
"Jadi kenapa Bapak mengumpulkan kalian disini, itu karena besok kita akan camping."
"Camping?"
"Yuhuyyy,"
"Yesss, Huh, huh, Yesss ....,"
"Sudah-sudah, biar begitu saja udah pada ribut, kita camping selama 5 hari di perhutanan dekat kota, jadi besok sudah berangkat. Kalian tinggal meminta izin kepada orang tua atau wali murid, pihak sekolah akan memberikan surat izin untuk ditanda tangani," jelas Pak Budi
"Siap Pak," teriak siswa serentak
Suasana kelas X. Mipa 3
"Selamat pagi cantik,"
"Wah pagi-pagi gini walaupun enggak makan lihat wajah neneng udah kenyang,"
Sapaan demi sapaan terus menggoda Rara menyapa dihari-harinya tapi tak ada yang digubris ia hanya membalas dengan senyum manis
"Pagi Fariz," sapanya menaruh tas dibangku dengan senyum merekah seperti berjalan di area bunga-bunga anggrek
"Pagi," seperti biasa jawaban Fariz selalu dijawab dengan wajah datar, buku yang selalu menjadi makanan sehari-harinya tak pernah lepas dari hadapannya disertai earphone berwarna hitam
"Ra! Orang seperti dia tidak usah diladenin, ia gue akuin sih orangnya tampan tapi sifatnya melebihi dinginnya angin malam,"
Ucapan dari salah seorang siswa Pria membuat emosi Fariz naik, tapi ia tahu cara mengatasi lelaki sepertinya
"Heh ..., receh," gumam Fariz membalikkan badan ke belakang tepat dimana suara itu didengar "Lebih menyedihkan jika pecundang bereaksi saat pulang," ucapan Fariz seketika membuat Lelaki itu tak bersuara tubuhnya membeku seperti patung
Karena yang dikatakan Fariz memang benar walaupun kata-katanya membutuhkan pemikiran extra untuk dipecahkan, maknanya Pria itu selalu mencuri benda-benda berharga milik beberapa siswa saat jam pulang, entah dimana Fariz mengetahui hal tersebut memang lelaki ajaib.
Pria itu kemudian beranjak pergi dengan wajah kesal, ia tidak ingin melanjutkan perdebatan lebih luas dengan Fariz, karena ia tahu jika Fariz sudah mengetahui titiknya maka tetap saja Lelaki tadi akan kalah dari Fariz bukan hanya kalah dia juga akan dibully jika ketahuan selama ini Pria itu pelaku pencurian
"Pak Guru datang!" teriak salah seorang siswa Pria yang menjadi panutan pintu kelas
Mendengar teriakan tersebut seluruh penghuni kelas X Mipa 3 mempersiapkan diri merapikan pakaian, dan mengecek sampah-sampah di sekitar.
Siswa siswi kela X. Mipa 3 sudah tahu watak dari Guru yang satu ini, dia tegas, ganas seperti macan tapi tidak mengigit apapun kesalahan yang dibuat walau itu kecil tetap saja akan mendapat balasan setimpal
"Pagi anak-anak," Sapa Pak Tomi dengan suara lantang
Seperti biasa siswa sudah menyiapkan headshet warna bening supaya tidak terlihat selain itu agar tidak tuli lebih jelasnya agar gendang telinganya masih utuh dan stabil
"Pagi Pak," sapa balik Siswa
__ADS_1
"Kalian sudah tahu kita akan belajar apa hari ini!"
