Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 31 | Calon Menantu dan Calon Mertua


__ADS_3

Dari Penerbangan Internasional seorang wanita turun lalu menaiki taxi yang ia pesan dan pulang ke rumahnya, sudah cukup lama rasanya ia meninggalkan rumahnya untuk mengurus bisnisnya di luar negeri untuk beberapa bulan, keramaian kota Surabaya begitu ia rindukan begitu juga rumahnya. Rumah mewah bak istana seperti telah menunggu kedatangannya. Adalah sang ibu dari Billy, datang tanpa di sambut oleh anaknya.


“Mama sudah sampai di rumah, kapan Mama bisa bertemu dengan calon menantu Mama?” Tanya sang ibu pada Billy lewat ponselnya. Nampaknya sang ibu sangat menyukai Airin hingga ia terus saja menanyakan keberadaan calon menantunya itu pada Billy, ia bahkan menyiapkan beberapa hadiah khusus untuk Airin, oleh oleh yang ia bawa dari London, tempatnya menetap untuk sementara.


“Aku tak bisa mengajak Airin sekarang, ia masuk shift malam kemarin, ia terlalu lelah jika harus menemui Mama hari ini, aku akan mengajaknya besok sore,” ucap Billy sambil berjalan ke arah ruang rapat siang ini. Segera ia mematikan ponselnya ketika percakapan dengan ibunya telah berakhir. Seluruh jadwalnya pun ia kosongkan agar ia bisa menemui ibunya lebih cepat, bahkan janji dengan Yuki juga ia batalkan, baginya tak ada yang lebih penting dari pada ibunya dan juga Airin.


...****************...


Sore itu, suasana rumah Beni sungguh ramai, tak seperti biasanya entah siapa orang yang bertamu ke rumahnya, semakin ia mendekat semakin ia mengenali siapa mereka. Adalah Keluarga Pak Arya, dari jauh Beni sudah menunjukkan wajah yang tak bersahabat karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, “Haruskah aku melewati semua ini?” lirihnya sambil menghela napas berat.


“Akhirnya dia pulang, yang ditunggu sejak tadi sudah datang!” Seru sang ayah tertawa dengan bahagia melihat kepulangan Beni, “sungguh munafik,” batinnya. Seorang gadis yang sedari tadi menatap Beni tersenyum dengan sangat lembut dan manis. Dia membalas balik senyuman gadis itu. Adalah Naya, wanita yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya, wanita lembut yang terlihat sangat baik di mata Beni. Namun, sebaik apapun dan semanis apapun Naya, takkan merubah Beni untuk berbalik dari Bianca.

__ADS_1


“Beni, Keluarga Pak Arya datang untuk membahas apa yang kurang dari pernikahan kalian yang tinggal sebentar lagi,” ucap sang ayah pada Beni. Pria itu hanya diam dan mematung mendengar ucapan ayahnya seakan tak peduli. Namun berbeda dengan Naya yang memahami pria itu, sejak awal mereka dijodohkan bahkan sampai bertunangan, Naya merasa bahwa Beni tak mencintainya sama sekali, membuat wanita itu sedikit sakit hatinya. “Bahkan aku bisa langsung mencintainya pada pandangan pertama, tetapi mengapa Beni tak bisa?” lirihnya dalam hati.


“Ah, Papa. Bagaimana jika kita undur pernikahan ini?” Ucap Naya secara tiba tiba, emmbuat semua mata tertuju pada gadis lugu itu, ketika semua orang ingin mempercepat pernikahan kedua anak mereka, tetapi Naya malah meminta pernikahan ini untuk diundur.


“Apa maksudmu, Naya?” Tanya ayahnya padanya.


“Mungkin Beni masih belum siap karena harus menikah secara tiba tiba, Naya bisa mengerti itu, tak mudah bagi anak muda seperti kami melangsungkan pernikahan jika kami belum mengenal lebih dalam satu sama lain, Naya mohon, beri kami sedikit waktu,” pintanya dengan lembut. Seakan Naya bisa membaca pikiran Beni, pria itu langsung menatap wanita itu , membuat Naya tersipu malu karena pertama kali Beni menatapnya sampai seperti itu.


Hari semakin larut, Bianca menyadari dirinya harus masuk pagi memaksakan dirinya untuk tidur, tetapi tubuhnya menolak, pikirannya terus saja terbayang bayang wajah Benis yang tersenyum sambil mengedipkan satu matanya, tingkahnya membuat Bianca menggila malam itu. “Aaakkhhh!!” Teriaknya sambil menutup wajahnya dengan bantal agar suaranya tak sampai keluar.


......................

__ADS_1


Hari yang sangat baik untuk mulai beraktifitas, seperti biasa Airin sampai satu jam lebih awal dari jadwal masuknya untuk mempersiapkan semua pekerjaan dengan baik, tugasnya sebagai ketua Tim 3 mengharuskannya bekerja lebih keras dari teman teman satu timnya. Naskah telah di siapkan dan Studio siap untuk di pakai, Airin Bianca dan Beni bekerja pada posisi mereka masing masing, hingga waktu istirahat tiba.


Tiinngg!!


Satu pesan singkat masuk dalam ponsel Airin ketika ia hendak perki ke kantin untuk istirahat makan siang dengan Bianca juga kawan kawannya yang lain, pesan dari Billy yang memintanya untuk datang ke rumah selepas kerja karena ibunya telah datang sejak kemarin siang. Terlihat senyuman kecil hadir pada wajah Airin kala itu.


“Temani aku pergi setelah ini, aku harus berbelanja bulanan dan skin care ku sudah menipis,” pinta Bianca sambil menyantap makanan milinya, segera Airin menggeleng sambil meminum jus jeruk milik Bianca, “Hmm, aku tak bisa, mertuaku telah tiba kemarin, ia merindukan menantunya yang sangat cantik ini,” ucapnya sambil memangku wajahnya dan mengedipkan kedua matanya, membuat Bianca geli melihatnya.


“Tidak bisakah kamu menemaiku dahulu?” pintanya setengah merengek pada sahabatnya. Namun, Airin terus saja menolaknya karena mertuanya jauh lebih penting dari Bianca saat ini.


“Mintalah dia menemanimu, aku sangat sibuk,” balasnya. Bianca langsung paham siapa dia yang di maksud Airin, tak terpikirkan dalam benaknya bahwa ia harus meminta Beni menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2