
"Cemberut amat mukanya," iseng Fino menatap wajah Rara di kaca. Saat mereka dalam perjalanan menuju Australia
Rara menatap langit-langit mobil sembari menghembuskan napas panjang. "Rara badmood aja."
"Badmood atau enggak bisa move on sama Fariz."
"Badmood!" ketus Rara dengan manyungan disertai tatapan sinis.
Jalanan saat itu sangat padat, polusi berhembus kemana-mana sehingga Fino harus menutup semua jendela mobil.
"Bang Rara mau nanya nih."
"Hmm ... mau nanya apa, Ra?"
Wanita itu mengepalkan tangan di depan dada berbentuk silang. "Akhir-akhir ini ... kok Rara, enggak pernah dengar kabar Mami?"
Ini yang Fino takutkan, ia harus jawab apa sekarang? Tidak mungkin 'kan ia memberitahu yang sebenarnya pada Rara, bisa-bisa wanita itu frustasi berlebihan. Apalagi ini menyangkut nyawanya juga. Mungkin Fino berbohong saja, tapi bohong 'kan dosa! Tapi jika bohong demi kebaikan. Apa salahnya mencoba.
Fariz mengepalkan bibir, sembari mengatur napas. "Oh, Mami, lagi tugas di luar negeri katanya," Fino tetap fokus menyetir ke depan berharap Rara tidak melontarkan pertanyaan tentang Sinta lagi.
Wanita itu manggut-manggut. "Tapi biasanya, Mami telepon gue kok, Bang."
"Dia sibuk, Ra."
"Kalau sibuk Mami biasa kirim pesan."
Jari telunjuk Fino mengetok-ngetok setir mobil sembari mengigit bibirnya memikirkan pembahasan baru agar Rara tidak menanyakan prihal tentang Sinta lagi.
"Eh, Ra. Tahu enggak tadi Susi kirim pesan sama, Abang." Fino mendapat pembahasan baru masih untung ia mengingatnya.
Untuk mengetahui hal itu Rara bertanya akan isi pesan yang dikirim oleh Susi, dan jawaban Fino? Ia hanya memberi secara langsung handphone-nya dan menyuruh Rara agar ia yang membuka sendiri pesan Susi.
***
"Ekhm ... tumben tuh muka ditekuk," iseng John saat Fariz berjalan melewatinya.
Fariz heran, ia tidak menyangkan John masih menemaninya bicara semenjak kejadian dimana dirinya menarik Rara dari John, padahal Fariz juga memiliki tujuan khusus waktu itu.
"Lo enggak marah?" tanya Fariz menaikkan satu alisnya, mendengar hal itu John berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Fariz, pria itu merangkul leher adiknya dan membawa Fariz duduk bersama di sofa.
__ADS_1
"Masa gue harus marah dengan adek sendiri," John mengetok kepala Fariz.
Pria itu masih merangkul leher Fariz. Dan menghela panjang lalu tersenyum. "Riz, lo mau tahu 'kan? Kenapa gue pindah ke sini?" mendengarnya Fariz menganggut 'Iya'
Sekali lagi John menarik napas lalu menghembuskannya. "Gue ke sini karena disuruh sama papa cari'in lo cewe yang bisa nerima lo apa adanya, bukan cewe yang suka mainin hati. " John menunjuk-nunjuk dada Fariz.
"Dan gue udah nemuin cewe itu siapa," ucap John, Fariz mengeryitkan dahi dan menatap John, tidak mengerti apa yang dimaksud kakaknya tersebut.
"Dia Rara."
Mulut Fariz terbuka setengah mendengar nama Rara, bukannya John menyukai Rara?
"Maksud lo?" pria itu mengeryitkan jidat.
"Yah untuk saat ini lo gengsi, karena pada intinya hati lo cinta tapi mulut berkata tidak," John bergeleng-geleng sembari tersenyum.
Ada apa dengan John mengapa tingkahnya berbeda, seharusnya ia marah 'kan dengan Fariz untuk kejadian dulu. Tetapi pria itu malah mendorong Fariz untuk jujur pada hati kecilnya.
"Bagaimana dengan lo? Lo suka 'kan sama Rara?" tanya Fariz mengangkat dagunya setengah.
John tersenyum manis dan memiringkan kepala. "Gue? Bagaimana kalau gue kasih pertanyaan yang sama."
