Dia Bukan Untukku

Dia Bukan Untukku
BAB 13 | Kejang


__ADS_3

Seperti biasa Billy bergantian dengan orang tua Airin dalam menjaganya di rumah sakit karena ia harus bekerja hari ini, waktunya yang tak terlalu padat dapat ia selesaikan secepat mungkin agar ia bisa kembali pada Airin, kekasihnya yang masih sangat membutuhkannya.


“Papa sudah datang, aku pergi yaa sayang. Hubungi aku jika kamu menginginkan sesuatu”, ucap Billy membelai lembut rambut kekasihnya itu sambil tersenyum. Billy berpamitan pula dengan ayah Airin dan bergegas pergi dari rumah sakit untuk bersiap pergi bekerja.


“Dia sungguh sangat mencintaimu. Bahkan hampir setiap malam dia yang menjagamu, kamu sangat beruntung memiliki kekasih seperti dirinya”, puji sang ayah menatap Airin yang terbaring di ranjangnya. Airin hanya tersenyum menanggapi pujian ayahnya pada Billy, ia pun merasa sangat beruntung memiliki kekasih sepertinya. Sejak ayahnya datang, Airin mulai terlihat pucat dan ia mengeluh tubuhnya sakit. Kemoterapi memang memiliki efek samping seperti ini namun rasa sakit yang dirasakan Airin jauh lebih sakit dari biasanya. Hingga sebuah kejadian membuat panik sang ayah ketika ia menjaga puteri kesayangannya itu seorang diri, ia menekan sebuah tombol kecil berwarna merah berulang kali untuk memanggil dokter segera ke kamar Airin karena Airin mendadak kejang.


“Sayang... Airin.. Airin sadar nak”, teriak ayahnya sambil menahan tubuh Airin yang bergunjang akibat kejang, mulutnya mulai mengeluarkan buih, bola matanya berputar hingga keatas. Keadaan Airin sangat membuat ayahnya panik dan ketakutan. Segera dokter beserta timnya masuk ke kamar Airin dan segera menangani Airin yang kejang. Dokter meregangkan pakaian Airin lalu memiringkan kepalanya, tak hanya buih atau muntahan bahkan darah pun keluar dari mulutnya, membuat sang ayah semakin panik dibuatnya.


“D.. Darah?!.. Dokter anak saya mengeluarkan darah”, seru sang ayah panik.


“Bapak tenanglah dahulu, dia akan baik baik saja”, ujar dokter itu menangani Airin sekaligus menenangkan ayah Airin. Tak butuh waktu lama, Airin mulai tenang dan kejangnya berhenti. Suster membersihkan darah dan muntahan yang keluar dari mulut juga hidung Airin, kini Airin tak sadarkan diri. Tak terbayangkan bagaimana ketakutan sang ayah pada puterinya melihat Airin kejang dan mengeluarkan darah sampai seperti itu.


“Jika pasien kembali kejang dan tim dokter belum datang, mohon lakukan pertolongan pertama pada pasien seperti yang saya lakukan. Regangkan pakaiannya lalu miringkan kepalanya, jika ia sampai menggigit lidahnya biarkan saja dan jangan memasukan apapun kedalam mulutnya”, ucap dokter memberikan arahan pada ayah Airin yang masih dalam keadaan panik.


Dokter beserta timnya keluar dari kamar Airin, sanga ayah segera menghubungi istrinya tentang anak mereka yang baru saja mengalami kejang, kondisi Airin tiap baru tak semakin membaik malah semakin memburuk. Pengobatan menggunakan kempterapi terasa seperti memperburuk keadaannya. Sang ayah hanya bisa melihat putrinya itu sambil sesekali mengecek keadaannya. Hingga sebuah pintu terbuka, ibu Airin datang bergegas kemari setelah mendengar kabar tentang anaknya itu, ia terlihat panik dan ketakutan sama seperti suaminya. Bahkan setelah hampir setengah jam Airin kejang, ia masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Bagaimana bisa terjadi?”, tanya sang ibu semakin khawatir pada putrinya. Suaminya hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap anak mereka.


“Kamu sudah menghubungi Billy?”, tanya istrinya. Lagi lagi ia menggeleng. Istrinya memahami tindakan suaminya yang tak terburu buru mengabari Billy tentang keadaan Airin yang tiba tiba kejang.


