
Bersamaan dengan terbitnya matahari, Bianca terbangun dari tidurnya, sinar yang perlahan masuk di sela sela jendela yang tak tertutup dengan sempurna oleh tirai itu mengenai wajah Bianca pagi itu, sepasang matanya perlahan terbuka. Bianca mencoba meregangkan tubuhnya sejenak setelah bangun lalu ia bersiap untuk pergi, hari ini adlah hari liburnya, ia memutuskan untuk menemani sahabatnya itu.
“Mama, Bianca pergi ke rumah sakit dulu yaa ma. Kasihan Airin sendiri, kedua orang tuanya sedang sibuk”, ucapnya sambil mengecup pipi ibunya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.
“Waktunya tepat sekali, bawa ini bersamamu. Pastikan Airin makan masakan mama, ini adalah cup cake kesukaannya”, balas ibu Bianca padanya sambil memberikan tas berisi cup cake itu. Bersama bekal yang ia baca Bianca bergegas pergi menemui sahabatnya di rumah sakit. Keadaan jalan yang cukup ramai pagi hari itu menjadikan jalanan cukup macet, namun hal itu adalah hal biasa bagi kota Surabaya. Sesampainya di rumah sakit Bianca langsung menuju kamar Airin, melihat sahabatnya itu hanya ditemani televisi yang menyala, Bianca duduk disamping Airin sambil mengambilm beberapa buah di meja sampingnya lalu mengupasnya untuk Airin.
“Pagi pagi sudah datang kemari?”, tanya Airin pada sahabatnya yang sibuk memotong buah untuk dirinya.
“Yaa, tak ada yang bisa kulakukan di rumah, lebih baik aku kemari menemanimu. Karena aku tahu sahabatku takkan bisa bertahan tanpaku disisinya”, ucapnya seraya bercanda dengan Airin sambil memberikan potongan buah apel yang telah dikupasnya.
“Dari pada kamu menghabiskan waktumu bersamaku, lebih baik carilah pasangan Bi”, goda Airin pada sahabatnya itu yang telah melajang hampir dua tahun. Bianca tersenyum masam mendengar godaan sahabatnya itu lalu kembali memotong buah apel yang tersisa di tangannya.
“Kamu tahu aku menyukai semua pria tampan didunia, termasuk kekasihmu. Di sangat tampan dan hebat”, ucapnya memuji Billy, kekasih Airin sambil membayangkan sosok pria tampan lainnya yang seperti Billy
Sudah hal biasa bagi Airin mendengar sahabatnya memuji muji kekasihnya yang tampan dan gagah itu, ditambah sikapnya yang pendiam dan cukup dingin membuatnya terlihat sempurna dimata tiap wanita. Airin hanya tersenyum melihat Bianca yang berandai andai mendapatkan seorang kekasih seperti Billy.
“Ya.. Aku sangat bersyukur memilikinya dihidupku, bahkan disaat terburuk dalam hidupku dia masih tetap ada dan setia menemaniku. Entah kebaikan apa yang pernah ku lakukan hingga Tuhan mengirimkanku pria yang sangat baik dan juga sangat luar biasa seperti dirinya” ucap Airin pada Bianca sambil mengingat kembali hari hari yang telah mereka berdua lewati.
Bianca mendadak terdiam melihat sahabatnya itu merasa bahagia dengan hubungannya dan Billy, meski ingin rasanya ia mengatakan apa yang ia lihat kemarin namun Bianca mengurungkan niatnya,. Baginya ini bukan waktu yang tepat dan lagi ia tak yakin siapa wanita itu, bisa jadi dia adalah saudara Billy atau salah satu orang terdekatnya.
__ADS_1
...****************...
Klinting
Suara lonceng yang terpasang di pintu toko Yuki kembali berbunyi, seorang kakek tua memasuki tokonya dan hendak membeli bunga, ia ingin membeli bunga untuk isterinya yang saaat ini sedang berulang tahun, bunga mawar menjadi pilihannya saat itu. Segera Yuki merangkai bunga mawar pesanan kakek itu namun ia tak menemukan selembar plastik untuk membungkusnya.
