
Pagi hari kembali datang, bersamaan dengan alarm pagi yang selalu ia hidupkan Airi bangun dari tidurnya. Ia merasakan pegal di sekujur tubuhnya karena pulang cukup larut semalam namun hal itu tak menghalanginya untuk bangun dari tempat tidur untuk bersiap. Sebuah pemberitahuan masuk ke dalam ponselnya, pesan singkat dari Billy pagi itu menjadikan senyuman yang berhasil menghiasi wajah Airin di pagi hari.
Billy : [ Morning prinsess. Bangun dan bersiaplah, jam sembilan aku akan menjemputmu. Love you]
Namun senyuman itu tak bertahan lama, selang beberapa menit setelah Billy mengiriminya pesan, pihak rumah sakit menghubunginya. Mereka memberikan jadwal kontrol untuk Airin, satu minggu tiga kali. Mata Airin terbelak melihat jadwal yang sungguh padat itu, meski hanya tiga kali namun waktunya cukup lama
“Haruskah selama ini? Bagaimana dengan kehidupanku? Bagaimana dengan pekerjaanku?”, gerutunya
Keputusan mengambil cuti untuk berkencan dengan Billy rupanya pilihan yang tepat, karena sebentar lagi ia akan kesulitan mengatur waktu dengan kekasihnya itu, bahkan sulit untuk bertemu.
Airin mengesampingkan tentang penyakitnya dan jadwalnya, yang ia inginkan hanyalah bersama Billy, menghabiskan waktu berdua dengannya. Bersama Billy, senyuman tak pernah luntur dari wajah Airin. Bergandengan tangan menyusuri pesisir pantai yang tak banyak pengunjung pagi itu, menikmati desiran ombak yang sangat merdu didengar bahkan senda gurau selalu menghiasi sela sela perjalanan mereka.
Sebuah perahu motor telah siap berukuran cukup besar telah siap, Billy sengaja menyewanya untuk mengajak Airin pergi sedikit ketengah laut untuk memancing seperti apa yang ia inginkan. Segala peralatan dan perlengkapan telah siap, Billy mengendarai perahu motor itu dan disampingnya ada perahu motor lain yang siap mengarahkan mereka berdua.
“Sepertinya ini cukup. Mari kita memancing disini”, ucap Billy, mengambil alat pancing mereka lalu duduk dan menunggu ikan datang memakan umpan. Suasana yang cukup sunyi namun mereka berdua sangat menikmatinya.
“Hah.. sepertinya memancing seperti ini kurang menyenangkan, bagaimana jika kita bertanding?”, ajak Billy dengan tatapan yang tak seperti biasanya.
“Bertanding? Bertanding seperti apa?”. Tanya Airin bingung
“Siapa yang mendapatkan ikan paling banyak, ia boleh meminta apapun dari yang kalah. Bagaimana?”, ucap Billy megatakan idenya. Airin mengangguk setuju, ia tak memikirkan hal lain selain mencoba menangkap ikan sebanyak banyaknya.
Beberapa jam berlalu, Airin berhasil mendapatkan lima ekor ikan berukuran besar dan empat ekor ikan berukuran kecil sedangkan Billy berhasil mengumpulkan enam ekor ika berukuran besar dan satu ember ikan berukuran kecil, yang berarti Airin kalah darinya.
“Sepertinya untuk pertandingan kali ini aku yang menang. Ah.. Kira kira apa yang akan ku minta sebaiknya?”, ucapnya sambil memutar bola matanya memikirkan permintaan yang terbaik.
“Akan ku simpan untuk nanti, bersiaplah memberikan apa yang ku minta Rin”, ucap Billy dengan nada sedikit menggoda Airin.
Airin hanya terdiam dan tak mengatakan apapun, ia pasrah dengan apapun keinginan Billy nantinya. Hari semakin malam, Billy dan Airin telah melakukan segalanya di hari ini, bersama dengan api unggun yang menyala, hal terakhir yang mereka lakukan adalah emmbakar ikan hsil tangkapan mereka bersama sambil memandang indahnya mata hari terbenam bersama.
__ADS_1
“Ini adalah kencan terbaik bagiku. Terimakasih sudah mengabulkannya, maaf aku merepotkanmu dua hari ini Billy”, ucap Airin sambil menatap matahari senja dengan lembut. Billy menatap Airin, lagi lagi ia terpesona melihat Airin dengan cantiknya tersenyum menatap matahari senja.
“Rin, sepertinya aku telah mengetahui apa yang ku inginkan”, ucap Billy tiba tiba pada Airin yang menoleh padanya
“Apa?”, tanya Airin
“Mendekatlah”, balas Billy, Airin perlahan mendekat. Billy dengan cepat menangkap wajah Airin dan mengecup bibir Airin lembut, kecupan mesrah itu terasa sangat hangat dengan suasana senja yang menambah keromantisan sore menjelang malam itu, perlahan Billy mendalami kecupannya menjadi sedikit ganas.
Keduanya melepaskan pautannya satu sama lain, mereka saling bertatap dan menyatukan kening merekaa berdua.
“Apapun yang terjadi, kumohon jangan tinggalkan aku”, ucap Airin pada Billy sambil menutup matanya menikmati detik detik terakhir mereka di hari ini.
