
"Ha ha ...." Tawa terbahak-bahak terdengar dari Andi bahkan sampai membuat bakso yang dikunyanya membuat dirinya tersedak. "Uhuk! uhukk!"
"Minum air, biar dosanya hilang," Pintah Fariz entah itu ejekan atau apa pada sahabatnya, Andi hanya menuruti seperti seorang anak ayam kelaparan, ia dengan cepat mengercap gelas lalu dituangkan air dari pipa ke dalam gelas segera diminumnya.
"Ah leganya, Ha ha ... ya Allah itu bener lo Riz? Cowo yang dikenal kayak es batu bisa kayak gitu?" ucapnya kembali tertawa mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya ampun, malu-maluin aja,"
Fariz tidak memperdulikan semua perkataan Andi karena baginya Andi seperti seekor ayam yang terus berkotek-kotek.
"Farizz!"
"Rizz,"
"Hmm ...." Dehemnya tetap fokus menikmati semangkuk bakso yang tersaji di depan meja.
"Lihat tuh cewe, cakep banget cuy." Ucapnya memukul-mukul pundak Fariz dengan pandangan tetap pada wanita itu.
"Hebat juga lo Ra, buaya darat di sekolah bisa jinak,"
Goda Susi.
Baru 1 menit Rara dan Susi berada di kantin semua tatapan sudah terputar 90 derajat ke arah Rara, sebenarnya bedak apa yang dipakai Rara sehingga cicak yang ditembok saja bisa berhenti sejenak menikmati kecantikannya, apalagi fakboy liaran.
Kedatangan Rara bersama Susi disisinya mengundang keributan termasuk small land crocodile.
"Ya ampun demi bunga mawar yang warnanya memang merah, itu apa bersinar-sinar?"
"Tuhan jika memang dia jodohku maka dekatkanlah, jika bukan tetap dekatkanlah."
"Itukha yang dinamakan bidadari surga,"
"Dia harus jadi pacar gue,"
"Kayak artis kita Ra ...." Ucap Susi memandangi disekitarnya dengan perasaan campur aduk entah itu senang, takut, malu intinya semua karena tatapan itu tak pernah terlepas dari mereka.
"Susi lihat ke sana...." tunjuk Rara pada tempat dimana Andi dan Fariz duduk, di sana hanya Andi yang memandangi Rara tidak dengan Master es angkuh itu.
"Riz ... dia tunjuk kita! Ya ampun apakah ini mukjizat, mimpi apa gue semalam." Ucapnya memegangi kedua kepalanya seakan-akan ingin ia copot tapi masih ada perasaan hidup di dalam dirinya.
Sedangkan di sisi lain yang menjadi kebiasaan Fariz tidak memperdulikan, itu sudah terbiasa bagi Andi. Entah makanan apa yang diberikan emaknya pada anak satu ini Ya Allah.
"Kenapa Ra?" tanya Susi mengikuri arah yang ditunjuk Rara. "Lo liat enggak cowo yang asyik dengan makanannya di sana, nah hanya dia tuh cowo yang enggak tertarik ama gue."
__ADS_1
"Udah ah samperin." Ajak Rara menarik lengan Susi
"Lo mau mati Ra, ketemu babang tampan es itu? Ya ampun Ra, gua enggak ikut deh, walaupun naksir sih," ucapnya mencoba melepas tapi gemggaman tangan Rara kuat, Susi hanya mampu pasrah.
Andi yang melihat Rara bersama temannya berjalan ke arah mereka ia segera merapikan rambut, kemudian membersihkan kotoran kecil yang ada di meja. Dengan tetap anggun Rara duduk dikursi bersama Susi di sampingnya.
"Mampuss tuh anak deketin Fariz."
"Masuk kandang singa ganas."
"Gue aja naksir tapi enggak berani deket-deket apalagi tatap ihhh serem ...."
"Yah iya sih walaupun Fariz sedingin salju di jepang tapi bagaimanapun ia tetap cowo tampan yang laku dimata hawa."
"H--h---h ... hai! Hehe," sapa Andi sedikit gugup karena baru kali ini ia di samperin oleh sosok gadis cantik bak bidadari itu.
Fariz yang masih tidak peduli keberadaan orang lain didekatnya tak pernah melepas pandangannya pada semangkuk bakso yang disantap.
