Dia Arrogan

Dia Arrogan
Cup! Satukan kecupan mendarat


__ADS_3

"Makasih Riz, udah mau antar gue pulang." Ucap Rara membuka gembok pagar rumah, sedangkan yang ditanyanya hanya memberi jawaban anggukan pelan


Saat Rara sudah berada di dalam teras rumah, ia berbalik dan meneriaki lelaki yang berada di luar gerbang rumahnya. "Tuan Es!"


Fariz mendengar ada suara yang meneriakinya dari belakang, ia berbalik. Dilihatnya Rara berlari kecil ke arahnya. "Tuan Es, gue mau nanya lagi." Ucap Rara berada di depan Fariz , dimana lelaki itu mengeryitkan keningnya bingung pertanyaan apalagi yang akan dilontarkan wanita di hadapannya ini.


"Jangan lama-lama," desisnya dengan raut wajah lelah


Rara tersenyum kecil ke arah Fariz "Tadi tuh lo antar gue pulang ikhlas kan?" tanyanya, spontan jawaban Fariz. "Tid ....." ucapnya tergantung saat Rara menyentuh benda kenyal itu menggunakan telunjuk tangan kanannya. Mata Fariz tak berkedip menatap wajah Rara, mulutnya masih terbuka setengah.


Wanita itu memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Fariz lalu di arahkan kepalanya ke telinga pria itu "Jangan disebut dulu. Nanti aja." bisiknya lembut dan tersenyum sinis.


Cup!


Satu kecupan Rara mendarat di pipi kanan Fariz. Matanya membulat. Tubuhnya membeku tak dapat digerakkan. Badan pria itu bercucuran keringat dingin. Napasnya tak beraturan, detakan jantung Fariz tak teratur. Rara bisa merasakan itu.


Dengan sedikit canggung Rara memundurkan wajahnya perlahan demi perlahan dari hadapan Fariz. Karena tak dapat berkata-kata lagi, ia berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam rumah. "See you Fariz." Teriaknya tetap dengan pandangan di depan


Deg! Deg!


Dengan mata yang masih membulat Fariz menyentuh dadanya, ternyata jantungnya masih berdenyut dengan cepat. Ia ingin marah tapi tidak bisa dikeluarkan, ia ingin meledak tapi tetap saja tidak bisa. Entah perasaan apa yang dirasakannya sekarang.


***


"Arrrghh!"


"Itu tadi ..., gue cium pipi Fariz?"


"Arrrghh!"


Fino tiba-tiba lewat dan tak sengaja melihat Rara berteriak histeris disertai loncat-loncat melebihi kepandaian monyet terlatih. Ia meliriknya dengan tatapan bingung dan menghampiri wanita itu.


"Lo kenapa Ra?" tanya Fino heran


"Bang tahu enggak masa tadi gue cium pipi si Fariz." Jawabnya dengan nada rendah saat kalimat terakhir.


Wanita itu kemudian berdiri tegak di tempat dan menutup mulut. "Astaga gue kan enggak boleh tanya Bang Fino," gumamnya datar, tapi sayang takdir berkata lain. "Gue udah dengar Ra," ucap Fino dengan raut wajah malas, tak berkedip.

__ADS_1


"Kok Bang Fino tahu," tanyanya


"Kan tadi lo sebut Ra, gimana sih," ucapnya masih dengan raut wajah malas


"He he," tawa kecil dari Rara, dan seketika matanya melotot! mencekik leher Fino. "Bang tapi lo janji, jangan tanya siapa-siapa." Pintahnya masih dengan mata melotot, sedangkan orang yang dilototinya diam tak bergerak hanya tegukan ludah yang mampu dilakukan pria itu.


"Udah? Kalau gitu lepasin! s---akit leher a--bang." Pintah Fino dengan suara serak, tak mampu menahan. Rara kemudian melepasnya lalu berlari kecil ke arah tangga, karena tahu setelah dilepaskan Fino pasti akan murka dan mengamuk memarahi Rara.


"Demi buaya darat, yang selalu nanyain ada yang marah enggak kalau chat kamu, kecuali gue! Demi laut yang memang warnanya masih dipertanyakan. Rara!" murka Fino sangat marah, wajahnya merah kini ia tak mampu membendung amarah lagi.


"Rara!" teriaknya berlari mengejar Rara, dimana Rara sudah berada di dalam kamar. Tapi sayang tekadnya terhalang dimana Rara sudah menutup pintu


Drak!


