
"Ya Allah Fariz! Adek perincess. Kemarin malam kami semua khawatir dengan kalian tapi Kak John selalu menenangkan kami, ternyata kalian disini," Andi tanpa sengaja melihat Fariz yang bersandar dipohon sedangkan Rara berbaring dipaha empuk Pria itu. Karena suara Fariz terlalu besar sehingga membangunkan kedua insan yang menikmati tidur pulasnya "John?" ucap Fariz dengan suara serak mengusap matanya
Mendengar ada suara berbisik Rara pun ikut terbangun dari tempat dimana ia tidur. Andi berdiri dengan ember yang dipegangnya "Lo ngapain disini," tanya Fariz masih mengucek matanya
"Disuruh sama Kak John cari ikan, soalnya air dari sungai dekat tenda kotor susah untuk dicari," jelas Andi meletakkan embernya ditanah dan berjalan ke tepi sungai disertai alat pancing lipat yang disediakan
"Oh," ucap Fariz singkat
"Adek princes tidak apa-apa?" tanya Andi melempar tali pancingan tepat ditengah sungai "Enggak apa-apa," balas Rara
"Dek Princes, ada yang pengen gue ngomongin." ucapnya memberi pancingan itu ditangan Fariz "Nih pegang dulu."
"Mau ngomong apa? Disini aja."
"Gue mau ngomong berdua disana," pintahnya menunjuk ke arah barat yang dipenuhi rerumputan panjang "Yaudah deh,"
"Riz!"
"Hmm ....,"
"Lo enggak cemburu gue pergi berdua sama Andi?" ucap Rara dengan perasaan jijik dalam hatinya tetapi pengotrolan eksperesi selalu ada
"Enggak," balasnya singkat fokus pada pancingan
"Serius, enggak cemburu?"
"Enggak,"
"Bener enggak cemburu, gue pergi nih,"
Untuk tidak mengulang kejadian semalam Fariz hanya menghela nafas pelan "Enggak Aira,"
"Yasudah deh yuk Andi." ajak Rara berdiri membersihkan kotoran yang menempel dibagian bokongnya "Tunggu!" pintah Fariz
"Yah," balas Rara berharap Fariz menghentikan langkahnya, Andi yang dari tadi berperan sebagai penonton setia, baginya sabar adalah segalanya
"Ikat rambut lo." ucapnya memberi ikat rambut berwarna pink pada Rara, harapannya untuk ditahan seketika menurun drastis padahal ia berharap lelaki berdarah dingin itu menahannya pergi bersama Andi tapi tidak 'Cih ..., nih manusia atau ikan lele sih.' batin Rara memajukan bibir beberapa senti
__ADS_1
"Makasih," ucapnya tersenyum walau batinnya tersiksa
"Yaudah Andi lo di depan, gue ngikut di belakang," ucap Rara
"Ok adek Princess," Andi kemudian berjalan mendahului langkah Rara "Tunggu!" pintah Fariz untuk kedua kalinya "Ya Allah ya robbi, Babang Fariz apalagi sih." Risih Andi sudah sangat gerah dengan Fariz, Pria itu terus-terus menganggu kedua insan yang dari tadi ingin pergi "Enggak jadi," ucap Fariz kembali memutar tubuhnya berhadapan dengan sungai
"Masih untung sahabat kalau anak kadal dari tadi gue cincang tububnya." gemas Andi meremas-remas tangannya yang diangkat
***
"Jadi lo mau ngomong apa Ndi?" tanya Rara dengan tangan yang terlipat di belakang, kini sifat Rara kembali seperti semula yang angkuh dan elegan, tapi Andi tak merasa perubahan sikap itu "Ja-ja-di, g-g-gini Dek Princes," ucapnya gugup meneguk ludah dengan keringat dingin
"Lo gagap?" ucap Rara mendonggakkan dagunya beberapa senti
'Adduh gue mau ngomong apa ini, susah amat ngunkapinnya.' batin Andi meremas-remas daun di belakangnya
"Lo mau mau ngomong apasih?" tanya Rara
"Cepet ngomongnya gue enggak ada waktu." ucapnya melihat jam yang selalu terpasang ditangan indahnya itu
"Oh kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa juga?"
