Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 27 | Dua Wanita Dengan Masalahnya


__ADS_3

Pria dihadapan Bianca itu memijat keningnya yang sungguh tak tahu lagi harus berbuat apa pada Bianca, ia memejamkan kedua matanya sekejap lalu mencengram kedua bahu Bianca cukup erat dan menatapnya, “Sampai akhirpun kamu tetap memikirkan orang lain. Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Bi? Kamu yang paling tersakiti di sini.” Ucap Beni pada Bianca, baginya Bianca sudah cukup keterlaluan pada dirinya sendiri, ia rela mengorbankan perasaannya agar pekerjaan dan karir Beni bisa terus naik.


“Aku akan membatalkan pernikahaku, lagi pula aku tak mencintainya, kamu Bi, satu satunya wanita yang akan ku nikahi. Jika bukan denganmu maka aku takkan menikah!” Seru Beni dengan keseriusannya menatap pujaan hatinya sejak dahulu. Bianca menepis cengkraman Beni dari padanya lalu berbalik menatapnya, “Jangan lakukan hal konyol, jangan hancurkan impian kedua orang tuamu. Usia ayahmu sudah tak lama lagi, Ben. Setidaknya bahagiakan dia saat masa masa terakhirnya dan lupakan aku!” Seru Bianca lalu berjalan meninggalkan Beni.


Dengan cepat tangan Beni menyambar lengan Bianca dan menariknya kembali mendekat padanya hingga nyaris tak ada jarak diantara mereka berdua, sepasang mata yang saling bertemu, hembusan napas yang dapat mereka rasakan satu sama lain membuat Bianca tak bisa lagi lebih lama menahan diri untuk terus berada dekat dengan Beni. “Jangan membuatku gila, Bianca! Jika kamu terus melakukan semuanya sesuai kehendak hatimu maka, akupun akan begitu. Bagaimanapun caranya aku akan membuatmu kembali padaku. Sudah cukup kamu mengorbankan hatimu selama ini!” Seru Beni memantapkan hatinya, tatapannya seakan tak tergoyahkan meski Bianca mencegahnya ratusan kali. Beni sudah cukup lelah dengan semua kekacauan ini. Pria itu melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan Bianca seorang diri setelah pertengkaran mereka berdua.


...****************...


Klinting !


Lonceng pintu kafe berbunyi sore itu, Airin yang baru saja tiba berdiri sejenak mengamati tempat itu dan mencari keberadaan sahabatnya, Bianca, hingga kedua bola matanya tertuju pada wanita berambut pendek yang sedang menatap keluar jendela ditemani secangkir kopi dan beberapa camilan di hadapannya. Ia sungguh terlihat tak bersemangat, telihat dari caranya yang terus saja mengaduk aduk kopi dihadapannya sambil sesekali menghela napas panjang.

__ADS_1


“Sungguh? Di hari libur kita yang sangat istimewa ini kita hanyamenghabiskan waktu di kafe?” Ucap Airin yang berhasil membuyarkan rasa bosan Bianca seketika, senyuman terpaksa terpancar di wajah Bianca sore itu. Tanpa mengatakan apapun selama hampir setengah jam mereka hanya duduk berhadap hadapan sambil sesekali menghela napas panjang secara bergantian, sungguh mereka berdua terlihat seperti wanita muda yang terlihat berbeban berat, “Apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya berhenti melakukan hal gila,” ucap Bianca membuka suaranya sambil mengaduk aduk kopinya. “Sudah ku katakana bahwa aku tak melakuan hal seperti itu, tetapi ia tak mempercayaiku,” balas Airin sambil memasukkan sepotong kentang goreng dalam mulutnya. “Aku seperti ini agar mimpi dan karirnya tak berhenti di tengah jalan, tetapi otaknya terlalu bodoh untuk mengerti!” Tambah Bianca geram sambil mengepalkan kedua tangannya. “Percuma saja dia mengajakku untuk menikah jika dia tak mempercayaiku sepenuhnya!” Seru Airin.


Sesaat mereka saling menatap dan mengerutkan kening mereka, Bianca sangat bingung begitupun dengan Airin, Bianca memutar kedua bola matanya dan berkata, “Kita sedang membahas Beni bukan? Lalu mengapa dia mengajakmu untuk menikah?” Tanya Bianca bingung


"Ku kira kita sedang membicarakan Billy yang cemburu pada Denis. Jadi apa yang kita bicarakan dari tadi?” Balas Airin dengan menggaruk keningnya yang tak terasa gatal.


