Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 23 | Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Mendengar Billy menyebut nama Wanita lain disaat mambuk membuat Yuki sedikit sakit hatinya, ia menarik mundur langkahnya dan menatap Billy dengan kecewa, kedua tangannya mengepal seperti ingin menghajar pria yang sedang terkapar tak sadarkan diri di hadapannya. Segal acara sepertinya telah ia lakukan, tetapi Billy masih saja tak melihatnya sebagai satu satunya Wanita dalam hidupnya.


“Meski begitu, aku takkan melepaskanmu apapun yang terjadi, Kak. Kamu milikku dan selamanya akan seperti itu,” ucap Yuki dengan bibirnya yang gemetar.


Perlahan Billy mulai tersadar dari tidurnya, ia membuka kedua matanya dan merasakan kepalanya pengar karena pengaruh alcohol yang sangat kuat semalam. Billy bangun sambil memegangi kepalanya dan mulai berjalan mencari keberadaan Yuki, ia bangun dengan bertelanjang dada dan menemukan wanitanya sedang menikmati secangkir kopi dengan memandangi pemandangan dari jendela kamar mereka. Billy berjalan mendekatinya dan memeluk wanita itu dari belakang sambil menciumi aroma khans tubuhnya yang wangi.


“Morning my Queen” ujar Billy memanggil Yuki dan menyandarkan kepalanya pada tubuh Yuki yang jauh lebih kecil darinya.


Yuki sungguh merasa terganggu denga napa yang dilakukan Billy padanya dan mendorong tubuh Billy sedikit menjauh dari padanya “ Menyingkirlah!” Seru Yuki dengan nada kesal.


Billy terdiam sejenak melihat Yuki yang menolak pelukannya bahkan mendorongnya menjauh, ia tak mengerti apa yang terjadi pada wanitanya pagi ini, ia tak menyadari segala ucapannya yang ia lontarkan semalam ketika ia mabuk. Billy kembali mendekat dan mencoba memeluk Yuki, tetapi Yuki membalikkan tubuhnya dan menatap Billy dengan tajam.


“Jangan dekati aku!” Seru Yuki geram.


“Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Billy bingung “Ada apa denganmu pagi ini?” Tambahnya. Namun Yuki diam seribu bahasa. Ia berjalan menjauhi Billy dan mempersiapkan dirinya untuk kembali ke Surabaya.


“Bersiaplah, kita harus pergi ke bandara,” ucapnya ketus pada Billy


Billy tak juga mengerti apa yang terjadi dengan Yuki, bahkan hingga mereka sampai di Bandara Juandapun Yuki tak mengatakan apapun pada Billy.


“Setidaknya jangan menyebut nama wanita lain saat kakak bersamaku!” Seru Yuki lalu ia keluar dari mobil Billy dan masuk kedalam rumahnya.


Billy tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat pada Yuki yang sedang mengamuk padanya. Ia terlalu Lelah untuk berdebat dengan Yuki saat ini, yang ada dalam pikirannya adalah Airin karena ia telah kembali ke Surabaya. Sebuah pemberitahuan masuk ke dalam ponselnya yang mengatakan bahwa paket miliknya telah sampai dan siap untu diangkut. Billy menginjak gas mobilnya dan segera mengambil barang miliknya lalu menuju rumah Airin dengan beberapa hadiah untuk kekasihnya.

__ADS_1


Pintu gerbang rumah Airin terbuka oleh penjaga dan Billy masuk ke dalam. Tepat dihadapannya ia melihat sebuah mobil yang tak pernah ia lihat sebelumnya berada di rumah kekasihnya, sebuah mobil mewah yang sangat indah terpakir tepat di halaman rumah Airin.


“Ada tamu didalam, Pak?” Tanya Billy pada penjaga


“Tamu nona Airin,” balasnya.


Billy mengerutkan keningnya dan kembali melihat mobil dengan plat nomor yang berbeda. Billy tak ingin memusingkannya, ia naik dan masuk ke dalam dan disambut oleh ibu Airin, ia mengarahkan Billy untuk naik ke atas, “Namun, Airin masih kedatangan tamu, Billy. Naik saja ke atas,” ucap ibu Airin.