"Riz! Fariz! Riz!" panggil Andi dengan gigi yang masih tersenyum pada Rara ia menyenggol-nyenggol pinggang Fariz.
"Hmm ... apaan?" jawabnya mengangkat kepala ke depan dari beberapa cara entah itu dibanting, dibakar, dihanyutkan, digantung, di wafatkan bahkan sering disakiti oleh si dia, baru Fariz nyahut ya Tuhan sabarkan hati Andi.
"Haii ... kita ketemu lagi." Rara menyapa dengan jemari-jemari kecilnya digerak-gerakkan.
"R--R-Ra pulang yuk perasaan gue enggak enak nih," gumam Susi gemetaran menatap tatapan yang diberikan Fariz terlalu hot "Syutt ... tenang dulu Susi?" desis Rara menempelkan jari telunjuk dibibir Susi sembari menggelengkan kepala.
"Ekhmm! Lo kenapa liatin gua kayak gitu?" goda Rara tak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Fariz padanya.
"Gua pergi," ucap Fariz berdiri dari kursi tempat dimana ia duduk tadi, tapi tekadnya terhalang oleh tangan Andi yang memegang lengannya.
"Apaansih main nyemplor aja, main dulu kek sama cewe cantik."
Mendengar perkataan Andi, Fariz menghela nafas berat, ia sudah capek diganggu oleh cewe-cewe tengil di luar sana.
"Ogah." Tolak Fariz melepas genggamang tangan Andi dengan kasar, tapi Andi tetap tidak marah padanya karena Andi sudah paham betul sifat sahabatnya.
"Dia memang seperti itu maklumi, dari sd sampai sekarang ia memiliki kepribadian yang bisa dibilang itulah, banyak wanita yang naksir bahkan setiap kami pulang sekolah ada saja coklat, bunga ataukah boneka yang diberikan beribu-ribu cewe." Jelasnya panjang kali luas pada Rara, yang dimana sejak dari tadi Fariz meninggalkan kantin.
"Hmm ... cukup mengesankan," gumam kecil Rara tersenyum sinis
***
Tak lama bel pulang berbunyi
__ADS_1
Kini tinggal Rara dan Fariz yang masih berada dalam kelas, dimana Fariz membuat Rara setengah mati keliling kayak makan cilok Mbak Yuli yang enggak ada habis-habisnya.
'Perjuangin Ra, semangat! Lo enggak boleh kalah masa master panas, buaya darat, kuntilanak, anak kecoa bisa lo taklukan sedangkan mas kulin kepucatan, enggak bisa' batin Rara masih menatap Fariz untuk dapat memberanikan diri.
"Pulang sama siapa?"
"Sendiri."
"Kalau gitu pulang--" ucapnya sempat terpotong oleh kedatangan seorang Pria yang menawarkan boncengan pulang.
"Rara kan? Pulang bareng," ajak lelaki yang tingginya kurang lebih 179 M berwajah tampan bak model oppa-oppa korea yah tapi lebih tampan Fariz sih.
"Maaf kayaknya gue pulang sama pacar, he he thanks tawarannya." ucapan Rara seketika membuat Fariz membulatkan mata, mengeryitkan kening, kaget. Baru kali ini ia dibilangin pacar oleh seorang gadis.
Fariz menghela napas berat sembari menangkan diri agar tidak berkotek-kotek seperti Andi. Ia tak ingin mencari masalah apalagi dengan gadis bodoh di hadapannya, setelah mengambil tas, Fariz beranjak pergi tidak memperdulikan Rara yang masih berdiri di hadapanya
Fariz hanya berjalan menerobos dan menyentak bahu Rara
"Dasar lelaki gila, bisa-bisanya gue hanya dikira angin lewat," gumamnya merapatkan kedua gigit seperti ingin meremas perut sapi.
Rara mengeluarkan handphone yang di belakangnya berlogo apel setengah gigitan.
Via telepon on
[Halo Pak Budi]
[....]
[Iya Non?]
[....]
[Tolong tidak usah jemput saya karena saya akan pulang dengan temen]
[....]
[Oh gitu toh, baik Non]
[....]
Via telepon off
"Heh, tunggu saja Tuan Es," gumam kecilnya tersenyum sinis memasukkan handphone ke dalam saku bajunya
__ADS_1