
Dari dalam kamar seorang wnaita yang tertata sangat rapi, ada Bianca yang sedang duduk sambil membaca novel favoritnya ditemani dengan ponsel yang berada di sampingnya ia terus membaca novel itu halaman demi halaman. Hingga satu titik dimana ia mulai bosan.
“Mengapa otakku terasa menguap? Sepertinya aku membutuhkan kopi malam ini. Namun bagaimana jika aku tak bisa tidur? Masa bodoh dengan itu!”, ucap Biacna bergumul dengan dirinya sendiri. Sejak dahulu Bianca selalu suka membeli kopi di sebuah kedai kopi dekat rumah sakit yang berjarak hanya lima belas menit dari rumahnya . Bersama sepeda motor yang dikendarainya, ia keluar hanya untuk membeli kopi bagi dirinya sendiri.
Akan tetapi sebuah kejadian yang tak seharusnya ia lihat malam itu, tanpa sengaja ia menyaksikannya. Keraguan dalam hatinya selama ini benar adanya, malam itu dengan wajah yang terkejut Bianca mendekati toko milik Yuki dan melihat seorang pria yang sangat ia kenal sedang memeluknya, ah tidak, mereka bahkan berciuman. Bianca hanya bisa berdiri sambil menyaksikan sebuah pengkhianatan kekasih sahabatnya bersama wanita lain, secara perlahan ia mengambil ponsel dari sakunya dan memotret beberapa kali aksi panas dari Billy, untuk ia jadikan bukti pada sahabatnya.
“Bajingan!! Aku sudah menduga jika dia berselingkuh. Disaat Airin dalam keadan buruk dia malah bermain gila dibelakangnya!”, geramnya sambil mengumpati Billy yang terus saja menikmati tiap ******* yang ia berikan pada wanita itu.
Ingin rasanya Bianca melabrak Billy dan menghajar wajahnya itu namun ia menahan dirinya, kemarahannya yang mulai memuncak ia mulai mengepalkan kedua tanganya erat erat dan menatap mereka berdua yang berbuat mesum baginya dengan kebencian yang sangat mendalam. Bianca meninggalkan toko milik wanita itu dengan segera karena jka tak ia lakukan mungkin dirinya akan kehilangan akal sehatnya lalu mengamuk dihadapan Billy.
“Bajingan itu, mati saja dia. Beraninya mempermainkan Airin yang sangat mencintainya”, umpatnya sekali lagi sambil mengendarai motor miliknya menuju kedai kopi sepeti tujuan awalnya. Perasaan kesal masih menyelimuti dirinya kala itu hingga ia tak menyadari seorang pria tengah duduk dihadapannya melihatnya melamun.
__ADS_1
“Sangat melegakan jika duduk disamping jendela sambil melamun ditemani segelas kopi”, ucapnya yang pada akhirnya membubarkan lamunan Bianca, ia menatap pria dihadapannya sambil mengernyit memanggil namanya.
“Pak Beni?”, panggil Bianca dengan sedikit terkejut ia bertemu dengan atasannya di sebuah kedai kopi ini.
“Apa yang kamu lamunkan sendiri disini?”, tanya Beni sambil menyeruput secangkir kopi dalam genggamannya.
Suasana kedai kopi yang kala itu tak terlalu ramai oleh pengunjung membuat mereka cukup nyama dalam duduk berdua dan saling berbicara bersama. Biacan hanya tersenyum masam sambil sedikit menundukkan kepalanya lalu menggeleng kecil, ia memainkan secangkir kopi dihadapannya serta mengingat ingat kembali apa yang ia lihat di sebuah toko bunga.
“Tak ada, melamun seorang diri sungguh sangat menyenangkan bukan?”, balas Bianca pada Beni. Tak ada yang mengetahui jika keduanya tampak akrab diluar jam kerja, beberapa kali Beni sering menemani Bianca pergi kesuatu tempat begitu pula dengan sebaliknya. Namun sayangnya kedekatan mereka berdua harus segera berakhir karena Beni akan segera menikah dengan wanita pilihan orang tuanya.
