Dia Arrogan

Dia Arrogan
Perasaan itu ada.


__ADS_3

“Apakah perlu saya buka pintu, Nyonya?” tanya Tiwi.


“Jangan! Biarkan saya melihat pria itu terlebih dahulu.” Rara berjalan ke ambang pintu dimana terdapat tablet lebar di sisi pintu.


Ceklek!


“Abang?!” mata Rara berbinar-binar setelah membuka pintu dan ternyata pria itu adalah Fino. Rara memeluk erat Fino dan menangis dipundaknya. Wanita itu kembali bersikap seakan-akan dirinya masih kecil.


Begitu banyak perubahan setelah 2 tahun terakhir ini, para teman dekat Rara tidak seperti dulu lagi, banyak perubahan terutama gaya bahasa, mereka tumbuh sangat cepat dan menjadi pemuda pemudi dewasa.


Fino tersenyum ia mengira setelah berada di Australia, sifat Rara akan berubah drastis, tetapi tetap sama, masih dengan adik kecilnya yang sedikit risih. Mana mungkin Rara bersikap aneh pada Fino dimana telah sekian lama ia sendiri di Australia, tidak ada yang menemani dan baru kali ini kakaknya tersebut mengunjungi Rara.


Rara kemudian mempersilahkan Fino masuk. “Tiwi?!” mendengarnya Tiwi berlari dan berhenti tepat di depan Rara.


“Tolong kamu bawah masuk, semua barang-barang Abang Fino. Carikan kamar terbaik di vila ini.”


Tiwi menarik dan membawa satu persatu barang-barang Fino termasuk koper besarnya yang berwarna hitam, entah apa isi di dalamnya.


Sebenarnya Tiwi bingung siapa pria yang bersama Rara di dalam rumahnya saat ini. padahal Tiwi tahu watak asli Rara, mana mungkin ia berteman dengan seorang pria. Apalagi mencarikan kamar terbaik di vilanya.


Terlihat Rara duduk berhadapan dengan Fino di sebuah sofa, saat ini mereka berada di ruang keluarga yang khusus dirancang Rara dibantu oleh Tiwi asisten rumah tangganya.


“Tumben Abang datang secara tiba-tiba seperti ini,” ucapnya mengambil secangkir teh yang telah disiapkan lebih awal oleh Tiwi.


Fino tersenyum dan memajukan badan ke hadapan Rara kemudian mengacak-acak pucuk kepalanya.


“Abang lihat begitu banyak perubahan dari sifat adik, abang.”


Fino mengambil secangkir teh di depannya lalu diminum. “Iya, jadi Abang ke sini karena ingin melihat keadaan kamu.” Lanjutnya setelah meneguk minumannya.


Rara mengangguk. “Keadaan Susi bagaimana?” tanyanya.


“Info yang abang dapat ia melanjutkan pendidikan di Jerman.” Jawab Fino.


Fino ingin sedikit memancing Rara dengan masa lalunya, awalnya ia tak ingin tetapi apakah ada hasil selama bertahun-tahun ini dimana Rara berada di Australia.


“Bagaimana dengan Fariz? Kamu enggak ingin tahu kabarnya?” tanya Fino penasaran.


Rara berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela, membelakangi Fino.


“Selama bertahun-tahun saya sudah melupakan Fariz, walaupun terkadang namanya sedikit mengingatkan saya.” Mulut Fino terbuka setengah mendengar lontaran jawaban Rara, tetapi jalan yang diambil adiknya tersebut ada juga benarnya.

__ADS_1


Tidak mungkin ia terus-terus’an menyiksa batin.


“Dan sekarang sudah dapat penggantinya?” pertanyaan itu membuat hati Rara tersentak dahsyat rasanya ia ingin marah, dengan cepat gadis itu mengelus pelan dadanya.


“Untuk saat ini saya hanya ingin focus pada satu titik.” Tegasnya menatap tajam Fino.


“Yaitu mimpi saya.” Lanjutnya


‘Kalau dilihat-lihat Rara memang sudah melupakan Fariz,’ batin Fino menatap sinis Rara yang masih berdiri.


***


"Itu barang banyak banget, untuk apa?”


Gaya bahasa John maupun Fariz sudah tidak lagi seperti dulu, kata "lo" seakan lenyap ditelan bumi. Itulah arti waktu dan masa lalu ada saatnya semua berubah secara bertahap.


