Dia Arrogan

Dia Arrogan
Pelukanmu hangat


__ADS_3

"Palingan cari-cari perhatian supaya dikira baik." Hardik Susi masih tidak terima dengan perlakuan baik Fariz


"Siapa tahu Fariz emang mau berubah," belah Steven mengambil satu tusuk sate dipiring dan dilahapnya


Mendengar ocehan-ocehan tidak jelas hanya bola mata yang berputar 90 derajat bagi Fariz.


"Enggak usah biar gue aja Riz," tolak John mengambil kembali piring yang berada digengaman Fariz "Kak gue mau minta maaf," to the point secara langsung dari Fariz dengan gengsi dibawah rata-rata merebut kembali benda yang terbuat dari kaca itu dari tangan John, Fariz tak suka basah-basih terlalu banyak karena baginya itu hanya buang waktu percuma masih banyak yang hal yang harus dilakukan


"Kasih aja Kak lagi pula tuh anak kayaknya emang mau berubah," saran Andi dengan suara bulat bagaimana tidak sate yang sudah hancur dimulutnya masih saja ia membuka mulut untuk menyampaikan argumennya yang tidak penting itu


"Andi? Mendingan lo kunyah dulu tuh makanan setelah itu telan, nah baru deh ngomong," ucap Steven tidak tega melihat Andi seperti ayam yang berkotek-kotek tapi tak terdeteksi maksudnya Susi yang berada di sebelah Andi hanya bergeleng sembari tersenyum kecil


"Yaudah deh Kakak kasih, awas kalau kasih sakit hati anak orang lagi,"


"Hmm ...," dehamnya berjalan masuk tenda


"Ngapain lo," bentak Rara dengan penuh penekanan memutar badannya tak ingin melihat wajah Fariz, gadis itu tak ingin Fariz melihatnya menangis ia juga tak tahu mengapa dirinya bisa meneteskan air mata


Fariz menghela napas berat mencoba untuk tenang lalu duduk disebelah Rara ia melihat gadis itu meneteskan air mata begitu banyak bola matanya terlihat merah, Pria itu mencoba mendekatkan tangannya menyentuh pipi cabi Rara dengan mengusapnya "Tidak usah menangis," desisnya pelan Diantara banyak wanita hanya Rara yang membuat Fariz menjadi kalem kali ini "Enggak usah sentuh gue," bentaknya menyentak tangan Fariz sembari terseduh-seduh.

__ADS_1


Rara berlari keluar tenda, Pria itu seketika terkejut dan mengejarnya Andi, Steven dan Susi ikut terkejut dengan kehadiran Rara yang tiba-tiba saja berlari keluar melihat Fariz menyusul Rara dari belakang John memberi kode pada kedua manusia yang bersamanya untuk memberikan mereka waktu berkomunikasi secara pribadi


"Hikk ..., hiks ...., hikk ...," tangisannya mengusap kedua bola matanya


'Kok gue nangis sih, Ra tolong berhenti jangan nangis yang ampun cuman karena kata-kata enggak penting itu lo udah baper.'


'Masih banyak cowo ganteng diluar sana Ra,' ia terus-terusan bergumam didalam batinnya dengan melempar-lempar batu ke dalam sungai sehingga airnya berpercik


"Rara gue minta Maaf," desis Fariz mengatur napasnya setelah berlari mengejar Rara dari belakang dan duduk di sebelah Rara


'Udahlah Ra, maafin ngapain sih ambil hati, ingat Ra lo itu hanya berpura-pura suka sama Fariz jadi enggak usah ganjeng deh fokus Ra, fokus! Setelah Fariz suka sama lo yah tinggalin selesai kan.'


"Gue tahu gue salah," ucap Fariz memutar tubuh Rara ke hadapannya membuat jantung Rara berdetak begitu cepat saat menatap mata Fariz 'Ya Tuhan, mengapa kau menciptakan mahluk begitu sempurna,'


"Astaga," gumamnya menutup mata sembari menggelengkan kepala dan kembali pada posisi awal


"Kenapa?" tanya Fariz


"Enggak," jawabnya

__ADS_1


"Tuan Es?" panggilnya


"Hmn ...,"


"sebenarnya lo tolak gue kenapa? Tipe cewek lo seperti apasih? Lo pernah pacaran enggak, dan lo pernah suka sama cewe?"


"Satu-satu Ra,"


"Hehe ...., maaf karena terlalu semangat,"


"Yaudah Riz bisa enggak lo kasih gue kesempatan untuk dapetin hati lo," desisnya menatap wajah Fariz disusul dengan tatapan hangat Fariz, Fariz tak menggubris perkataan Rara ia memalingkan pandangan ke hal yang lain.


"Riz gue suka sama lo, jadi kasih gue kesempatan yah." Lagi dan lagi jawaban Fariz hanya diam terpaku suasana seketika terasa hening, siapapun yang selalu berada di dekat Fariz akan selalu merasakan yang namanya situasi seperti ini hanya angin yang terus lewat menyaksikan saksi bisu mereka


Untuk menghentikan suasana hening Rara mencari pembahasan baru "Yaudah kalau gitu bisa enggak gue minta satu permintaan,"


"Bisa tapi jangan yang aneh-aneh,"


"Gue ingin pelu..," tanpa sepatah katapun Fariz langsung memeluk Rara, gadis itu merasa tenang dengan perlakuan Fariz padanya "Terima kasih," desisnya karena terbawa suasana dan letih sepanjang hari ia tertidur dipelukan Fariz "Jangan sedih lagi," desis fariz mengusap lembut puncak kepala Rara

__ADS_1


Kisah mereka tidak seperti difilm korea yang selalu ada yang namanya pertengkaran langsung jadian tapi kisah mereka dimulai dari kata perjuangan


__ADS_2