
"Huwaa ....," Nguap John meregangkan badan, sedangkan disisi lain Andi dan Steven yang masih menikmati tidur pulasnya membuat John bergeleng, ia merasa ada yang hilang "Fariz? Tuh anak kemana," gumamnya tak melihat keberadaan Fariz di dalam tenda tidur bersama kedua manusia itu
"Lo cari gue," teriaknya dari balik tenda dengan rambut basah, seperti biasa wajahnya selalu berseri-seri jika terkena oleh air begitupun rambutnya yang tak pernah kusam selalu rapi
"Sudah kuduga," gumam John, Adiknya itu tidak pernah berubah ia selalu bangun lebih awal darinya
"Iya, lo kemana aja," tanyanya
"Bersih-bersih," jawab Fariz dingin
Fariz baru ingat ia lupa menanyakan mengapa Kakaknya itu memilih pindah ke sekolahnya, tanpa memberitahu Fariz.
"Kak?" panggil Fariz
"Hmmm," jawabnya berdehem
"Gue mau nanya, sebenarnya lo pindah karena ...," ucap Fariz terhenti
Karena Tiba-tiba Rara datang dari balik tenda, ia keluar membawa sebuah makanan
"Karena apa?" tanya John. Melihat pandangan Fariz ke arah lain ia mengikutinya ternyata yang dilihatnya Rara
"Loh kalian udah bangun," ucapnya "Kalau gitu Tuan Es nih makanan, gue buat spesial untuk lo," ucap Rara memajukan piring yang di atasnya terdapat nasi goreng pedas disertai beberapa lauk paut
Ini pertama kali Rara bangun lebih awal, jika berada di rumah. Kurniawan Papi Rara yang harus bergegas membangunkan gadis itu setiap pagi. Jika tidak Rara akan merengek karena terlambat ke sekolah sedangkan jam alarm yang selalu tertapa rapi dimeja kecilnya hanya menjadi pajangan semata
"Enggak usah, gue udah makan," tolak Fariz mentah-mentah
"Ekhm ..., kalau begitu buat gue aj ...," perkataan John seketika tergantung oleh ucapan Rara "Tapi kan ini gue buat dengan ikhlas dan sepenuh hati," ucapnya dengan manja di depan Fariz
"Enggak usah Rara, gue udah makan," ucap Fariz gemas disertai penekanan "Ekhm ...," kode John agar Rara peka padanya bahwa masih ada mahluk lain yang setia menunggu
__ADS_1
Rara sama sekali tak menggubris apa yang dikatakan John padanya "Tapi kan gue juga udah rela-rela bangun lebih awal demi buatin ini," ucapnya kecewa mendengar penolakan terus-terus dari Fariz padahal Rara sudah setengah mati mencari kayu disertai beberapa daun dan peralatan masak di lapangan utama perkemahan sampai-sampai kulit dari betis kakinya benjol-benjol di gigit semut.
"Makasih Ra, tapi gue udah makan," tolaknya dengan nada rendah disertai eksperesi datar, Fariz memang sudah makan saat ia bersih-bersih di sungai tadi pagi
"Ekhm ...., Uhuk ,,, uhuk ...," dehem John disertai batuk yang disengaja
"Mending kasih tuh orang," ucapnya melirih John yang dari tadi memberi kode pasarannya itu
"T-t--tapi kan,"
"Yaudah deh nih Kak John ambil aja," ucapnya dengan nada rendah disertai eksperesi malas dan kecewa pada Fariz, lelaki itu tak melihat sama sekali perjuangan Rara bangun lebih awal untuk mengesankan dirinya padahal itu dibuat dengan sepenuh hati dan ketulusan tapi apa Pria Es itu menolaknya mentah-mentah, sungguh malang nasib Rara
"Ikhlas? Ngasihnya?" tanya John menaikkan kedua alisnya menatap Rara
"Iya Kak John," ucapnya pasrah dan mendudukkan badan di kursi kecil dekat tenda
"Serius?" tanya John memastikan, sebagai balasannya hanya anggukan kecil yang diberi Rara, John melihat hati kecil Rara sedang menangis tapi ini mungkin bukan saatnya ia menanyakan mengapa Rara seperti itu wanita itu hanya perlu ketenangan tersendiri
'Huh, apa ini rasanya sakit hati, tapi kok rasanya sakit, padahal setiap mantan-mantan gue yang udah diputusin, rasanya biasa aja. Tadi itu bener gue bangun bukan untuk menarik hati Fariz tapi emang dibuatnya sepenuh hati. Tapi malah ditolak mentah-mentah,' hatinya berguman sendiri meratapi dirinya yang selalu gagal.
