Dia Arrogan

Dia Arrogan
Aturan Rencana


__ADS_3

"Woii Bro!" teriakan dari belakang seketika membuat kaki Fariz terhenti sejenak, sebenarnya ia sudah tahu suara itu berasal dari mana.


"Seperti biasa gue udah siapin kantong besar buat nampun yah biasa ituloh," teriak Andi dari belakang mengejar Fariz berjalan keluar.


Fariz hanya mampu menghela napas panjang melihat kebiasaan sahabatnya itu, saat jam pulang. Seperti biasa para gadis-gadis menghampiri Fariz yang sejak dari tadi menunggunya dari luar.


"Fariz, nih coklat."


"Jangan bunga aja, ini susah aku petik loh membutuhkan waktu 7 hari, 7 malam, 7 detik, 7 jam, 7 menit ngambilnya di desa,"


"Busyett anak orang saking sukanya sama induk singa rela lakuin hal segila itu," gumam kecil Andi terkejut mendengar salah satu perkataan gadis yang membawa setangkai bunga mawar merah.


"Fariz, enggak usah ambil itu, ini aja coklat 5 puck aku belinya dari london loh Ayah yang kirim, dan aku juga buatin puisi."


"Jadi gini yah cewe-cewe cantik Induk singa, eh salah maksudnya itu Babang Fariz akan makan pemberian kalian satu persatu jadi kumpulin dikantong ini yah?" pintah Andi menyamakan penjelasan yang lebih akurat.


Andi membuka lebar-lebar kantong merah yang dipegangnya dari tadi.


Faris menghela nafas berat lalu meninggalkan gerombolan gadis itu.


Melihat Fariz telah pergi membuat Andi merasa tak kecewa ia malahan puas dengan perolehan beberapa benda berharga.


"Thanks Bro besok lagi!" teriaknya sekeras mungkin agar terdengar oleh Fariz


"Yah coklat gue gimana?"


"Tenang nanti dikasih ke Babang Fariznya," ucap Andi mengedipkan satu matanya pada gadis-gadis itu kemudian berlari menyusul Fariz yang sudah jauh depannya.


***


"Kesempatan emas mumpung Fariz lagi di belakang gue pura-pura jatuh ah."


Sebenarnya Fariz sudah melihat dan mengetahui rencana gadis itu, ia hanya tidak menghiraukannya.


"Loh, loh itukan Rara? Ngapain dia kayak suster ngesot dijalanan gitu ya Tuhan," gumam kecil Susi yang berada tidak jauh dari Rara dimana ia tidak sengaja memperhatikan gerak-gerik Rara.


"Adduh," ringis Rara, kembali mengulang aktingnya dan menjatuhkan badannya sedikit alay ke aspal jalanan.


"Astagafirullah, wah gila tuh anak, bisa-bisa enggak waras," ucapnya makin gemes dengan tingkah konyol si Rara.


"Harus disamperin nih."


"Heh ... suara motor dari Fariz kayaknya sudah dekat, yups sedikit lagi." desisnya pelan


"Lo ngapain Ra?" tanya Susi tiba-tiba mengagetkan Rara, tanpa sengaja tatapan Rara teralih oleh suara motor Fariz yang sudah melewatinya.


"Yah, yah Lu sih ah, gangguin aja," ucapnya kesal karena rencananya gagal oleh kedatangan Susi.


Pip!


klakson mobil dari arah timur terdengar.


"Yaudah gue duluan Ra papi udah jemput," teriaknya berlari menghampiri mobil itu


"Hmm ... hati-hati lo." Ucapnya berdiri merapikan kotoran debu yang ada di seragam sekolahnya


Langit saat itu gelap berasa mendung Rara sangat menyesal akan kelakuannya menolak untuk dijemput oleh Pak Budi, sebentar lagi hujan turun. Ia sangat gelisah untuk meminta bantuan kepada siapa.


"Sial, ini semua gara-gara lelaki brengsek itu." kesalnya mengingat kejadian tadi.


Rintik-rintik hujan tergambar di bawah aspal, gelisah Rara bertambah seketika ia melihat gemuruh hujan bertambah besar,


"Ya ampun hujan, gue harus cari tempat berteduh," gumamnya dengan kegelisahan mencari disekeliling tempat, bajunya sudah basah kuyup karena hujan.


