Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 24| Masih Dengan Perasaan Yang Sama


__ADS_3

“Sudahlah, aku sungguh tak memiliki hati untuk Airin. Ia masa laluku,” ucapnya santai


Bianca terdiam dan terus mengamati Denis yang sedang asik menikmati makanannya, dalam hati ia sungguh tak percaya dengan Denis mengingat ia sangat mencintai Airin ketika dahulu mereka menjalin hubungan, meski pada akhirnya harus berakhir karena Denis harus pergi ke Australia untuk waktu yang sangat lama.


“Apa kamu masih mencintai Airin?” tanya Bianca lagi. Denis menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Bianca tanpa menatapnya.


“Jika ku bilang bahwa kekasih Airin berselingkuh dibelakang Airin bagaimana menurutmu?” ucap Bianca lagi pada Denis.


Denis berhenti dan menatap Bianca, kali ini tatapannya sangat serius dan tidak main main. Bianca bisa melihat bahwa Denis masih mencintai Airin, meski mulutnya berdusta, tetapi sorot matanya tak bisa membohongi Bianca yang sudah sangat lama menjadi temannya.


“Lihatlah matamu, Tatapan mata yang sudah lama sekali tak pernah ku lihat, aku tahu kamu masih mencintai Airin meski sudah terpisah sangat lama” ujar Airin dengan santai sambil menikmati makanannya. Denis menatap Bianca dalam dalam, ia bahkan hampir tak berkedip.


“Apa maksudmu? Bukankah mereka akan menikah sebentar lagi?” Tanya Denis bingung.


Bianca tak menghiraukannya dan terus melahap makanannya. Kini banyak sekali pertanyaan yang ada dalam kepala Denis, ia tak mengerti apakah ini semacam kesempatan untuknya atau ujian untuk hubungan Airin yang akan melangsungkan pernikahannya dengan kekasihnhya. Namun, hatinya gembira mendengarnya. Terbesik dalam pikirannya untuk kembali membawa Airin dalam pelukannya.


“Aku melihat dia bahagia dengan pasangannya,” ucap Denis sambil menyeruput perlahan minumannya.


Hari baru telah berganti, Airin merasakan tubuhnya kian lama kian membaik, masa cutinya telah berakhir dan ia bersemangat untuk kembali bekerja dan bertemu kawan kawannya, persiapan Airin sungguh matang pagi ini, seluruh obat obatan telah ia bawa, Airin berdiri di depan cermin dan melihat penampilannya sebelum ia berangkat bekerja, cukup lama Airin meninggalkan kantor dan ditengah kepergian Airin, tim yang Airin pimpin sangat kewalahan tanpa adanya sosok pemimpin seperti Airin. Selangkah demi selangkah Airin berjalan dengan senyuman yang tak luput dari wajahnya hingga akhirnya ia sampai di kantornya.

__ADS_1


“Thank God you came back” Beni, Bosnya.


“Cuti selama tiga bulan sudah cukup bagiku, Pak” balas Airin dan melangkah menuju ruangannya.


Semua mata tertuju pada Airin yang berjalan sambil tersenyum pada mereka semua yang menatap atau bahkan menyapanya. Mereka tak pernah mengira bahwa Airin akan kembali bekerja setelah ia divonis oleh dokter menderita penyakit leukimia.


Kriett!!


Airin membuka pintu dan masuk ke ruangannya. Namun bukan sebuah pemandangan yang indah baginya. Semua mata yang memandangnya terlihat sangat menyeramkan dengan mata panda yang menghitam, selama tiga bulan tanpa kehadiran Airin sang kapten tim membuat mereka semua kewalahan membagi pekerjaan Airin menjadi empat bagian.


“Bagaimana mungkin selama ini kamu mengerjakan pekerjaan yang mengerikan seperi ini, Airin?” Tanya salah satu dari mereka menatap pada Airin.


Airin tertawa mendengar celotehan mereka dihari pertamanya kembali bekerja, Airin mendekat pada mereka sambil tersenyum. Beruntung ia memiliki anggota tim yang mampu diajak bekerja sama.


“Meski begitu, kami senang kamu kembali, Airin,” ujar salah satu dari mereka.


