Dia Arrogan

Dia Arrogan
Go to Australia


__ADS_3

"Sudah sehat, Ra?" tanya Fino seperti biasa, pria itu lagi-lagi duduk dengan santai di sofa. Jawaban Rara hanya manggut-manggut lemah.


Ia berjalan menuju Fino dan mendudukkan bokong di sofa dekat Fino lalu menyenderkan kepala di pundak kakaknya. "Abang tahu kok, lo di tolak Fariz kan?" tanya Fino mengelus-ngelus lembut pucuk kepala Rara.


Mendengar perkataan Fino, Rara mengucek mata dan meluruskan posisi ke depan. "Abang tahu dari mana?" tanyanya menatap tajam Fino.


Fino menarik leher Rara ke pundaknya lalu kembali mengelus lembut pucuk kepala wanita itu. "Abang tahu, kan Rara adek kesayangan abang. Abang tahu hati kecil Rara sedang menangis, sedang sakit."


"Abang berharap setelah lo udah di Australia, lupain Fariz oke! Lupain! Lo enggak bisa terus-terus seperti ini." Mendengar hal itu Rara meneguk pelan, apakah ia akan benar-benar melupakan cinta pertamanya di negara orang? Atau tidak sama sekali. Mengapa jadi lika-liku seperti ini, begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.


"T--t-tapi Bang!"


"Syut ... Ra? Abang enggak tega lihat adik kecil abang menangis, setiap hari. Hanya karena lelaki seperti Fariz itu. Masih banyak lelaki diluar sana yang mapan, apa istimewanya sih dia."


'Fariz istimewa, jauh lebih istimewa, Bang!' batin Rara menatap lantai bening di bawah kakinya.


"Oke, Abang udah persiapin semuanya, lo tinggal siap-siap, untuk penerbangan." Ucap Fino, anggukan kecil sebagai balasan dari Rara.


***


Hari ini adalah kisah baru yang mungkin akan Rara ukir sendiri. SMA nuangsa adalah kenangan dimana dirinya masih menjadi murid baru, Fariz adalah bagian dari perjalanannya selama ini. Namun! Rara mungkin akan melenyapkan bagian itu, walaupun sakit! Bekas dihatinya masih terisak. Belum lenyap, Rara butuh waktu untuk itu.


"Bi! Rara ... ada sebuah surat. Nanti kalau ada seorang pria ...." Rara menghela panjang dan menutup mata rapat-rapat yang akan kembali menetes.


"Nanti kalau ada seorang pria, bertubuh tinggi, wajahnya putih natural. Yang intinya wataknya dingin."


"Bi Siti, tolong kasih surat ini sama orang itu." lanjutnya memberi sebuah surat pada Bi siti.


Rara tahu pasti Fariz akan datang ke rumahnya, entah itu kapan, tetapi pria itu pasti akan datang.


"Emang namanya siapa Non?"


"Fariz!" teriak Fino dari belakang. Bi Siti mengangguk mendengar hal itu.

__ADS_1


"Semua udah siap, Ra?" tanya Fino, lagi-lagi jawaban Rara angguk dengan kepala tertunduk ke bawah.


"Kok, lemes sih?! Semangat dong, katanya primadona di sekolah, kok primadona bisa kalah dengan seorang lelaki." Perkataan Fino tidak mempan dihati Rara, wanita itu langsung memeluk Bi Siti.


"Bi Siti, baik-baik yah, di sini. Rara ... nanti akan kembali dan melihat Bi Siti lagi," Bi Siti menangis terseduh-seduh sembari mengelus-ngelus punggung Rara.


***


"Akhir-akhir ini Rara, kok enggak pernah ke sekolah sih, Riz?" tanya Andi berjalan berdampingan dengan Fariz. Setelah bel pulang berbunyi.


"Gue enggak tahu."


Tiba-tiba Susi datang dan berjalan mendahului Fariz dan Andi.


"Eh, Susi?!" teriak Andi. Wanita itu berbalik karena merasa ada seseorang yang memanggilnya.


"Hmm ... kenapa Ndi? Panggil gue?" tanya Susi, berjalan ke arah Andi dan Fariz.


"Rara kemana? Udah 2 hari dia enggak pernah ke sekolah."


Fariz menatap sinis Susi. 'Sakit?' batinnya.


***


Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum," salam Fariz dari balik pintu sambil mengetok.


Ceklek!


"Wa'alaikumsalam." Bi Siti menatap Fariz dari ujung sampai pucuk kepala ia merasa, bahwa pria yang dimaksud Rara mungkin lelaki ini.


"Silahkan masuk!" pintah Bi Siti, dimana Fariz masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Enggak usah, saya cuman sebentar," tolak Fariz celingukan mencari keberadaan Rara, tetapi ruangan yang dilihatnya begitu sunyi.


"Rara, ada?" tanya Fariz. Mendengar hal itu Bi Siti manggut-manggut ia berpikir mungkin pria ini memang benar-benar yang dimaksud Rara.


"Nama, kamu siapa?" tanya Bi Siti memastikan terlebih dahulu sebelum memberinya sepuncuk surat.


"Fariz." jawabnya datar. Bi Siti mengepalkan bibir dan mengeluarkan surat yang diberi Rara tadi dari kantung dasternya. Bi Siti kemudian memberinya pada Fariz.


"Ini apa?"


"Surat dari Rara. Rara tidak ada di rumah" ucap Bi Siti tersenyum. Karena tak ingin lama-lama, Fariz akhirnya pamit dan pulang.


***


Tibanya di rumah, Fariz membersihkan badan dan menganti pakaian, pria itu mengenakan baju kaos putih lengan pendek disertai celena berwarna hitam sampai lutut. Rambut pria itu basah dan terlihat rapi seperti sudah di sisir ke samping.


Fariz mendudukkan bokong di kursi dekat meja belajarnya. Ia berpikir sejenak mengapa Rara harus memberinya surat segala. Mengapa bukan wanita itu sendiri yang langsung keluar dan berbicara dengan Fariz. Ia juga bertanya mengenai perkataan Bi Siti yang mengatakan Rara tidak ada di rumah, bukannya wanita itu sakit? Ah, sudahlah mungkin melalui surat yang di berikan Bi Siti menjawab semuanya.


Surat yang di taruhnya di atas meja, ia ambil kemudian dibuka secara perlahan.


'Kisah, perjalanan ... air mata! Sakit! Perih dan hampir menyerah. Itu yang saat ini aku rasakan, mungkin aku hanya ingin bercerita sedikit tentang kisah dan harapan. Fariz ... jika mendengar namamu entah mengapa hati kecil ini selalu terasa hangat, tetapi mengapa saat berbicara tentang perasaan denganmu, aku merasa sesak. Banyak hal, banyak cerita yang bisa terlukis di mataku.'


'Aku tidak tahu apa hati ini bisa bertahan, bisa menyimpan namamu atau mungkin suatu saat nanti akan ada orang lain.'


'Mungkin kau benar, lebih tepat jika kita melupakan seseorang yang sama sekali tak punya perasaan yang sama. Walaupun itu sulit tetapi aku akan benar-benar berusaha menghapus namamu, dan setiap angan-anganku di negeri orang.'


'Terima kasih Fariz. See you ....'


-Aira Syahrini Putri-


Itu adalah surat terakhir yang di baca Fariz. Rara memang benar-benar ke Australia.


#Bersambung

__ADS_1


Pembaca gelap tendang jauh-jauh 😝


__ADS_2