Dia Arrogan

Dia Arrogan
Pria atau wanita?


__ADS_3

Fariz mondar-mandir di area kamarnya, pikirannya saat ini bimbang mengenai lontaran John yang mengatakan dirinya menyukai Rara.


Pria itu mengigit bibirnya lalu mendudukkan bokong disudut kasurnya.


"Masa iya sih? Enggak! Enggak mungkin," pria itu bergumam sambil mengacak-acak pucuk kepalanya.


Fariz berpikir mana mungkin dirinya menyukai Rara, padahal selama ini 'kan ia hanya kasihan pada wanita itu, mungkin hanya karena perasaannya saja.


Tetapi mengapa sangat menyiksa, pria itu merebahkan tubuh di kasur lalu menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lukisan bintang-bintang kecil berwarna putih berlatarkan cat hitam.


"Sadar, Riz. Lo harus fokus dulu sama tujuan," gumamnya menghela napas panjang.


***


Akhirnya wanita yang kerap disapa Rara itu tiba di Negara Australia, hanya dirinya seorang.


Ia memandangi sekitar begitu indah, banyak bangunan tinggi dimana-mana.


Ddrrrt! Drrrrtt!


"Bang Fino?"


[Halo Bang? ]


[....]


[Iya, Ra. Jadi Abang itu udah pesanin sebuah Villa]


[....]


[Alhamdulillah, tadi Rara juga pusing mau ke mana]


[....]


[Kalau gitu biar Abang, kirim alamatnya lewat pesan]


[....]


[Siap Bang, oke makasih]


[....]


Setelah menerima pesan dari Fino, Rara menuju alamat yang diterimanya, gadis itu naik taksi.


Hanya berkisar kurang lebih 40 menit Rara tiba di tempat tujuan. Wanita itu membayar sewa kepda sopir taksi tersebut dan beranjak turun.


"Ternyata Bang Fino, punya selera menakjubkan nih," gumamnya menatap di sekitar villa itu. Villa yang akan di tempati Rara berwarna putih disekitarnya tumbuh rumput-rumput hijau empuk, walaupun diinjak telapak kaki berasa lembut.


Sudut kiri dan kanannya di tumbuhi pohon menjulang tinggi.


Rara kemudian berjalan sambil menarik koper dan barang-barang kecilnya di atas koper itu.


Saat dirinya sudah berada dekat dengan pintu. "Hai!" sapa seorang wanita paruh baya berambut putih.


Rara terkejut bukan main ia kaget, karena wanita itu tiba-tiba berada di hadapannya.

__ADS_1


"Hello," sapa Rara balik dengan senyum paksa.


"Ouh jadi kamu yang ingin membeli villa saya," ucap wanita berambut putih itu.


Rara heran bagaimana bisa wanita bule ini tahu bahasanya begitupun tujuannya ke sini. "I-iya, Nyonya tahu bahasa saya?"


"Oh yah, saya tahu. Kakak kamu yang tanya saya," jawabnya.


"Dan satu lagi jangan panggil saya nyonya panggil Mrs, Santy," lanjutnya, Rara mengangguk turut.


Santy kemudian mengajak Rara masuk memperlihatkan isi villa itu, di dalamnya terdapat kolam renang dengan air yang begitu jernih. Semua barang tertata rapi dan bau ruangan begitu harum.


"Jadi? Mrs tinggal dimana?" tanya Rara dimana Santy berada disisinya.


"Mrs tinggal di dekat rumah kamu," jawabnya menunjuk ke arah jendela yang nampak dari kaca rumah bertingkat 3 dengan perpaduan cat orange dan biru.


***


"Kok Rara lagi-lagi enggak ke sekolah sih Riz?" tanya Andi sudah beberapa hari wanita itu tidak nampak.


"Sudah pindah," seketika bola mata Andi membulat lebar.


"Pindah kemana?"


"Australia."


Andi menggeleng dia tidak habis pikir, tega-teganya Fariz hanya enjoy, santai melihat Rara sudah tidak ada lagi di sini. Pria itu menepuk meja dengan keras.


"Riz! Lo itu tidak tahu diuntung, Rara itu anaknya baik, cantik, cerdas lagi, elegan. Apalagi yang kurang Riz!"


"Gue enggak suka sama dia," lanjutnya memasang earphone di kedua telingannya.


Tiba-tiba datang Susi dari luar berjalan dengan wajah murka, tadinya para penghuni kelas tidak memperdulikan Andi yang berpoteh-poteh di depan Fariz, tetapi dengan kedatangan Susi membuat semua tatapan mengarah padanya.


