
"Kamu mau enggak jadi pacar Aku."
Mata Rara seketika membulat lebar, mulutnya terbuka setengah. Matanya kini tak berkedip lagi. Ia harus memberi jawaban apa untuk pernyataan dari John padanya.
Fino yang memantau dari atas termengangah atas perkataan John, Fino tidak menyangka jika John benar-benar menyukai Adiknya tersebut.
"Kak Jo ...."
"Sstt .... Jangan jawab sekarang, jawabnya besok."
Mulut Rara seketika tertutup rapat, kini hal tersebut akan menjadi beban tersendiri baginya.
Pikirannya saat ini bimbang apakah ia harus menerima John? Atau menolaknya. Ia tidak mungkin menolak John karena selama ini John telah baik padanya sejak camping dulu.
Jika diterima ia juga tak mungkin mempermainkan hati kecilnya
"Kalau gitu tanya Fino gue pamit, intinya besok baru kamu jawab," ucap John beranjak keluar dari rumah. Sedangkan wanita yang ada di dekatnya hanya mampu tersenyum paksa membalas perkataan John.
Hati kecilnya terus berbicara untuk hari esok.
"******," gumam Rara menepuk jidat, ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan raut wajah khawatir. Di mana John sudah pergi beberapa menit yang lalu.
"Kok bisa sih jadi gini. Mati gue, mau jawab apa besok." gerutunya mengigit bibir meremas tangan sendiri
"John tembak lo?" tanya Fino berjalan turun tangga dengan tangan di dalam saku celana. Rara seketika terdiam di tempat, wanita itu mengeryitkan kening, bagaimana bisa Fino mengetahui hal ini.
"Lo enggak usah nanya bagaimana gue tahu. Yang terpenting sekarang apa jawaban lo."
Jawaban Rara hanya geleng-geleng, ia tak tahu harus melontarkan perkataan apa. Kini wanita itu tertunduk pasrah.
Fino yang melihat Rara seperti itu menyentuh kedua lengannya lalu didudukkan.
"Oke sekarang lo tenang, tenang Ra! Jangan mengambil keputusan terburu-buru." Fino yang berada di sebelah Rara mengelus lembut rambut setengah gelombang gadis itu.
Perasaan Rara kini tenang dan masih pasrah.
"Sekarang gue mau nanya, lo suka enggak sama John?" tanya Fino menatap Rara, di mana kepala wanita itu tertunduk ke bawah.
"Enggak Bang." Desisnya
"Nah kalau gitu apa jawaban lo besok."
Wanita yang duduk di sebelah Fariz mendonggakkan sedikit kepalanya ke depan. Bingung harus menjawab apa.
"Gue enggak tahu Bang," ucap Rara lemah dengan raut wajah tak mampu.
"Gue enggak tega tolak Kak John. Gue juga enggak mungkin nerima dia, rasanya bimbang Bang! Bimbang!" kesal Rara dengan penuh penekanan pada akhir kalimat.
"Lo enggak usah terlalu berpikir. Cari yang aman saja, oke?! Abang ke kamar dulu," ujar Fino menepuk pundak Rara dan pergi meninggalkan wanita itu sendirian di ruang tamu.
'Gue enggak mungkin bantu lo Ra, gue tahu lo pasti akan dapat jawabannya sendiri,' batin Fino berbalik menatap punggung Adiknya.
__ADS_1
Rara menghela napas berat sembari beranjak ke kamar.
***
Hari-hari berlalu dengan sendirinya, batas waktu untuk menaklukkan hati seorang manusia dingin makin menipis. Kini tinggal 3 hari lagi semua akan lepas, keberhasilan Rara berada ditangannya sendiri. Dia yang membuat, dia juga yang akan menanggung resikonya. Itu yang harus diterima wanita itu.
"Pagi-pagi gini udah cemberut, mau abang olesin gula, biar manisnya enggak ilang," goda Fino membuat senyum manis tergambar di wajah mungil Rara.
"Apaan sih, gombal basih," ketus Rara dengan bibir dimajukan 5 centi.
Kini wanita itu sudah tidak terlambat bangun, ia harus belajar mandiri. Ia sadar dirinya telah dewasa tidak mungkin Bi Siti selalu datang membangunkannya.
"Tapi senyum kan? Senyum."
"Enggak."
"Halah, jujur aja. Senyum'kan?"
"Enggak!" ketus Rara padahal ia memang senyum, tapi sembunyi-sembunyi.
