
Dentuman suara hujan turun terdengar cukup kencang dari dalam toko Yuki, pagi menjelang siang hujan sudah turun dengan begitu hebatnya membuat toko wanita cantik itu menjadi sepi oleh pelanggan, namun hal itu tak mempengaruhi seorang pria untuk terus datang ke tokonya. Adalah Billy dengan payung yang ia kenakan namun tetap setengah dari pundaknya basah karena hujan yang sangat deras itu, ia masuk ke dalam toko Yuki dan meletakkan payung pada tempatnya. Wajah wanita yang semula mendung tiba tiba tersenyum manis melihat sosok pria yang datang.
“Mengapa hujannya begitu deras? Aku sampai basah karenanya”, ujar pria itu sambil menyeka bahunya dan beberapa bagian yang terlihat basah karena hujan. Billy datang mendekat pada Yuki sambil terus menyeka butiran air yang terlihat masih ada pada jas miliknya.
“Kakak, tak bisakah kakak datang nanti saja? Lihatlah baju kakak, bagaimana kalau kakak sakit?”, ucap Yuki khawatir pada Billy yang terlihat cukup basah saat itu. Tanpa mempedulikan apapun lagi, Yuki segera mengambil jas milik Billi dan mengeringkannya sebentar untuk ia kenakan kembali.
“Aku akan membuatkan kakak minuman hangat, duduklah dulu”, sambungnya setelah ia menggantung jas milik Billy.
Melihat wajahnya yang diam sambil menyuguhkan secangkir teh hangat padanya, membuat Billy tersenyum karena tingkah Yuki yang dirasa sangat menggemaskan baginya. Billy mengambil secangkir teh dari tangan Yuki dan menarik Yuki duduk disampingnya untuk menemaninya.
“Jika orang lain melihat hal ini, mereka mungkin akan salah paham”, ucapnya pada Yuki yang duduk disampingnya sambil memainkan jemarinya.
“Aku tak peduli, biar saja mereka salah paham pada ku” balas Yuki sambil sedikit mmanyunkan bibirnya, membuat Billy semakin gemas pada wanita yang terpaut delapan tahun lebih muda dari dirinya.
Sesaat keheningan menyelimuti mereka berduaa, ditengah derasnya hujan dirinya kembali mengenang kembali momen dimana dirinya dan Airin selalu bersama. Hatinya masih bersama Airin namun raganya ada bersama Yuki, membuat Billy sedikit gila dibuatnya.
“Besok, kamu senggang? Bisa ikut denganku?”, tanya Billy tiba tiba.
__ADS_1
“Bisa!”, jawab Yuki menyambar ajakan Billy dengan cepat. Pria yang duduk disampingnya cukp terkejut mendengarnya menjawab dengan sangat cepat tanpa memikirkannya dahulu.
“Bisa, asalkan bersamamu aku bisa kak”, tambahnya, kali ini dengan menatap mata Billy yang sangat indah dipandang. Sesaat mereka terdiam memandangi satu sama lain, kedua mata yang mencerminkan kerinduan yang mendalam kini sedang beradu, Yuki mendamba Billy menjadi miliknya sedangkan Billy merindukan Airin yang berada disampingnya saat ini.
“Asalkan bersama dengan ku?”, ucapnya menegaskan jawaban Yuki padanya dengan senyum tipis yang berhasil membuat jantung Yuki kembali berdebr kencang.
“Bisakah aku bertahan melihat senyumannya yang sangat menawan? Bisakah aku menahan diri untuk tak melakukan hal bodoh dihadapan pria yang memiliki kekasih ini?”, gumamnya dalam hati sambil menggenggam erat kedua tangannnya tanpa melepaskan pandangannya dari Billy.
Entah apa yang Yuki pikirkan, ia maju dan mendekatkan wajahnya pad Billy. Sebuah kecupan hangat terjadi ditengah curah hujan yang sangat deras. Billy terdiam merasakan bibir kenyal Yuki begitu saja mendarat pada miliknya, bola matanya melihat seorang wanita mengecupnya. Seperti Yuki yang menginginkannya, Billy pun menginginkan Airin yang melakukannya, meski begitu Billy tak peduli lagi. Dihadapannya ada seorang wanita yang sangat seruupa dengan Airin yang sedang berusaha memberikan cinta untuknya, hatinya pun tak tahan merindukan belaian lembut dari wanita yang sangat ia cintai, kini ia kembali mendapatkan apa yang pernah ia miliki. Cinta, perhatian, sentuhan lembut pada diri Airin, ia kembali merasakannya lewat Yuki.
