
Plak!!
Sebuah tamparan keras di terima Beni pada pipi bagian kanannya, tamparan itu membekas hingga menyisakan tanda kemerahan di pipi kanan Beni. Pria yang tengah berdiri dihadapannya terlihat mengamuk, kedua matanya membola menyaksikan kelakuan putra semata wayangnya itu yang seperti seenaknya sendiri, pria paruh baya yang di sebut sebagai Papa oleh Beni sungguh tak habis piker dengan putranya yang hanya berdiri mematung tanpa bergeming sedikitpun.
“Kamu gila? Pernikahanmu hanya tinggal dua bulan lagi dan kamu ingin membatalkannya? Jika bukan karena Pak Arya, kamu takkan bisa menikmati semua kemewahan ini!” Seru pria itu dengan kemarahannya yang memuncak.
Sang ibu hanya diam saja sambil sesekali menyeka air mata yang keluar, ia tak tega anaknya di tampar dan dipaksa menikah dengan wanita yang tak dicintainya. Namun, apa boleh buat, sang ibu hanya bisa diam dan melihat keegoisan suaminya yang memaksakan kehendaknya pada Beni, anaknya.
“Hentikan, tidak bisakah Beni melakukan apapun yang dia mau? Jangan paksakan apapun lagi padanya, biarkan dia menjalani hidupnya sendiri!” Seru sang ibu yang sudah tak tahan. Pasalnya hampir setiap hari sang ayah ters saja memarahinya karena masalah yang sama.
“Papa hanya ingin melihat kamu menikah, memiliki anak dan hidup dengan tenang tanpa perlu bersusah payah lagi. Bisakah kamu mengabulkan keinginan terakhir papa?” Tanya sang ayah yang sudah tak memiliki tenaga untuk meladeni putranya yang tak bisa lagi dia atur seperti dahulu.
__ADS_1
Sepasang mata yang sejak awal menunduk perlahan mulai menegakkan kepalanya dan menatap sang ayah dengan tatapan dingin, tak ada lagi perasaan hangat yang ia rasakan dalam ayahnya. Berusaha untuk tetap tunduk dan menghargai ayahnya, tetapi hatinya sudah terlalu sakit akan apa yang selalu ayahnya paksakan padanya sejak awal.
“Pernahkah Beni membantah ucapan Papa? Satu kalipun, pernahkah Beni tak menuruti perintah Papa? Apakah pernah Papa menanyakan apa yang Beni suka dan yang tak kusuka? Apakah Papa pernah menayakan perasan Beni selama ini?!” Seru Beni. Seakan kemarahan yang telah berlalu ia kumpulkan menjadi satu dan kini, ia tuangkan rasa kesal dan amarahnya dihadapan sang ayah yang sudah sangat keterlaluan baginya.
Tak ada lagi air mata yang dapat ia keluarkan, sudah habis tak tersisa, sekuat apapun ia meminta dan memohon, pada akhirnya ia harus selalu mentaati perintah dari sang ayah yang adalah mutlak baginya, ia seperti boneka yang dikendalikan dan tak memiliki hak untuk memilih dalam hidupnya, bahkan untuk menikahpun harus sesuai dengan keputusan ayahnya.
“Beni mencintai seorang wanita biasa, satu satunya wanita yang akan Beni nikahi adalah Bianca, bukan anak dari pak Arya!” Seru Beni mulai melawan ucapan ayahnya.
Plak!
Hati Beni terasa sangat sakit, lebih sakit dari tamparan yang ia terima dari ayahnya, pedih rasanya, hatinya benar benar terluka, tanpa mengatakan apapun lagi Benis meinggalkan kedua orang tuanya dan masuk ke dalam kamarnya. Satu satunya kebebasan yang diberikan ayahnya adalah ketika ia boleh memilih pekerjaan sesuai keinginannya, hanya itu kebaikan sang ayah dalam hidupnya yang dapat ia syukuri.
__ADS_1
****
“Syuting berita pagi sungguh membuatku lelah,” ucap Airin sambil meregangkan tubuhnya dan menguap ketika ia dan Bianca berjalan keluar dari Studio 1 menuju lantai bawah. Ya, kedua sahabat itu mendapatkan shift malam dan akan berakhir pukul delapan pagi ini. “Aku membutuhkan kafein untuk membuatku tetap terjaga, Airin,” rengek Bianca pada Airin dengan menahan kedua matanya berjalan keluar dari lift.
Dari belakang seorang pria bertubuh tegap berjalan membawa dua cup kopi yang masih pasan lalu memberikannya pada Bianca kala itu yang hampir tak bisa menyelesaikan shiftnya karena sangat lelah dan mengantuk. “Minum dan bertahanlah beberapa jam lagi,” ucap Beni pada Bianca sambil mengeipkan sebelah matanya dan tersenyum lalu ia pergi meninggalkan Bianca menuju Studio 5
“Mana bagianku?” teriak Airin yang tak terima hanya sahabatnya saja yang diberi kopi, “buatlah sendiri, aku tak mempedulikanmu, cepat pergi ke Studio 5 atau ku beri hukuman karena terlambat!” Seru Beni menjawab Airin. Bianca terlihat tersenyum kecil karena perlakuan masis Beni padanya, ia tak meminumnya dan hanya menatap cup kopi dalam genggamannya sambil terngiang ngiang Beni yang mengedipkan sebelah matanya.
“Jika kamu tak meinumnya, berikan padaku, aku juga mengantuk,” ujar Airin mencoba merebut kopi dalam genggaman Bianca, tetapi Bianca menolaknya dan menjauhkannya dari Airin sambil memanyunkan bibirnya.
“Buatlah sendiri, ini milikku,” balasnya. “Milikmu adalah milikku juga, berikan padaku,” ucap Airin yang masih berusaha merebut kopi itu dari genggaman Bianca. “Tak akan pernah!” Seru Bianca lalu ia pergi meninggalkan Airin sendiri sambil meminum sedikit demi sedikit kopi yang masih panas itu.
__ADS_1
“Cepatlah pergi ke Studio 5 atau Beni akan menghukummu!” Ujarnya dengan langkah kaki yang cukup cepat menuju Studio 3. Airin hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, sungguh sangat imut sekali tingkah kedua dua orang yang sedang jatuh cinta dalam pandangannya.