Dia Arrogan

Dia Arrogan
Kenangan indah


__ADS_3

"Apaan sih," ketus Rara


"Adduh," ringis John memukul kepala "Si Andi sama Steven dimana sih. Sebentar lagi pentas dimulai, tim kita akan tampil," cemasnya mencari kiri kanan keberadaan kedua mahluk bernyawa itu


"Itulah tadi penampilan dari tim 14, selanjutnya kita mengarah pada tim terakhir. Kita sambut tim 15!" teriak Pak Budi begitu keras sehingga membuat para audiance bertepuk gemuruh menyambut dengan penuh semangat.


"Kak John! Andi dan Kak Steven di mana?" tanya Susi baru menyadari tidak adanya kehadiran kedua insan itu.


"Tadi sih ada, tapi katanya pergi sebentar. Eh nyatanya enggak pulang-pulang," jawab John cemas, memikirkan apa yang terjadi jika Pak Budi mengetahui hal ini


"Tim 15? Silahkan naik ke panggung sekarang juga!" pintah Pak Budi masih bisa mengontrol emosi


"Yaudah deh, enggak ada cara lain. Dengar baik-baik walaupun cuman berempat kita harus bisa." Jelas John. "Kalian masih ingat kan? Latihan tadi sore. Jadi lakuin aja,"


Rara, Fariz, Susi dan John kemudian naik ke panggung pentas. Walaupun kehilangan 2 anggota tim. Tapi semangat mereka tak pernah jatuh untuk menyukseskan perpisahan malam ini. Para pengagum berat Kakak beradik itu beradu mulut, di dalam mendukung idola mereka masing-masing


"Kak John! I love you."


"John my baby, husband, my boyfriend."


"Fariz! aku padamu."


"Farizku I love you, calon pacar, calon iman, calon masa depan."


"Intinya John terdepan, Fariz di belakang,"


"Walaupun Fariz di belakang tapi di dalam hatiku dia terdepan."

__ADS_1


John memberi kode anggukan 1 kali pada Fariz agar pria itu yang memulai duluan dan susul oleh ketiga rekannya. Melihat kode yang diberikan John, Fariz mengatur gerakan untuk memulai. Saat kakinya sudah dimajukan ada suara yang menghentikannya. Suara itu terdengar di tengah-tengah audiance.


"Tunggu!" teriak dari salah seorang pria, ternyata suara itu berasal dari Steven yang mengajukan tangannya, sebagai tanda stop. Dimana Andi berada disisi Steven.


Steven dan Andi naik ke atas panggung semua tatapan terarah pada mereka, awalnya John juga terkejut tapi setelah melihat bahwa ternyata suara itu berasal dari Steven. Hatinya kembali tenang, senyum mengembang terlihat jelas melalui wajahnya


Kini tim 15 lengkap, ataraksi mereka malam ini sangat spektakuler jika dibandingkan dengan tim lain. Tim 15 yang paling menonjol dimata audiance


***


14 Juni 2020


kisah mereka berakhir di hutan kota, Ini saatnya melepas kerinduan bersama. Jika mengingat masa-masa indah itu. Hati ini akan rindu, dengan sosok-sosok mereka yang selalu menghibur seperti seorang saudara yang selalu ada


Pembongkaran tenda telah usai, tas beserta koper milik 5 manusia itu kembali berisi. John yang tak ingin perpisahan tersebut seperti debu yang berhamburan kesegala arah, mempersatukan para rekannya untuk mengucapkan salam perpisahan


"Sabar dikit apa, Abang Steven," balas John mengeryitkan kedua alisnya, Steven hanya menghela napas pelan untuk bisa sabar


"Jadi gini, hari ini menjadi, hari terakhir untuk kita semua. Gue pengen kalian, keluarkan rasa yang pernah dirasain selama 5 hari!" Jelas John


"Kak John! Gue pengen ngomong sesuatu untuk kalian semua." Ucap Rara dan dipersilahkan oleh John


"Jujur, gue enggak sadar ini sudah hari kelima, baru kali ini gue enggak rasain waktu. Entah waktu yang terus berputar atau gue yang terus berjalan. Tempat ini mengisahkan begitu banyak kenangan indah, nan pahit, persaudaraan, kekeluargaan terus terbentuk melalui perbincangan kecil hangat kita semua." ucap Rara menatap langit dan beberapa pohon yang menjulang tinggi, lalu menutup mata merasakan hangatnya angin yang lewat melalui sela-sela pipinya


Kemudian Rara membuka mata lalu melihat John "Kak John, gue cuman mau bilang. Pada awalnya kita tak saling mengenal satu sama lain, kau seperti orang asing bagiku. Tapi terbentuknya tim ini, gue belajar banyak dari Kakak, bagaimana cara menjadi orang yang bijak, dan tentunya cepat mengambil keputusan logis. Terima kasih," ucapnya lembut, kemudian tatapannya mengarah pada Steven dan Andi


"Kak Steven! Andi! Gue enggak pernah tahu, cara bahagia itu seperti apa. Tapi semenjak mengenal kalian, gue tahu bahagia itu sederhana tergantung dari kita bagaimana cara menikmatinya, Rara mau bilang terima kasih," kini tatapan Rara pada sahabat kecilnya Susi

__ADS_1


"Cuci, itu nama panggilan gue untuk lo saat kecil, gue ingin kita tetap menjadi seorang sahabat walaupun telah pisah di tempat ini, terima kasih karena telah mengajarkan banyak arti persahabatan." Saatnya tatapan terakhir dan sangat berat bagi Rara untuk dilakukan, tapi ini harus. "Fariz!" desisnya lembut matanya memanas menahan bendungan air mata, ia tak tahu apakah kejadian-kejadian dimana Fariz sangat perhatian padanya akan terulang atau hanya sampai disitu


Fariz adalah sosok yang mengajarkan Rara banyak hal, yang tak pernah dirasakan.


"Fariz, gue tahu lo orang baik, yang selalu bersembunyi dalam melakukan perbuatannya," ucapnya meneguk ludak berjalan mendekati wajah pria itu dan berbisik "Aku cuma mau bilang 3 kata, jangan pernah berubah," bendungan itu tak tertahan 1 tetes air mata mengalir melewati sela-sela pipinya


'Tuan Es, gue enggak tahu apa ini hanya perasaan saja, atau gue benar ada rasa sama lo.' batin Rara terus bergumam


'Gue harap perkataan tadi masih tersimpan baik-baik.'


Rara kemudian memundurkan badannya menjauhi Fariz dan menarik tangan Susi berjalan ke depan "Ayo, Susi." Ajaknya


'Dari lo, gue belajar cara tulus memandang orang lain tanpa melihat status,' batinnya dimana ia terus berjalan ke depan tanpa melirik ke belakang


'Gue heran dengan Fariz, padahal Rara adalah wanita berbeda diantara ribuan wanita yang mengejarnya. Apa dia enggak ada perasaan sedikit pun?' batin John mengambil tas dan memakainya


Fariz hanya terdiam di tempat tanpa mengucap apapun apalagi bergumam dalam hati, matanya hanya menatap punggung Rara yang sudah berjalan jauh darinya


"Jaga dia baik-baik sebelum menjadi milik orang lain" saran Steven menepuk pundak Fariz lalu mendahuluinua bersama Andi


'Jika dia memang milikku maka tidak akan menjadi milik orang lain.' batin Fariz bergumam dimana tinggal dirinya yang masih berada di tempat


#Bersambung


****Jika dia memang milikku maka tidak akan menjadi milik orang lain


-Fariz Aldrick Edward**-

__ADS_1


__ADS_2