“Hentikan semua omong kosong ini. Pergilah dari haadapanku atau aku yang pergi dari sini”, seru Bianca pada Beni dengan menatapnya tajam. Beni terdiam dan tak bisa mengatakan apapun lagi, sudah sangat jelas itu bukanlah kesalahannya namun apa daya? Dia tak bisa melawan kehendak kedua orang tuanya. Suasana yang semua tenang dan nyaman berubah menjadi cukup tegang dan memanas karena pertengkaran mereka berdua. Kedua insan yang saling menyukai namun pada akhirnya harus berakhir tanpa sebuah hubungan yang jelas, membuat sebuah luka didalam hati Bianca yang mengharapkan Beni tak main main dengannya.
__ADS_1
“Kamu tahu betul siapa wanita yang ku inginkan Bi, bukan dia tapi kamu!”, seru Beni mencoba mendekat pada Bianca namun Bianca melangkah mundur , memberikan jarak antara mereka berdua. Keduanya nampak tersakiti dengan jalan yang mereka pilih, kedua orang tua Beni tak setuju sejak pertama kali Beni membawa Bianca datang kerumahnya, segera mereka menjodohkan Beni dengan wanita pilihan mereka yang dirasa lebih baik dan lebih pantas dari pada Bianca. Wanita mana yang tak sakit hati saat mengeahui pria yang dicintainya harus menikah dengan wanita lain? Namun ini juga ta mudah bagi Beni ketika harus selalu berpura pura tak memiliki perasaan apapun pada Bianca dan harus terus mengikuti ucapan kedua orang tuanya.
“Pergilah, kamu sendiri tahu kalau hubungan kita takkan berhasil bukan?”, balas Bianca lalu pergi begitu saja setelah mereka sedikit berdebat dengan hubungan mereka. Hatinya sungguh sangat terluka, di balik dirinya yang sangat suka sekali tersenyum dan selalu meengagumi seluruh pria tampan yang ia temui namun hatinya hanya terukir nama Beni seorang, namun pria yang berhasil menguasai hatinya nyatanya pria yang menyakitinya meski ia tahu itu semua bukan sepenuhnya kesalahannya. Bianca melangkahkan kakinya keluar dari kedai kopi itu dam pulang kerumahnya.
Bersamaan dengan sinar matahari pagi yang masuk menembus jendela kamarnya, Bianca terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak itu. Bagaimana ia bisa tidur dengan nyenyak jika semalam ia melihat kekasih sahabatnya bercumbu dengan wanita lain dan jga ia kembali berdebat dengan Beni tentang masalah yang sama. Sungguh hari ini ia malas untuk bekerja, ia tak ingin menemui siapapun hari ini, membuat dirinya mencari alasan utuk tak masuk kerja.
Bianca memilih untuk menemui sahabatnya karena sudah lama ia tak menjenguk sahabatnya sejak Airin pulang dari rumah sakit satu miggu yang lalu, Bianca membawa sekotak moci strawbery dan juga moci coklat dari ibunya untuk Airin karena Airin sangat menyukai jajanan ini. Bianca menuju ke rumah Airin bukan semata karena dirinya malas bekerja namun krena ada hal lain yang ingin ia katakan pada sahabatnya itu, meski ia tahu pada akhirnya Airin akan menyangkalnya dan lebih mempercayai apa yang ia percaya dari pada apa yang ia lihat namun Bianca tak ingin menyerah, ia ingin Airin tahu sebuah kebenaran dari kekasihnya yang telah selingkuh dibelakangnya.
Baru saja Bianca sampai didepan rumah Airin, ia melihat pria yang sama ketika sedang bercumbu dengan wanita lain keluar dari rumah Airin, tatapan matanya yang menunjukkan bahwa dirinya sangat kesal ia perlihatkan begitu saja pada Billy yang berpapasan dengannya.
“kamu tak kerja hari ini?” tanya Billy dengan baik.
__ADS_1
“Tidak!”, balas Bianca dengan nada kesal. Membuat Billy sedikit bingung dengan tingkah Bianca yang tak biasa padanya.
“Kamu, jangan pernah berpikiran untuk selingkuh dibelakang Airin. Aku takkan tinggal diam jika kamu menyakitinya!” seru Bianca pada Billy yang telah berjalan beberapa langkah dibelakangnya.