
Jam dinding yang terpasang indah di atas lemari menunjukkan pukul 20:20. Pada waktu ini terkadang Fino dan Rara bersantai di ruang tamu sambil memainkan handphone-nya. Bagaimana tidak, aktivitas makan, bersih-bersih badan, telah usai mereka lakukan.
"Bang!"
"Hmm ...."
"Gue mau jujur nih,"
"Jujur aja." Ucap Fino dengan entengnya.
"Bang gue serius! Bisa tuh handphone. Satu kali aja dilepas." mendengar hal itu Fino memutar mata, dan menyimpan handphone yang digenggamannya di atas meja.
"Udah," ucapnya mengepalkan tangan
"Bang!"
Fino mendecak kesal. "Lo mau ngomong apa sih?!" tanyanya mengacak-acak pucuk kepala gadis itu.
Rara tersenyum manis. "Tahu enggak, gue lagi jatuh cinta Bang." Fino adalah orang yang tepat menjadi teman curhat Rara, sekaligus tempat berbagi suka dan duka.
Mendengar hal itu Fino mengucek mata, tidak percaya dengan perkataan Rara. Ia sekali lagi melebarkan mata, menatap mata gadis itu.
Fino memegang kedua pundak Rara. "Ini Rara'kan?"
"Astaga lo kenapa Bang, ini memang gue." Rara mengecek jidat Fino. Heran dengan perlakuannya.
"Lo jatuh cinta? Tidak! Tidak mungkin, lo pasti bohong 'kan? Biasanya siluman darat yang kejar lo." Fino mengeleng tidak percaya dengan perkataan Rara.
Rara manggut-manggut "Astaga Bang, gue harus pake apalagi, buat bukti'in kalau gue memang jatuh cinta," jelas Rara menepuk jidat Fino.
Pria itu meneguk tidak percaya. "Emang lo, jatuh cinta sama siapa?" desisnya pelan masih memegang kedua pundak Rara.
Rara tersenyum manis ke arah Fino. "Penasaran, yah?"
Fino kembali mengacak-acak pucuk kepala Rara. "Jangan buat abang penasaran. Cepet, kasih tahu.,"
Rara mendekat ke arah Fino dan berbisik ketelinganya. "Fariz."
Mata Fino melotot bukan main, adik kecilnya sudah dewasa. Ia tak rela melepasnya pada orang lain.
"Sudah kuduga, sudah kuduga." Fino mengeleng-geleng, ternyata benar Rara memang punya perasaan pada Fariz.
"Tapi, kok lo yang masuk kandang singa? Bukannya ...."
"Bang! Gue juga enggak tahu, bisa kayak gini."
Saat Fino mengedepankan posisi duduk, Rara menyenderkan kepala dipundak pria itu.
"Tapi Bang, mungkin besok adalah hari terakhir Rara, bermain dengan tantangan ini."
"Cara terakhir Rara, cuman 1. Nunggu jawaban dari Fariz, apa dia akan terima Rara, atau ditolak." Lanjutnya
"Emang, lo nembak dia?" tanya Fino dan dibalas angguk oleh gadis itu.
__ADS_1
"Emang yah, lo enggak ada malu, masa cewe nembak cowo, ihh ... bikin malu abang aja lo," kesal Fino menjewer telinga Rara. Wanita itu meringis kesakitan.
***
'Besok, hari dimana kebahagiaan dan kesedihan akan nampak.' Batin Rara dimana dirinya melentangkan badan dikasur sembari menatap langit-langit kamar.
"Semoga Fariz mengambil jalan terbaik."
Rara menghembuskan napas berat dengan mengepalkan tangan di bawah kepala.
"Sejak pertama kali bertemu, dia memang sudah terlihat berbeda. Dia mengajarkanku banyak hal, banyak arti mengenai sebuah hati."
-Aira Syahrini Putri-
"Mengerti apa itu arti dari sebuah kata cinta, memang ini terbilang sederhana, tetapi tanpaku rasa semua kupelajari satu persatu."
-Aira Syahrini Putri-
"Dia seperti bintang yang selalu memancarkan benik cahaya, disetiap gelapku. Memberikan kesan indah ... disetiap perjalananku, menemani setiap malamku. Dia seperti dongeng yang menceritakan sejuta mimpi menemani tidur kecilku."
-Aira Syahrini Putri-
"Aku berharap, besok atau mungkin hari selanjutnya diriku masih berjumpa dengannya dan masih dengan rasa yang sama."
