
Pintu kamar Airin terbuka pagi itu. Tak lama setelah Bianca pergi, ibunya datang dengan membawa makanan kesukaan Airin. Wajahnya yang lelah membuktikan bahwa ibunya baru saja pulang dari luar negeri namun ia tak langsung pulang kerumah melainkan mejaga putri semata wayangnya di rumah sakit.
“Bagaimana keadaanmu sayang?”, tanya sang ibu masuk ke dalam kamar Airin sambil membawa sekantung keresek makanan kesukaan Airin, dari wanginya saja Airin sudah bisa menebak jika itu ayak kecap dari restoran favoritnya.
“Mama.. Mama sudah pulang? Mengapa kemari? Beristirahatlah dirumah, mama bisa datang esok hari”, ucap Airin pada ibunya yang berjalan sambil menata makanan dipiring lalu menyajikannya untuk putri tercintanya.
“Tidak, mama tak lelah sayang. Melihatmu baik baik saja sudah membuat rasa lelah mama hilang”, ucap sang ibu pada anaknya.
Ia membantu Airin dan merubahnya menjadi posisi duduk yang sempurnya, bersama sepiring nasi dan ayam kecap, ibunya menyuapi Airin dengan lembut dan penuh cinta.
“Mama selalu mengatakannya, Airin tahu kalau mama pasti lelah. Airin sungguh tak apa mama, beristirahatlah dirumah, mama pasti lelah”, ujar Airin lembut pada ibunya, sosok ibu yang sangat amat menyayanginya bahkan rela merasakan lelah yang sangat hebat demi melihat putrinya baik baik saja.
Sang ibu menyingkapkan jemarinya dan mendaratkannya di kepala Airin lalu mulai membelainya lembut sambil tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. Sebuah kehangatan Airin rasakan, melihat ibunya tersenyum dan menyayanginya seperti ini sangat membuat Airin nyaman dan hatinya terasa hangat.
...****************...
Sebuah pintu kembali terbuka disiang hari ketika jalanan sedang ramai.
Klinting
“Selamat datang”, sapa Yuki ramah pada salah satu pelanggannya. Pria bertubuh tegap tinggi itu masuk ke dalam toko bunga yang ia datangi kemarin. Billy masuk untuk membeli bunga tulip merah yang sama untuk kekasihnya.
“Tolong serangkaian tulip merah seperti kemarin”, pinta Billy pada Yuki.
Permintaannya segera dikerjakan oleh Yuki, sambil sesekali ia mencuri pandang pada Billy yang terlihat sangat ramah dan juga tampan dipandangannya, beberapa kali ia tersipu malu ketika ia berbicara dengan Billy.
__ADS_1
“Apakah kekasihmu telah sembuh?” tanya Yuki sambil merangkai bunga pesanan Billy
“Hmm?.. Oh.. Belum, ia masih dirumah sakit”, jawab Billy singkat.
“Kalau aku boleh tahu, dia sakit apa?”, tanya Yuki lagi, ia sangat ingin pria itu lebih lama lagi berada di tokonya dan menahannya dengan beberapa pertanyaan.
“Dia, mengidap leukimia”, balas Billy pada wanita itu.
Mata Yuki berbinar tiap kali Billy memandangnya, pertama kali dalam hidupnya ia menunggu seorang pria datang ke tokonya. Sebelumnya ia tak pernah merasakan yang seperti ini.
“Kamu pasti sangat mencintai kekasihmu, sangat terlihat diwajahmu, kamu selalu tersenyum tiap kali aku menanyakannya”, ujar Yuki pada Billy sambil menunjuk wajahnya.
Billy tak pernah tersenyum kepada sembarang wanita kecuali kekasihnya. Namun kali ini ia tersenyum, ia bahkan berbicara dnegan menatap Yuki. ketika mata mereka saling bertemu Yuki memalingkan wajahnya, ia tak tahan melihat Billy yang sangat tampan itu tersenyum dengan manis padanya.
“Sadarlah Yuki, dia sudah memiliki kekasih”, gumamnya dalam hati mencoba menyadarkan dirinya.
“Siapa namamu?”, tanya Yuki padanya dengan ramah yang sebenarnya untuk emnutupi rasa penasarannya, matanya yang berbinar dan terlihat sangat menyenangkan membuat Billy tersenyum menanggapi wanita yang sedang berdiri dihadapannya sambil menatapnya.
“Billy”, jawabnya singkat.
“Aku Yuki, jangan lupa panggil namaku jika kamu kembali ke toko ini lagi”, ucap Yuki pada Billy.
Billy menarik langkahnya mundur namun masih menatap Yuki, hari itu Billy banyak tersenyum ketika ia telah berada di toko bunga milik Yuki. Billy merasa seperti mengenal wanita itu namun entah dimana ia mengetahuinya.