"Astaga adek inces, gue hanya pingin lo pilih salah satunya ya atau tidak,"
'Hmm ..., kesempatan emas, nih anak kucing gue manfaatin aja, buat dapetin Fariz.' batinnya tersenyum sinis
"Iya gue suka Fariz," ucap Rara membuat kedua bola mata Andi membulat seperti bola pimpong mini, hatinya tersentak seperti ditusuk tombak 7x lebih gede ia mundur tersentak memegang dada dengan mulut yang terbuka setengah
"Lo kenapa Ndi?" tanya Rara cemas karena ekspresi Andi sangat lemah seakan-akan ia rebah dari posisinya sekarang
"Ekhmm engak papa," dehemnya dengan kepala tertunduk ke bawah
"Masih lama ngobrolnya?" tanya Fariz yang entah sejak kapan berada di belakang semak-semak membopong alat pancingan dipundaknya dengan ember yang dipincangnya berisi ikan-ikan segar
"F--Fariz sejak kapan lo disitu," gagap Andi terkejut melihat kedatangan Fariz yang tiba-tiba, Pria itu takut jika Fariz mendengar semua perbicangannya dengan Rara "Lo ngintip yah,"
"Bodoh, gue duluan," ucapnya berbalik badan "Tuan Es! Tungguin gue," teriak Rara mengejar Fariz yang langkahnya sudah terlalu jauh, Pria itu hanya menganggu suasana bahagia Andi dengan wanita yang disukai tapi apa boleh buat Andi, di dalam benaknya salah ia mengira Rara menyukai Fariz. Yang sebenarnya Rara tak punya perasaan dengan Fariz sama sekali
__ADS_1
***
"Rara! Ya ampun gue khawatir sama lo," teriak Susi tidak jauh dari tempat dimana Rara berjalan menuju tenda bersama Fariz disusul Andi di belakang, Wanita itu berlari memeluk Rara sangat erat "Uhuk ..., uhukk ...," pelukannya membuat Rara batuk-batuk tak teratur
"Lo enggak apa-apakan?" ucapnya cemas mengecek seluruh tubuh Rara
"Enggak, gue enggak apa-apa,"
"Lo enggak dimakan singa kan harimau atau buaya," ucapnya masih terus mengecek badan Rara "Cukup! Susi gue enggak apa-apa oke, jadi tenang," ucap Rara memegang bahu Susi sembari menatapnya untuk menenangkan kekhawatirannya itu
"Alay lo," ejek Fariz menaruh alat pancingan di tanah sembari mengambil beberapa peralatan untuk pembersihan sirip ikan
"Ihh ..., tuh cowo emang ngeselin yah, lama-lama gue retakin ginjalnya seretak batu barah yang dibakar 7 hari, 7 malam 7 abad, 7 masehi." kesalnya mencabik-cabik beberapa tanaman di dekatnya "Dah jangan diambil hati," ucap Rara tenang menepuk puncak kepala Susi lalu masuk ke tenda mengambil peralatan mandi
"Tumben tuh anak bijak, biasanya angkuh, apalagi kalau sifat manjanya muncul. Uhh ..., makin sinting gue," gumam Susi mengeleng kepala tanpa sadar memasukkan daun yang dicabutnya ke dalam mulut, Fariz yang melihatnya hanya mampu menghela napas pelan "Enak?" ucap Fariz
"Uhukk ..., uhukkk ..., bwekkk pahit," ringis Susi membersihkan lidahnya segera berlari kesungai membersihkan mulut kebetulan tempat mereka dekat dengan sungai
"Susi lo kenapa?" tanya Rara baru keluar dari tenda membawa keranjang kecil serta 2 handuk "Dah gue enggak papa," ucapnya berdiri dan menghapus air yang ada didagunya
"Kalau gitu lo ikut gue bersih-bersih badan," ajaknya menarik paksa tangan Susi "T--t-tapi gue mau makan dulu,"
"Ah bentar ajah makannya,"
Tak lama kedua manusia itu tak terlihat lagi.
"Riz!" panggil Andi dengan nada lemah
"Hmm ...," balas Fariz berdehem fokus membersihkan kulit ikan yang dari tadi belum kelar-kelar semenjak 2 sahabat itu ada
"Mau gue bantu," ucap Andi masih dengan suara lemah
"Bisa," sebenarnya Fariz mengetahui kalau mood Andi sedang turun tapi ia tak ingin bertanya mengapa dirinya seperti itu karena jika Pria itu melakukannya maka Andi akan lebih bersedih lagi, Fariz kenal betul sifat Andi seperti apa
"Eh Fariz udah dateng," teriak John dari balik tenda membopong kayu dan disusul Steven ikut membopong beberapa tangkai sayur
#Bersambung
__ADS_1