
Wanita berambut setengah gelombang itu bingung Fariz sebenarnya masuk di tim mana, sejak pertama kali bertemu Fariz memang tidak pernah memberitahu nama lengkapnya ia hanya mempublish nama panggilan sehingga Rara hanya tahu namanya Fariz.
"Rara kita satu tim Ra," teriak Susi senang menggoyang-goyangkan tubuh Rara sembari memeluknya, untuk tetap membuat bahagia sahabatnya, Rara tersenyum merekah walaupun moodnya sedang turun karena harapannya dapat satu tim dengan Fariz tapi hatinya bimbang sebenarnya Fariz berada ditim mana
"Baik kalian bisa berbaris sesuai dengan tim masing-masing," pinta Pak Budi
Sesuai dengan pengumuman tadi kerumunan Siswa berhamburan mencari kelompok masing-masing tak berseling 3 menit akhirnya barisan kembali teratur Rara yang berada pada barisan paling depan tak mengetahui jika Fariz berada dibelakangnya, Wanita itu hanya mampu menghela napas berat
Kemudian jejeran para penghuni Sekolah Nuangsa berjalan keluar sekolah dipandu oleh Pak Budi dengan para staf Guru yang mengikut di belakangnya
***
Karena jarak antara Sekolah Nuangsa dengan tempat yang dituju tidak terlalu jauh, mereka tiba tidak lebih dari 20 menit, Pak Budi kembali mengatur posisi setiap tim sebagai tempat tenda mereka menginap
Usainya pembagian posisi setiap tim membangun tenda masing-masing tenda mereka dibangun terpisah tidak saling berdekatan tujuannya agar para siswa dapat menimbah rasa keberanian, kebersamaan tim dan merasakan keindahan alam
Untuk Tim Rara pembangunan tenda yang tujukan Pak Budi berada di dekat sungai dibawah pohon-pohon yang menjulang naik
"Huh ...., akhirnya sampai juga penat rasanya." keluh Andi menjatuhkan tubuhnya ke tanah melepas rasa lelahnya yang dari tadi berjalan, bagaimana tidak lelah jika tas yang digendong pada punggung lelaki itu bukan main beratnya jika dihitung 15 liter beras putih
Sedangkan disisi lain dengan raut wajah yang masih sama siapa lagi kalau bukan Rara. Ia berada di tepi sungai memainkan tangannya ke dalam air
"Ra lo kenapasih?" Susi tidak tahan melihat wajah sahabatnya yang terus-terusan ditekuk seperti ini memang Susi berada paling belakang pada barisan tadi tapi instingnya kuat menebak Rara
"Iya yah gue kenapa?" gumamnya menggarut kepalanya yang sama sekali tak gatal, Susi dibuat bingung oleh ucapan Rara yang semakin hari makin pling plang
"Adduh ngapain sih gue miki...," tak lama Fariz menghilang ia mendapat info dari Pak Budi untuk memberitahu pada rekan timnya agar segera membangun tenda secepat mungkin "Waktu kita tidak banyak hanya 5 menit," pintah Fariz
"Suara itu," mendengar hal itu membuatnya semangat 45 ia berdiri dan berbalik ternyata yang dilihatnya "Fariz!" teriaknya berlari memeluk Fariz tapi perlakuannya gagal karena Fariz dengan kecepatan penuh menghindar
'Astaga,' batin Susi menutup mulutnya beserta mata ia malu melihat tingkah sahabatnya itu seperti anak kecil di depan kawanan jantan padahal Rara selalu anggun jika berada di tengah-tengah lelaki, sedangkan Andi, Steven, dan Steven membungkan mulut mereka sembari menahan tawa
"Ngapain?" tanya Fariz dingin mengeryitkan keningnya bingung dengan kelakuan wanita itu
"Enggak kok cuman rindu," ucap Rara dengan senyum mengembang
"Cewe lo Riz?" tanya John yang berdiri menyandar di bawah pohon menjulang tinggi mengepalkan kedua tangannya berada di atas kepalanya
"Bukan,"
"Iya,"
__ADS_1
Spontan jawaban kedua insan itu membuat alis kiri John seketika naik, Susi yang sudah nyesek melihat Rara sudah melebihi batasnya manusia bucin gadis itu segera membalikkan badan dan menutup telinga seerat mungkin agar tidak mendengar beberapa kata yang akan membuatnya muntah
"Iya Kak pacaran," ucap Rara menganggandeng tangan Fariz disertai senyum mengembangnya yang tak pernah lepas dari wajah parasnya itu
'Ya ampun sebenarnya gue kenapasih, jijik iya banget, suka lakuin gini juga. Sumpah enggak tahan seandainya bukan karena gue benci sama nih cowo enggak bakalan gini jadinya,' batin Rara enggak tahan berada disisi Fariz
'Kuatkan Ya Allah kuatkan.'