“Aku tak ingin kehilangan rasa ini lagi”, batinnya.
“Dasar bodoh! Tahan dirimu Yuki, bagaimana jika Billy tak lagi menemuimu karena kamu tiba tiba menciumnya?”, gumamnya sambil mengumtai diri sendiri.
“Ku kira kamu wanita polos, namun ternyata cukup bernyali juga”, ucap Billy lembut dengan tatapan mata yang mengandung banyak makna.
Hujan perlahan telah berhenti, begitu pula dengan jas yang digantung Yuki. Billy beranjak dari tempatnya lalu meraih jas yang tergantung sudut ruangan itu, ia melihat pada jam tangannya bahwa waktu makan siang telah berakhir.
__ADS_1
“Katakan dimana rumahmu, aku akan datang menjemputmu esok hari” seru Billy sambil sedikit mengacak acak rambut Yuki dengan lembut, membuat wanita itu salah tingkah dibuatnya.
Sejak saat itu Billy terlalu sering menghabiskan waktu bersama dengan Yuki, mengajak Yuki pergi berkeliling ke tempat tempat yang pernah ia datangi bersama Airin dahulu, ia seperti memulai segalanya dari awal bersama orang Yuki. Kekosongan hati Billy perlahan diisi dengan Yuki yang selalu ada untuknya, ia menggenggam juga memeluk Yuki tanpa ada satupun keraguan dalam dirinya.
Semua hal yang ia berikan pada Airin ia juga berikan pada Yuki, perlahan kerinduan dihatinya terobati dan nyaris tertutup sempurna, entah apa jadinya jika tak ada Yuki disisi Billy saat ia sangat merindukan kekasihnya hadir disisinya. Namun, apakah semua itu benar adanya? Apakah segala yang dilakukan Billy murni? Apakah ia jujur pada Yuki? Tidak!.
Meski ia memiliki Yuki yang berada di sisinya namun Billy enggan bahkan tak mau melepaskan Airin begitu saja, karena jauh diubuk hatinyya ia menyadari bahwa wanita yang ia cintai hanya Airin seorang, sedangkan Yuki? Semata hanya untuk melampiaskan kerinduan hatinya pada Airin.
Disisi lain, Airin yang sedang berjuang dengan penyakit yang dideritanya hanya mengetahui bahwa kekasihnya baik baik saja dan masih mencintainya. Memang benar Billy sungguh amat sangat mencintai Airin, namun kini wanita disisinya bukanlah Airin, melainkan Yuki. Seorang wanita pemilik toko bunga disalah satu seberang jalan yang secara tak sengaja sanggat mirip dengan Airin.
Ketukan pintu terdengar dari arah kamar Airin, Billy datang dengan membawa bunga tulip merah yang kini menjadi bunga favoritnya dan juga boneka teddy bear yang bisa bicara.
“Bagaimana kabar wanita kesayanganku saat ini? Apakah kamu makan dengan teratur? Bagaimana dengan pengobatanmu? Mengapa aku tak mendengar kabar darimu selama aku pergi dinas ke luar kota?”, tanya Billy pada Airin sambil melangkah masuk mendekatinya.
“Kamu sudah pulang?”, balas Airin sambil tersenyum melihat kekasihnya datang setelah hampir satu minggu ia tak bertemu dengannya. Airin membenarkan posisi duduknya dan mengambil boneka yang diberikan Billy padanya.
“Hanya ini yang ku bawa, maaf sayang aku cukup sibuk”, ucap Billy tersenyum sambil mengelus lembut wajah kekasihnya itu.
__ADS_1
Boneka yang sama ia berikan pula pada Yuki, boneka teddy bear yang bisa berbicara itu berisikan rekaman suaranya yang mengatakan “I Love You”. Airin tersenyum bahagia, ia tak peduli apa yang dibawa oleh kekasihnya, yang ia inginkan adalah mengetahui kekasihnya baik baik saja dan kembali lagi padanya.