
"Sip dah, makasih Pak Budi." Ucap Fino turun dari mobil, dimana mobilnya terparkir tepat di depan SMA Nuangsa. Kali ini Pak Budi tidak turun dari tempat duduknya, karena ada Fino yang membantu Rara turun dari mobil.
Kakak beradik itu menjadi bahan perbincangan hangat para siswa siswi SMA Nuangsa, banyak yang bertanya-tanya tentang hubungan mereka, ada juga yang mengolok-olok Rara sebagai cewe murahan, bahkan melemparkan perkataan kotor.
Tak tahan dengan perkataan-perkataan hina muncul, Rara ingin melampiaskannya dengan melabrak gerombolan gosip itu, tapi Fino menarik tangan Rara, dengan memberi kode geleng-geleng agar Rara dapat menahan emosi.
'Sabar Ra, memang gosip jaman sekarang merajalela.' gerutunya meremas tangan sendiri.
"Kalau gitu Abang duluan ke kelas," ucap Fino melepas genggaman tangan Rara, dan meninggalkan wanita itu berjalan sendiri ke kelasnya.
"Ouh ternyata Abang, gue kira cowo baru lagi."
"Emang gitu cantik-cantik, tapi gatal."
"Enggak puas deketin Fariz, balik ke John. Lama-lama bosan, eh kembali ke pria baru."
'Sabar, oke sabar jangan meledak.' batin Rara terus meremas kain roknya. Melewati gerombolan gosip yang tidak jauh dari kelasnya.
"Ekhm ..., selamat pa ..."
Dengan cepat Fariz menjawab "Pagi." Pria itu tak melepas penglihatannya pada buku kecil di hadapannya. Mendengar jawaban Fariz, Rara menutup mulut pelan. Ia kemudian mendudukkan bokong dikursi.
"Gue ada bekal buat lo," ucap Rara mengulurkan bekalnya yang dikeluarkan dari dalam tas.
"Makasih, taruh aja disitu!" pintah Fariz datar dengan mata yang tetap fokus pada buku.
Rara bepikir sejenak. "Hmm ..., kalau gitu bagaimana kalau gue suapin." Ujarnya membuka penutup bekal itu lalu mengambil garpu, dan ditusuk potongan roti kecil. Kemudian di sodorkan ke hadapan Fariz. "Enggak usah," tolak Fariz datar.
"Ih, lo itu cowo enggak sih?! Atau manusia jadi-jadian, bicara aja setengah-tengah, biar satu kali aja. Lo nerima pemberian gue, satu kali aj ...." Tanpa basah-basih Fariz langsung memakan potongan roti pada garpu genggaman Rara, wanita itu terdiam sejenak.
"Udah kan?" ujar Fariz kembali pada posisi semula.
'Jantung gue berdetak cepat.' batin Rara menyentuh dadanya. Ia mengingat perkataan Fino saat berada di dalam mobil.
'Apakah ini arti dari jatuh cinta sebenarnya? Atau belum sepenuhnya.'
**
"Ngapain sih. Ajak gue ke sini!" ketus Fariz duduk berhadapan dengan John.
"Sabar Nak, jangan pakai emosi." Ucap John
"Langsung ke inti," ujar Fariz dingin.
"Oke, jadi gini, gue mau nanya serius. Dan lo harus jawab serius juga."
Fariz memutar mata 90 derajat ke samping. "Iya gue jawab serius," desisnya.
"Ekhm .... Jadi gini, lo itu sebenarnya suka kan sama Rara?" tanya John memajukan kepala di hadapan Fariz. Pertanyaan John seketika membuat lelaki itu terdiam.
John menaikkan alis menatap Fariz guna menunggu jawaban darinya. "Enggak! Gue kasih tahu lebih jelas. Gue tuh enggak ada perasaan sama si Rara." jelas Fariz dengan perkataan lebih dari 2 kata.
"Lo serius kan?" tanya John memastikan jawaban dari Fariz.
"Iya Kak John!"
__ADS_1
"Kalau gitu, bentar gue mau ke rumah Rara." Ucap John.
"Bodoh amat." Ketus Fariz, dengan kerutan kedua alis.
"Lo enggak mau tanya gue, ngapain di sana?"
Lelaki yang menjadi lawan bicara John memberikan wajah datar disertai tatapan tajam pada John "Itu hidup lo."
"Gue ingin tembak Rara." Ucapan John membuat wajah Fariz seketika berubah, ia terdiam sejenak, matanya terbuka lebar dan mulut pria itu terbuka setengah.
"Terserah," elak Fariz berdiri dan beranjak pergi meninggalkan John.
'Kok rasanya aneh sih,' batin Fariz dengan raut wajah ditekuk.
