Dia Arrogan

Dia Arrogan
C A N T I K


__ADS_3

"Sat ...," ucap Fariz seketika terpenggal dari perkataan Rara "Biar gue aja sama Fariz," teriaknya


Karena suara Rara begitu keras sehingga membuat Suasana seketika hening dimana daritadi siswa sibuk cemot-cemot untuk diskusi perwakilan dari setiap tim ini malah seperti berada dikuburan hanya suara burung gagak yang menyaksikan bersama angin


Melihat seluruh mata mengarah padanya ia sangat malu hanya telapak tangan yang dapat menutupi wajahnya karena malu


"Oke karena waktu sudah sampai 2 menit saya harap seluruh perwakilan maju ke depan." Jelas Pak Budi yang dari tadi berdiri di dekat api unggun


Sementara untuk tim 15 masih sibuk memperdebatkan perwakilan dari tim mereka


"Riz biar lo sama gue yang jadi perwakilan, ayuk," ajak Rara diperhatikan oleh John dimana ia berharap Fariz menolaknya, "Enggak," tolaknya mengepalkan tangan di depan dada, Andi sudah mengira hal ini akan terjadi, mendengarnya John tersenyum manis


"Kok enggak mau dansa dengan Princes sih,"


'Nih manusia, uh ..., sabar Ra sabar masih ada beberapa hari lagi, kalau enggak tampan dari tadi di tabok nih bocah,' batin Rara ingin mencabik-cabik wajah Fariz yang sama sekali tak ada bentuk eksperesi apapun, yah walaupun Rara sering ditolak berapa kali tapi ia tetap semangat


"Kok maksa!" ketus Fariz kesal "Yaudah lo sama gue aja Ra," ajak Kak John


"Yaudah deh, daripada Pak Budi marah," ucapnya dengan nada lemah, John mengulurkan tangannya dan dicapai Rara 'Cih sial, si prekedeli menang lagi,' batin Andi tidak terima


"Karena semua perwakilan telah siap, Bapak putar musik,"


"Eits, tunggu dulu! Peraturannya jika salah satu dari pasangan tersebut ada yang berkedip saat berdansa ia harus di ganti oleh satu pemain dari timnya," jelas Pak Budi


Kemudian musik pun diputar para murid yang berada di dekat api unggun terlihat sangat romantis bersama pasangan dansanya karena mereka saling menatap tanpa kedipan mata


'Cantik juga nih cewe, Fariz berutung bisa dikejar-kejar olehnya,' batin John menatap mata Rara mendalam 'Kok gue enggak ngerasain apa-apa saat dekat Kak John, kalau sama Fariz deg-deg'an rasanya,' batin Rara tak melepas tatapan matanya pada John


"Ya ampun seandainya gue yang berada di posisi Rara, pasti senang rasanya," ucap Susi bergumam memandangi kedua pasangan yang berdansa begitu romantisnya


"Riz ..., lo bener enggak cemburu sama Rara?" tanya Steven menyenggol pinggang Fariz


"Enggak," jawabnya singkat memandangi pasangan itu

__ADS_1


"Lo serius, sebenarnya lo suka kan sama Rara," tanyanya sekali lagi


"Enggak, gue enggak ada perasaan," jelasnya


Andi yang berada di dekat Steven risih dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan pada Fariz "Huh ..., hawa di sini panas yah," ucap Andi mengibas-ngibas tangannya


"Bilang aja lo cemburukan sama Fariz?"


"Enggak siapa yang cemburu," elaknya padahal ia benar-benar cemburu tapi gengsinya luar biasa


John tersenyum manis ke Rara, untuk menghargainya wanita itu berbalik senyum padanya tapi senyumannya ini beda lebih manis daripada gula merah, ataupun gula asam sehingga membuat satu kedipan dari John


"Pak ada yang mengedip," teriak salah seorang murid melihat kedipan John, musik langsung dihentikan setiap pasangan memberhentikan gerakan mereka


"Dimana?" tanya Pak Budi dan Murid itu menunjuk ke arah pasangan Rara dan John "Pria itu yang mengedip Pak," ucapnya


"Sesuai peraturan, jika ada yang mengedip harus diganti, saya meminta satu perwakilan dari tim ini maju ke depan mengantikan temannya, 10 detik sudah ada,"


"Sepuluh," hitungan Pak Budi sebagai tanda


"Jangan gue enggak percaya sama lo nanti tim kita kalah," ketus Susi masih kesal pada Andi


"Sembilan,"


"Kalau gitu Fariz aja," saran Steven membuat Fariz memutar kepalanya 90 derajat ke arah Steven


"Delapan,"


"Jangan Kak, biar Andi aja, Andi jago dansa,"


"Tujuh,"


"Kan tadi Kak Steven bilang Fariz woy,"

__ADS_1


"Enam,"


"Gue!"


"Lima,"


"Fariz! Ajah," ketus Susi


"Diam!" teriak Fariz dengan penekanan lalu mengehela napas pelan "Biar gue aja yang ganti'in Kak John," Steven, Andi dan Susi terkejut mendengar jawaban dari Fariz biasanya Fariz selalu menolak hanya kemauannya semata dapat ia ikuti


"Cih," gumam Andi sangat kesal karena dirinya selalu sial saat berada sisi Rara


Fariz berjalan ke arah Rara dengan tatapan seperti biasanya ganas dan begitu tajam, setajam silet


Dengan perasaan pasrah John turun dan duduk disebelah Steven "Sabar bro," ucap Steven menepuk pundak John, sedangkan Susi, ia sangat senang karena John tidak dansa lagi dengan Rara, lain halnya dengan Andi yang dari tadi nyesek melihat Rara bersama pria lain


"Wah beruntung banget sih Rara, bisa berdansa dengan cowo-cowo tampan, apalagi sih Fariz,"


"Yah mau bagaimana lagi sih Rara kan primadona disekolah kita wajah-wajah buriq mundur aja,"


"Babang es gue direbutin,"


"L-l-lo mau dansa sama gue?" tanya Rara canggung "Berisik," desis Fariz datar


Musik pun kembali diputar


Fariz memajukan tangannya memegang kedua pinggan Rara begitupun Rara membawa kedua tangannya berada pada pundak Fariz


Jantung Rara kembali berdetak begitu cepat, pipihnya memerah karena tatapan Fariz yang begitu tajam dan mendalam padanya apalagi Fariz memiliki wajah mulus dengan warna kulit putih natural dengan tambahn warna bibir pink siapa coba yang enggak berani tergila-gila pada Pria itu 'Tahan Ra, tahan ya ampun, rasanya ingin meledak, oke fokus pada tujuan' dada Rara nyesek ditatap terus oleh mata Fariz padanya


"Auh romantiz banget," ucap Susi memeluk sendiri dirinya "Enggak," bentak bersamaan Andi dan John membuat mereka saling menatap dan memalingkan pandangan masing-masing


Rara mencoba tersenyum ke wajah manis Fariz dengan senyum kecil untuk membuatnya sedikit tertarik, "Cantik," gumam Fariz terdengar ditelinga Rara "Apa?" tak ada jawaban dari Fariz, Pria itu hanya menatap Rara terus tanpa kedipan mata apapun

__ADS_1


__ADS_2