
Kondisi Airin perlahan mulai membaik, selama dua minggu menginap dirumah sakit pada akhirnya ia diijinkan untuk pulang oleh dokter yang menanganinya. Airin tersenyum senang mendengar kabar gembiara dari sang dokter.
“Senangnya bisa pulang ke rumah”, goda Bianca yang ikut menemani Airin di rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Nampak senyuman bahagia menghiasi wajah Airin siang itu, melihat Airin yang dalam kondisi baik baik saja membuat Bianca segera ingin membicarakan tentang Billy padanya namun tak mungkin didepan kedua ibunya.
“Apa kamu akan kembali bekerja dan mengakhiri cutimu?”, tanya Bianca pada Airin. Melihat dari kondisi sahabatnya yang mungkin terlihat sudah lebih baik namun sebenarnya kondisi Airin jauh dari kata membaik, kanker darah sudah mulai menyebar. Rambut yang semakin lama semakin menipis dan nyaris habis, mimisan yang masih saja ia rasakan dan tubuhnya yang semakin kurus tak peduli sebanyak apapun ia makan.
“Sepertinya aku akan berhenti bekerja dan fokus pada penyembuhanku, untuk diriku sendiri dan orang orang yang ku sayangi”, balas Airin tersenyum, meski melemah namun keyakinan dalam dirinya tak pudar sedikitpun. Nyatanya penyakit yang berada didalam dirinya tak mempengaruhi Airin sama sekali, ia tetaplah Airin yang selalu bersemangat dan juga ceria meski dalam keterbatasannya.
“Mama akan mengurus administrasimu, kita pulang siang ini yaa sayang”, ucap ibunya lembut pada Airin.
Bianca merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat baginya membahas Billy bersama sahabatnya, hatinya sungguh tak tenang karena berkali kali ia melihat sebuah kejanggalan antara hubungannya dengan Billy, meski terlihat ragu namun ia memberanikan diri untuk menceritakannya pada Airin.
“Rin, tentang Billy. Adakah dia memiliki teman wanita?”, tanya Bianca pada Airin.
Airin mengerutkan keningnya dan menatap Bianca , ia tak yakin dengan apa yang sednag dibahas Bianca saat ini, Airin menggelengkan kepalaanya entah itu tidak ada atau tidak tahu.
“Bagaimana jika Billy memiliki hubungan dekat dengan teman wanitanya?”, tanya Bianca lagi pada Airin. Kini Airin semakin tak mengerti dengan Bianca, tiba tiba ia menanyakan tentang teman wanita Billy dan pertanyaan konyol lainnya, Airin hanya bisa menanggapi dengan tawa ucapan Bianca yang terasa tak masuk akal baginya.
“Rin, aku tak sedang bercanda. Bagaimana jika Billy memiliki teman wanita dan ia sangat akrab dengannya?”, tanya Bianca lagi, kini dengan tatapan yang sangat serius namun lagi lagi Airin tak terlalu menanggapi ocehan Bianca yang dianggapnya hanay sebuah candaan.
__ADS_1
“Bi, Billy tak memiliki teman wanita, kamu tahu bukan bagaimana dia jika ia didekati wanita? Dia akan menjauh. Wanita yang ia kenal hanya aku dan kamu, itu juga Billy sangat menjaga jarak dan pandangannya padamu bukan?”, balas Airin mematahkan segala macam kecurigaan Bianca pada kekasihnya. Entah apa yang terjadi pada Bianca sampai sampai ia seperti berhalusinasi melihat Billy dekat dengan wanita lain, Airin menggeleng dan mengabaikan seluruh kecurigaannya pada Billy.
“Namun aku melihatnya Rin, aku melihat kekasihmu berpelukan dengan wanita lain dibelakangmu”, gumam Bianca sambil menunduk, ia tak memiliki bukti apapun untuk ditujukan pada sahabatnya itu. Bianca seperti sangat yakin bahwa Billy sedang dekat dengan wanita lain.
