Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 36 | Rasakan Aku


__ADS_3

Hari libur adalah hari dimana semua orang bisa bersantai untuk dirinya sendiri, keluarga dan bahkan kekasih, rumah yang cukup nyaman pagi itu, seorang pria paru baya memanggil anaknya untuk turun dan malah menyuruhnya untuk keluar.


“Tidak mau, Beni ingin tidur hari ini,” tolak Beni pada ayahnya yang menyuruhnya keluar untuk menjemput Naya di rumahnya. Ayahnya ingin Beni lebih dekat dan lebih mengenal Naya lebih jauh, Beni menolak dan terus menolak. Perdebatan antara ayah dan anak berlangsung selama kurang lebih setengah jam tanpa ada satupun yang menurut ataupun mengalah. Hingga bel rumah mereka berbunyi, meski begitu Beni dan ayahnya masih saja melanjutkan perdebatan mereka berdua.


“Hentikanlah, kalian berdua. Lihatlah siapa yang datang,” ucap ibunya membawa gadis manis itu masuk ke dalam rumah. Dengan mengenakan dress yang menutupi hingga ke lututnya dan rambut yang terurai yang panjangnya melebihi bahunya, Naya tersenyum menatap dua orang pria yang sedang berdebat hebat.


“Mengapa kamu harus datang sekarang?!” Seru Beni kesal. Ia tak pernah menyangka kalau Naya akan datang ke rumahnya di saat ia sedang berdebat hebat dengan ayahnya, kini tak ada lagi alasan baginya untuk menolak pergi dengan Naya di saat gadis itu ada di rumahnya. Meski Beni kesal dengannya, tetapi Naya seperti tak memperdulikannya, ia hanya tersenyum seperti apa yang selalu dilakukannya.


“tak ada lagi alasan bagimu untuk menghindar, pergi ganti baju dan ajak Naya pergi, jangan membuatnya menunggumu terlalu lama!” Seru ayahnya memerintahkan Beni untuk segera bergegas, ia keras pada Beni, tetapi sngat lembut dengan Naya.


“Duduk diam dan jangan melakukan apapun sampai aku turun, jangan lakukan apapun, hanya duduk dan diamlah, jangan tersenyum, aku benci senyumanmu!” Seru Beni mengacungkan telunjuknya pada Naya karena kesal dengan kedatangannya secara tiba tiba dan senyumannya yang selalu membuatnya jengkel. Segera Naya duduk seperti apa yang diucapkan Beni, ia pun berhenti tersenyum dan hanya duduk diam. Beni naik ke kamarnya dan segera bersiap, ia melangkahkan kakinya dengan kasar menaiki anak tangga lalu membanting pintu kamarnya dengan cukup keras.

__ADS_1


Braakk!!


“Dasar anak itu, merepotkan sekali,” ucap sang ayah sambil menepuk pelan jidatnya merasakan anaknya yang bertindak seperti anak kecil di hadapan gadis manis seperti Naya.


Layaknya sebuah perintah yang harus di taati, Naya tak tersenyum sama sekali setelah Beni memerintahkan dirinya untuk duduk diam tanpa melakukan apapun, meski kedua orang tua melontarkan pertanyaan padanya, Naya hanya menjawab seperlunya saja dengan sikap kakunya tanpa senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, sungguh amat kebingungan ayah Beni melihatnya, “ternyata benar kata Beni, dia gadis yang sedikit aneh. Bisa bisanya gadis ini menuruti ucapan anak bodoh itu,” batin sang ayah dalam hati.


Beni turun dari kamarnya dengan pakaian seadanya dan tanpa menata diri seperti saat ia pergi dengan Bianca atau teman teman lainnya, segera ia menarik tangan Naya tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya. Beni menjalankan mobilnya dan membawa Naya kemanapun ia mau, meski tubuhnya bersama Naya, tetapi hati dan pikirannya melayang memikirkan Bianca yang sangat ia rindukan. Bermain, berbelanja dan melakukan segala hal berdua layaknya pasangan kekasih sungguhan.


