
Sebuah rumah sakit yang tak terlalu ramai, Billy menemani ibunya mengambil obat untuk persendiannya yang mulai mengapur. Namun keadaab seperti berpihak padanya, ia melihat Airin duduk di kursi roda dan berjalan bersma ibunya memasuki sebuah lorong. Beberapa kali ia sempat ragu itu adalah Airin namun bentuk tubuh dan wajahnya sekilas mirip dengan Airin, hatinya sangat yakin bahwa itu adalah kekasihnya.
“Mama, masuklah kedalam mobil terlebih dahulu, ada yang harus Billy lihat”, ucapnya seraya memberikan kunci mobil pada ibunya. Biily mengejar Airin yang pergi memasuki lorong rumah sakit itu namun tak menemukannya, hampir seluruh lorong ia telusuri namun ia tak menemukan Airin dimanapun. Hingga akhirnya matanya tertuju pada satu titik, Billy mendekatinya untuk memastikan bahwa itu adalah Airin dan benar saja, ia adalah kekasihnya namu tak seperti Airin yang biasanya, ia terlihat pucat dan sangat kurus, bahkan rambutnya lebih tipis dari sebelumnya.
“Ada apa denganmu sayang?” lirihnya sambil menutupi mulutnya. Segera ia merogoh ponsel pada saku celananya dan mencoba menghubungi Airin.
Dari kursi roda, Airin merasakan ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Billy rupanya, ia sadar bahwa cukup lama ia menghindari kekasihnya itu, Airin memutuskan untuk merespon panggilannya.
“Hai sayang, ada apa? Maaf aku jarang menanggapi panggilan dan juga pesanmu. Aku sangaat sibuk akhir akhir ini”, respon Airin dengan ceria seperti biasanya.
Apa yang dilihat Billy dan apa yang ia dengar sungguh jauh berbeda, ia tahu bahwa Airin memaksakan segalanya dan tak ingin ia mengetahuinya.
“Diama kamu? Tak tahukah kamu bahwa aku sangat merindukanmu? Sejak kencan kita, kamu semakin sulit untuk dihubungi sayang”, balas Biily yang masih memperhatikan Airin dari jauh.
“Aku? Aku sedang bersama teman temaanku. Bianca juga ada bersamaku, ada apa menghubungiku?”, jawab Airin.
__ADS_1
Seolah kakinya berjalan sendiri, Billy datang mendekati Airin yang sedang berada di kursi rodan dan menahan tangisnya, semakin dekat ia melihat kesakitan yang dipendam oleh kekasihnya seorang diri.
“Diama teman temanmu?”, tanya Billy pada Airi yang saat ini telah berada di hadapannya. Billy berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Airin yang duduk di kursi roda, air matanya mengalir membasahi pipinya kala itu melihat kekasihnya saat ini lemah tak berdaya dan parahnya lagi, ia tak mengetahuinya sama sekali.
“Ada apa denganmu? Mengaapa menyembunyikannya selama ini sayang?”, tanya Billy menatap mata Airin, kini ia tak bisa membendung kesedihan dalam hatinya, ia merasa menjadi pria yang tak baik untuk kekasihnya.
“Apakah aku seburuk itu hingga kamu tak mengatakannya padaku tentang kondisimu saat ini?”, tanya Billy lagi.
Airin menyingkapkan tangannya pada wajah Billy, ia tak tahan dengan Billy yang menangis dihadapannya karena ketidak jujurannya.
“Tidak seperti itu, semuanya tak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya tak ingin mengatakannya padaku, aku ingin kamu hanya mengetahui aku yang sehat dan ceria, aku yang perhatian padamu dan selalu tersenyum setiap harinya. Bukan sosok diriku yang seperti ini, sakit sakitan bahkan buruk rupa, kurus juga tak terawat”, balas Airin pada Billy dihadapannya.
“Satu bulan yang lalu dan iya, aku tak mengijinkanmu mengetahuinya”, balas Airin lembut.
