
"Enggak," gumam Rara menggarut kepalanya yang sama sekali tak gatal "Gue ulang! Ngapain Lu natap gue sampai segitunya," ucapan Rara melebihi kecepatan pembalap terkenal Rossi membuat Fariz mengangkat sudut kanan bibirnya membuat senyum miring kecil
'Abang Es senyumin gue, Rara? Aira Syahrini Putri?, anaknya Kurniawan? Adiknya anak Dinasaurus, bisa dibilang Fino,' batin Rara cengir tak jelas walaupun kalimat terakhir dengan nada rendah tapi tak apalah
Padahal rencana Rara untuk bisa menarik hati Fariz selama 14 hari, ini baru hari pertama tapi ini malah dia yang masuk perangkap, hanya senyum miring kecil Rara sudah tertarik bahkan ia cengar cengir tak jelas bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Jangan sampai kebalik ya Ra.
Fariz menghela napas berat "Kaki Lu Rara," ucap Fariz membuat Rara mengarahkan kepala ke bawah meja melihat ternyata kakinya menginjak kaki Fariz
"Ya ampun Hehe ..., gue kira Lu benar-benar suka gue."
***
'Astaga Gila, gila,' batinnya mengacak-ngacak puncak kepalanya
'Princess Rara bisa-bisanya tidak elegan di depan cowo, gue gagap yang ampun itu aib banget, ' batin Rara mengigit bibirnya
'Semua gara-gara cowo itu padahal seharusnya di yang ngejar bukan gue, dasar ....,"
"Ra!" dengan nada tinggi Susi menepuk pundak Rara sembari mengagetkannya dari lamunan
"Cicak, ayam, tikus mati, sapi, kerbau, cilok Mbak Yuli," mendengar teriakan yang tidak disengaja Rara seketika hening semua tatapan terarah padanya
Dan mengundang tawa kecil dari beberapa orang yang ada di kantin, wajah Rara seketika berubah menjadi kepeting rebus sangat merah
"Ya ampun Susi malu-maluin aja Lu," gumamnya sedikit penekanan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya "Hehe lagian sih Lu ngelamun,"
Ternyata Rara dan Fariz tak ada bedanya sama-sama bikin malu diri sendiri.
"Fariz ...," desis Rara melihat dari kejauhan kedatangan Fariz bersama Andi
"Susi kayaknya Lu harus ikut gue,"
"Jangan bilang ke Babang Es itu lagi, entah tambal pake apa otak Lu Ra. Udah dibilangin,"
"Semoga engkau melindungi kami ya Allah,"
Susi hanya mampu mengikuti kemauan Rara menghampiri Fariz ia pasrah.
"Ekhm ..., makan bareng yuk."
"Eh Adek Princess ..., Ayukkk," jawab Andi tanpa banyak pikir
"Riz ..., ayokk kapan lagi makan sama cewe cantik," ajak Andi tak berdosa
Lagi-lagi Fariz terus menerus menghembuskan napas berat entah ia harus apa kali ini, dari tadi ia menahan emosi melihat Rara dan kali ini ia bertemu dengan gadis bodoh itu lagi
"Ah, bodoh amat, pokoknya Lu harus ikut," ajak Andi menarik paksa lengan Fariz
***
'Kesempatan emas ini saatnya Ra, lakuin!' batin Rara tersenyum sinis
Entah rencana bodoh apalagi yang akan dilakukan gadis itu, kali ini
"Riz ..., gue coba yah cilok Lu." tanpa meminta izin dari Fariz Rara langsung menghantam cilok dimangkuk Fariz, Fariz yang melihat Rara makan belepotan mengambil tissue tetapi "Uhukk ..., uhukkk ..., Lu campurin apa ke cilok Lu Riz?" batuk sengaja dari Rara dengan suara serak memegang dada
Dengan akting kehabisan napas karena keracunan oleh cilok Fariz ia pingsan dengan sedikit alay dipangkuan Susi
"Ra? Lu kenapa Ra." cemas Susi menepuk pipi kanan kiri gadis tersebut
Melihat kejadian itu seluruh penghuni kantin menghentikan aktifitas masing-masing dari makan, gosip, bernyanyi, menangkap cicak dan semuanya dihentikan tatapan mereka mengarah pada tempat duduk Rara dan Fariz
"Semua ini karena Lu Fariz, Lu ngapain sahabat gue?"