***
"Huh ..., lelah banget yah Bang. Seharian berada di sekolah," wanita berambut setengah gelombang itu menyentakkan badannya di sofa tanpa membuka kaos kaki dan sepatu.
"Enggak seharian juga Rara. Kalau dihitung 8 jam lah," jelas Fino membuat secangkir susu di dapur dan di bawahnya ke Rara.
"Nih, minum biar lelahnya hilang." Pintah Fino menyedorkan secangkir susu.
"Wuih ..., barusan baik. Biasanya malas tuh buatin Rara susu, tapi makasih banyak. Abang sayangkuh,"
Drekk .... Drek ....
2 kali suara dering terdengar, dari dalam saku rok Rara, gadis itu kemudian mengeluarkannya setelah menaruh secangkir susu di atas meja.
Via message on
[Dik Rara, Kakak mau ke rumahmu sekitar jam 15.30]
[Siap-siap yah!]
Via message off
"Ih .... Ngapain sih Kak John ke rumah segala," gumamnya kesal, karena aktivitas tidur siangnya akan terganggu
"Siapa Ra?" tanya Fino, duduk di sebelah Rara sembari menggenggam sebuah cangkir isi teh
"Kak John, Bang. Katanya dia mau ke rumah," jawab Rara mengacak-acak puncak kepala.
"Mau ngapain?"
"Enggak tahu," balas Rara dengan bibir manyung.
"Udah ah, gue mau mandi dulu sekalian beres-beres. Agar ketemunya nanti dengan penampilan syantik."
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan naik tangga.
Fino menyandarkan badan dan berpikir sejenak sembari menikmati secangkir teh, saat ini yang ada dibenaknya hanya satu ada apa dengan John, mengapa ia tiba-tiba ingin ke sini.
***
Tok! Tok!
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam John dibalik pintu
"Tunggu!" teriak Rara dengan merapikan rambut dan berlari menuju pintu
"Wa'alaikumsalam." Salam balik Rara membuka pintu
"Eh Kak John udah datang, bareng Fariz?" Rara melihat samping kiri kanan John, dan tidak ada sosok yang dicarinya.
"Enggak sendiri aja." Jawab John, anggukan kecewa sebagai balasan dari Rara.
"Enggak dipersilahin masuk nih," ujar John tersenyum ke arah Rara.
"Eh, he he. Maaf Kak, lupa jadinya. Yaudah yuk masuk."
Saat satu langkah kaki John menginjak lantai rumah Rara, matanya terarah pada sosok pria yang sibuk dengan handphone digenggamannya.
"Fino?" gumam John menaikkan satu alisnya. Pria itu berjalan ke arah dimana Fino duduk.
"Fino? Lo ngapain di rumah Rara," tanya John menatap kesal pria di hadapannya itu.
Mendengar ada yang menyebut namanya, Fino mengangkat kepala setengah "Lo tanya sama Rara."
"Ouh, jadi gini Kak John, Bang Fino itu saudara Rara," jelas Rara, sedangkan yang menjadi teman bicara memberikan anggukan manyung pada Rara.
"Kan sekarang lo ada, sini duduk di sebelah gue." Pintah Fino menepuk tempat di sebelahnya. John hanya tersenyum ramah dan duduk di sebelah Fino.
"Lo tahu alamat rumah gue dari mana?" tanya Fino
"Rahasia."
"Kalau gitu Rara buatin minum dulu."
"Eh enggak usah, gue cuman sebentar doang, cuman ingin ngomong berdua sama lo,"
Mata Fino seketika terangkat lurus menatap John, ia terkejut dengan perkataan John yang ingin bicara berdua hanya dengan Rara.
"Kalau gitu gue naik," Fino menghindari John dan Rara, tetapi ia akan memantau dari jarak jauh.
Kini tinggal Rara dan John yang berada di ruang tamu, tubuh John bercucuran keringat dingin sedangkan Rara ia hanya duduk seakan hanya biasa-biasa saja.
"Jadi Kak John, mau ngomong apa?" tanya Rara bingung menatap John, sedangkan yang ditatapnya tak berani memberikan tatapan balik.
Guna menenangkan diri John menghela pelan. Ia mendekatkan tempat duduknya dengan tempat di mana Rara duduk.
Tetapi saat John mendekatkan jarak, Rara selalu menjauh. "Rara?"
"Iya Kak."
John meneguk ludah, dan menatap tulus mata Rara.
"Kamu mau enggak jadi seseorang yang mengisi kekosonganku."
"Maksudnya Kak?" tanya Rara pura-pura polos untuk memperjelas perkataan John.
"Kamu mau enggak jadi pacar Aku."
__ADS_1
Mata Rara seketika membulat lebar, mulutnya terbuka setengah. Matanya kini tak berkedip lagi. Kini ia harus memberi jawaban apa untuk pernyataan dari John padanya.