Dia Arrogan

Dia Arrogan
Harga diri Gue!


__ADS_3

"Lo kenapa sih?" tanya Susi memandangi wajah Rara yang terlihat murung dari tadi


"Gue lagi bete." jawabnya


"Why?"


"Tahu enggak, si Far ...," ucapannya seketika teralihkan saat ia tak sengaja melihat Fino berada di kantin sedang berbincang dengan John


"Abang Fino!" gumamnya membulatkan mata, wanita itu bertekad menghampiri pria yang duduk di sebelah John


"Eh Ra, lo mau kemana?" tanya Susi melihat Rara berdiri dan berjalan ke arah dimana John dan Fino duduk


"Bang Fino? Ngapain lo di sini." Tanyanya serius


"Adduh Ra, jangan cerita di sini yah, malu kedengeran banyak orang." Ucapnya menarik tangan Rara ke tempat yang sepi. Baru John ingin menanyakan hubungan mereka berdua tetapi kedua insan itu sudah berada jauh darinya


***


"Ouh, itu alasannya karena Abang udah stres dengan si Kak Jesika, pacar ke lima Abang," ujar Rara mengangguk-angguk dengan tatapan naik


"Iya jadi gitu Ra," Fino berbohong walau hanya sedikit melenceng dari apa yang dikatakan Rara


"Bang!" panggil Rara dengan senyum sinis "Ya, Ra."


"Kan lo udah pindah dari sekolah ini, gimana kalau lo bantuin gue patahin hati si Fariz, sekalian gue kasih liat orangnya," ucap Rara menggoyang-goyangkan badannya ke kiri dan kanan


"Setelah itu lo ninggalin?" tanya Fino dan dibalas senyum manis dari Rara dengan satu alis yang digerakkan naik


"Enggak ah ogah, udahin aja challengenya. Kayak enggak ada kerjaan lain aja lo," ketus Fino kesal dengan perbuatan yang akan dilakukan Rara, Fino tahu bagaimana rasanya jika berada pada posisi Fariz.


"Ayolah, Bang," rengek Rara menarik-narik baju Fino seperti anak kecil tetapi Fino tetap memalingkan pandangannya dengan kepalan tangan didada "Oke deh, Rara janji kalau Bang Fino bantuin Rara, nanti Rara deketin dengan Kakak kelas yang cantik-cantik deh." Bujuk Rara masih menarik-narik baju Fino


"Enggak, kasihan anak orang!" tolaknya


"Kalau gitu gimana kalau Rara ajarin agar mantan Abang minta balikan lagi,"


"Enggak usah makasih, udah ah Abang pergi." elaknya membelakangi Rara dan beranjak pergi, tetapi langkah kedua kakinya terhenti "Kalau gitu Rara ajarin Abang cara putusin Kak Jesika supaya dia enggak ganggu Abang lagi." Teriaknya sekeras mungkin agar Fino mendengarnya


"Setelah dipikir-pikir bisa juga sih." Gumam Fino masih tidak berbalik ke belakang


"Gimana? Mau enggak?" teriak Rara sekali lagi memastikan jawaban dari Fino, Mendengarnya Fino memberi balasan satu jempol disertai senyum lebar.


***


Saat ini Kakak beradik itu sudah berada di rumah seteleh jam sekolah usai


"Sudah siap Bang, terus ngapain lagi." Tanyanya dimana Rara sangat cantik, elegan dengan pakaian yang dikenakan seperti model-model internasional


"Wuish! Cantik juga Adik Abang." Pujinya memutari badan Rara


"Dengar baik-baik perkataan Abang saat lo berada dalam rumah si itu siapa lagi namanya,"


"Fariz!"


"Iya si Fariz, lo harus manja! Pura-pura bodoh dan tentunya cerewet." Jelas Fino memberi bekal pada Rara "Dan jangan lupa kasih ini sama siapa lagi namanya abang lupa," ucap Fino menggarut kening


"Fariz, Abangku tersayang," jawab Rara gemas dengan penuh penekanan


"Btw emang harus pura-pura bodoh apalagi cerewet yah?" tanyanya tak percaya jika ia akan melakukannya pada Fariz si cowo es itu. Fino mengangguk senyum kepada Rara


"Ya Allah ya Robbi. Mau ditaruh dimana harga diri Rara, Abang!"