Ini pertama kali Susi membentak seorang master es yang kita kenal. Itu karena Susi sangat menyayangi sahabatnya itu.
"Wah keterlaluan sih babang tampan,"
__ADS_1
"Kasian bidadari tak bersayap,"
"Master es keterlaluan amat,"
"Cewe gila," gumam kecilnya menatap Rara tak memperdulikan cemoan dari Susi
Andi yang berada di dekat Fariz tak mampu mengucap kata sepeserpun ia hanya terdiam paku didekat Fariz melihat situasi
Fariz tersenyum sinis berjalan ke arah Rara membawa tissue, ia mengusap sudut-sudut bibirnya yang terkena kecap saat makan cilok tadi
"Kamu cantik," bisik Fariz ketelinga Rara dengan lembut
Mendengar perkataan Fariz membuat Rara membulatkan mata secara tiba-tiba ia terbangun dengan semangat 45 dengan gerakan beberapa senam. "Astaga," Rara baru menyadari ia seharusnya pingsan, lagi-lagi rencananya gagal
"Hmm ..., sudah kuduga," gumam Fariz meninggalkan kantin berjalan dengan kedua tangan yang berada dalam saku celananya
"Fariz, Lo mau kemana tungguin gue woy," Teriak Andi berlari terbirit-birit menyusul Fariz dengan langkah yang panjang
Kini tinggal Susi yang masih berada disisi Rara setia menemani
"Ra, L--L-Lu ngapain senam gitu, jadi tadi Lu pura-pura pingsan?"
"Hehe ..., T--t-tadi itu g-g--gue ...,"
"Astaga ya Allah Ra, gue panik sama Lo tadi karena peduli sampai-sampai Fariz gue bentak, tapi apa ..., tega Lu."
Susi sangat kecewa dengan tingkah konyol Rara, ia kecewa tega-teganya gadis itu melakukan hal sepeleh hanya untuk kesenangan pribadi tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya. Gadis blasteran Jerman-Indonesia itu merasa bersalah dengan tingkahnya pada Fariz tadi
***
"Eh anak Papi udah pulang!"
"Iya Pi, soalnya Rara capek."
"Eh ada hewan masuk syuh ...., syuh ...., manusia biasanya masuk ngucapin salam." usilnya tak berdosa menikmati sepiring coklat dimeja makan
"Nah gitu wa'alaikumsalam tumben Lu loyo, abis kepatok ayam yah?"
"Bodo amat,"
"Enggak makan dulu Nak?"
Rara yang sudah berada ditangga sejenak berhenti berbalik "Entar ah Pi, Rara lagi bad mood,"
"Yaudah Papi suruh Bi Siti yang bawah ke atas yah," teriak Kurniawan yang melihat putrinya sudah berada di ambang pintu
"Iya Pi!" teriak Rara menutup pintu
Tanpa banyak pikir ia merebahkan badan ke atas kasur "Ah, capek banget seharian."
"Fariz, Fariz, Fariz," desisnya tercengar cengir menatap langit-langit kamarnya
"Ah apaan sih Ra, ingat 13 hari lagi Ra, jangan sampai Lu yang masuk kandang singa,"
***
"Non, bangun Non, Non Rara?" desis Bi Siti mengusap kepala Rara
Rara tertidur sejak tadi, Bi Siti yang masuk dikamarnya sebenarnya tak tega membangunkan gadis itu tapi karena Papinya mengatakan bahwa Rara memang benar-benar belum makan terpaksa dia membangunkannya
"Hmmm ....," deham Rara perlahan-laham matanya terbuka ia melihat Bi Siti di kasurnya "Huaaa ....," nguapnya meregangkan kedua lengannya
"Bi Siti ngapain disini," tanyanya terbangun dari tidurnya dengan rambut acak-acak'an
"Tadi itu Pak Kurniawan suruh Bibi bawain makanan ke atas katanya Non Rara belum makan,"
"Oh iya gue lupa, kalau begitu taruh dimeja belajar Rara Bi, nanti Rara makan,"
__ADS_1
Kebetulan makanan yang dibawah Bi Siti Tteobokkki asal Korea dibuat secara alami oleh tangan Bi Siti aromanya sampai kehidung Rara sangat mengunggah selera berpasangan dengan susu hangat.
