
Via massage on
[Fariz tidur Dik, ini John yang balas]
[Handphone Fariz, ketinggalan di ruang tamu. Jadi Kakak yang balas deh]
Via message off
Kesenangan Rara seketika turun, saat membuka pesan Fariz. Awalnya ia berpikir kali ini Fariz benar-benar peduli padanya tetapi itu hanya pikiran yang tidak sesuai fakta sebenarnya.
Padahal Rara sudah bertekad menunggu sampai berjam-jam balasan Fariz, dan yang diterimanya perasaan kecewa.
Padahal dulu, saat ia masih berstatus sebagai pelajar di sekolah Bangsa pertiwi, siswa pria selalu meminta nomor telepon untuk saling bertukar pesan. Rara tidak pernah menunggu balasan dari seorang pria. Melainkan sebaliknya, pria yang harus mengambil resiko jika memiliki nomor Rara.
Tetapi mengapa baru kali ini Rara menyiksa diri, menunggu pesan. Dan balasannya tidak sesuai dari yang diinginkan.
"Astaga bodoh, kok bisa sih gue nunggu pesan dari si Fariz. Sampai mata merah gini, ya ampun Ra! Sadar dong, lo itu cewe. Masa cewe yang suka cowo duluan," kesal Rara melihat wajahnya di kamera handphone yang tampak kusam, ia sangat frustasi menghabiskan waktu 1 jam yang tidak berguna sama sekali.
***
"Non, bangun ini sudah pukul 6 lewat 15 menit, Non Rara. Nanti telat ke sekolahnya," bisik Bi Siti sembari mengelus lembut puncak kepala gadis itu, bagi Rara. Bi Siti seperti pengganti dari Maminya sendiri. Sejak kecil ia memang diurus oleh Bi Siti, karena Shinta, Mami Rara jarang berada dirumah. Wanita itu hanya kembali 5 hari sekali.
Walaupun begitu, Rara tak pernah marah karena kurang waktu dari seorang Ibu, bagi Rara Shinta adalah sosok yang selalu memberi motivasi setiap waktu melalui handphone dengan komunikasi jarak jauh.
Tetapi sekarang Shinta sudah tidak ada buat Rara, tidak lagi memberi nasehat untuk putri kesayangan, karena dirinya terbaring lemah di rumah sakit prancis. Untuk menutupi semua itu dari Rara, Kurniawan, Papi Rara harus berbohong dengan menyuruh Fino menyembunyikan hal ini dari gadis itu.
"Non? Non Rara?" tidak ada cara lain Bi Siti harus menggoyang-goyankan badan Rara, tetapi wanita itu masih menikmati tidurnya bersama pelukan guling.
Krek!
Tanpa sengaja Fino datang dari luar, rapi dengan seragam sekolah yang dikenakan.
"Bi Siti! Biar Fino yang bangunin," pintah Fino, mendengarnya Bi Siti mengangguk dan pindah duduk.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum sinis dan mendudukkan bokong disisi kasur Rara, Fino tahu cara membangunkan Rara. Ia kenal wanita itu seperti apa dengan sedikit tawa kecil lelaki itu berteriak keras "Bi Siti? Tas branded Rara yang dari tiongkok ituloh, yang masuk top 10 tas termahal. Fino jual, tanya Rara yah?" lelaki itu terkekeh kecil dengan menutup mulutnya.
Mendengarnya Rara terbangun. Ia terbangun bukan mendudukkan badan. Melainkan langsung berdiri di kasur disertai rambut acak-acak'an dengan wajah datar. Wanita itu memutar kepala ke kanan dan yang dilihatnya Fino bersama Bi Siti sedang menutup mulut mereka manahan tawa.
"Bang Fino!" wanita itu menyipitkan mata menatap tajam Fino yang masih menutup mulutnya.
"Lo jual tas branded gue?" tanya Rara datar dan sangat miris, raut wajahnya sangat mirip kuntilanak di film horor.
"Ppfft ..., Ha ha. Udah sekarang lo mandi beres-beres peralatan tulis, Abang tunggu di mobil. Kita berangkat bareng oke! Enggak usah basah-basih,"
"Ih ..., Bang Fino! Tas Rara gimana, tas branded gue." Teriaknya. Wanita itu sangat frustasi ia hanya mampu mengacak-acak puncak kepala
***
"Bang Fino?" panggil Rara dimana Kakak beradik itu duduk berdekatan di dalam mobil.