“Apa yang terjadi antara kamu dan Beni?”


Tanya mereka berdua bersamaan.


“Ah, yang benar saja. Jadi masalah kita adalah seorang pria?” Ucap Bianca, “ Jadi apa yang terjadi antara kalian berdua?” Sambung Bianca penasaran sambil mendekatkan dirinya pada Airin. Lagi lagi Airin memutar kedua bola matanya dan menghela napas berat.

__ADS_1


“Jadi begini, Billy cemburu dengan Denis. Sungguh tak masuk akal, kita berdua akan segera menikah tetapi Billy malah cemburu buta dengan Denis yang baru kembali dalam hidupku beberapa hari yang lalu, bukankah itu sangat aneh?” Geram Airin menceritakan masalahnya pada Bianca. Sedangkan Bianca hanya diam mendengar ucapan Airin, entah berapa kali ia mengatakan pada Airin bahwa kekasihnya telah berselingkuh di belakangnya. Namun, Airin tak menggubrisnya sama sekali.


“Airin, sudah ku katakana berkali kali padamu bahwa Billy berselingkuh di belakangmu. Sebelum kalian berdua menikah kamu harus tahu kenyataannya!” Seru Bianca pada sahabatnya yang memiliki kepala sekeras batu hingga ia tak lagi bisa diberi tahu kebenarannya.


“Aku sudah tahu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri mereka berdua sedang bercumbu, jadi jangan lagi membahas masalah itu dihadapanku, Bi” balas Airin dengan wajah datarnya yang membuat Bianca terkejut bukan main. Bahkan Airin sudah mengetahuinya tetapi, ia tak berbuat apapun pada Billy.


“Kamu diam saja ketika Billy ketahuan selingkuh olehmu? Sungguh kamu tak marah dan tak kecewa?” tanya Bianca bingung dengan sahabatnya ini. Airin menggelengkan kepalanya dan membungkam mulut Bianca dengan memasukkan sepotong kue, “Aku mencintainya dan akan menikah dengannya apapun yang terjadi, setelah kita menikah akan ku pastikan Billy takkan memiliki hubungan gelap dengan siapapun termasuk dengan selingkuhannya, aku akan menyingkirkannya dengan mudah” ucapnya dengan mudah dan santai sambil tersenyum dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.


“Airin, kamu sudah gila? Dia berselingkuh tepat di depan matamu dan kamu masih mau menikahinya? Setan apa yang merasukimu, Airin?!” Seru Bianca geram. Ia bahkan tak memiliki kata kata lagi yang harus ia keluarkan melihat tingkah gila sahabatnya. “Sudahlah, lupakan tentangku dan Billy, sekarang apa yang terjadi antara kamu dan Beni? Ku kira hubungan kalian telah berakhir ketika Beni dijodohkan, apa yang terkjadi?” Tanya Airin mengganti topik pembicaraan. Bianca menarik napas panjang dan menghebuskannya dengan kasar.


“Beni memintaku untuk kembali padanya. Ia akan menghancurkan acara pernikahannya yang tinggal sebentar lagi. Dia sungguh sudah gila Airin, aku takt ahu lagi harus berbuat apa padanya” ucap Bianca dengan perasaan sedih yang terpancar dari wajahnya. Airin tersenyum dan memegang tangan Bianca sahabatnya itu yang takt ahu lagi harus berbuat apa.

__ADS_1


“Dia sangat mencintaimu, mengapa kamu terus menutup diri untuknya? Apa karena kedua orangtuanya? Karena ayahnya yang tak memiliki usia yang panjang? Itukah alasanmu?” Pertanyaan demi pertanyaan diberikan Airin pada sahabatnya itu, “Sudahkah kamu membuktikan dirimu pada kedua orang tua Beni? Atau kamu hanya diam saja menerima kenyataan bahwa Beni dijodohkan oleh kedua orang tuanya? Berjuanglah untuknya Bi, seperti Beni berjuang untukmu selama ini.” Perkataan Airin seperti merasuk dalam diri Bianca dan berhasil menenangkannya, ia menyadari bahwa selama ini yang ia lakukan hanya menghindar dan menghindar. Satu kalipun Bianca tak pernah menghadapi kenyataan yang berada tepat di hadapannya. Perkataan Airin mulai menyadarkan Bianca sore itu.


__ADS_2