Dia Arrogan

Dia Arrogan
1 hari lagi.


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut semangat penuh disertai senyum mengembang diwajah mungil Rara. Sekaligus ada sedikit kesedihan yang terbenik dimana 1 hari lagi tantangan berakhir. Apakah gadis itu berhasil? Atau hanya angan-angan belakang. Mungkinkah Rara akan benar-benar ke Australia jika tantangan tersebut gagal.


"Pagi Tuan Es," sapa Rara dengan senyum mengembang.


"Pagi Ra." Rara mengigit bibir saat Fariz menyebut namanya. Biasanya Fariz hanya menyebut kata 'Pagi' kali ini, tidak lagi.


"Nih, gue bawah bekal lagi buat lo." Ucap Rara mengeser bekal yang berada di atas meja tepat di depan Fariz.


"Enggak usah repot-repot."


"Emang kenapa? Gue ikhlas loh bikinnya."


"Gue bawa sendiri bekal, Ra."


Rara manggut-manggut sambil memperhatikan Fariz yang sibuk dengan buku itu lagi.


"Riz, kalau gue jadi tuh buku ... apa lo akan liat gue juga." Ucapan Rara membuat Fariz menatapnya, ia mencoba memahami perkataan Rara.


'Riz, kali ini memang benar. Gue suka sama lo, gue enggak bisa bohongin perasaan gue. Gue benar-benar cinta sama lo. Tapi gue tahu pasti lo juga punya perasaan yang sama walau hanya sedikit.' batinnya menatap mata Fariz.


"Pagi anak-anak!" tatapan Rara dan Fariz hancur saat kedatangan Bu Tiwi yang tiba-tiba.


***


"Si?"


"Lo kenapa sih? Udah enggak pernah kirim pesan, datang ke rumah juga jarang. Lo marah yah sama gue?" tanya Rara memiringkan kepala tepat di depan Rara.


"Enggak gue lagi badmood."


Rara menghela napas pelan. Rara tak tahu apa isi hati dari sahabatnya ini. Sebenarnya Susi memang marah pada Rara, semenjak kejadian dimana John mengungkapkan perasaannya di depan siswa. Tapi Susi gengsi mengakui hal itu.


"Lo suka yah sama Kak John?" tanya Susi dengan raut wajah ditekuk.

__ADS_1


"Ya Allah, Susi! Jadi lo suka sama Kak John? Kenapa enggak bilang dari awal. Oke gue jawab pertanyaan lo, gue itu enggak ada perasaan sama sekali sama Kak John."


Susi menghela napas legah. "Serius?" tanya Susi masih dengan raut wajah jutek.


"Iya serius, bahkan 2 rius deh," Rara bergaya dengan mengangkat tangan kanannya membentuk huruf 'V'


Susi kemudian tersenyum perlahan, lalu memeluk Rara dengan senyum merekah. Dimana Susi masih memiliki harapan besar mengisi hati John.


Wanita itu kemudian melepas pelukannya pada Rara. "Btw, gue mau nanya. Akhir-akhir ini lo suka ganggu Fariz, lo ada perasaan yah?" tanya Susi serius.


Rara tak mungkin jujur mengenai perasaannya pada Susi, walaupun gadis itu adalah sahabatnya. Ia butuh waktu untuk itu.


Rara memegang pundak Susi. "Susi? Gue cuman iseng sama Fariz, oke?" jelasnya mengedipkan satu mata. Susi tidak percaya dengan itu ia menaikkan satu alisnya, Rara menjawab anggukan.


***


Kali ini SMA Nuangsa dipulangkan cepat karena ada rapat guru mengenai ulangan akhir semester.


"Riz, pulang bareng yuk!" ajak Rara mengandeng tangan Fariz, dimana Fariz mengeluarkan jaket dari dalam bagasi motornya.


'Ih, nyebelin banget sih, atau ... hehe ....' entah dari mana ide ini muncul, Rara tersenyum sinis ke arah Fariz.


"Adduh Riz, perut gue sakit banget! Keram nih. Riz, gue enggak bisa gerak," Fariz tahu ini adalah rencana lain Rara, tetapi Fariz juga memikirkan hal dimana dirinya tak boleh seuzon pada orang lain.


"Yaudah gue anter pulang."


'Yes, asikkk,' Rara tersenyum dengan kepalan bibir. Kali ini rencananya memang benar-benar berhasil.


Saat diperjalanan Rara sangat senang, tapi bagi Fariz ini ujian terberat kebanding harus mengerjakan soal matematika 100 nomor.


"Riz, maaf yah gue peluk."


Fariz menutup mata sangat rapat, ia sangat ingin menendang gadis yang duduk di belakangnya ini.

__ADS_1


Kali ini pria itu hanya diam. Karena jika ia berpoteh-poteh motor akan ambruk.


"Riz ... gue mau nanya."


Tak ada jawaban dari Fariz.


"Lo udah suka enggak sama gue?" tanya Rara


"Enggak!" ketusnya.


"Tapi lo ada harapan'kan sama gue."


"Enggak!"


"Kalau gitu kapan lo cinta sama gue."


"Enggak!"


Pertanyaan Rara hanya dibalas dengan kata 'Enggak' oleh Fariz kata itu diulang terus walau tidak sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan Rara. Tibanya mereka tepat di depan rumah Rara. Gadis itu tetap melontarkan pertanyaan.


"Oke pertanyaan terakhir Riz, lo harus jawab serius, gue benar-benar serius Riz." Ucap Rara dengan nada lembut menatap kedua mata Fariz.


Wanita itu menggapai kedua tangan Fariz lalu dipegangnya. Rara meneguk pelan demi mengeluarkan keberanian. Rara tak ingin membuang banyak waktu, karena tinggal 1 hari lagi semua berakhir. Ia tak ingin menjadi pendusta yang mengingkari janji.


"Riz, baru kali ini aku cinta sama cowo. Dulu waktu smp, bahkan di sekolahku yang dulu. Aku hanya punya perasaan suka, bukan cinta!"


Fariz merasakan jantungnya berdetak cepat. Mengapa ia tak punya niat untuk melepas pegangan Rara padanya.


"Sekali lagi aku mau bilang, kamu mau enggak jadi pacarku?" tanya Rara dengan nada sangat lembut.


"Ra, gu ...."


"Ssst ... kamu jawab besok pake kertas oke!" Rara kemudian masuk tanpa mengucapkan terima kasih pada Fariz, wanita itu berjalan meninggalkan Fariz sendirian.

__ADS_1


Fariz menggeleng, kenapa ia baru sadar, jika perut Rara cepat sekali sembuhnya. Berarti benar feeling Fariz mengenai gadis itu hanya berpura-pura.


__ADS_2