"Mau patahin hati Fariz enggak?"


"Mau sih, tapi kan ...."

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu lakuin!" rara hanya menghela napas berat, apakah ia harus menyesal dengan challenge yang dibuat sendiri. Tetapi ia enggak boleh kalah dengan lelaki itu. Yah walaupun saat camping dulu dirinya dibuat canggung oleh Fariz tapi biarlah itu hanya kenangan indah yang tidak usah diungkit kembali biar waktu yang menutupi.


***


"Assalamu'alaikum?" salam Rara


"Wa'alaikumsalam, eh, Rara." Rara terkejut dengan kehadiran John, bagaimana bisa pria itu berada di rumah Fariz


"Kak John? Ngapain di rumah Fariz," tanyanya


"Ha ha ..., Ra, jadi ini rumah kakak sama Fariz. Fariz itu saudara kakak," jelasnya mempersilahkan Rara masuk "Kalau gitu masuk! Enggak baik bicara diluar."


'What? Kak John ternyata Kakak Fariz? Tidak salah tampan seperti adiknya,'


Rara kemudian duduk di sofa


"Kak? Fariz ada enggak." Tanyanya menatap di sekitar


"Ouh Fariz, tunggu gue panggil di atas," ucap John dan dibalas senyum oleh Rara


Tibanya John di kamar Fariz, ia melihat Adiknya tersebut sedang sibuk memainkan laptop di hadapannya


"Riz!" panggil John dari luar, karena Fariz memberi label di dinding pintu dengan tulisan 'dilarang masuk! Kecuali dirinya'


Ada-ada saja manusia es sepertinya. Tapi bagaimana lagi, John hanya pasrah dengan perlakuan Adiknya itu


"Hmm ...," balas Fariz berdehem tetap fokus pada laptop


"Ada Rara tuh cariin lo," ucap John bersandar di pintu dengan kepalan tangan di dada, mata Fariz seketika membulat mendengar perkataan John


'Tetap tenang Fariz, tenang.' Fariz menghela napas pelan sembari mengelus lembut dadanya


"Bilang aja, gue lagi enggak ada." Pintahnya, mendengar jawaban dari Fariz membuat John menaikkan satu alis, kenapa pria itu harus berbohong coba


"Kita tunggu 40 detik, hatinya juga akan terbuka, dengan sendiri," gumam John tersenyum sinis


"Fariz mana, Kak?" tanya Rara tak melihat Fariz di sisi John saat lelaki itu berjalan menyusuri tangga


"Tunggu aja, sebentar lagi dia datang," jawab John tersenyum melihat arah kamar Fariz


Hanya berkisar 40 detik Fariz benar-benar datang sesuai dengan perkiraan John


Menatap Fariz berjalan menuju ke arah Rara dan john, membuat Rara meneguk ludah dalam-dalam, tak mungkin ia harus manja di depan Fariz apalagi ada John di dekatnya. Tapi mau bagaimana lagi janji adalah utang, utang harus ditepati.


'Oke mulai Ra!' batinnya menghela napas pelan


"Selamat sore, Fariz." Sapa Rara tersenyum manis ke arah pria itu, Fariz hanya menatapnya dengan tatapan murka.


"Ngapain lo di sini," ketus Fariz datar masih berada ditangga


"Riz, enggak boleh gitu sama tamu harus baik-baik," tegur John


"Gue ke sini mau belajar bareng, bisa enggak?" ajak Rara dengan manyungan bibir


"Enggak, gue sibuk." jawabnya singkat


"Fariz! Kalau diajak belajar itu harus mau!"


"Enggak,"


"Gue telpon Ayah ah," ujar John senyum kecil dengan mengeluarkan handphonenya dari saku celana, Fariz sangat takut jika diadukan kepada Ayahnya, baginya John sangat licik ia enggak tahu apa yang akan diadukan, tetapi Fariz tahu John akan berkata tidak-tidak tentang dirinya.


