tercinta ia selalu bangun lebih awal. Tetapi tidak mendahului Rara, kali ini gadis itu menetapkan pukul 05:00 sebagai awal dipagi hari.


Sedangkan Fino pukul 05:20 sudah lebih awal baginya.


"Kuliah, karena hari ini ada kelas di kampus." Mendengarnya Fino manggut-manggut.


"Bagaimana dengan Abang?" tanyanya mengenai perkuliahan, Rara tak pernah tahu Fino melanjutkan kuliah di mana.


"Ia jadi Abang akan lanjutkan kuliah di kampus kamu, karena abang ingin tinggal dengan Rara di villa ini, papi yang nyuruh."


"It's ok."


****


"Hai Ra?" sapa secara spontan kedua rekan barunya di Australia. Mereka adalah Jesicca dan Thania. Tetapi kedua teman Rara ini tahu dengan bahasa Indonesia.


Itu karena orang tua mereka berasal dari 2 negara jadi jangan heran jika Kedua rekannya ini pandai bercakap indonesia.


"Jesicca ... Thania," Rara memeluk satu per satu temannnya lalu mencium pipi kanan dan kiri mereka, begitulah cara menyapa seseorang jika berada di negara itu.


"Bagaimana musim semimu, Ra?" tanya Thania sambil berjalan bersama Rara dan Jesicca di sisinya.


"Good."


Mereka berbincang sambil tertawa senang, itulah Rara ia mampu membuka lembaran baru dan melupakan yang sudah lama. Semoga tetap seperti itu dan selalu begitu.


Saat mereka telah tiba di ruangan terlihat 3 orang lelaki duduk di bangku kedua. Pada barisan pertama.


Salah satu dari mereka memiliki tubuh kekar. Tak kala dengan alis tebal membuatnya manis di kalangan kaum wanita.


Dia adalah Justine William bisa dikatakan Most Wanted kampus yang di tempati Rara. Bagi mereka yang satu ruangan dengan Justine sangat beruntung itu karena sulit untuk begaul maupun berbicara dengan pria itu.


Tetapi bagi Rara. Justine hanyalah orang biasa dan ia sangat teguh pada pendirian untuk tidak bercinta lagi.


"Ekhm!" dehemnya mencari perhatian Rara, tetapi Rara tak menggubrisnya sama sekali ia hanya langsung duduk di kursi depan.


Justine kemudian berjalan ke depan meja Rara dimana Rara duduk bersebelahan dengan Thania.


"Hai!" sapanya dengan senyum khas ala dirinya.


Rara tahu arti senyum itu, ia memutar mata kemudian melototi Justine. "Jangan sampai benda yang berada di depan saya melayang." Desisya pelan disertai raut wajah datar. .


"Wow, tenang! Aku ke sini cuman mau kasih ini," Justine mengeluarkan sebuah coklat yang diikat dengan pita pink di tengahnya. Ia kemudian menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


Mereka berbicara dengan bahasa khas Australia.


Setelah itu ia kemudian berjalan ke belakang, tetapi jangan salah sangka Justine tipe cowok yang pantang menyerah apapun yang di inginkannya akan di dapat.


Thania dan Jesicca bingung akan sikap Rara, pada Justine, padahal ia tahu lebih jelas kalau Justine itu


tampan, tajir, berbakat dalam ilmu hukum.


Apalagi gelarnya sebagai mahasiswa dengan pencapaian nilai tertinggi membuatnya semakin populer. Apalagi yang kurang coba?


Thania berdecak kesal menatap Rara. "Kamu ini? Kamu 'kan tahu?! Justine itu berbeda diantara banyak lelaki! Banyangin banyak wanita yang mendekatinya tetapi apa? Justine hanya mengincarmu." Desis Thania dengan banyak penekanan pada beberapa kalimat. Ia memalingkan pandangan dengan raut wajah kesal.


***


Di kantin kampus terlihat Thania, Jesicca dan Rara sedang menikmati makanan mereka di atas meja.


"Ra! Than!"


Mendengar panggilan kecil dari Jesicca membuat kedua insan itu menjawabnya dengan berdehem Secara bersamaan.


"Kalian tahu enggak? Kata kelas sebelah. Ada mahasiswa baru, katanya dia tampan melebihi ketampanan Justine." Ujar Jesicca.