Billy memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya pada pangkuan Airin yang berada di kursi roda, ia sungguh tak menduga hal ini terjadi pada kekasihnya itu. Dimulai dari hari itu, Billy selalu menemani Airin dan meluangkan waktunya untuk Airin, terkadang ia juga ikut menjaga Airin ketika malam hari. Cintanya pada Airin sangat besar, ia bahkan merelakan dirinya yang kelelahan untuk melihat Airin tersenyum bertemu dengannya, karena ia tahu bahwa Airin lebih penting dari dirinya.
__ADS_1
Sore itu, setelah Billy pulang bekerja, ia menginap di rumah sakit dan memaksa ibu Airin untuk pulang kerumah dan bergantian dengannya. Airin terpaksa harus rawat inap karena kondisinya yang tak baik baik saja, keadaannya tak jauh berbeda dari pasien penderita kanker darah pada umumnya namun kali ini Airin sedikit lebih buruk dan membuatnya harus menjalani rawat inap dirumah sakit.
“Pulanglah, Bianca mengatakan bahwa ia akan mejagaku malam ini karena esok adalah hari liburnya. Beristirhatlah, aku tahu kamu lelah”, ucap Airin yangs edikit khawatir dengan kesehatan kekasihnya itu. Billy menggeleng dan meletakkan telapak tangan Airin pada wajahnya.
“Tenanglah, aku baik baik saja. Lagi pula fasilitas disini sangat nyaman, jika aku lelah aku bisa berbaring diranjang itu. Apakah kamu menyukain Bianca yang menemanimu dari pada kekasihmu sendiri? Yang benar saja” gerutunya kesal. Airin sedikit bisa tertawa karena sikap Billy itu
“Tahukah kamu tak ada yang berubaah dari dirimu Airin, kamu tetap cantik dengan senyumn itu. Rontoknya rambutmu atau menurunnya berat badanmu tak akan mampu menutupi kecantikanmu yag sudah ada sejak semula. Jangan lagi berkecil hati dan malu dihadapanku hanya karena kamu merasa tak pantas sayang. Aku sangat mencintaimu”,ucap Billy lembut pada Airin, yang berhasil membuat wanita itu luluh. Tak hanya tampan, Billy seperti paket lengkap dan kekasih idaman seluruh wanita, Airin selalu mengatakan bahawa ia sangat beruntung karena dapat mengencani pria tampan dan baik hati seperti Billy. Pria yanga hanya memandang satu wanita saja meski banyak wanita lain yang jauh lebih cantik dan menggoda daripada Airin.
“Mengapa aku yang seperti ini masih saja kamu pertahakan?”, tanya Airin pada Billy.
Kini Billy merubah posisinya menjadi berbaring disamping ranjang Airin yang cukup besar dan muat untuk mereka berdua.
“Kit bersama sudah hampir lima tahun bukan? Hanya karena kamu sakit dan tubuhmu berubah lantas aku meninggalkanmu begitu saja? Itu artinya sejak awal aku hanya menginginkan tubuhmu saja. Aku mencintaimu apa adanya dirimu dan kita sudah sepakat untuk menikah bukan? Maka mari kita lakukan itu”, balas Billy yang kembali mampu membuat Airin tersenyum senang, setiap hari ia selalu memiliki alasan untuk sembuh dan menjadikan keadaannya lebih baik dari hari sebelumnya, salah satunya adalah karena Billy, keinginannya untuk menikah dengan Billy sangat kuat dalam hatinya dan niatan untuk sembuh dari penyakitnya juga semakin bertambah.
“Aku akan sembuh, tunggulah sampai saat itu tiba. Jangan menatap wanita lain yang jauh lebih muda atau lebih baik dari ku, ingat!!. Kamu milikku dan hanya milikku” seru Airin sambil menunjuk ke arah Billy memperingatkannya
__ADS_1
Malam itu mereka tidur sambil berpelukan satu sama lain di ranjang yang sama. Cinta mereka semakin lama semakin kuat dan teruji, seperti tak ada satupun yang dapat memisahkan mereka meski sakit penyakit sekalipun. Namun benarkah cinta mereka dapat bertahan? Disaat kekasihnya sedang terbaring lemah di rumah sakit, mampukah Billy bertahan dengan semua itu?.
“Aku merindukanmu yang dahulu Airin”, gumamnya dalam hati sambil mengecup lembut kening Airi yang tertidur disampingnya.