“Takkan pernah”, balas Billy
Hari berganti, Airin memulai pengobatannya, ia bahkan cuti selama satu bulan dari kantor dengan alasan untuk menjalankan pengobatan di luar kota meski nyatanya tidak. Wajahnya yang semakin pucat tanpa polesan apapun membuat Airin sangat sedih, ia bersiap dan menyisir rambutnya, namun rambut yang menjadi mahkotanya mulai rontok dan terjaduh dari kepalanya, tak sedikit dari mereka yang jatuh kelantai. Airin melihat banyaknya rambut rontok yang berada di tangannya sambil menangis
“Ah tidak.. Darah ini keluar”, ucapnya seraya mengambil tisu dan membersihkan hidungnya dari darah yang terus saja keluar.
Sang ibu melihat Airin yang memegangi hidungnya yang berdarah dan juga rambut yang berjatuhan membuat hatinya sakit namun ketika ia melihat Airin yang hanya tersenyum seperti tak merasakan apapun, sang ibu menahan tangisnya dan mendekati Airin.
“Mama, tunggu sebentar, hidug Airin berdarah lagi”, ucapnya sambil tersenyum.
Sungguh bukan hal mudah bagi Airin melewati semua ini, namun ia telah bertekat untuk berjalan dan berusaha menyembuhkan penyakit meski itu akan membuat tubuhnya terasa sakit. Bagi Airin, kehidupannya adalah taruhannya.
Airin mulai menjalani terapi di rumah sakit, bersama kedua orang tuanya yang selalu menemaninya Airin merasa kuat dan mampu menjalani terapi ini.
“Aku akan berjuang sebaik mungkin untuk sembuh, tunggulah aku semuanya”, gumamnya dalam hati lalu memasuki ruang kemoterapi.
Sama seperti waktu berikutnya, Airin kembali menjalani terapi dan pengobatan di rumah sakit, tanpa satupun yang tahu tentang dirinya, ia membatasi diri dan tak menggunakan ponselnya selama hampir satu minggu, ia sudah menduga bahwa Billy akan khawatir dan terus menghubunginya namun untuk saat ini Airin tak bisa merespon panggilan atau pesan dari Billy atau ia akan merasa lemah.
__ADS_1
Ponselnya terus saja berdering entah di rumah atau di rumah sakit, kebanyakan adalah dari Billy. Meski begitu tak ada satupun panggilan atau pesan yang ia respon.
“Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini”, gumamnya dalam hati sambil melihat penampilannya di cermin yang sudah tak secantik dahulu lagi, rambutnya sudah mulai habis, tubuhnya semakin lama semakin kurus kering akibat bahan kimia yang dimasukkan paksa ke dalam tubuhnya untuk emmbunuh sel kanker yang bersemayam didalanya. Hampir setiap hari Airin merasakan tubuhnya sakit, mual dan muntah bahkan mimisan adalah makanan sehari hari Airin.
Disisi lain, Billy yang sudah tak lagi bisa menahan dirinya mencoba mencari keberadaan Airin, ia mendatangi kantor tempat Airin bekerja namun ia tak ada di sana. Sebauh fakta mengejutkannya, ia bahkan tak mengetahui bahwa Airin mengajukan cuti selama satu bulan.
“Dimana dia?”, tanya Billy pada Bianca yang ia temui di studio.
“Bi.. Billy”, seru Bianca terkejut dengan kehadiran kekasih dari sahabatnya.
“Dimana Airin? Kumohon katakan padaku”, pintanya. Rasa putus asa seperti telah memenuhinya namun tetap saja, Bianca tak bisa mengatakannya, ia sudah berjanji pada Airin. Meskipun ingin namun ia tetap tak bisa.
“Aku tak tahu, ia bahkan mengabaikanku selama satu minggu ini”, balas Bianca pada Billy lalu melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkan Billy sendiri. Billy menyadari sesuatu yang aneh pada diri Airin sejak ia memintanya meluangkan waktu untuk kencan bersamanya selama dua hari.
Billy mencar di apartemen milik Airin namun ia tak mampu menemukannya, Billy bahkan tak mendapati siapapun didalam sana selain beebrapa barang milik Airin yang masih tertinggal. Kini langkah terakhir, Billy mengunjungi rumah kedua oranag tua Airin.
Tok
Tok
Tok
Ibu Airin terkejut dengan kedatangan Billy malam itu secara tiba tiba.
“Billy, ada apa datang kemari malam malam?”, tanya Ibu Airin mencoba bersikap normal.
“Tante, Airin apakah ada di rumah?”, tanya Billy
“Airin? Bukankah Airin ada di apartemennya? Ia hanya sesekali pulang. Ada apa?”, jawab ibu Airin mencoba menutupi kegugupannya.
__ADS_1
“Billy tak menemukannya dimanapun. Maaf Billy mengganggu malam malam tante”, ucapnya putus asa lalu meninggalkan rumah itu. Terlihat kesedihan dan keputus asaan di wajahnya, Airin bahkan melihat dari jendela kamarnya Billy datang mencarinya. Ingin rasanya ia turun dan memeluk Billy namun penampilannya yang buruk seperti ini, apakah mungkin? pikirnya dalam hati.