"Sudah Pak,"
"Ah ..., telinga gue," ringisnya kesakitan memegang kedua telinganya sembari menutup lubangnya dengan kedua telunjuk tangan kanan kiri Rara
"Fariz, ada headshet juga enggak," tanya Rara dengan nada suara pelan menggoyang-goyangkan pinggang Fariz dengan siku tangannya
Fariz menghela napas berat
"Tuan Es cepet, telinga gue udah mau copot nih," desisnya
"Fariz ...., enggak kuat nih,"
"Tuan E ...," kedua mulut Rara seketika tertutup saat Fariz memasang headshet ditelinga gadis itu
"Tampan," gumam Rara, Fariz merasa ia mendengar sesuatu dari Rara seketika satu alisnya naik, Rara hanya mengeleng-gelengkan kepala
Fariz sebenarnya muak dengan ringisan Rara yang terus merengek dengan telinganya tapi Lelaki itu tak tega melihat seorang wanita tersakiti itu sisi hati yang dimiliki Fariz dibalik hati yang dingin
"Fariz! dan kamu ....," teriak Pak Tomi murka baru pagi-pagi masih ada yang membuat darahnya naik
"Rara Pak," ucap Rara tak berdosa
"Yah itulah,"
"Dasar Guru apaan tuh, hanya kesalahan dikit aja langsung dihukum kayak gini." gumam Rara dengan posisi hormat pada tiang bendera di bawah trik matahari bersama Fariz disebelahnya
Ini pertama kali Fariz mendapat hukuman. Dari sekolah tingkat bawah sampai saat ini baru hari ini bahkan jam ini ia merasakan dihukum saat bertemu dengan gadis tengil itu
Sebenarnya Rara tidak tahu seperti apa watak asli dari Pak Tomi karena ia baru 2 hari menjadi murid di sekolah Nuangsa.
"Dasar,"
"Guru apaan tuh, biar dikit aja kesalahannya langsung dihukum gini,"
"Papi tolongin Rara,"
"Ah capek ....,"
"Fariz tukaran posisi yuk disini panas banget."
"Entar gue jelek, kulit gue hitam gimana dong,"
Fariz menghela nafas berat batinnya sudah tidak kuat menahan siksaan dari tadi, di kelas Fariz diam menolong wanita itu tapi ujung-ujungnya dihukum ya Tuhan lindungi Fariz kuatkan hatinya. Baginya lebih baik dihukum bersama anak kucing daripada bersama induk serigala
__ADS_1
"Bisa diam?" tegur Fariz dingin, tatapannya sangat tajam setajam silet
"Cihh ...," desis Rara
Sebenarnya Rara tidak bisa lama-lama berada di bawah trik matahari, sejak sd saat upacara Rara selalu berada di dalam uks karena semua Guru saat itu tahu penyakitnya
'Setengah jam lagi' batin Fariz melihat arah jarum jam pada lingkaran yang terpasang ditangan kirinya
Dengan posisi tetap pada bendara sertai pandangan tak lepas pada bendera itu. Pria tersebut sudah tidak mendengar kicauan sang Rara semenjak ia menegurnya
"Nih cewe kenapa lagi sih," gumamnya membalikkan kepala 90 derajat ke arah Rara
Dilihatnya wanita tersebut dengan wajah pucat bibir kering sudah tidak berwarna merah natural mata sudah melurut, badan loyo
"T--T-Tuan E ...," desisnya perlahan jatuh dipelukan Fariz bersamaan jatuhnya Rara jam istrahat pun ikut berbunyi
Fariz menggendong Rara membawanya ke Uks semua siswa yang melihat mereka mengira pacaran
"Rara?" teriak Susi yah walaupun sejak saat itu Susi marah padanya tapi wanita itu tetap memperdulikan keselamatan sahabatnya karena baginya Rara juga sering membantu saat mereka satu sekolah di smp
dulu
"Fariz? Rara kenapa?" tanyanya panik saat berada di uks melihat Rara terbaring di kasur kecil putih
"Dia pingsan, setelah berdiri terlalu lama di bawah trik matahari." jelas Fariz
"Ya ampun Riz padahal Rara itu enggak bisa berdiri terlalu lama,"
"Gue enggak tahu," ucap Fariz tak berdosa
Perlahan Rara mulai sadar matanya terbuka sedikit demi sedikit.
"Yaudah kalau gitu gue beliin beberapa makanan buat Rara, lo jagain disini," pintah Susi beranjak keluar uks
"Fariz? Ngapain lo disini," tanya Rara masih dengan suara lemah
"Yaudah gue pergi,"
"Kok gitu sih jawabnya, lo tega ninggalin gue disini."
Fariz hanya menatap mata Rara melihat tatapan Fariz segera Rara memalingkan wajah
'Ra, hanya lo berdua, ini saatnya.' batin Rara mencoba membangunkan diri
"Fariz mau enggak jadi pacar gue."
__ADS_1
#BERSAMBUNG