"Hmm ...." jawab Fino memainkan handphone.
"Lo benar enggak jual tas branded gue kan? Kata Bi Siti. Tadi lo cuman main-main aja." Ucap Rara menatap serius Fino, sedangkan yang ditatapnya hanya fokus pada benda yang dimainkannya.
"Bang? Gue mau nanya lagi."
Rara meremas-remas kain roknya untuk memberanikan diri, melontarkan pertanyaan jika Fino mengiyakan.
"Bisa, mau tanya apa Ra?"
Wanita itu meneguk ludah. "Jadi gini Bang, cinta itu apa sih?"
"Dan kalau kita jatuh cinta perasaannya gimana?"
Mendengar 2 pertanyaan dari Rara. Fino dengan cepat menaruh handphone itu di dekatnya. Ia terkejut dengan pertanyaan Adiknya, jika berbicara tentang cinta Rara selalu mundur. Walaupun wanita itu sudah berpengalaman dengan dunia pacaran tapi tak ada cinta yang dirasanya.
"Lo serius Ra? Ini lo kan Ra?" tanya Fino memegang wajah Rara dan digoyangkan ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Risih dengan perlakuan Fariz wanita itu menepuk tangan Fino. "Apaan sih lo, ini gue Rara. Aira Syahrini Putri."
"Udah kan, sekarang lo jawab pertanyaan gue tadi."
Fino menghela pelan dan menatap naik sembari mengelus-ngelus dagu dengan telunjuk tangan kanannya "Hmm ..., kalau berbicara tentang cinta sih menurut gue ...."
"Cinta itu sederhana, banyak jenisnya dan sangat indah jika kita gambarkan pada dua insan. Antara Lelaki dan wanita yang saling menyempurnakan tanpa memandang fisik semata."
-Alfino Delbert Hessley-
"Jika berbicara mengenai perasaan jatuh cinta, akan ada rasa sakit, rindu, cemburu saat sih dia bersama yang lain. Lo juga akan rasain canggung jika berada di dekatnya jantung lo berdetak tidak karuan saat melihatnya dan yang paling penting lo bisa nerima dia apa adanya, dalam keadaan apapun itu." Jelas Fino panjang lebar.
'Sakit? Canggung? Detak jantung cepat?' batin Rara, wanita itu merasa perkataan Fino ada kaitannya dengan perasaannya saat berada di dekat Fariz
"Emang lo jatuh cinta Ra?" tanya Fino tersenyum miring ke arah Rara dan menyenggol lengannya
Seketika Rara mengedipkan mata 3 kali dan merapikan rambut agar tidak menampakkan ekperesi memang benar ia menanyakan seorang pria. "E--enggak. Sih su--"
"Fariz kan?" tanya Fino dengan mengangkat satu alis pada Rara. Seketika mulut Rara tertutup rapat, ia meneguk ludah dan mengangguk pelan. Buat apa dirinya berbohong jika semua sudah jelas, disebut Fino.
"Kalau Abang liat. Lo itu sebenarnya suka sama Fariz,"
Spontan jawaban Rara "Engg ...."
"Tapi lo belum jatuh cinta sepenuhnya." Dengan secepat mungkin Fino memotong perkataan Rara yang akan mengelaknya.
'Gue harap lelaki yang membuat lo jatuh cinta saat ini, bisa membuat lo lupain Mami sejenak Ra.' batin Fino menatap mata Rara tulus.
"Apaan sih lo, siapa yang suka Fariz," ketus Rara meluruskan posisi ke depan dengan kepalan tangan menyilang didada.
Mendengar jawaban dari Adiknya Fino tersenyum kecil, dengan gengsi Rara padanya. Tapi Fino akan selalu menelusuri hal tersebut.
#Bersambung
__ADS_1
**Cinta itu sederhana, banyak jenisnya dan sangat indah jika kita gambarkan pada dua insan. Antara Lelaki dan wanita yang saling menyempurnakan tanpa memandang fisik semata
-Alfino Delbert Hessley**-