Dihari pertama, Airin memilih untuk lembur karena banyak pekerjaan yang belum terselesaikan selama ia cuti. Meski dokter memperbolehkan Airin untuk kembali bekerja, tetapi tidak boleh terlalu berlebih. Namun, bukan Airin namanya kalau belum melampaui batasannya. Ia bekerja dan terus bekerja, disaat semua orang telah pulang bahkan berganti shift, tetapi Airin masih setia duduk di kursinya sambil menatap layer komputer miliknya.


“Banyak sekali program acara yang tertunda karena aku sakit. Tidak bisakah Pak Beni memberikan program ini pada tim lain selain tim milikku?” Keluh Airin yang terus menatap pada layarnya. Waktu sungguh cepat berlalu, Airin terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga ia tak menyadari jika jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


“Pulanglah. Bukankah kamu masih shift pagi esok hari?” seru salah satu rekan kerjanya.


Merasakan bahwa tubuhnya tak sanggup lagi menahan lelah, Airin memilih untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Hari ini sungguh hari yang cukup berat bagi Airin, karena ia sudah lama tak merasakan lelahnya bekerja dalam waktu tiga bulan lamanya. Segera ia masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke rumah sakit tempatnya dirawat dahulu untuk mengambil obat karena obatnya sudah hampir habis. Namun, di tengah jalan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang pria yang ia kenal sedang bermesraan dengan wanita lain, kedua mata Airin membola melihatnya “hah?!” seru Airin terkejut.


Airin mencoba mendekatkan diri melihat dengan jelas pria yang berada di dalam toko bung aitu dan melihatnya dengan seksama. Keduanya bercanda dengan menggenggam satu sama lain. Deg!!. Jantung Airin serasa berhenti sejenak melihat kegilaan itu.


Airin menarik mundur lamgkahnya dan kembali ke dalam mobil untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan , Airin hanya menangis. Ia merasa sangat bodoh dan mudah percaya begitu saja padahal, sahabatnya sudah memperingatkannya, tetapi Airin tak menghiraukannya. Ciittt!!! Airin mengambil bahu jalan dan menginjak rem tiba tiba untuk berhenti sejenak.


“Aku bodoh sekali! Mengapa aku tak mempercayai ucapan Bianca padaku?” Seru Airin sambil menangis sambil mengutuki dirinya sendiri. Beberapa kali ia memukuli dengan sekuat tenaga setir mobilnya untuk melampiaskan amarahnya hingga pada akhirnya, sakit kepala itu datang kembali menyerang Airin ditengah tengah ia sedang menangis. Akkhh!! Rintihnya sambil memegangi kepalanya.


Kepalanya berdenyut lagi karena ia lupa meminum obatnya selama satu hari penuh. Airin mencoba mengobok obok tas miliknya, tepai ia tak menemukan obat apapun di dalamnya, ia juga mencari di dalam mobil dan hasilnya pun sama saja. Lambat laun sakit kepalanya bertambah kuat, membuatnya tak kuat lagi untuk menahannya. Akkhh!! S-sakitt!” Rintihnya kembali.


Tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir dengan dirinya, Airin sengaja tak menghubungi mereka, ia menghubungi Bianca untuk meminta pertolongan. Namun, beberapa kalipun ia menghubungi, Bianca tak membalas chat ataupun mengangkat panggilannya.


“Tidak! Aku takkan meminta bantuan bedebah itu!” Seru Airin ketika nama kekasihnya terlintas pada benaknya.


Kini pilihan terakhi jatuh pada Denis, satu satunya harapan terakhirnya. Tanpa berpikir panjang, Airin menekan tombol panggilan pada ponselnya sambil berharap kali ini Denis meresponnya.


“Ya, Airin?” Jawab Denis.

__ADS_1


Airin sungguh lega mengetahui Denis merespon panggilannya, tubuhnya sudah tak kuat lagi menahan sakit. Wajahnya yang memucat dengan keringat yang mengucur deras pada tubuhnya membuat wanita itu berbicara dengan gemetar dan perlahan.


“Denis, tolong aku.” Rintih Airin pada Denis.


__ADS_2