“Kamu sendiri yang mengatakan bawa aku sungguh beruntung memiliki Billy dihidupku, pria yang sangat menyayangiku tak peduli bagaimana kondisiku, pria yang siap meninggalkan seluruh dunianya demi mendatangiku saat aku berteriak memanggil namanya, lalu mengapa sekarang kamu seperti meragukan perasaannya padaku?”, ucap Airin lagi untuk meyakinkan Bianca bahwa apapun yang ia lihat atau rasakan bukan hal sebenarnya. Kali ini Bianca hanya mampu terdiam mendengar jawaban dari Airin.
Tiba tiba seorang pria tinggi masuk ke kamar Airin dengan membawa bunga tulip merah ditangannya, ia tersenyum pada Airin dan menghampirinya lalu didik disamping kekasihnya.
“Kamu akan pulang hari ini? Aku akan mengantarmu”, ucap Billy lembut pada Airin.
Mata Bianca tak lepas dari Billy dari ia datang sampai ketika ia duduk disamping sahabatnya itu. Entah dirinya yang salah paham atau bagaimana tak penting baginya, Billy yang menyadari tatapan tajam mengarah padanya sontak melihat ke arah Bianca yang seperti memelototinya.
“Dari mana?”, tanya Bianca ketus
“Dari kantor” balas Billy singkat.
“Mengapa lama sekali kamu datang”, tanya Bianca kesal
“Apa pedulimu?”, balas Billy yang semakin kesal dengan tingkah Bianca padanya.
__ADS_1
“A~ah.. sudahhlah kalian berdua. Biaca, hentikan”, seru Airin mencoba melerai pertengkaran kecil antara kekasih dan juga sahabatnya itu. Keadaan cukup memanas siang itu bersamaan dengan suasana yang mereka berdua ciptakan.
“Bersiaplah, aku akan mengaantarmu dan mamamu pulang kerumah, tak perlu panggil taksi”, seru Bianca dengan nada kesalnya, ia sudah tak ingin lagi berlama lama melihat wajah Billy.
“Airin akan pulang denganku, aku yang akan mengaantarkannya ke rumah”, balas Billy yang tak terima dengan ucapan Bianca yang tiba tiba.
“Aku dan Airin sudah merencanakannya jauh sebelum kamu datang. Jadi kembalilah bekerja setelah selesai menjenguk sahabatku”, seru Bianca yang tak ingin kalah dari Billy dengan menggertakkan giginya.
“Aku yang lebih berhak mengantarnya pulang karena aku kekasihnya”, balas Billy dengan tatapan tajam dan mengeryitkan dahinya lalu menyilangkan kedua tangannya.
Airin menggelengkan kepalanya melihat sahabat dan kekasihnya bertengkar seperti ini, sungguh menjengkelkan baginya namun ia tak memiliki tenaga yang lebih untuk menenangkan keduanya, keadaan semakin memanas dengan adu mulut mereka yang tak ada habisnya.
“Kalian berdua, hentikanlah!”, seru Airin meninggikan suaranya dengan terpaksa, mereka pun akhirnya diam dan berhenti berbicara mendengar suara Airin yang meninggi.
“Bi, terimakasih namun aku akan pulang bersama Billy, datanglah besok. Hari ini kamu sift malam bukan?” ucap Airin yang pada akhirnya memilih pulang bersama Billy.
Bersama dengan Billy, Airin dan ibunya pulang ke rumah sedang Bianca kembali kerumahnya untuk bersiap bekerja, perasaan di hatinya masih sangat kacau, ia sangat kesal akan kejadian hari ini.
“Bedebah kecil itu, lihat saja jika ia sampai bermain gila di belakang Airin, akan ku cabut habis seluruh bulu di tubuhnya!”, seru Bianca kesal sambil menatap mobil Billy perlahan menghilang dari pemandangannya
__ADS_1