Menyadari ucapan Naya padanya, Beni mulai terlihat luluh dan sikap dinginnya perlahan memudar, ia melirik kea rah Naya yang masih saja memandanginya dengan senyumannya. Namun kali ini terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya, ia tersenyum menahan kekecewaan dalam hatinya, “sebelum pulang, mau ikut ke kafe?” Tanya Beni yang mulai meresponi Naya. Gadis itu menganggung senang karena Beni mengajaknya terlebih dahulu, kini senyumannya telah kembali seperti sebelumnya.


“Setidaknya ia bisa ceria seperti biasanya,” gumam Beni dalam hatinya. Ia memilih untuk sedikit berbaik hati pada Naya yang tak memiliki kesalahan apapun padanya. Di tengah suasana kafe yang cukup ramai, hanya ada satu meja yang kosong sejauh mata memandang, Beni menuju meja itu dan diikuti Naya di belakangnya. Keheningan kembali melanda mereka berdua, meski suasana sangat ramai, tetapi terasa sangat sepi bagi Beni.

__ADS_1


“Jadi, apa yang kamu suka dan yang tak kamu suka?” Tanya naya mengawali percakapan mereka berdua, meski Beni sedikit berbaik hati pada Naya, tetapi bukan berarti Beni akan menghiraukannya semua tingkah lakunya. Pria itu hanya diam mematung seakan tak mendengar apapun keluar dari mulut Naya, “jangan mencari tahu apapun tentangku, jangan tertarik padaku, jangan pernah mencoba mendekatiku lebih dari teman, aku tak menyukainya!” Seru Beni memperingatkan Naya sebelum ia melewati batasannya yang pernah berkata ingin berteman dengannya.


Gadis itu kembali murung setelah mendengar ucapan Beni yang cukup pedas di telinganya, sesekali ia menatap Beni dengan sedikit ketakutan di matanya, keinginannya hanya satu, Beni bisa lembut padanya, Namun meski semua yang telah ia lakukan untuk Beni bahkan sampai mengundur pernikahan mereka karena melihat Beni sungguh tertekan karena pernikahan ini, Beni masih saja tak bisa merubah sikap dinginnya pada Naya. “Aku memiliki kekasih, aku tak bermaksud menyakitimu. Namun, pernikahan ini, aku tak bisa melakukannya bersamamu, Naya” ucap Beni tiba tiba yang sontak membuat Naya semakin sakit rasanya, ia perlahan memegangi dadanya dan menahan air matanya keluar setelah mendengar pernyataan Beni padanya.


“Tak biskah kamu merelakan semuanya terjadi? Berikan kesempatan untukku masuk dan memuatmu merasakanku, jangan abaikan aku seperti ini,” pinta Naya mencoba untuk menggapai Beni dengan caranya. Segalanya telah salah, seharusnya Beni menolak saat Naya memintanya menjadi temannya, karena tak ada yang geratis di dunia ini, termasuk tawaran pertemanan dari Naya.


Gadis itu berusaha kembali memegang tangan Beni, meski hatinya sakit, tetapi ia masih bisa tersenyum pada Beni, “Bisakah aku menggunakan sisa waktuku untuk dekat denganmu? Ku mohon jangan tolak aku, aku berjanji ketika waktu pernikahan kita semakin dekat dan kamu tetap tak merasakan apapun, aku yang akan meninggalkanmu. Namun sebelum itu, tetaplah disisiku,” pinta Naya dengan meloloskan air matanya mengalir dari ujung matanya.


Ting!!


Lonceng yang terpasang di atas pintu berbunyi, sambil bercanda gurau, Bianca masuk bersama Denis yang menemaninya malam itu. Namun, seketika senyumannya hilang ketika melihat seorang pria yang sangat ia kenal sedang duduk bersama wanita lain sambil berpegangan tangan, pria yang saat itu mengajaknya berbicara serius bahkan mengajaknya menikah, kini berada di sebuah kafe bersama seorang wanita sambil berpegangan tangan. Bianca hanya terdiam dan mematung lalu pergi keluar dari kafe dan meninggalkan Denis begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2