Billy semakin mendekati kamar Airin. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara pria dan suara tawa Airin bersamaan, pintu terbuka, Billy melihat kekasihnya sedang duduk berhadap hadapan dengan seorang pria yang tak pernah ia ketahui sebelumnya, keduanya tampak bahagia tertawa bersama, sudah lama Billy tak melihat kekasihnya tertawa seperti itu dengannya. Namun, saat ini ia melihat kekasihnya tertawa lepas dengan pria lain, menimbulkan sedikit perasaan kesal dalam diri Billy.


“Sayang, kamu sudah pulang?” ucap Airin menyambut kedatangan kekasihnya lalu menghampirinya.


Billy menatap pria itu dengan tatapan yang tak bersahabat, ia tak tahu siapa dia. Namun, perasaannya buruk padanya. Billy mengecup kening Airin tepat di hadapannya dan tersenyum lembut.


“Mengapa tak bilang kalau kamu pulang lebih cepat, aku bisa menjemputmu,” ucap Airin.


Tiba tiba pria itu berdiri dan berpamitan pada Airin juga kekasihnya itu sambil tersenyum.


“Sepertinya aku harus pergi, Airin. Mari kita bertemu lagi lain waktu,” ucap pria itu pada Airin sambil tersenyum seakan akan sedang merayunya dihadapan Billy.


Billy terus saja melayangkan tatapan tajam pada pria itu sampai ia pergi menghilang dari pandangannya. Perasaan kesal dan cemburu sungguh mmebuatnya seperti terbakar saat itu meski ia takt ahu siapa pria itu.


“Dia Denis, teman lamaku. Dia pulag dari Australia ke Surabaya untuk membuka cabang di sini,” ucap Airin menjelaskannya pada Billy yang terlihat kesal padanya.

__ADS_1


“Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu sangat mengerikan?” Tanyanya.


Billy hanya menggelengkan kepalanya dan memaksakan wajahnya untuk tersenyum pada Airin yang terlihat bingung dengannya.


“Benarkah hanya teman?” Tanya Billy yang masih tak percaya jika mereka benar benar hanya sebatas teman lama melihat kedekatan mereka yang seperti lebih dari teman.


Airin mengangguk membenarkan ucapannya, “Sebenarnya, Denis mantan kekasihmu, jauh sebelum aku bertemu denganmu,” ucap Airin sedikit menundukkan kepalanya.


Pasalnya ia tak pernah menceritakan siapa itu Denis pada kekasihnya, karena Denis hanyalah manatan kekasih dari Airin yang sudah sangat lama sekali, keadaan Airin yang kembali mempertemukan mereka berdua. Namun, sayangnya Billy datang disaat yang tidak tepat sehingga memunculkan kesalah pahaman diantara ketiganya.


“Mengapa tak menceritakannya padaku?” Tanya Billy


“I..Itu karena hubungan ku dan Denis telah berlalu lama sekali, untuk apa aku menceritakannya padamu. Densi hanyalah temanku, sayang. Sudahlah, kamu pasti lelah, duduklah. Akan ku ambilkan minuman,”


Dengan cepat Billy menyambar tangan Airin dan menariknya ke dalam dekapannya. Billy memeluknya erat sambil sesekali mengecuk pucuk kepala Airin yang jauh lebih kecil darinya.


“Tetaplah disini, aku datang karena aku merindukanmu, sayang,” lirihnya lembut.


**


Suasana rumah makan yang cukup ramai siang itu, Denis terlihat duduk memainkan ponselnya sedang Bianca terus saja menatap Denis dengan heran, bukan hanya penampilannya yang berubah, tetapi dia juga sedikit gila.


“Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana bisan kamu mengunjungi Airin tanpa menghubunginya dahulu. Dan lagi, Billy memergoki kalian berdua sedang bersama?” Tanya Bianca.

__ADS_1


Denis tak terlalu memusingkan ucapan Bianca, ia hanya fokus dengan makanan yang telah tiba sambil sesekali memandangi kawan lamanya yang terus saja mengoceh. Tak ada alasan baginya untuk takut dengan Billy, kekasih Airin.


“Aku datang untuk mengunjungi temanku yang sakit, tak ada tujuan lain. Meski Airin adalah mantan kekasihku, tetapi saat ini ia adalah temanku. Aku datang sebagai teman,” balas Denis dengan santainya.


__ADS_2