Wanita itu mendudukkan bokong dikursi dekat Fariz agar tatapan para siswa terhalang. "Eh, Riz jujur yah. Dulu itu gue sangat takut sama lo, sama sikap lo yang dingin, itulah cuek inilah." Bentaknya dengan nada pelan agar tidak terdengar oleh siswa.


"Tapi sekarang gue udah berani, karena lo udah nyakitin sahabat gue, kemarin Kak Fino kirim pesan bahwa Rara udah pindah ke Australia. Dan gue tahu pasti biang keroknya adalah lo!" lanjutnya membentak Fariz panjang kali luas, sedangkan yang dibentaknya tidak pernah berpaling menatap wajah Susi.


Susi menepuk jidat mau sampai kapan pun ia berteriak, meraung tidak jelas memukul-mukul tembok bahkan benda tradisional gong sekalipun tidak akan didengar oleh Fariz. Bagaimana tidak jika earphone yang terpasang ditelinga Fariz masih melekat.


Susi mencabut earphone tersebut lalu menarik Fariz keluar. Andi mengucek mata melihat Fariz diperlakukan seperti itu oleh sang wanita.


Gadis berambut pendek itu membawa Fariz ke belakang kelas.


"Jujur pada awalmya gue curiga sama Rara kalau dia suka sama lo, dan ternyata benar dia memang suka sama lo."


"Dan sekarang gue mau nanya, lo suka enggak sih? Sama Rara?"


Mendengar hal itu Fariz menyandarkan punggung didinding. "Gue enggak tahu," jawabnya pasrah.


"Lo kasih harapan banyak, termasuk boneka beruang kecil, itu maksudnya apa?"


Fariz mengeryitkan jidat, ia betanya-tanya dimana Susi mengetahui hal tersebut. "Gue tahu itu karena enggak sengaja lihat di jendela kelas sebelah."


"Riz, gue mau kasih saran lebih baik, lo ikuti kata hati jangan ikuti ego. Karena itu menyiksa Riz!"

__ADS_1


"Gue percaya sama lo." Susi menepuk pundak Fariz lalu pergi meninggalkannya.


***


2 tahun telah terlewati ....


Rara tumbuh menjadi gadis yang berbeda ia tidak seperti Rara yang dulu, watak dan cara berpakaian berganti.


Kini wanita itu sangat sulit bergaul dengan kaum pria, jika mendengar kata cinta dirinya akan marah kalau tidak ia akan pergi jauh-jauh.


[Saya kan sudah bilang, saya tidak ingin pesan pizza jika tidak ditaburi keju di atasnya]


[....]


[Tapi kan, keju dari tokoh kami habis]


[....]


[Kalau begitu saya cancel]


[....]


Mereka berbicara dengan bahasa Australia.


"Kurang ajar, dia kira saya siapa, seenak jidat kirim pesanan tidak sesuai keinginan." Guman Rara mengotak-atik handphone-nya dimana dirinya duduk di sebuah sofa berwarna putih.


"Ini tehnya Nyonya," ucap seorang pelayan bernama Tiwi itu.


"Gulanya pas'kan? Ini dari pucuk teh alami?" tanya Rara mengambil dan menseduk secangkir teh itu.


Setelah diteguk Rara menaruhnya di atas meja. "Oke pas, tapi lain kali kamu harus pakai cangkir motif sejuk," Mendengar hal itu Tiwi mengangguk hormat pada Rara dan beranjak pergi.


Kini wanita itu sendirian di ruang pribadi villanya, ia menatap jendela yang di luarnya di hiasi air mancur dan beberapa tanaman indah.


Rara berpikir sudah lama ia menetap di Australia, bertahun-tahun dirinya melupakan cinta pertama dimasa dulu. Hatinya berkata apakah ia salah atau mungkin hanya kebetulan.


Seandainya Fariz menyusulnya ke Australia, tapi itu tidak mungkin pria sepertinya memiliki ego tinggi untuk melakukan hal itu.


Tok! Tok! Tok!


"Tiwi?!" teriak Rara


Mendengarnya Tiwi berlari dan menunduk hormat pada Rara. "Iya Nyonya,"


"Kamu cek Cctv, siapa yang datang." Titah Rara


Setelah mengecek Cctv, Tiwi datang dan membawa info. "Pria atau wanita?" tanya Rara.


"Pria, Nyonya," jawah Tiwi.


#Bersambung


**Tinggalkan jejak yah jangan jadi pembaca gelap, jejaknya mau Like ataupun komen


see you part nantinya**.

__ADS_1


__ADS_2