"Dia siapa? Namanya?" tanya Thania begitu penasaran.


"Dia Fa --"


"Yah?" jawabnya menghampiri Rara.


"Kan saya sudah bilang Aunty kalau nasi goreng tidak usah dikasih bawang merah ataupun bawang putih, saya tidak suka," ucapnya jujur.


Percakapan antara Rara dan Jen dalam bahasa Autralia.


Yah di kampus Elita juga menyajikan menu dari Negara Indonesia. Rara yang tak pernah lupa akan tanah kelahirannya, menjadi 'kan nasi goreng sebagai makanan favorit di kampus.


"Kebiasaan." Gumam Thania dengan raut wajah malas. Betapa sensitifnya sahabat Thania satu ini.


"Maaf saya tidak sengaja," ucap Aunty Jen menundukkan badan pada Rara.


"Aunty Ini sudah berapa kali! Sudah 2 kali! Dikesempatan berikutnya saya tidak akan kembali ke sini, jika berulang lagi."


"Ra-" Thania ingin menolong Jen tetapi Rara sudah mengetahui lebih awal maksudnya.


"Tidak! Ini sudah menjadi ketetapan saya."

__ADS_1


"Saya tidak akan mengulanginya lagi, maafkan saya."


Thania hanya mampu menutup mulutnya untuk tetap diam. Ia tahu seperti apa Rara saat ia benar-benar marah.


Aunty Jen kemudian pergi dengan raut wajah bersedih, tetapi Rara tidak memperdulikan hal itu ia hanya menggeser piring ke depan dan berdiri dari tempat.


"Thania kamu bayar nasi goreng itu," pintahnya memukul meja dengan telapak tangannya yang di bawahnya ada uang.


Kepala Jesicca dan Thania mengikuti Rara yang berdiri dan pergi begitu saja, mereka sebenarnya ingin menahan, tetapi Rara keras kepala sulit untuk membujuknya.


***


Masih untung kelas hari ini telah usai jadi Rara memilih untuk pulang, rasanya sangat lelah ditambah lagi moodnya turun seketika saat di kantin kampus tadi.


Saat ini Rara berada di gerbang kampus menunggu Anton sopir pribadinya, karena Anton telah kembali dari kampungnya setelah mengunjungi keluarga.


"Jangan sampai Pak Anton telat jemput saya." Gumam Rara mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, ia menatap jam. Dan Rara telah mengirim pesan pada Anton 15 menit yang lalu untuk segera menjemputnya.


Dan sekarang sudah menit ke 10 masih ada 5 menit, Rara sangat teliti dalam segala hal itulah mengapa jika ada yang bekerja sama dengannya semua harus berjalan dengan baik, jika tidak dia akan marah besar.


"Pencuri!" Rara melebarkan mata saat datang seorang Pria berjas hitam tiba-tiba merebut handphonennya dan berlari.


Tak ada cara lain pencuri itu telah berlari jauh, tetapi Rara akan mencoba untuk berteriak agar ada yang mendengarnya.


"Tolong! Pencuri! Pen--" ucapannya terpotong saat terlihat dari kejauhan seorang pria bertubuh kekar berjalan menyamakan model korea.


Wajah pria itu berseri-seri rambutnya basah dan rapi. Jantung klepek-klepek saat melihatnya.


Saat tiba di depan Rara, Pria itu menatapnya tajam. "Ini handphonemu." Ia tersenyum kecil ke arah Rara.


Suasana Seketika hening mendadak rasanya seperti berada di tengah-tengah kuburan tepatnya tengah malam.


"Fariz!" Gumam Rara matanya tak lagi berkedip.


Deg!


Mereka saling menatap seakan hanya dirinya dan Fariz yang berada di dunia tidak ada sosok lain hanya dirinya.


Angin bersiul burung-burung bernyanyi menyaksikan saksi bisu kedua insan itu, dimana sekian lama berpisah barulah mereka dipertemukan.


Fariz menarik punggung Rara dan memeluknya begitu erat, kepala Rara seketika tersentak di dada Fariz


"Jangan pergi lagi," desis Fariz begitu lembut.

__ADS_1


Deg!


#Bersambung.


__ADS_2