"Luruskan kakimu," ucap seorang Pria yang tiba-tiba jongkok dibawah kaki Rara dan ternyata itu Fariz, Pria itu sebenarnya sudah memperhatikan betis Rara saat ia datang dari balik tenda, "Uhuk ..., uhuk ...," batuk John pelan kali ia benar-benar tersedak karena terkejut melihat adik kandungnya sudah tidak mengidap penyakit orang tidak normal karena tidak ingin menganggu ia memilih diam menyaksikan peristiwa langkah yang terjadi tepatnya tanggal 13 Juni 2020 pukul 07:30, waktu indonesia bagian tengah hal itu tersimpan baik-baik dimemori John
'Apakah ini nyata, itu Fariz dia membawa peralatan P3K. Buat gue. Adduh sadar Ra, jangan sampai lo yang masuk kandang singa, tetap fokus' batinnya memukul-mukul kepala pelan
"Lo dengar enggak sih," ketus Fariz membuyarkan lamunan Rara membuatnya terkejut "Iya gue denger," ucapnya bersemangat, Fariz heran wanita itu terbuat dari apa sih? Katanya dengar tapi kakinya masih terlekuk tak lurus ke depan tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya tadi
Fariz menghela napas pelan tak ingin memperpanjang masalah ia menarik paksa kaki Rara yang benjol itu "Aw, sakit," ringisnya memukul tangan Fariz
"Uh, sungguh perlakuan tak eksotis," gumam John sembari dari tadi menonton adegan romance dari kedua pasangan dan tetap fokus menguyah makanan di hadapannya
Ringisan demi ringisan terdengar dari Rara, Fariz tak memperdulikan itu, Pria tersebut hanya fokus untuk membersihkan benjolan kaki Rara dengan kapas kecil, kemudian Fariz menggosokkan minyak penyembuh dengan lembut ke samping-samping luka Rara. Wanita itu bisa merasakan pijatan lembut dari Fariz ia tersenyum kecil melihat wajah Fariz yang begitu serius kini wanita itu tak memperdulikan dirinya apakah harus masuk kandang singa atau hanya jadi pawangnya
__ADS_1
Setelah diperban penyembuhan kaki Rara usai kini Fariz bediri dan beranjak pergi. Tapi tiba-tiba hentakan kakinya terhenti oleh sebuah suara "Tunggu," mendengarnya Fariz membalikkan tubuh "Terima kasih," desis Rara pelan tersenyum kecil ke arah Fariz dan dibalas satu anggukan pelan dari Fariz
"Hmm ..., cukup lumayan, cukup mengejutkan sedikit eksotis enggak ada romantisnya," gumam John masih menyaksikan pertunjukkan yang dilihatnya ia berbicara sendiri memberi kritisan pada apa yang dilihat
'Gue enggak tahu apa itu cinta tapi gue tahu apa itu tulus mencintai tanpa harus merasakan,' batinnya tak lepas dari senyum kecilnya masih menatap punggung Fariz yang sudah berjalan lebih jauh darinya
Dring ....., dring .....,
"Rara hp lo bunyi," desis Susi dimana matanya masih tertutup menikmati tidur dan selimut menjadi kulit menutupi tubuhnya Susi tahu itu handphone Rara karena ia sama sekali tak membawa handphone selain dirinya
Dring ..., dring ...,
Suara dering handphone Rara terus berbunyi membuat Susi gelisah dengan suaranya.
"Adduh Rara dimana sih," desisnya, karena tak tahan dengan suara dering itu ia keluar dari tenda dengan rambut kusam mata masih tertutup baju tak teratur, padahal diluar ada John Pria yang dikaguminya
"Ra! Hp lo bunyi," ucap Susi lemas memajukan tangannya dimana saat itu badannya berdiri tapi matanya masih tertutup, Rara dan John seketika berbalik secara bersamaan
Dengan cepat Rara mengercap handphone yang ulurkan Susi, dan berjalan menjauhi tenda. Kini tinggal Susi dan John
"Susi?" panggil John dengan wajah jijik melihat sekujur tubuh wanita itu sangat berantakan
"Hmm ...," dehemnya dengan mata setengah terbuka, ia tak tahu kalau yang memanggilnya adalah Pria yang disukai tapi suara itu sedikit tidak asing didengar
"Itu muka berantakan," tegur John masih dengan wajah jijik
Sebenarnya Susi mengira itu John tapi tidak mungkin itu pasti Andi yang ingin menjahilinya
"Emang kenapa Hah? Muka gue emang jelek kayak gini," ketusnya masih dengan mata yang terbuka setengah
#Bersambung
__ADS_1
**Gue enggak tahu apa itu cinta tapi gue tahu apa itu tulus mencintai tanpa harus merasakan
-Aira syahrini putri**-