***


Disisi lain Fariz yang masih dalam perjalanan pulang mendapati hujan, ia sesegera mungkin mencari tempat berteduh agar tidak terguyur hujan terlalu lama.

__ADS_1


Dan akhirnya tepat di depan minimarket dekat lampu merah ia berhenti untuk mengeringkan bajunya yang basah.


"Hp gue! Astaga," ucapnya meremas-remas saku kiri kanannya yang sama sekali tak ada gambaran berbentuk persegi panjang yang dirasakan.


Fariz baru mengingat ternyata Handphone yang di bawahnya tertinggal di sekolah, ia merasa betapa bodoh dirinya bisa melupakan benda itu.


Ia hanya mampu menghela panjang menunggu hujan redah lalu kembali ke sekolah.


***


"Please angkat dong Pak Budi," ucapnya sedikit mengigil sembari memegang handphone yang berada dekat ditelinganya


Untung ada halte di dekat sekolah jadi ia masih bisa berteduh, walaupun tempatnya agak sempit tapi itu salah satu jalan terbaik untuk saat ini


"Adduh jaringan lemot lagi."


Rara mengangkat tangan kirinya tepat di depan wajah, ia melihat lingkaran indah dimana waktu menunjukkan pukul 15.00 sedangkan hujan tak kunjung henti.


Ia hanya bisa mengigil melipat kedua tangannya serapat mungkin menunggu hujan turun dan memastikan ada taksi yang datang.


***


15 menit kemudian rintikan hujan mulai meredah Fariz yang memajukan tangannya merasakan rintikan itu sudah tak nampak, ini saatnya ia beranjak dari tempat itu untuk kembali ke sekolah.


Fariz tak tahu bahwa tempat yang ia tuju ada Rara disana, Tuhan memang selalu punya rencana.


Beberapa meter dari sekolah Fariz melihat seorang wanita basah kuyup dengan badan mengigil, wajahnya sedikit buram karena kaca yang menutupi helm.


"Ya Tuhan tolong Rara, Rara janji enggak akan susahin Papi lagi," gumam Rara dengan bibir yang bergetar, wajahnya sudah pucat.


Melihat Fariz lewat dengan kendaraannya melewati halte, Rara merasa senang masih ada orang yang datang, karena Fariz pakai helm ia tak tahu kalau itu Fariz.


"Tolong! tolong gue, siapapun itu," teriaknya masih dalam keadaan mengigil merapatkan kedua tangan di depan dada.


Darinya mengambil Handphone yang tertinggal di. kelas, ia menghampiri Rara, Fariz juga seorang manusia yang masih memiliki hati tulus.


"T--t-terima kasih," desisnya perlahan pingsan dipelukan Fariz.


"Dasar," gumam Fariz, ia khawatir Rara diapain sekarang, tiba-tiba pingsan seperti ini.


Drttt! drrttt!


Suara bising itu terdengar dari saku baju Rara, dan ternyata handphone Rara yang bergetar tak menunggu lama Fariz mengangkat telepon tersebut.


***


"Terima kasih Nak, sudah membawa Rara ke sini. Bapak tidak tahu mau balas apa," ucap Kurniawan Papi Rara. Menepuk pundak Fariz.


"Tidak usah Pak, saya ikhlas." jawab Fariz datar.


"Kalau begitu saya pulang," ucapnya meraih tangan Pak Kurniawan lalu disalimi.


"Cukup menarik," guman Kurniawan menaikkan sudut bibirnya menatap Fariz yang berjalan keluar dari kamar Rara.


Keesokan harinya.


"Eh Anak Papi udah sehat?" tanya Kurniawan melihat Rara yang turun dari tangga.


"Udahlah Papi, Rara baik-baik ajak, anak kuat!" ucap Rara mengangkat kedua tangannya memperlihatkan otot kecil di kedua lengannya


"Emang lo sakit apa, sakit jiwa?" ejek Fino yang dari tadi duduk di kursi meja makan. Kakak lelaki Rara sekaligus teman ribut yang setiap hari membuat Rara naik darah walaupun gulanya masih stabil.