“Dimana ku letakkan plastik itu?”, tanya Yuki sambil yterus mencari lembaran kertas yang baru saja ia ambil dari belakang. Hingga tatapannya mengarah di rak paling atas, ia meletakkannya disana ketika sedang membersihkan toko. Yuki mencoba mengambil plastik itu namun tubuhnya yang kurang tinggi tak mampu menggapainya. Sampai sebuah tangan membantu Yuki mengambilkan plastik itu, pria bertubuh tinggi itu dengan mudahnya meraih plastik di rak paling atas dan memberikannya pada Yuki.Mata Yuki tertuju pada pria disampingnya, seorang pria yang kembali datang dan selalu berhasil membuatnya berdebar. Tingginya yang tak mencapai bahu dari pria yang berdiri tegap disampingnya membuatnya mampu mengirup aroma khas yang keluar dari tubuhnya.
“Apa ini yang kamu butuhkan?”, tanya Billy pada Yuki yang saat itu menatapnya tertegun bahkan tak berkedip sekalipun. Billy membuyarkan lamunan Yuki yang terus menatapnya dengan mendekatkan wajahnya pada wanita itu.
“Ah.. Iya, ini yang ku butuhkan”, ucapnya lalu kembali ke meja kasir untuk membungkus rangkaian bunga yang telah ia tata rapi.
“Apa kamu tahu, kakek tua itu sungguh sangaat romantis sekali”, ucap Airin pada Billy yang berada di sampingnya.
“Ada apa?”, tanya Billy.
“Dia membeli serangkaian bunga untuk isterinya yang sedang berulang tahun hari ini, sungguh manis bukan perlakuannya? Kalau saja ada seorang pria yang memperlakukanku seperti itu, aku juga pasti akan merasa bahagia”, ucapnya berandai andai.
Yuki membayangkan seorang pria datang bersama bunga di tangannya dan memeluknya. Membayangkannya saja berhasil membuatnya tersenyum namun ia tahu hal itu takkan pernah terjadi, meski pria yang ia harapkan berada di sampingnya saat ini namun apa yang dibayangkan Yuki mungkin takkan pernah menjadi kenyataan.
__ADS_1
“Mengapa tak mencari seorang pria seperti itu saja?”, tanya Billy lagi.
“Aku sudah bertemu dengan pria itu, namun aku tak yakin apakah pria itu juga menyukaiku atau tidak”, ucap Yuki sambil menghela napas panjang, sesekali ia mencuri pandang melirik Billy.
“Mualilah terlebih dahulu. Jaman sekarang tak sedikit wanita yang menyatakan perasaannya terlebih dahullu. Katakan saja perasaanmu padanya, mana tahu ia juga memiliki perasaan yang sama denganmu”, saran Billy. Tanpa mengetahui siapa pria yang dimaksud, Billy semakin membuka cela lebih besar dan memberikan Yuki akses untuk terus menikmati tiap waktu yang mereka habiskan hanya berdua saja. Yuki hanya tesenyum kecil mendengar saran dari Billy padanya.
“Berapa usiamu?”, tanya Yuki tiba tiba.
“Aku? tiga puluh tiga tahun”, jawab Billy segera. Yuki terkejut menetahui pria yang berada disampingnya berusia lebih tua darinya.
“Apa? Yang benar saja. Itu artinya seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan kak. Ah tidak, mungkin paman”, ucap Yuki sedikit menggoda Billy saat itu. Usianya yang terpaut delapan tahun lebih tua darinya.
“Astaga anak ini.. Panggil saja kakak jangan paman, aku tak setua itu”, balas Billy menatap Yuki yang tertawa puas setelah berhasil menggodanya. Billy terdiam sejenak melihatnya tertawa, bahkan cara dia tertawa juga bercanda sangat mirip dengan kekasihnya.
Tak terasa sudah hampir satu jam Billy berada di toko Yuki, jam dinding menyadarkannya jika ia sudah cukup terlambat untuk pergi ke rumah sakit menemani kekasihnya disana, rangkaian bunga ia bawa dan Billy pergi meninggalkan Yuki.
“Aku harus pergi, tak terasa sudah satu jam lebih aku disini. Berbicara denganmu sungguh menyenangkan”, ucap Billy lalu beranjak pergi dari toko itu.
Yuki hanya bisa menatapnya ketika ia memutuskan untuk pergi meninggalkannya, dalam hati ingin mencegahnya pergi dan menahannya tetap disini bersamanya namun ia tersadar bahwa ia bukan siapa siapa. Kekasihnya jauh lebih penting dari dirinya yang hanya menaruh perasaan yang mungkin takkan pernah terbalaskan.
__ADS_1
“Hah.. Kali ini pun sama seperti sebelumnya”gumamnya merasakan sakit hati dan cemburu dalam dirinya.