-Aira Syahrini Putri-
"Terima kasih Fariz," desisnya dimana Rara menutup mata perlahan dan memeluk bantal gulingnya.
Semua kata yang ada di dalam hatinya dikeluarkan, ini pertama kali Rara jatuh cinta, mengenai perasaan suka ia sudah berpengalaman tapi lain halnya dengan cinta.
***
Pria itu mondar-mandir tidak jelas sembari memegangi dagungnya. Ia berpikir untuk jawaban yang akan dilontarkannya besok pada Rara.
Mengapa hal ini sangat sulit bagi Fariz, kebanding menyelesaikan essay 40 halaman. Sejenak lelaki itu mendudukkam bokong di ujung kasurnya masih dengan raut wajah bingung.
Ia juga heran dengan perasaannya, apakah dia memiliki rasa pada Rara, atau hanya kasihan. Memang selama ini Fariz perhatian dengan Rara, tetapi mengapa sangat sulit membuka hati. Bisa dibilang Rara berbeda diantar ribuann cewe yang mengincarnya selama ini. Tetapi hatinya masih tergembok.
Ting!
Ting!
Pesan dari Rara :
[Ingat! Besok kamu harus jawab]
[See you calon pacar, love you]
Saat membuka pesan Rara. Fariz mengeryitkan jidat disertai perasaan jijik dengan pesan Rara.
Ting!
[Jangan lupa! Jawabnya pakai kertas]
__ADS_1
Fariz mengacak-acak pucuk kepalanya. Ia semakin frustasi, dirinya harus berbuat apa? Lelaki itu mengigit bibirnya sembari menutup mata rapat-rapat.
"Besok?" gumamnya merebahkan badan dikasur.
Pria itu mengeleng-geleng "Tidak! Mana mungkin!"
Ia kembali terbangun, bagaimana bisa sampai saat ini Fariz masih memikirkan jawaban untuk besok. Biasanya dia menangani situasi dengan tenang.
***
"Oke Ra , semangat! Apapun itu, bagaimanapun jawaban Fariz. Lo harus siap! Oke? Siap!" wanita itu berjalan dengan loncat sedang, dengan uraian rambut kesamping kiri dan kanan.
Rara melihat Fariz duduk dengan earphone yang terpasang ditelinganya. "Ekhm ...." Rara mengepalkan bibir lalu meletakkan tas di atas meja.
"Hawa di sini panas, yah?" wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya sembari menatap kanan, kiri di sekitarnya.
"Pagi, Ra!" sapa salah satu siswi yang baru saja datang.
"Rara, gue ada coklat silverqueen, nih buat lo." dengan cepat tangan Fariz mengercap silverqueen pemberian salah satu siswi tersebut, mata Rara mengikuti tangan Fariz. Pria itu membuka pembungkusnya lalu langsung dimasukkan, kemulut.
"Ya, yah ... itu kan coklat gue, Riz," rengek Rara dengan manyungan 5 centi.
"Kalau gitu, makasih yah coklatnya. Walaupun dimakan sama induk singa," ucap Rara menepuk-nepuk pundak siswi itu.
"Lo gimana sih, Riz. Itukan coklat gu ...."
Fariz memberikan 2 coklat silverqueen tepat di depan wajah Rara.
"Nih." Ujarnya.
Rara melototkan mata, membuka mata lebar-lebar.
Tanpa aba-aba wanita itu, langsung mengambil pemberian Fariz. Ia tidak menyangka jika Fariz akan memberinya coklat. Rara tersenyum manis ke arah Fariz.
"Riz!" panggilnya dengan mulut yang menguyah coklat.
"Hmmm ...."
"Lo, ingat enggak yang kemarin."
"Ingat apa?"
"Ituloh, yang kertas," ucap Rara mengetok-ngetok kertas yang terdapat di meja.
"Gue kasih pulang sekolah."
Rara memanyungkan bibir, Fariz yang melihat bibir Rara belepotan dengan coklat, dikeluarkan tissue dari saku celananya dan ia mengoles lembut sudut bibir Rara. Rara bisa merasakan olesan Fariz yang begitu lembut. "Kalau makan itu, enggak usah berlebihan." Desis Fariz datar.
Rara tersenyum kecil dengan ucapan Fariz, pipinya memerah. "Ganteng." gumam Rara, mendengar hal itu Fariz menaikkan satu alis.
"Enggak ada kok. Makasih!" desis Rara.
"Buat?"
__ADS_1
"Makasih karena lo, selalu ada buat gue."
#Bersambung