"Kalau gitu Bi Siti keluar Non,"
"Iya Bi."
***
"Barusan betah di kamar biasanya diruang tamu dulu," iseng Fino sibuk memainkan benda persegi panjang itu apalagi kalau bukan handphone kesayangannya
Baru saja Rara turun dari tangga keusilan hakiki Fino kembali mengusiknya tapi Rara bukan sosok manusia yang terus-terusan di perlakukan seperti itu ia masih punya raga, dengan mengatur dari eksperesi meledak ke level rendah ia memberanikan diri mendekati Fino lalu duduk disofa dekat Abangnya
"Bang?"
"Hmm ...,"
"Tadi itu lo dicariin Ka Cika ..., katanya lo selingkuh dari dia," bohong Rara
"Serius lo?" kagetnya meletakkan handphone tersebut secara sembarangan
Fino sebenarnya terkenal sebagai sosok lelaki yang Playboy bahkan melebihi buaya darat yang sering menganggu Rara menurut penelitian Mbak Rara jumlah pacar Fino saat ini maksimal 25 wanita minimal 78 mantan, tapi untuk saat ini Rara hanya menyembunyikan hal ini pada Pria tersebut
ini sebagai bekal untuk menyerangnya disaat Rara butuh kekuatan
"Iya serius bahkan Mbak Sita aja sering nanyain kabar lo, katanya lo enggak pernah dilihat lagi semenjak pindah sekolah,"
"Sebenarnya lo punya pacar berapa sih Bang?" pertanyaan Rara seketika membuatnya membeku ditempat Fino hanya mampu menelan ludahnya dalam-dalam, karena tak ingin jumlah pacarnya sekarang menurun baginya itu pencapaian hakiki
"L-l-l--lo kira gue playboy apa?" ucapnya mendonggakkan dagu dengan angkunya, tak ingin mencari masalah dengan Rara setelah semuanya terungkap ia mengambil keputusan untuk lebih baik menghindar dari pada ia mati dibakar para ladies-ladiesnya
"Pffftt ...., Haha ...., emang enak," tawa senang Rara terdengar begitu keras "Eh, eh apa ini anak Papi senang banget kelihatannya," ucap Kurniawan duduk disebelah Rara
"Enggak Pi cuman mengingat kejadian lucu,"
"Pi! Rara mau nanya kemarin itu yang bawah Rara siapa sih?" pikiran itu tiba-tiba terbenik dalam otak kecil Rara
"Ouh kemarin itu, kalau tidak salah ingat Papi melihat pemuda, tapi ia tidak beritahu namanya,"
"Cowo apa cewe Pi?"
"Dia Cowo sih Ra,"
Jawaban Kurniawan semakin membuat Rara penasaran
"Ciri-cirinya gimana Pi?"
"Hmm ...," pikir Kurniawan sejenak "Tinggi, berwajah mulus, putih, rambutnya juga rapi dan ...," ucapan Kurniawan sempat terpotong dengan perkataan Rara
Tidak salah lagi Rara memikirkan lelaki itu mungkin mantan pacarnya Reno waktu disekolah dulu, tapi mana bisa wajah Reno mulus terbenik dipikirannya Reno tidak memiliki wajah mulus. Itu berarti bukan dia
"Cukup Pi apakah sikapnya dingin?"
"Hmm ..., kayaknya iya sih. Papi juga heran baru kali ini ada sosok Pria yang Papi temenin bicara wajahnya datar tapi cukup tampan Ra,"
'Jangan-jangan yang dingomongin Papi sih Fariz,'
"Tapi kemarin itu Papi nemuin ini jatuh dari saku celananya," ucapnya menunjukkan sebuah kertas tebal berbentuk persegi panjang kecil
"Fariz?" ucap Rara setelah melihat kertas tebal itu terdapat poto Fariz disertai nomor teleponnya
"Pacar kamu Ra?"
"P--p-pacar? Bukan Pi," ucapnya cepat "Orangnya aja kayak es gitu susah ditaklukan malah dibilangin pacar," gumam Rara kecil
"Rara ambil kertas tebalnya Pi bubay, Love you Pi." teriak Rara berlari kecil menuju kamarnya
Bantuan Votenya Kalau votenya terus bertambah Update chapternya akan lebih-lebih bertambah jadi Go go Vote guysssss😍😅
__ADS_1