"Iya, enggak senyum. Lo makan dulu deh, nanti kelaparan belajarnya di sekolah," pintah Fino menggeser piring dihadapannya ke depan Rara.
"Lo berubah banget sih Bang, enggak kayak dulu. Jadi sayang deh," ucap Rara belepotan dimulut karena makanan yang dikunyanya.
"Itu makanan dihabisin dulu baru deh bicara."
***
"Pagi Kak Fino, pagi Rara." Sapa Susi berlari kecil ke tengah-tengah Rara dan Fino.
"Pagi Dik."
"Kak Fino, Susi mau nanya. Btw Kakak itu kok bisa pindah ke sini sih."
Saat Rara ingin menjawab pertanyaan Susi, ia malah mendapat lototan mata dari Fino, agar wanita itu tidak memberitahu alasan Fino.
"He he pokoknya ada deh," jawab Fino menggarut kepalanya yang tidak gatal. Susi mangut-mangut mendengar jawaban Fino.
Tepat di lapangan basket, terlihat kerumunan siswa berkumpul membentuk lingkaran penuh. Mata Susi terarah pada kerumunan itu.
"Ra!" panggil Susi menepuk-nepuk punggung wanita itu.
"Ada apa Si?" tanya Rara. Susi kemudian menunjuk kawanan siswa itu menggunakan telunjuk tangan kanannya. Mata Rara mengikuti arah yang ditunjuk Susi.
"Apaan tuh rame amat," gumam Rara, menyenggol-nyenggol pinggang Fino, dengan lengan kanannya.
"Kenapa Ra?"
"Bang, coba deh liat ke sana." Ujar Rara mengerakkan sudut bibirnya ke sisi kiri.
"Tumben rame, yuk ke sana, kita cek." Ajak Fino dan disusul Susi bersama Rara dari belakang.
__ADS_1
Dari jarak jauh di mana Rara, Fino dan Susi berjalan menuju kerumunan itu, terdengar suara sosok pria yang bernyanyi di iringi instrumen gitar. Teriakan siswa SMA Nuangsa sangat meriah.
Karena pria itu menyanyikan lagu dari Andmesh yang berjudul 'Kumau dia' suaranya menyamakan dengan Rizky Febian.
Kuharap semua ini bukan sekedar harapan
Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan
"Uh ..., suaranya bikin meleleh."
"Uwu, seandainya tuh lagu buat gue, pasti seneng banget."
"Merinding dengarnya."
Biarkan 'ku menjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya
Jadi saksi cintaku padanya
Tak main-main hatiku
Apapun rintangannya kuingin bersama dia
Hanya berjarak beberapa centi, sosok itu sudah terlihat jelas dari pantulan mata Rara. Kini jarak Rara sudah 1 meter berdiri di belakang kerumunan.
Rara menyipitkan mata melihat pria itu. Mulutnya tiba-tiba termengangah, ia secepat mungkin menutupnya. Ternyata sosok itu adalah John. Rara berbalik badan.
"Lo kenapa Ra?" tanya Susi. Rara hanya mengeleng resah, Susi bingung, ia berjinjit melihat pria yang bernyanyi tersebut.
"Kak John?" gumam Susi memandangnya kagum.
Sedangkan disisi lain, Fino yang juga melihat John sedang bernyanyi cukup khawatir, jika hal yang dilakukan pria tersebut akan membuat Rara bimbang dalam mengambil keputusan. 'Gue harap Rara mengikuti kata hatinya' batin Fino menatap tajam John.
Saat satu langkah kakinya beranjak, badannya tertahan dengan suara John yang tidak jauh dari gadis itu.
Kumau dia, tak mau yang lain
Hanya dia yang slalu ada, kala susah dan senangku
Kumau dia, walau banyak perbedaan
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku
"Wuih, itu lagu untuk si Rara."
"Cewe murahan itu, cih."
"Jangan gitu, enggak baik."
Rara mendengar ada yang menyebut namanya, ia meneguk ludah dan berbalik perlahan menatap ke belakang. Matanya membulat lebar saat John, jongkok tepat di bawah kakinya
Semua siswa yang ada saat itu menutup mulut mereka, Susi termengangah lebar. Hatinya seperti ditusuk tombak tajam. Ia sangat kecewa lelaki yang dicintainya malah memilih orang lain.
__ADS_1
John mengeluarkan mic kecil dari dalam saku celana. "Gue mau bilang teruntuk yang hadir hari ini." Suara dari John terdengar sampai ke kelas Fariz. Di mana saat itu Andi juga bersamanya.
#Bersambung