John menghemparkan badan di kasur Fariz, pria itu masuk tanpa izin dan melanggar peraturan yang dibuat adiknya itu. Kali ini John sudah muak dengan peraturan aneh tersebut.


Mendengarnya seketika kepala Fariz mengikuti arah suara itu, ternyata yang benar saja John! Harus berapa kali Fariz berkata pada pria itu. Apakah label di pintu kamarnya tidak jelas dimata John? Sehingga ia hanya masuk menyerempet saja.


Fariz melototi John dimana ia akan meledak, bagaikan landak yang siap melepas semua duri-duri tubuhnya.


"Kak Jo--"


Fariz menghembuskan napas, ia juga tak mungkin marah pada John, saat ini ‘kan dirinya juga akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Biarlah ia menikmati waktu sejenak bersama kakaknya tersebut. Walaupun sedikit risih.


Fariz kemudian berbalik melanjutkan kemas-kemas barangnya.


“Fariz?” panggil John.


"Hmm ...."


"Memang kamu mau kemana?" lanjut John bertanya dimana mata Fariz sibuk memasukkan satu per satu bajunya ke dalam koper.


“Ke Australia!” jawabnya singkat.


John mengeryitkan jidat bingung dan curiga, apa memang benar, Fariz ke Australia untuk menyusul Rara di sana?


“Untuk susul Rara ‘kan?” John ingin memperjelas yang terletak dibeniknya jika Fariz memang benar-benar ingin menyusul Rara ke Australia.


“Bukan."

__ADS_1


"Terus?"


"Lanjut kuliah di sana!” tegasnya.


Tidak, tidak mungkin. Di antara banyaknya negara, Australia tempat pilihan Fariz? Laki-laki itu memang aneh, apa maksudnya melanjutkan pendidikan di negara itu jika tak memiliki tujuan khusus.


Rasa penasaran John semakin mengebu-gebu untuk menanyakan banyak pertanyaan pada Fariz, tetapi ia tahu itu hanya buang-buang waktu jika berbicara dengan pria es sepertinya. Mungkin ia harus melihatnya sendiri, jikalau Fariz ke Australia untuk menyusul Rara.


“Bagaiman kuliah Kak John?” tanya Fariz


“Fine, di sana banyak wanita cantik, mau kalau dicari’in?” pancingan John membuat Fariz berbalik menatapnya dengan tatapan elang. “Tidak usah.”


John terkekeh kecil menepuk pundak Fariz. “Ternyata benar Adik kecil Kakak masih suka sama cinta pertamanya?”


Fariz tahu maksud dari John, ia kemudian berdiri dan menarik paksa John keluar dari kamarnya pria itu hanya merusak moodnya.


Sedangkan John? Ia masih tertawa John tahu suatu saat nanti perkataannya barusan tadi akan benar-benar terbukti, secara jelas.


Saat John sudah berada di luar Fariz menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.


Fariz berjalan ke arah jendela menatap satu bintang kecil dengan sinarnya yang begitu terang.


Bukan hanya bintang kecil itu, ia juga melihat teman-temannya bertabur indah di atas langit.


Tanpa sengaja sebuah halusinasi tercap diotak kecil Fariz ia melihat garis putih bersatu dan membentuk wajah Rara pria itu mengucek mata 2 kali, memastikannya kembali. Dilihatnya Rara sedang menyapanya di sana.


Dengan cepat Fariz berbalik dan mengatur napas, 2 detik ia berbalik lagi. Dan ternyata itu hanyalah sebuah ekspektasi semata.


“Mungkin benar Aku suka sama Rara.” Gumamnya.


Entah mulai dari mana Fariz sudah menumbuhkan rasa itu, memang Rara adalah wanita pertama yang membuat banyak perubahan pada Fariz.


Tapi apakah Rara masih memiliki rasa yang sama setelah merasakan sakit yang begitu lama bahkan bertahun-tahun lamanya.


Rara adalah wanita pertama yang mampu membuat Fariz mengerti akan arti rindu, rindu ingin saling menatap, jika Rara sudah tak punya rasa pada Fariz, mungkikah Fariz bertahan.


Pada umumnya semua orang tidak mengetahui hidup Fariz seperti apa.


Sikapnya yang dingin dianggap seram oleh sebagian orang, namun mereka tidak mengetahui hal yang tersirat di balik semuanya.


Tetapi karena adanya Rara warna baru terukir diwajah pria itu, walaupun Rara terkadang usil tetapi ia sangat merindukan semua itu.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2