
Sudah hampir satu minggu sejak perang dingin di antara Airin dan Billy yang terjadi beberapa hari lalu, terasa kekosongan dalam hati Airin kala itu, hampir setiap hari ia menerka nerka hal buruk pada Billy. Jangan jangan ia menemui wanita itu, jangan jangan wanita itu menggodanya, jangan jangan Billy berpaling ke lain hati, semua pemikiran buruk itu selalu menghantui Airin pagi dan malam, semakin lama ia semakin khawatir pada hubungannya dengan Billy. Terlihat sedari tadi gadis itu hanya mondar mandir ke sana ke mari di dalam kamarnya seperti hendak memutuskan sesuatu, tiba tiba ponselnya bergetar.
DDRRRTTT
DDRRRTTT
Sontak Airin mengambil ponsel yang ada di atas Kasur, wajahnya yang sedari tadi terlihat khawatir berubah menjadi sebuah senyuman, sang pujaan hati pada akhirnya menghubunginya, perasaannya sungguh berbunga ketika nama Billy terlihat pada layar ponselnya.
“Sayang, aku merindukanmu,” rengek Airin pada Billy dengan suara yang cukup menggemaskan, rengekan Airin berhasil membuat Billy melunak padanya.
“Kami baik baik saja selama ini?” Tanya Billy setelah ia mendengar Airin yang merengek padanya seperti biasanya. Mendengar suara Billy yang lembut membuat Airin merasa bahwa kekasihnya sudah tak lagi marah padanya, “hmm, aku baik baik saja selama ini. Bagaimana denganmu? Kamu baik baik saja saat jauh dariku? Kamu tak melampiaskan pertengkaran kita pada hal lain di belakangku bukan?” Balas Airin yang sedikit kesal pada kekasihnya karena hampir satu minggu Billy sama sekali tak menghubunginya, ia mengerutkan keningnya sambil menyilangkaan kedua tangannya menjadi satu dan bertanya dengan curiga.
“Apa? Mengapa aku? Aku tak melakukan apapun,” Balas Billy pada kekasihnya. “Bagaimana denganmu? Apa kamu diam diam menemui Denis tanpa sepengetahuanku?” Sambungnya kembali dengan nada sedikit curiga pada kekasihnya itu.
__ADS_1
“Sudahlah, jangan membahas yang lain di saat kita sedang membahas masalah kita. Aku sudah tak tahan tak bertemu denganmu selama hampir satu minggu. Besok luangkan waktumu da temui aku, aku sungguh sangat tersiksa dengan perasaan ini!” Seru Airin yang sudah benar benar tak tahan dengan perasaan rindunya pada Billy. Satu hal yang membuat Billy sangat menyukai Airin sejak awal adalah sikap frontal gadis itu yang selalu bersemangat dan bergairah pada hubungan mereka hingga hari ini.
“Pftt!!” Billy menahan tawanya saat ia mendengar ucapan Airin yang selalu terus terang padapnya, “baiklah, aku akan mengosongkan jadwalku dan menemanimu kemanapun kamu mau, habiskan saja semua uangku dalam semalam kalau kamu mampu, Sayang,” balas Billy menikmati perbincangannya dengan Airin setelah sekian lama mereka tak mendengar suara satu sama lain. Sepanjang malam mereka berdua berbincang dan bercanda tanpa menghiraukan bahwa waktu sudah cukup malam bahkan hampir larut malam.
“Sudah sangat malam, Airin. Jangan lupa minum obatmu dan beristirahatlah, besok ku jemput jam sepuluh pagi, good nite, Sayang. I love you,” ucapnya mengakhiri percakapannya malam itu. Airin meletakkan ponselnya tepat di sampingnya sambil terus saja tersenyum mengingat perasaan senangnya, seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta rasanya.
“Ah! Sadarlah Airin, kamu terlalu tua untuk menjadi seperti ini!” Seru Airin sambil memegangi kedua pipinya dari perasaan bahagia yang memenuhi hatinya malam itu. Namun, sesaat ia kembali berpikir, “Benarkah Billy tak menemui wanita itu? Aku sungguh tak percaya dengan ucapannya. Wanita itu sungguh membuatku penasaran akan siapa dirinya dan bagaimana bisa Billy sampai terpikat oleh dirinya,” ucap Airin dengan penasaran akan gadis bernama Yuki yang menjadi simpanan Billy hingga saat ini.
