Dia Arrogan

Dia Arrogan
Sakit!


__ADS_3

Hanya berseling 10 menit acara makan-makan kecil bersama Fariz dan John telah usai Rara merasa sangat puas, padahal niatnya tadi hanya iseng pada Fariz tetapi dianggap serius oleh John.


"Sudah kenyang Ra," tanya John mendudukkan bokongnya disofa.


"He he iya Kak," jawabnya


"Kalau gitu mungkin Rara pulang dulu, makasih banyak Kak John, Fariz." Ucapnya memasukkan segala peralatan tulis ke dalam tasnya


"Tunggu Ra!" teriak John. mendengarnya, Rara membalikkan badan ke arah suara itu.


"Riz! Nih kunci mobil, antar Rara pulang," pintahnya meraih tangan Fariz dan menaruh kunci mobil digemggaman Fariz


"Enggak usah Kak, makasih tawarannya Rara naik taksi aja," tolak Rara padahal ia berharap Fariz menerima tawaran John.


"Lo aja. Gue sibuk," elak Fariz.


"Ayah sibuk enggak yah," kode John memainkan handphonenya melirih Fariz.


Pria itu hanya menghela napas berat "Gue pergi dulu," ketus Fariz sangat kesal dan merasa terbebani dengan ancaman John berkali-kali


Mendengar jawaban Fariz, John terkekeh kecil "Hati-hati!" teriaknya


***


'Lanjutin enggak yah, usulan Abang Fino tadi,' pertimbangan Rara melirik Fariz fokus menyetir mobil


"Riz!"


"Hmm ...."


"Gue mau nanya!"


"Hmm ...."

__ADS_1


"Apa hanya gue cewe pertama yang datang ke rumah lo." Kali ini pertanyaan Rara serius bukan karena usulan dari Fino


Mata Fariz seketika tak berkedip, ia baru sadar ternyata yang dikatakan Rara ada benarnya juga


"Iya enggak sih?" ucap Rara


"Iya."


Ada hal yang dilupakan Fariz, pertanyaan! Pertanyaan yang terbenik dipikirannya bagaimana bisa Rara tahu alamat rumahnya. Awalnya sih ia berpikir untuk tidak menanyakan hal ini pada Rara, tapi hatinya memaksa untuk menanyakan hal itu.


"Lo tahu rumah gue darimana?" tanya Fariz tetap fokus menatap ke depan karena jalanan saat itu padat jadi sedikit macet


"Dari Andi," jawabnya. Waktu pulang sekolah Rara memang menghampiri Andi di belakang kelasnya


'Andi? Ngapain sih tuh anak tanya si Nenek lampir ini,' batin Fariz menatap sinis wanita di sebelahnya


"Riz! Gue boleh sandar enggak di pundak lo."


"Enggak!"


"Enggak!"


"Sekali aja."


"Enggak Rara!"


Rara mendecak kesal sebenarnya dia kurang apa. Kenapa pria itu susah sekali ditaklukin.


Tepat di dekat beberapa toko terdapat lampu merah mobil yang ditumpangi Rara dan Fariz seketika berhenti. saat lampu berwarna merah menyala, Fariz sangat berharap ia cepat tiba di rumah wanita itu, karena dirinya sudah muak dan frustasi tingkat merah


"Riz! Gue mau nanya lagi,"


"Hmm ...." tak ada cara lain Fariz iyain terus pertanyaan dan beberapa perkataan dari Rara walaupun dirinya sudah nyesek dari tadi.

__ADS_1


"Lo suka kan sama gue," pertanyaan Rara hanya iseng pada Fariz untuk mengecek perhatiannya pada Rara selama di perkemahan dulu


Hanya berkisar 10 detik lampu merah beralih ke lampu berwarna hijau. Mobil yang dikemudi Fariz dinyalakan. Lalu berangkat ke tempat tujuan


Telinga Fariz sudah membusuk dengan cemooh Rara dari tadi


"Riz!"


"Hmm ...."


"Lo dengar gue enggak sih."


"Dengar."


"Jawaban lo apa? Dari pertanyaan gue tadi," tanya Rara


"Pertanyaan yang mana."


Ternyata benar Fariz tidak mendengarkan apa yang dikatakan Rara dari tadi


'Sabarkan hatimu Ra, sabar! Huh ....' batin Rara menghela napas berat mengcengkram erat kain bajunya dan menutup erat matanya kemudian secara perlahan dibuka lebar kembali


"Itutuh sebenarnya lo suka kan sama gue." tanyanya sekali lagi dengan penuh penekanan pada kalimat terakhir


"Enggak," jawab Fariz singkat


"Tapi di perkemahan dulu. Lo perhatian banget sama gue."


"Yah itu kan gue kasihan sama lo."


Mendengar ucapan Fariz hati Rara tersentak mengilu rasanya sangat sakit, apakah ini yang dimaksud para manusia berkelas tentang cinta. Tapi mengapa rasa sakit harus muncul 'Ah enggak mungkin, masa gue duluan yang suka sama Fariz,'


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2