Risih dengan gandengan Rara ia langsung melepasnya "Enggak, gue ingetin sama lo gue bukan pacar lo," bentak Fariz dengan mata melotot "Ngapain bohong sih Riz cewe cantik gini disembunyiin jujur aja sih lo," goda John, wanita yang terus melekat pada badan Fariz seperti permen karet itu mengangguk-anggukkan kepala dengan bibir yang dimanyunkan ke depan
"Enggak penting," ketus Fariz mengeluarkan sebuah kain yang terlipat lalu dibentangkan benda itu ditengah-tengah "Butuh bantuan?" tanya John yang berada di dekat Fariz
"Mereka yang ingin membantu dari awal tak akan mengucapkan sepatah katapun hanya tindakan sebagai buktinya," ucapnya sibuk memasang beberapa kayu sebagai pondasi agar tenda berdiri utuh, John hanya diam karena ia tahu benar sifat asli Fariz seperti apa, jika ia kembali melanjutkan perdebatan itu hanya akan berakhir hina untuknya
Melihat para kaum Adam telah membangun tenda Susi ikut mengeluarkan tenda yang memang sudah disiapkan dari awal di dalam kopernya "Ra bantuin gue nih cari'in kayu dong 4 yah!" pintah Susi melebarkan tenda mininya
"Adduh Susi, biar cari kayu susah amat sih lo. Nanti kaki gue lecet sama paku-paku yang bertebaran di dekat sini," ucap Rara memanyungkan bibirnya beberapa senti ke depan, Susi hanya mampu menghela napas pelan untuk sabar menghadapi satu manusia yang manjanya melebihi anak kecil yang baru masuk tk.
"Ya Allah, ya Robbi Rara! demi kuntilanak yang rambutnya memang sudah ada begitupun upin ipin dimana ipin yang masih botak, bisa enggak sih biar 1 hari aja jangan manja," ucap Rara dengan penekanan pada kalimat terakhir, mendengar perkataan Susi, Rara hanya mencibir bibirnya sembari mencari beberapa tangkai kayu
***
Steven bernyanyi dengan alunan instrumen gitar, Rara yang baru keluar dari tenda setelah mengganti pakaian langsung duduk di sebelah Fariz
"Mulai lagi," gumam Susi mengeleng kecil melihat kelakuan Rara
"Riz," panggilnya membaringkan kepalanya dipundak Fariz
"Apaan sih," ketusnya kesal menghindar dengan Rara yang terus mengusiknya sudah dari tadi siang
"Fariz mau enggak jadi pacar gue,"
Suasana seketika jadi hening Steven yang tadinya bernyanyi terdiam begitupun John yang saat itu sibuk memanggang potongang daging bersama Susi memberhentikan aktivitasnya. Andi termengangak mendengar hal tersebut ia tak menyangka idola kesayangan yang sering dipuji-pujinya menyukai bisa orang lain
"Enggak," balas Fariz tanpa banyak pikir
'Dasar kapan peka sih nih orang susah amat dihancurkan benteng pertahanannya. Sabar Ra sabar orang sabar disayang Papi Mami,' batinnya meneguk ludah berat
"Mau yah?"