"Kalau gitu Rara mau bobo syantik. Bubay Babang Fino tercinta, tersayang, terlove, love-love you." teriaknya dari dalam kamar.


"Rara, awas lo!" ketus Fino, memang tidak mudah untuk menjadi seorang Kakak yang baik bagi seorang Adik kecil yang jahil. Diperlukan mental ekstra untuk menjalaninya seperti yang dirasakan Fino saat ini. Walaupun dirinya ingin berubah tetapi niat buruk selalu muncul. Dikarenakan setan kecil jadi-jadian itu.


"Oke sab ...." ucapan Fino terpenggal dengan teriakan Rara dari dalan kamar


"Sabar Bang Fino, sabar. Tarik napas dulu baru buang! Tarik lagi, baru buang."


Kini kejadian lalu terbalik dimana Fino yang biasa menjahili Rara, kini sebaliknya Rara yang menjahili Fino.


"Tua Ra! Tua!" teriak Fino mengelus-elus dada sembari menghela napas pelan. Kini jalan terakhir yang harus diambilnya pergi dari depan kamar Rara. Bagi Fino menjauh adalah kata lain mengalah dari hal yang tak ada faedahnya sama sekali.


***


"Wuh. Tuh wajah pucat sekali, lo diapain sama Rara? Hah?" tanya John entah itu mengejek ataupun hanya pertanyaan untuk menggoda Fariz. Dimana Fariz sudah tidak jauh dari ambang pintu.


"Apaan sih lo!" ketus Fariz sudah berada di dalam rumah berjalan melewati John tanpa meliriknya sekalipun.


"Kaku amat jalannya neng," iseng John terkekeh melihat cara jalan Fariz seperti anak tk yang baru masuk sekolah.


Pria yang diisengi John itu tidak menggubris perkataannya, ia tetap fokus pada jalannya menuju kamar.


"Woi, lo belum jawab pertanyaan gue Riz!" teriak John yang menyandarkan badannya di sofa, disertai cengar cengir kecil.

__ADS_1


"Terserah!" teriak balik Fariz


***


Rara yang masih berada di dalam kamar dengan rebahan santuy memainkan handphone-nya dengan kedua jempol. Jam di dinding menunjukkan pukul 18:16


Via massege on


[Good night Riz,]


Via message off


Setelah pesannya terkirim sesegera mungkin wanita itu mematikan layar teleponnya. "Please balas!" Rara berharap besar pada Fariz ia akan membalasnya.


3 menit Rara menunggu tak ada jawaban yang diterima. Ia kembali menyalakan handphone-nya


"Yah kok di read doang sih," kesal Rara, matanya setia menunggu balasan dari Fariz, tetapi tak ada jawaban dari pria itu.


"Coba lagi deh, siapa tahu dibalas."


Via message on


[Tuan Es, lagi ngapain?]


Kini matanya fokus pada layar handphone di hadapannya. Menunggu balasan dari si dia, dia yang selalu disebut tapi tak diketahui namanya.


3 menit terlewati, layar handphone Rara masih bersinar diwajahnya.


"Tunggu bentar lagi, mungkin dibalas kok."


Tak terasa, 1 jam terlewati mata Rara sudah letih menatap layar handphone "Hoaah ...., tunggu sekejap lagi Ra, Tuan Es pasti ba ...." ngantuk Rara sudah keluar dari mulutnya berbentuk 'O', karena terlalu, lelah ucapannya terpenggal saat matanya sudah tidak mampu lagi terpejam, dan tubuhnya tak mampu lagi bertahan.


Drekkk ...., drekkk ....


Handphone Rara bergetar keras, dengan cepat ia membuka mata lebar-lebar, lalu menyalakan handphone. Terdapat sebuah tulisan 'Tuan Es mengirimkan pesan' dibagian atas layar handphone-nya, wanita itu mengucek mata. Untuk memperjelas penglihatan jika benar itu Fariz yang mengirimkan pesan.


Dan ternyata benar itu memang Fariz, walaupun sedikit lelah menunggu balasan dari si dia tapi bagi wanita anti selingkuh, jawaban mereka jika kau benar-benar menyukai dia maka menunggu adalah awal dari bahagia untukmu.

__ADS_1


"Tuan Es?" jerit Rara begitu keras, ia membangunkan badan dan berdiri, menatap layar handphone-nya sekali lagi. Berulang kali dibaca tulisan 'Tuan Es mengirimkan pesan'. Entah kenapa tulisan itu sangat penting bagi Rara.


__ADS_2