"Bukan, sakit hati." balas Rara mengandeng setengah tasnya lalu mengambil satu buah roti di atas piring.


"Rara berangkat, Pi," ucapnya menyalimi tangan


Kurniawan yang berada di dekatnya

__ADS_1


"Hati-hati Nak, jaga kesehatan," teriak Kurniawan melihat Rara sudah berada di luar rumah


"Enggak sekalian sakit jantung ... lo Ra." kalimat terakhir Fino menurun seketika melihat tatapan marah Kurniawan.


"Hehe ... Papi? Fino berangkat juga yah. Ummach Love you, Pi." cengir Fino menyalimi dengan cepat tangan Kurniawan dan berlari kecil keluar.


melihat kelakuan putranya, Kurniawan hanya mampu bergeleng-geleng


***


"Kemarin itu ... adduh gue lupa padahal kemarin itu kan gue dihalte. Kok bisa ada di rumah? Yang bawa siapa? Papi, pasti Papi tahu. Pulang sekolah aja deh tanyanya." guman kecil Rara bersandar santai di kursi mobil


"Heh ..." senyum kecilnya menghela napas pelan seketika mengingat wajah Fariz.


"Tuan Es, gue janji dalam waktu 14 hari ini lo akan kalah dengan pesona gue. Dan disaat gue kalah mungkin hari itu juga gue harus pindah ke Australia," gumamnya menatap langit-langit mobil tersenyum kecil


Tanpa terasa waktu berlalu, mobil pribadi yang ditungani Rara terparkir tepat di depan sekolah Pak Budi turun duluan untuk membuka serta membantu Rara keluar dari mobil.


"Oke makasih, Pak Budi," ucapnya memegang tangan Pak Budi yang menahannya agar tidak terjatuh saat turun dari mobil.


"Kalau begitu saya duluan, Non," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Rara.


***


"Pagi, Fariz!" sapa Rara yang sudah melihat Fariz datang lebih awal duduk dikursi tempat duduk mereka dimana Fariz fokus pada buku di hadapannya disertai earphone yang sudah menjadi kebiasaan sejak Rara bertemu dengannya.


"Pagi," ucapnya dingin dengan tatapan tetap pada buku.


Sabar Rara memang butuh tenaga extra untuk menghadapi induk singa seperti yang dikatakan Mas Andi padamu.


Walaupun rasanya seperti ditinggalin oleh si dia pas lagi sayang-sayangnya eakkk. Fokus! Sebenarnya Fariz tercipta dari tanah liat apa sih?


"Sabar Ra, sabar ya Allah ya Robbi kuatkan hamba," gumam kecilnya disertai senyum merekah terpaksa.


"Beruntung banget tuh buku bisa diliatin terus kayak gitu," kode kecil Rara untuk mencuri perhatian Fariz agar dia sedikit peka yah walau ia tahu akan gagal.


"Ra ada bunga nih."


"Oke makasih."


"Coklat Ra."


"Roti."


"Peralatan make up."


"Bunga mawar, bunga anggrek, bunga jam 9, jam 10, dan jam 11."


"Catok rambut."


'Susah amat hidup orang cantik, nasib,' batinnya menghela napas dalam-dalam tetapi tetap menampilkan senyum manisnya pada lelaki bermata buaya itu.


"Oke-oke makasih yah semuanya, bisa ditaruh di meja sini aja."


"Ngapain masih disini pergi, Syuhh! Syuh!" ucapnya mengusir mereka dengan hempasan Syantik.


Kedatangan gerombolan lelaki liar itu membuat mood. Rara turun saat dimana ia sedang menarik perhatian Induk singa, malah Anak kadal yang datang.


"Ekhmm!" dehem Rara sedikit ditekan.


Fariz seketika memutar kepalanya 90 derajat ke arah Rara ia menatapanya, badan Rara membeku seakan-akan Rara sedang berada di dalam kulkas.


Tatapan Fariz tidak seperti yang ada di film drama korea yang hanya menatap saja. Tapi ini melebihi dinginnya Es batu Mbak Yuli di kantin.


"N--n-ngapain l--l-lo, n-n-na ...."


"Gagap?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2