“Namun, dia berhak tahu sayang. Dia kekasih Airin dia yang selalu menjaganya disaat kita sedang sibuk”, ucap istrinya pada suaminya yang masih menatap Airin sambil meneteskan air matanya, sang ayah sangat takut hal buruk terjadi pada putrinya.


“Sayang.. Aku tak siap jika harus kehilangan Airin, mengapa dari semua orang harus anak kita yang mengalami ini?” seru sang ayah pada istrinya dengan air mata yang menetes.


Pintu kamar Airin kembali terbuka dengan secikit kasar, Billy datang dengan keringat membasahi wajahnya, kepanikan sangat nyata terlihat dan napasnya cukup terengah pagi itu. Ia menatap Airin yang sedang tak sadarkan diri dan mendekat padanya, ketakutan akan kondisi Airin membuatnya sangat ketakutan hingga ia rela meninggalkan pekerjaannya demi Airin.


“Mama, papa. Airin bagaimana?”, tanya Billy panik.


“Apakah dia akan baik baik saja?” tanya Billy kembaali, kali ini ia menghampiri Airin dan menggenggam tangannya yang terasa sangat lemah itu, wajah Airin yang pucat makin menambah ketakutan dalam diri Billy, ia sangat mencintai kekasihnya itu dan takut hal buruk terjadi atau bahkan maut akan menjemputnya.


“Tenangkan dirimu Billy, dokter berkata dia akan baik baik saja” ucap sang ayah mencoba menenangkan Billy yang panik sejak ia datang. Billy tertunduk sambil terus menggenggam tangan Airin. Suasana kamar Airin saat itu sangat hening, tak ada satu suara pun diantara mereka hingga Airin terbangun.

__ADS_1


“Airin kamu baik baik saja?”


“Nak, apa masih terasa sakit?”


“Sayang bagaimana keadaanmu?


Tanya kedua orang tua dan kekasihnya bergaintian, Airin yang barus saja terbangun tak mengetahui apapun, ia bahkan tak sadar jika dirinya baru saja terbangun dari kondisi kejang, yang ia rasakan hanya sakit di lidahnya.


“Aku baik baik saja, namun mengapa lidahku terasa sakit?”, ucap Airin sambil memegangi mulutnya. Perasan lega dirasakan mereka bertika saat melihat Airin baik baik saja. Hal yang sama terjadi lagi selang beberapa jam setelah Airin sadar dari pingsannya, dalam satu hari Airin sudah lima kali kejang kejang.


Kondisi Airin yang cukup buruk membuat kedua orang tua juga kekasihnya tak beranjak dari kamar Airin, mereka bertiga bersama menjaga Airin awas awas jika Airin kembali kejang. Hari semakin larut, kini Airin menjadi lebih tenang dan ia sudah beristirahat, meski begitu kedua orang tua Airin dan Billy masih tak bisa tenang.


“Mama dan papa pulang saja, biarkan Billy yang menjaga Airin. Lagi pula mama papa sudah terlihat sangat lelah seharian menjaga Airin di rumah sakit. Jangan sampai sakit, karena kalian adalah sumber kekuatan Airin”, ucap Billy yang menghkawatirkan orang tua Airin yang mulai terlihat lelah.


“Airin anak mama dan papa, kamu yang harusnya pulang dan jaga kesehatanmu nak”, ucap sang ibu pada Billy yang terlihat sangat menghkawatirkan anak mereka. Billy menggelengkan kepalanya dan mencoba meyakinkan kedua orang tua Airin bahwa dirinya akan baik baik saja sendiri disini menjaga Airin. Akhirnya kedua orang tua Airin menuruti keinginan Billy untuk pulang dan beristirahat.

__ADS_1


Dalam keadaan lain, seorang wanita sedang menunggu pria yang seharusnya datang sejak tadi, ia telah menunggu dari siang hingga malam sampai toko itu harus segera tutup. Yuki terlihat gelisah dalam menunggu Billy yang tak kunjung datang hari itu, ia sangat kecewa dengan ketidak hadiran pria yang ia sukai itu.


“Mengapa ia tak datang? Apakah dia sibuk hari ini?”, tanya Yuki dengan menatap piluh rangkaian tulip merah yang telah siap sejak tadi. Yuki terus berharap bahwa Billy datang padanya meski itu malam hari namun hingga larut tanda tanda kehadiran Billy tak kunjung datang


__ADS_2