“Hah.. Pantas saja aku seperti mengenalnya, ia sangat mirip dengan Airin, wanita yang ceria dengan rasa penasaran yang besar dalam dirinya, wanita yang ramah dan juga murah senyum”, Billy masih saja menatap Yuki dari dalam mobilnya sebelum pada akhirnya ia bergegas ke rumah sakit.
__ADS_1
Pintu kamar Airin terbuka, Billy masuk dan datang kembali dengan serangkaian bunga tulip merah yang kini menjadi bunga kesukaan Airin, karena Billy selalu membawakan untuknya, wajah bahagia Airin terlihat sangat jelas ketika ia melihat Billy datang menghampirinya.
“Bagaimana kabarmu sayang?”, tanya Billy pada Airin dan meletakkan rangkaian bunga itu di meja seperti yang selalu ia lakukan, matanya tertuju pada ibu Airin yang sedang berbaring di ranjang tamu di ujung sana, sama seperti Airin, Billy melihat bahwa ibu Airin sangat kelelahan.
Tak lama sang ibu membuka matanya dan melihat Billy sudah ada disamping Airin, wajah bahagia putrinya sagat terlihat dimatanya, senyumannya bahkan tak luntur dari wajahnya sejak kekasihnya itu datang menengoknya.
“Mama, sudah bangun?”, sapa Billy pada ibu Airin yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
“Mama pulanglah, biar Billy yang menjaga Airin, mama pasti lelah, maaf Billy baru bisa datang siang ini”, ujar Billy pada ibu Airin.
“Baiklah, hubungi mama jika kamu ingin pulang, biar mama yang menggantikanya”, ucap ibu Airin pada Billy yang sudah seperti putranya sendiri.
Sejujurnya sang ibu masih ingin menemani Airin di rumah sakit namun ia mengerti kondisi hati dari kedua kekasih itu, mereka sedang ingin menghabiskan waktu bersama meski di rumah sakit. Billy menatap kekasihnya itu sesekali menyingkirkan helai rambut yang menghalangi wajahnya, meski rambut yang menjadi mahkota Airin kini muliah menipis namun Billy tak menghiraukannya, baginya Airin adalah satu satunya wanita yang ia cintai.
“Mulai besok aku akan kemari setiap jam dua belas siang sampai esok hari. Aku akan menemanimu disini”, ucap Billy pada kekasihnya yang terbaring diranjang.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu dan semua tanggung jawabmu? Bukankah kamu yang akan meneruskan perusahaan itu nantinya? Jika kamu lebih mementingkanku dari pada perusahaan dan karirmu, lalu bagaimana dengan hidupmu? Bagaimana kamu dapat hidup seperti itu?”, tanya Airin pada Billy. Airin menyerang Billy dengan ribuan pertanyaan sekaligus. Akan tetapi Billy hanya tersenyum, cerewetnya Airin menandakan bahwa ia baik baik saja.
“Kedua orang tuaku sudah tahu, dan perusahaan sudah ku bereskan beberapa hari yang lalu. Jadi tenangkan dirimu sayang. Kali ini aku yang akan menjagamu”, balas Billy lembut pada Airin yang menggebu gebu.
Airin tersenyum dan mengangguk lalu ia terdiam. Raut wajahnya nampak seperti banyak yang ia pikirkan, sedih rasanya ketika ia mengetahui Billy sangat mencintai dan perhatian padanya sedangkan dia tak dapat memberikan hal yang sama pada Billy, jangankan memberikan apa yang Billy butuhkan untuk saat ini, membalas perlakuan Billy padanya selama ia terbaring di rumah sakit saja ia tak bisa.
“Tidakkah kamu merindukan kita yang dahulu? Sebelum aku lemah tak berdaya dan hanya bisa berbaring di sini”, lirih Airin menunduk, ia merasa seperti tak berguna dan hanya mampu merepotkan orang orang disekitarnya saja, termasuk Billy. Dalam hati Airin ingin menjadi dirinya yang dahulu namun kali ini ia sangat terbatas, ia sungguh kasihan pada Billy yang hanya bisa merawatnya saja, ia tahu bahwa Billy mungkin menghadapi masa masa sulitnya dan yang membuatnya sakit adalah ia tak bisa berada di sisi Billy untuk membantunya.
“Tidakkah kamu merindukan aku yang dahulu?”, tanya Airin dengan mata yang mulai berkaca kaca.
__ADS_1
“Kamu yang dahulu atau kamu yang sekarang adalah sama. Jangan pernah berpikir bahwa kamu tak lagi berguna untukku. Aku menyayangimu dan selamanya akan begitu, kita sudah berjanji akan menikah bukan? Jadi tenanglah, jangan berpikir yang macam macam”, seru Billy menennagkan Airin yang sedang tak stabil emosinya.