"Enggak,"
__ADS_1
"Mau dong Tuan Es mau yah?"
"Gue bilang enggak yah enggak lo punya telinga enggak sih! Jadi cewe itu punya harga diri sedikit, bukan murahan ngemis pada orang," bentak Fariz tepat di depan wajah Rara ini pertama kali Fariz mengatakan sesuatu pada Rara melebihi kata yang biasa disebutnya, hati Rara seketika tersentak begitu perih mendengar perkataan Fariz matanya jadi memanas 'Kenapa sakit! Padahal ini kan cuman pura-pura agar mengambil hati Fariz,' batin Rara
Tak tahan menahan rasa perih itu Rara berlari kecil masuk ke tenda yang telah dibentuknya bersama Susi tadi siang ia menghabiskan seluruh rasa perihnya disitu air mata yang tak bisa dibendung keluar dengan sendiri 'Mengapa rasanya sakit, sakit sekali,' batinnya dengan air mata yang sudah dari tadi berjatuhan ini pertama kali gadis itu baru merasakan yang namanya kesedihan kepada seorang lelaki
"Jahat lo Riz, tega sama perempuan," bentak John mengeleng kecil ia kecewa dengan tindakan adiknya, John memang akui ia sangat dingin pada semua gadis yang mengejarnya tapi didikan seorang kakak padanya gagal untuk saat ini
Dengan perbuatan tadi Fariz tetap tidak menyesalinya ia selalu tenang menghadapi situasi.
"Gue kecewa sama lo Riz, tega ama wanita," ucap Andi dengan nada pelan
"Fariz ini sifat asli lo? Gue sangka lo hanya laki-laki yang dingin, cuek pada semua wanita tapi apa? Heh, bodoh," bentak Susi sangat kecewa sebenarnya ia ingin minta maaf pada Fariz untuk kejadian kemarin tapi karena tingkah laku Fariz sudah keterlaluan niatnya minta maaf diurungkan
Lelaki yang sering disebut berwatak dingin itu hanya mampu menghela napas berat sembari menyandarkan badannya pada pohon yang ada di belakang dan menutup telinganya dengan earphone yang selalu ada seperti seorang sahabat
"Dasar Biawak!"
"Cendol basi,"
Kata-kata tidak mengenakkan terus keluar dari mulut Susi ia sangat kesal gadis itu sangat ingin melempar beberapa benda diwajah Lelaki itu tapi John memberi kode agar Susi tetap tenang dan mengontrol emosinya
"Sudah-sudah makan dulu jangan emosi, nih daging sapi panggang telah siap atau sate ala John," pintahnya meletakkan sepiring daging sapi yang ditusuk terpisah, aroma sate itu sampai ke hidung Fariz tanpa aba-aba tangan Pria itu langsung nyemblur begitu saja mengambil 2 tusuk sate "Kalau begitu untuk Rara nanti gue yang kasih," ucap John berdiri sambil memegang piring yang diatasnya terdapat 5 tusuk sate
"Tunggu!" pintah Fariz berdiri dari tempat membuat langkah John terhenti, tangan Fariz kemudian mengambil 1 tusuk lagi dari piring yang di pegang oleh John sedangkan masih tersisa satu tusuk yang ada digemgaman Pria dingin itu "Rakus baget lo Riz, ini kan buat Rara,"
"Bodoh amat,"
"Cih kuntilanak tak berdarah," ejek Steven dari jauh yang masih memegang gitarnya
Sementara piring yang dipegang John sisa 4 tusuk sate lagi, John hanya mampu menghela napas berat menahan emosi yang akan meledak dari tadi ia pun kembali melanjutkan hentakan kakinya menuju tenda yang ada Rara di dalamnya
"Kak?"
"Apalagi Sih?" kesalnya berbalik badan
"Biar gue yang bawah," ucap Fariz mengambil piring yang berada ditangan John
#Bersambung
Votenya Temen-temen jangan dilupa tolong hehe:(
__ADS_1