Keesokan harinya, Airin tengah bersiap untuk kencannya dengan Billy yang bisa menjadi akan seharian penuh mereka bersama. Billy menjemputnya jam sepuluh, tetapi Airin telah bersiap mulai dari jam tujuh pagi, ia mempersiapkan dirinya dengan sangat baik hingga taka da satupun kesalahan, dimulai dari rammbut, wajah, pakaian hingga aksesoris yang akan ia kenakan. Airin memolos wajahnya hingga ia terlihat sangat cantik dan berkilau, kamarnya cukup berantakan dengan semua baju baju yang hendak ia pilih, bahkan hampir satu lemari sengaja ia bongkar untuk menemukan pakaian yang cocok untuk kencan mereka setelah perang dingin yang mereka berdua lalui.
Hingga pilihannya jatuh pada dress hitam yang membuatnya terlihat mempesona, “apakah ini sudah cukup? Ku rasa sudah,” ucapnya dengan kembali menatap pada cermin yang memantulkan gambar dirinya. Ia kembali melihat penampilannya dan berputar putar untuk memastikan semuanya sempurna untuk kencan kali ini.
__ADS_1
TIIN
TIIN
Suara klakson mobil Billy berbunyi, menandakan ia telah sampai di rumah Airin. Segera ia masuk ke dalam seperti biasanya, kedatangannya di sambut oleh ibu Airin dengan pelukannya yang selalu ia berikan pada Billy tiap kali ia berkunjung ke rumah, “semakin hari kamu semakin tampan, Billy. Duduklah, Airin masih di kamarnya, dia bersiap mulai jam tujuh, tetapi hingga jam sepuluh belum juga anak itu selesai merias dirinya,” ucap ibunya menatap pada kamar Airin yang berada di lantai atas.
Billy hanya tersenyum, ditangannya terdapat papper bag yang berisikan cake buatan ibunya untuk Airin dan keluarganya, Billy menyodorkan papper bagi tersebut pada ibu Airin yang akan menjadi ibu mertuanya dengan sopan, “mama menitipkan ini padaku, Tante,” ucap Billy memberikannya dengan sopan pada ibu Airin, “apakah ini cake buatan mamamu, Billy? Tante sangat menyukainya. Sampaikan terimakasih Tante pada ibumu ya, Nak,” balas Ibu Airin ketika ia mendapatkan sekotak cake bikinan Ibu Billy yang terasa sangat nikmat sekali.
Dari bawah mereka mendengar suara Airin keluar dari kamarnya, penampilannya yang sangat cantik dan memukai membuat Billy menatapnya tanpa berkedip sekalipun, gadis cantik itu menuruni anak tangga dengan senyuman yang terpasang di wajahnya, rambut hitamnya yang terurai dengan tubuh mungilnya, Airin berjalan mendekat menghampiri Billy yang berdiri terpanah menatapnya sedari tadi.
“Apa yang kamu bawa?” Tanya Airin ketika ia melihat ibunya membawa sekantung papper bag dalam genggamannya, “ cake dari mama. Sudah siap? Ayo berangkat,” ajak Billy yang telah siap menggenggam tangan Airin. Namun gadis itu menahan langkahnya dengan mata yang masih tertuju pada papper bag yang ada pada genggaman ibunya.
“Aku ingin mencobanya, berikan aku sepotong,” pinta Airin pada ibunya yang mencoba menyembunyikan cake itu dari pandangan Airin. Pasalnya mereka berdua sungguh menyukai cake buatan Ibu Billy yang terasa sangat enak. “Pergilah, akan mama sisakan untuku, Airin,” usir Ibunya pada Airin dengan terus menyembunyikan cake itu dari pandangannya lalu mengibaskan kibaskan tangannya
__ADS_1
Billy hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kekasihnya dan calon ibu mertuanya yang berebut sebuah cake, dengan cepat ia menyambar tangan Airin dan menariknya perlahan, “sudahlah, kamu bisa memakannya nanti dengan puas, kita harus berangkat, Airin,” ucap Billy yang masih berusaha menarik Airin yang terus saja menatap pada papper bag berisikan cake kesukaannya.
“Aku memilikinya di mobil, makanlah sepuasmu,” seru Billy pada Airin. Billy menarik Airin dengan sedikit keras sambil merangkulnya atau mereka akan berebut cake seperti yang telah lalu.