Tak ada jawaban dari Fariz, lelaki tersebut memalingkan pandangannya pada John.
"Fariz ... Fariz ... gue itu udah tahu lo ada perasaan sama Rara sejak perkemahan dulu, makanya gue tes-tes tembak Rara di depan umum."
John berbalik menatap Fariz, yang masih terdiam.
"Kenapa? Lo pengecut!"
"Rara udah pergi, dan lo? Masih enggak ngejar dia, gengsi lo terlalu tinggi Riz! Kalau ketikung cowo lain ****** lo!"
Fariz hanya berdecak dan beranjak pergi meninggalkan John, ia tidak memperdulikan perkataan kakaknya tersebut, entah sampai kapan Fariz bertingkah seakan-akan dirinya tak mempunyai rasa pada Rara.
"Susul Rara, ke Australia Riz! " teriak John, dimana Fariz hampir tiba di kamarnya.
Bagaimana bisa John mengetahui Rara berada di Australia saat ini. Hal itu yang muncul di dalam pikiran Fariz, tetapi kata 'Bodoh amat' tiba-tiba menghantui jiwanya sehingga ia tidak memperdulikan teriakan John.
John memutar mata dengan tingkah Fariz yang sok jual mahal, tetapi ia tersenyum. John tahu besok Fariz akan bertanya panjang kali lebar mengenai Negara Australia bersama Rara di dalamnya.
__ADS_1
***
Tepat pukul 15:00, mobil yang ditumpangi Rara dan Fino akhirnya tiba juga di bandara.
"Huwaa ...." ngantuk terdengar dari wanita berambut panjang itu, ia meregangkan otot-ototnya setelah keluar dari mobil yang menempuh perjalanan cukup jauh.
Fino mengeluarkan semua barang-barang Rara mulai dari koper, tas kecil berwarna putih yang tidak diketahui isinya, dan beberapa tas besar lainnya.
"Banyak banget barang-barangnya, Ra." Fino kewalahan mengangkat, memindahkan satu per satu barang milik wanita itu.
"Kan, Rara akan pindah ke sana, Bang. Gimana sih!"
"Jadwal penerbangan jam berapa Bang,"
"15 menit lagi."
Rara meneguk salivanya. Memikirkan ia akan benar-benar melupakan kenangan di tempat ini entah itu pahit maupun manis karena baginya saat-saat itu adalah masa indah.
Sambil menunggu jadwal penerbangan Rara akan bergegas masuk ke dalam ruang menunggu tetapi sebelum itu ia memeluk Fino dengan erat disertai tangisan yang mengebu-gebu, itu karena Fino tidak diperbolehkan masuk kecuali bagi yang memang memiliki jadwal penerbangan.
Pria tersebut mengelus-elus pucuk kepala Rara untuk menenangkannya.
Rara kemudian melepas pelukannya lalu berjalan masuk meninggalkan Fino sendirian. Rara melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, dan di balas senyum oleh Fino.
Saat wanita itu sudah berada jauh dari Fino, pria tersebut mengusap air matanya yang akan menetes, dimana ia masih menatap punggung adiknya dari jarak jauh, Fino tahu apa yang dirasakan Rara, ia berharap Rara dapat memulai hal baru di sana.
***
"Gue harus move on! Harus!" gumam Rara dimana dirinya sudah berada di dalam pesawat.
Rara menatap jendela kecil dari samping pemandangan begitu indah, dan sejuk, banyak awan-awan putih yang bertebaran berlatarkan langit berwarna biru tua. Cuaca juga saat itu cerah sehingga membuat Rara sedikit tersenyum, walau hatinya sedang pilu.
Gadis berwajah putih natural itu menghembuskan napas pelan dengan menutup mata, kemudian membukanya lalu tersenyum. "Gue harus memulai semuanya dari nol, itu untuk yang terakhir kalinya. Nanti tidak ada lagi cinta-cinta."
"Lo kuat!"
"Lo harus lupain Fariz ...." satu air mata menetes melalui sela-sela pipinya.
"Lo harus hapus nama pria itu." Rara menghapus satu titik air mata yang menetes itu dengan eksperesi datar.
__ADS_1
#Bersambung
pembaca gelap tendang jauh-jauh kalau perlu di anggap seperti angin lewat. Jadi tinggalkan jejak yah? Baik berupa komen positif maupun like.