Fariz menghela napas berat "Yaudah gue mau," ucap Fariz membuat senyum merekah tergambar diwajah Rara


"Nah gitu dong," desis John

__ADS_1


"Kak John, bisa tinggalin Rara sama Fariz berdua aja, bisa enggak," Tidak mungkin Rara memperlihatkan strategis pasaran yang diusulkan Kakaknya tadi, pada John. Kecuali Fariz yang menjadi titik fokus misinya


"Iya bisa, gue naik," ucap John memiringkan bibir, Rara tak tahu John cerdas, tak mungkin ia meninggalkan Rara berdua'an dengan Fariz di ruangan itu. Pria tersebut akan mengawasinya lewat cctv


Kini hanya ada Fariz dan Rara yang ada di ruangan


"Riz, gue ada bekal nih buat lo," Rara mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi dari dalam tasnya lalu memberinya pada Fariz


"Simpan di situ aja," pintahnya


'Terima kasih kek, ini gue buat sendiri gimana sih, nih cowo terbuat dari apasih.'


"He he iya," tawa kecil terpaksa Rara


Suasana kembali hening, Fariz hanya sibuk dengan handphone yang digemgamnya itu


Rara mencoba mencari beberapa topik pembicaraan, kini ia baru sadar, dirinya ke sinikan untuk belajar bersama


'Ingat tadi harus manja, cerewet dan tentunya pura-pura bodoh,'


"Riz, ajarin gue dong rumus Pythagoras," ucapnya senyum-senyum manja


Fariz menjelaskan beberapa cara dalam memahami phytagoras tapi tak ada satupun yang ditangkap Rara 'Yah kali gue juga paham sama nih rumus, ah malas banget dijelasin.' batinnya dimana ia sudah menguap


Pengambilan topik baru "Adduh Riz! Gue pusing," ringis Rara pura-pura terjatuh dipelukan Fariz, melihat kelakuan Rara Fariz membuka mulut melempar tubuh Rara jauh darinya


"Apaan sih lo," ketusnya


"Gue pusing Riz! Lo enggak kasihan sama gue," ucap Rara sedikit alay


'Bang Fino! Gue enggak tahan, ingin pulang rasanya.' batin Rara mengigit bibir rasanya ia ingin berteriak tak tahan


"Tuh air putih, minum!" pintah Fariz menggerakkan dagu tepat pada arah air putih di hadapannya


"Gue enggak mau minum, gue maunya dielus sama lo," ujarnya dengan bibir yang terus bermanyung disertai kedip-kedipan mata


'Bwekk ..., jijik, sumpah perkataan ini akan gue buang jauh-jauh,' batin Rara menahan perasaan jijik


Fariz menghela napas berat dan mengambil air putih itu lalu dipercikkan kewajah Rara "Puih ..., puih ..., Fariz jahat banget sih sama Rara,"


"Udah enggak pusing?" tanya Fariz, jawaban Rara hanya geleng-geleng


"Kalau gitu lo pulang sekarang!" ketusnya menunjuk arah pintu, Fariz tahu wanita ini hanya mempermainkannya


"Ih Babang Es tega amat sih, Rara kan ke sini mau belajar bareng," ucapnya menggandeng tangan Fariz lalu menidurkan kepala dipundak pria itu


"Apaan sih lo," ketusnya melepas gandengan Rara


"Adduh, adduh, Fariz kaki Rara sakit tuh, tuh sakit." ringisnya menunjuk-nunjuk betis yang ada benjolan kecil


Fariz menghela napas berat "Lo ke sini sebenarnya mau apa?" ketusnya kesal dari tadi ia menahan amarah karena frustasi dengan wanita tersebut


'Kayaknya usulan Bang Fino salah deh, kok Fariz tambah marah sih, harusnya ia kan suka sama gue. Udah lakuin aja.'


"Iya belajar Riz, tapi Rara lapar. Makan dulu bentar, mau yah?"


"Enggak ada maka ...."


"Siapa bilang enggak ada, Rara lapar?" tanya John yang tiba-tiba datang


"Iya Kak John," jawab Rara


#Bersambung


Apakah misi Rara dalam mengambil hati Fariz selama 14 hari akan berhasil? Atau hanya jadi petaka! Ikuti terus ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2